Bab 19

1730 Words

Sore hari, sesaat sebelum magrib, Kenanga terbangun. Ia duduk sejenak di tepi kasur, memegangi kepalanya yang masih terasa nyeri. "Ya Allah, kenapa aku tidak ingat semuanya?" gumamnya lirih, keputusasaan merayapi hatinya. Setelah mengumpulkan kekuatannya, Kenanga melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri, dan mengenakan pakaian santai. Ia lalu menuju meja kecil di sudut kamar dan mengambil sebuah album foto. Jemarinya membuka halaman demi halaman, menelusuri kenangan yang terasa asing. "Apakah ini Papaku?" gumam Kenanga, menunjuk seorang pria paruh baya dalam foto. "Ini adikku... dan ini Mamaku." Wajah-wajah yang seharusnya familiar terasa seperti orang asing baginya. Ia beralih ke album lain, sebuah album foto pernikahan yang tebal dan mewah. Foto-foto itu menunjukkan pernikahan Kena

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD