Bab 18

1737 Words

Hujan baru saja berhenti menyapu langit Jakarta ketika sebuah mobil hitam melambat di depan pintu utama Rumah Sakit Sentral Harapan Jakarta. Lampu-lampu lorong rumah sakit memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan samar yang seolah menari di permukaan mobil itu. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria tinggi dengan jas gelap turun tergesa, napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah lobi. Langkah-langkahnya bergema menyusuri lorong rumah sakit, melewati pasien, perawat, dan denting alat medis yang menekan udara malam dengan irama menakutkan. Hatinya penuh kekhawatiran, pikirannya kalut. Di ruang tunggu ICU, Jhon, anak buah sekaligus sahabat setianya, berdiri dari kursi saat melihat kedatangan Revan. "Bos..." gumamnya pelan, wajahnya tegang. Tanpa menunggu penjelasan, Revan la

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD