Hari itu, Kenanga memutuskan untuk tidak masuk kerja. Tubuhnya terasa lemah, seperti kehilangan energi sejak semalam. Kepalanya berdenyut pelan, dan suasana hatinya pun tak jauh berbeda—murung dan entah kenapa sedikit gelisah. Setelah sarapan sederhana bersama Revan, Kenanga tetap menyempatkan diri mengantarkan suaminya sampai halaman rumah. Meski tubuhnya tak begitu kuat, hatinya selalu terasa ringan saat mengantar Revan pergi. “Sayang, kamu istirahat aja ya di rumah. Urusan kantor, biar Mas yang urus. Fokus sembuh dulu,” ucap Revan sambil mengusap lembut rambut Kenanga. Kenanga tersenyum tipis, menyembunyikan rasa lelahnya. “Hehehe, iya Mas. Makasih…” Revan mengecup keningnya sebentar, lalu melangkah masuk ke mobil. Setelah mobil itu menjauh dan hilang dari pandangan, Kenanga kembal

