Persinggahan
Brak!
Mobil dinas yang membawa Arunika mendadak berhenti di tengah jalan berbatu. Tubuhnya terdorong ke depan sebelum sabuk pengaman menahan gerakannya.
“Lah, Don. Kenapa?” tanyanya sambil melepas sabuk.
Doni mencoba menyalakan mesin lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Mesin hanya meraung sebentar, lalu kembali mati.
“Waduh… kayaknya mogok.”
Arunika menoleh ke luar jendela.
Di kanan kiri hanya hamparan hutan pinus. Kabut tipis mulai turun, membuat jalan yang sempit itu terlihat semakin sunyi.
“Baru juga masuk wilayah Sukamaju,” gumamnya pelan.
Doni membuka kap mesin.
“Aku coba lihat dulu.”
Arunika ikut turun dari mobil.
Udara pegunungan langsung menyergap wajahnya. Dingin, lembap, dan membawa aroma khas pinus yang menenangkan. Sejenak ia memejamkan mata, menikmati suasana yang sangat berbeda dari hiruk pikuk ibu kota.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung beberapa detik.
“Nik.”
Arunika membuka mata.
“Sinyalnya masih ada?”
Ia mengeluarkan ponsel.
“Dua bar.”
“Telepon Pak Kades aja dulu. Kasihan kalau nunggu kita.”
“Iya.”
Arunika segera mencari nomor Kepala Desa Sukamaju yang dikirim sekretariat.
Tak lama, panggilannya tersambung.
“Selamat sore. Apa benar saya sedang berbicara dengan Pak Surya?”
“Betul. Dengan siapa ya?”
“Perkenalkan, Pak. Saya Arunika. Yang ditugaskan mendampingi Desa Sukamaju.”
“Oh, Bu Arunika!”
Nada suara pria itu langsung berubah hangat.
“Kami sudah menunggu Ibu. Apa sudah sampai?”
“Sudah, Pak. Tapi mobil kami mogok.”
“Mogok di mana, Bu?”
Arunika melihat sekeliling.
“Posisinya di depan sebuah penginapan.”
“Hmm… Cahaya Anumerta Inn?”
“Iya, Pak.”
“Baik. Saya jemput sekarang. Paling lima belas menit.”
“Terima kasih, Pak.”
Telepon ditutup.
Arunika mengangkat wajah.
Di balik deretan pinus berdiri sebuah bangunan yang langsung menarik perhatiannya.
Dinding-dinding kaca memantulkan cahaya senja. Rangka kayunya didominasi warna hitam, sementara lampu gantung berwarna kuning mulai menyala satu per satu, membuat bangunan itu tampak hangat di tengah dinginnya pegunungan.
“Bagus juga.”
Doni ikut menoleh.
“Kalau lihat bangunannya, kayaknya bukan penginapan biasa.”
“Yuk. Sekalian izin parkir.”
Mereka mendorong mobil hingga masuk ke halaman.
Begitu selesai, Arunika melangkah menuju lobi.
“Permisi…”
Sunyi.
Tak ada siapa pun di balik meja resepsionis.
“Permisi…”
Tetap tidak ada jawaban.
Saat hendak berbalik, telinganya menangkap suara kapak membelah kayu dari belakang bangunan.
Tak!
Tak!
Tak!
Ia mengikuti sumber suara.
Di belakang penginapan, seorang pria bertubuh tinggi sedang membelah kayu bakar.
Lengannya dipenuhi otot yang terbentuk karena pekerjaan berat. Rambut gondrongnya diikat seadanya. Kaus hitam yang dikenakannya basah oleh keringat meski udara cukup dingin.
Pria itu menghentikan ayunan kapaknya.
“Iya?”
Nada suaranya datar.
Tanpa basa-basi.
“Maaf mengganggu. Mobil saya mogok di depan. Saya cuma mau izin parkir sementara.”
Tatapan pria itu beralih ke mobil dinas yang berada di halaman.
“Boleh.”
Jawabannya singkat.
“Terima kasih.”
Arunika tersenyum kecil.
“Penginapannya bagus.”
“Hm.”
“Kerja sama dengan Dinas Pariwisata?”
Pria itu menatapnya beberapa detik.
“Bukan.”
“Oh… berarti milik pribadi?”
“Iya.”
Arunika mengangguk.
“Pantas konsepnya beda.”
Pria itu kembali mengangkat kapaknya.
“Kalau dikelola pemerintah…”
Ia berhenti sejenak sebelum kembali mengayunkan kapak ke batang kayu.
“…mungkin sampai sekarang belum selesai dibangun.”
Tak!
Kapak menghantam kayu dengan keras.
Arunika terdiam.
Ia bisa menangkap nada sinis dalam kalimat itu.
Bukan sekadar bercanda.
Melainkan ketidaksukaan yang sudah lama dipendam.
Entah kepada pemerintah.
Atau…
kepada orang-orang seperti dirinya.
Belum sempat ia menanggapi, suara mesin mobil terdengar dari arah depan.
Sebuah Pajero hitam memasuki halaman penginapan.
Seorang pria paruh baya turun sambil tersenyum lebar.
“Bu Arunika?”
“Iya, Pak.”
“Saya Surya. Kepala Desa Sukamaju.”
Arunika menjabat tangannya.
“Maaf merepotkan.”
“Ah, justru kami yang minta maaf. Harusnya penyambutan Ibu lebih baik dari ini.”
Pak Surya melirik ke arah pria yang masih membelah kayu.
“Mas Arkana.”
Pria itu hanya mengangguk pelan.
Tak ada senyum.
Tak ada sapaan.
Pak Surya tampak sudah terbiasa dengan sikap itu.
“Bu Arunika, ini Arkana. Pemilik Cahaya Anumerta Inn.”
Arunika kembali menoleh.
“Terima kasih sudah mengizinkan kami parkir.”
Arkana hanya membalas dengan anggukan tipis.
Baginya, urusan sudah selesai.
Ia kembali mengangkat kapaknya.
Tak!
Tak!
Tak!
Suara itu kembali memecah kesunyian hutan.
Arunika memperhatikan lelaki itu beberapa saat.
Baru pertama kali mereka bertemu.
Namun ia sudah bisa merasakan satu hal.
Lelaki bernama Arkana itu…
jelas bukan tipe orang yang mudah menerima kehadiran seorang pejabat.
Pak Surya baru saja hendak mengajak Arunika menuju mobil ketika pintu penumpang Pajero terbuka.
Seorang perempuan turun dengan langkah anggun. Rambut hitamnya tergerai rapi, dipadukan gaun putih sederhana selutut. Wajahnya cantik dengan senyum yang mudah membuat orang merasa disambut.
“Selamat datang di Sukamaju, Bu.”
Arunika menyambut uluran tangannya.
“Terima kasih.”
“Perkenalkan, saya Laura.”
“Senang bertemu denganmu.”
Laura mengangguk sopan. Namun sebelum sempat melanjutkan percakapan, pandangannya beralih ke arah belakang penginapan.
“Mas Arkana.”
Nada suaranya berubah lebih lembut.
Arkana yang masih membelah kayu menghentikan ayunan kapaknya.
“Hm.”
“Sore.”
“Sore.”
Hanya satu kata.
Namun, bagi orang yang baru mengenalnya, jawaban itu mungkin terdengar dingin.
Berbeda dengan Laura.
Perempuan itu tampak sudah terbiasa. Bahkan ia masih tersenyum meski Arkana kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa mengajaknya berbincang.
Pak Surya hanya menggeleng pelan.
“Mas Arkana memang begitu orangnya. Jangan dimasukkan hati, Bu.”
Arunika tersenyum tipis.
“Saya nggak masalah, Pak.”
Meski begitu, dalam hati ia mulai penasaran.
Seperti apa sebenarnya kehidupan lelaki itu sampai sorot matanya terlihat sekeras itu?
Tak lama kemudian, Doni datang sambil mengusap kedua tangannya yang masih berlumur oli.
“Udah gue cek. Nggak mungkin beres malam ini.”
“Gimana?” tanya Arunika.
“Kayaknya harus nunggu montir besok pagi.”
Pak Surya langsung mengangguk.
“Kalau begitu mobilnya biarkan saja di sini. Aman.”
“Terima kasih, Pak.”
“Kalau sekarang kita langsung ke balai desa?”
Arunika melihat jam di pergelangan tangannya.
“Waktunya masih cukup?”
“Masih. Tapi…”
Pak Surya terlihat ragu.
“Ibu sama Pak Doni nanti menginap di mana?”
Arunika ikut terdiam.
Benar juga.
Ia bahkan belum memikirkan soal itu.
“Sekretariat bilang sudah dicarikan penginapan.”
Pak Surya tersenyum kecut.
“Itu rencana awal.”
“Maksudnya?”
“Saya sudah memesan dua kamar di Cahaya Anumerta Inn. Tapi sejak kemarin semuanya penuh. Ada rombongan wisatawan yang menginap sampai minggu depan.”
Arunika mengangguk pelan.
“Kalau rumah warga?”
“Sebenarnya banyak yang bersedia. Tapi saya khawatir Ibu kurang nyaman.”
Laura ikut menimpali.
“Rumah saya juga lagi penuh. Kakak sama adik sedang pulang.”
Suasana mendadak hening.
Semua sama-sama berpikir.
Pak Surya kembali bersuara.
“Kalau tidak keberatan, saya bisa menghubungi Pak Baskara. Beliau punya vila di sini.”
Belum selesai kalimat itu, Arunika langsung menggeleng.
“Jangan, Pak.”
“Tapi…”
“Saya tidak ingin merepotkan beliau.”
Pak Surya tidak memaksa.
Ia tahu hubungan atasan dan bawahan terkadang memang tidak sesederhana yang terlihat.
Di sisi lain, Arkana masih berdiri memunggungi mereka.
Meski tampak tidak peduli, telinganya menangkap seluruh percakapan itu.
Doni mendekatinya.
“Na.”
Arkana menoleh sekilas.
“Kita beneran baru ketemu lagi setelah belasan tahun, ya?”
“Hm.”
“Dulu waktu STM, lo paling males ngomong.”
“Sekarang juga.”
Doni tertawa.
“Nggak berubah.”
Arkana menyandarkan kapaknya di tunggul kayu.
“Lo sekarang jadi sopir?”
“Iya.”
“Nikmatin?”
Doni mengangguk.
“Alhamdulillah.”
Arkana mengangguk kecil.
Tak banyak bertanya lagi.
Doni memperhatikan wajah temannya beberapa saat.
Meski penampilannya berubah jauh, sifat keras kepala Arkana ternyata masih sama seperti dulu.
“Na…”
“Hm?”
“Kalau gue minta tolong, mau nggak?”
Arkana menghela napas pelan.
“Apa?”
“Numpangin Arunika dulu.”
Belum sempat Arkana menjawab, Pak Surya ikut mendekat.
“Mas… saya juga mau minta bantuan.”
Arkana memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Tatapannya bergantian kepada Doni, Pak Surya, lalu Arunika.
Beberapa detik berlalu.
Suasana menjadi sunyi.
Akhirnya Arkana membuka suara.
“Penginapan penuh.”
“Saya tahu.”
“Rumah utama bukan tempat buat tamu.”
Kalimat itu membuat Pak Surya langsung mengangguk maklum.
“Kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa.”
Arunika ikut tersenyum.
“Tenang saja, Pak. Saya cari penginapan lain.”
“Kota terdekat satu jam dari sini,” jawab Pak Surya lirih.
Arunika mengembuskan napas.
Pilihan mereka benar-benar habis.
Saat semua mulai pasrah, Doni menepuk bahu Arkana.
“Nah… sekarang gue minta tolong sebagai teman.”
Arkana menatapnya lama.
Raut wajahnya masih datar.
Namun kali ini tatapannya tidak lagi sekeras tadi.
Seolah ada pertarungan dalam pikirannya.
Antara prinsip…
dan persahabatan yang telah terjalin sejak bangku STM.
Arkana mengembuskan napas panjang.
“Kalau cuma sementara…”
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
“…ikut gue.”
Kalimat sederhana itu membuat Arunika mengangkat wajah.
Ia belum tahu…
Keputusan Arkana malam itu akan menjadi awal dari perubahan terbesar dalam hidup mereka berdua