Tegarnya Elin
Bagian 1
Elin adalah sosok gadis cantik, pekerja keras dan memiliki karakter lembut dan bertanggungjawab, ibarat Ilalang walaupun hempasan angin menerpa tetap kuat.
Elin dan Raya kini tinggal berdua, sejak kedua orangtuanya meninggal kehidupan mereka semakin susah, Raya yang masuk ke kelas lima membutuhkan biaya apalagi Elin yang masuk Sekolah Menengah Atas, tetapi semua itu tidak menjadi penghalang untuk menuntut ilmu, keadaan yang memaksa mereka harus mampu bekerja demi masa depan.
Prinsip hidup yang menjadikannya wanita luar biasa, dia pantang untuk meminta atau memohon belas kasih dari keluarganya, selagi kaki masih berjalan dan raga masih mampu maka Elin tetap akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sejak umur dua belas tahun ibunya sudah meninggal selang beberapa bulan ayahnya pun meninggal, sementara waktu itu adiknya masih kecil.
Jual cemilan sejak dari dulu dilakukan, mulai dari pulang sekolah sampai menjelang magrib dia keliling kampung membawa jualannya itupun dengan jalan kaki, sampai di rumah harus menyelesaikan tugas sekolah dan menyiapkan makanan. Sementara Adiknya juga membawa jualan es keliling.
" Raya, kamu harus belajar, tidak lama lagi kamu ujian kenaikan kelas, kamu harus tunjukkan kalau kamu mampu dan bisa bersaing dengan mereka, walaupun kita tidak memiliki sesuatu yang kita banggakan akan tetapi yakinlah bahwa dengan kerja keras dan berdoa maka semuanya akan terlewati."
Hidup adalah pilihan, ketika kita bijaksana menghadapinya maka ibarat suatu permainan kita yang bisa mengatur dan memainkan sesuai alurnya.
Elin mulai belajar untuk persiapan besok di sekolah, semua mata pelajaran di dalami, artinya jika ada pertanyaan besok dari gurunya makanya semuanya akan muda.
keesokan harinya Elin seperti biasa jam setengah tujuh sudah tiba di sekolah, dia adalah murid pertama masuk sekolah.
"Elin, dari tadi kamu datang ya?"ucap Raka sambil melambai tangannya, tidak lama kemudian Raka duduk di dekat Elin.
Raka adalah seorang pelajar satu kelas dengan Elin, dia adalah anak yang termasuk pintar dan ganteng, banyak yang simpatik kepada anak ini, tetapi orangnya sangat cool, orang tuanya sangatlah dikenal karena pengusaha terkenal.
"Iya, dari jam setengah tujuh saya sudah disini,"
"Elin, saya lihat diantara teman disini kamu yang paling rajin, terus saya lihat kamu biasa merenung, saya biasa perhatikan kamu dari jauh, tatapan kamu kosong, tetapi saya tidaklah berani untuk menanyakan hal ini, jikalau kamu bersusah hati bicarakan ke saya Elin, saya akan membantu kamu," ucap Raka sambil memandang Elin.
"Makasih Raka, kamu meluangkan waktu kamu untuk memperhatikan saya, sebenarnya saya tidak apa-apa, menurut saya biasa saja. mungkin saja saya kelelahan, seharian kemarin saya jualan keliling kampung, malam baru saya tiba."
Tidak lama kemudian teman temannya sudah pada datang, Raka mulai bergabung dengan mereka, sementara Elin tetap di kursi sambil membaca buku yang ada di depannya, tidak lama kemudian bel berbunyi tanda mata pelajaran pertama di mulai.
"Anak - anak sekalian apakah kalian belajar tadi malam?" pertanyaan itu sering dikeluarkan oleh ibu guru matematika, beliau dikenal tegas jikalau mengajar.
"Belajar, Bu..!!" teriak murid
"Baiklah saya akan memberikan pertanyaan pertama tentang pecahan pecahan campuran, apakah kalian masih ingat pelajaran itu? soalnya kemarin ada siswa yang belum mengerti padahal ini adalah pelajaran anak kelas tiga SD, sekarang saya persilahkan kepada Zara untuk mengerjakan soal di atas, silahkan,"
sambil menggaruk kepala Zara bingung karena pelajaran itu sama sekali tidak di mengerti, selama ini dia cuma menyontek.
"Zara, kamu naik..! kenapa kamu diam saja disitu? ayo, naik! kayaknya kamu tidak belajar tadi malam, saya sampaikan kepada anak - anak sekalian, kalian harus disiplin waktu, karena dengan disiplin waktu kalian bisa melihat manfaatnya kelak jika kalian sudah bekerja nanti, ingat itu!"
Zara naik ke depan kelas berdiri, karena sama sekali tidak mengerti dengan soal yang diberikan oleh ibu guru Melati, dia hanya diam, sambil melirik Bu guru di sampingnya.
" Kamu tidak mengerti ya, kalau kamu tidak tahu apa-apa mengapa kamu tidak belajar? semakin banyak belajar semakin kita asa otak kita agar cepat paham, jangan kerjanya keluyuran saja, siapa diantara kalian yang tahu cepat naik sebelum kita lanjut ke pelajaran intinya!"
Tidak lama kemudian Elin mengangkat tangannya, semua siswa menoleh ke dia, dengan reaksi yang berbeda-beda, ada yang jengkel, ada yang senang.
" Ayo, Elin naik kerjakan soal itu!"
"Baik Bu,"
Sambil melangkah naik, Elin mengerjakan soal tadi dengan cepat.
"hebat kamu Elin, begitu cepat kamu selesaikan soal-soal itu, lihat anak - anak sekalian, kamu harus mendapatkan contoh dari Elin, dia anak tidak mampu tetapi dia bekerja keras, menghidupi keluarganya, tetapi kewajiban sebagai siswa untuk belajar tetaplah dia laksanakan, ibu guru biasa melihat dia menjual cemilan keliling didepan rumah, kalian harus malu Dengan prestasi Elin, kamu duduk kembali Elin."
Zara melihat sinis ke Elin, mungkin saja dalam hati, dia jengkel karena selama ini cuma Elin yang sering di puji, tidak lama kemudian ibu Melati memberikan pelajaran matematika, semua siswa mengikuti dengan seksama, tidak lama terdengar bunyi bel istirahat, siswa semua berhamburan ke kantin, kecuali Elin tetap di duduk di tempatnya.
"Elin, kamu tidak keluar? bisik Raka di dekat Elin.
"Tidak Raka, saya disini saja,"
"Ayo kita keluar, biar saya traktir kamu, bakso di kantin enak lhoo Elin," sambil menarik tangan Elin, Raka berharap agar Elin ikut dengannya ke kantin makan.
"Maaf Raka, makasih saya tidak bisa, kamu saja yang pergi, bukannya saya menolak Raka, tetapi tidak enak kalau siswa lain berburuk sangka tentang kita berdua, apalagi dengan Zara dia akan membenci saya jika bersama kamu karena selama ini kayaknya Zara simpatik ke kamu, takut menggunjing saya Raka."
"ya, tidak apalah, saya disini saja temani kamu, saya merasa teduh didekat kamu, saya tahu keadaan kamu Elin, kamu ini banyak beban, tetapi kamu sama sekali tetap sabar, terus terang saya sering melihat kamu menjual cemilan keliling dari situ saya merasa tidak ada apa - apanya di banding kamu, justru saya merasakan minder karena saya masih mengharap orang tua yang membiayai hidup saya sementara kamu bisa kamu lewati semuanya."
"Raka, tidak mungkin saya melawan takdir, ini adalah kehendak Allah, saya jalani sesuai kemampuan saya juga, ingatlah kalau kami juga butuh makan, adik saya butuh biaya, tidak apalah takdir itu bukan kita yang menjemput tetapi sudah menjadi garis tangan, tinggal bagaimana kita menghadapinya."
"Elin, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan ke kamu, tetapi jangan marah ya jika aku lancang mengungkapkannya,"
"Apa Raka? katakan saja, buat apa saya marah,"
Sambil menggaruk tangan Raka yang tidak gatal, dia kelihatan canggung untuk mengungkapkan kata hatinya, dari dulu Raka simpati dengan Elin, tetapi tidaklah berani menyampaikannya, karena Elin orangnya pendiam dan jarang bergaul dengan siswa lainnya, tidak lama kemudian bunyi bel masuk pelajaran berikutnya, Raka belum sempat mengungkap kata hatinya, proses belajar mengajar pun berlanjut sampai waktu pulang, Elin kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki sendiri, sampai di rumah Raya sudah menunggu kakaknya sambil mata berkaca-kaca.
"Raya, kamu kenapa dek?"
"Kak Elin, saya di tuduh tadi mencuri uang di sekolah, padahal saya tidak tahu sama sekali, memang saya duduk di dekat tas anak itu tetapi saya tidak mengambilnya kak, saya malu kak, walaupun saya sama sekali tidak memiliki uang tetapi saya tidak bakalan mengambil uang mereka kak, saya sudah sumpah dan menangis di depan kepala sekolah kak,"
"Terus kepala sekolah bilang apa tadi dek?"
"Dia menyampaikan ke pemilik tasnya agar mengecek baik, jangan menuduh tanpa bukti, dan mengharap agar semua siswa untuk teliti dalam segala hal."
"iya dek, kepala sekolah itu bijak, harus begitu menghadapi siswa, karena kalau tidak bagaimana dengan seperti kita ini sudah tidak mampu dapat tuduhan lagi, kamu sudah makan ya dek?"
"Belum kak, saya nafsu makan langsung hilang, di kelas saya menangis, malu rasanya di tuduh, andaikan mama dan bapak masih ada ya kak? mungkin kita tidak seperti ini, mungkin kita sama Dengan mereka, asik main dengan teman - temannya, bergembira tiap hari, pergi liburan, tetapi tidak apalah itu cuma khayalan saya kak,tidak mungkin hal itu terjadi, semoga orang tua kita bahagia melihat kita berdua, tidak pantang menyerah walaupun banyak rintangan kita hadapi, lagian tidaklah mereka semampu kita untuk melawan takdir, itu yang menjadi modal kita, kuat dan harus kuat."
"Iya dek, kita harus sabar menghadapinya, tidak selamanya kesedihan itu ada dengan kita, ingatlah bahwa setelah hujan biasanya ada pelangi yang muncul, semoga kita juga seperti itu nantinya, walaupun jarak masih jauh kita tempuh atau meraih pelangi itu masih jauh dek."
Seperti biasanya Elin, melakukan aktivitasnya menjual cemilan keliling, terik matahari sangatlah panas, tetapi Elin tetap menjual, tiba di depan rumah Raka, Elin menundukkan kepala, sambil berlalu Dengan tergesa, berharap Raka tidak melihatnya, sampai di persimpangan jalan Elin merasa lega karena Raka tidak melihatnya namun tiba-tiba dari jauh ada panggilan.
"Elin, Elin, tunggu!"
Dari jauh Raka memanggil Elin, tetapi Elin tetap jalan, dalam hati Elin mengapa mesti ada anak itu, nanti waktu saya habis untuk ngobrol padahal kue cemilan Elin belum ada yang laku, sambil berjalan laju Elin tidak memperhatikan teriakan Raka, terus berjalan.
"Elin, Elin tolong tunggu saya, ada yang saya mau bicarakan sama kamu, tolong Elin!"
Mungkin karena kasian Elin pun akhirnya berhenti menunggu Raka, ada rasa jengkel di raut muka Elin.
"Kenapa kamu ikuti saya Raka? kamu tahu tidak, saya ini tidak boleh di ganggu kalau lagi jualan, karena tumpuan hidup saya cuman di usaha ini, jadi tolonglah jangan ganggu saya! kebutuhan hidup saya tergantung pada jualan cemilan ini, beras di rumah tinggal sedikit, sementara adik saya ingin membayar di sekolahnya."
"Elin, saya tidak bermaksud mengganggu kamu, saya hanya ingin menemani kamu menjual cemilan kamu, saya maunya ikuti kamu keliling kampung, keberatan ya Elin? tolonglah jangan keberatan."
"Buat apa Raka temani saya, tidak malu ya? saya ini anak tidak mampu, kamu akan mendapat cemoohan jika mengikuti saya, jangan lakukan ini Raka, saya tidak ingin menyusahkan orang lain karena keadaan saya, cukup saya dengan adik Raya yang merasakan penderitaan ini."
"Elin, penderitaan kamu adalah penderitaan saya juga, saya simpati denganmu dari dulu tapi perasaan ini terpendam, tiap malam saya mengingat wajahmu, di sekolah saya berusaha untuk mendekati kamu tetapi saya takut kamu menolak perasaanku." sambil memandang muka Elin dalam - dalam, Raka meraih kedua tangan Elin dan memegang erat.
Elin merasa heran karena tidaklah mungkin Raka simpati ke dia, karena Elin tahu diri bahwa dia tidaklah mampu, seringkali mendapat hinaan dari orang sekitarnya, bau wanginya tidak seperti gadis gadis lainnya, tidak pernah perawatan sama sekali, dalam benaknya Raka mungkin bermimpi, sementara parasnya Raka banyak yang kagum disekolah.
"Raka,kamu pulang saja, janganlah menambah beban saya, jangan sampai saya ikut terbuai dengan perasaan saya mencintai kamu, dan ujung - ujungnya saya cuma sakit hati, jadi mending dari sekarang tidak memiliki perasaan itu Raka, saya mau lanjut jualan cemilan keliling, tolong lepaskan tangan saya."
Ada getaran di hati Elin, baru kali ini perasaan itu muncul, mungkinkah Elin terbuai dengan cinta Raka, selama ini waktunya habis dengan menjualan cemilan, masalah cinta tidak pernah dia rasakan. mungkin saja pernah tetapi hanya di anggap angin lalu saja.
"Elin, saya tidak akan melepaskan tanganmu jika kamu tidak mengijinkan untuk bersama kamu."
Elin dengan berat mengangguk menerima permintaan dari Raka, begitu senang hati Raka, sambil melompat dia berteriak
"Elin, betul kah?"
"Iya, kamu ikut saya."
Dalam perjalanan Raka memegang tangan Elin, sambil ketawa gembira, senang rasanya tidak terbendung bagai mimpi di siang bolong, sudah lama kesempatan itu dia inginkan akan tetapi baru kali ini dia memberanikan diri untuk menyatakan cinta ke Elin.
sambil menyanyikan lagu cinta yang lagi kasmaran, tidak terasa waktu magrib pun tiba, namun jualan Elin belum ada yang laku.
"Kasian Elin, jualannya belum ada yang beli, mungkin dia akan menyalahkan saya karena dari tadi memang dia larang saya ikut tetapi tetap ngotot, perasaan khawatir dalam hati Raka."
"Raka, terima kasih atas bantuannya, walaupun pembeli saya tidak ada tetapi saya tetap bersyukur karena ada kamu yang menghibur, waktumu habis untuk menemaniku."
"Saya yang berterimakasih kasih Elin, karena kamu ijinkan saya mengikuti kamu, saya banyak belajar dalam perjalanan ini, selama ini saya hanya menghabiskan waktu saya untuk hal yang tidak menguntungkan, sementara waktu kamu sangat digunakan untuk kelangsungan hidup kamu, saya yakin Allah tidak mungkin melihat kamu seperti ini terus menerus, akan ada cahaya yang kamu dapat dari kerja keras kamu, biarlah waktu dan perjalanan hidup kamu yang menjadi saksi bahwa kamu tulus menjalani hidup, tidak menyesali apa yang terjadi, tidak memaksa takdir untuk berubah, kesabaran akan kamu tuai nantinya Elin."
Malam tiba di rumah adik Raya belajar, sementara Elin menyiapkan makanan yang sederhana, empat potong tempe ada sayur bening dan nasi sedikit.
"Raya ayo, makan dek, makanan sudah siap ni, isi perut kamu dulu biar belajarnya enak."
"Iya kak, makasih."
merekapun makan bersama, walaupun makanan sederhana tetapi mereka sangat menikmatinya, terlihat kalau mereka lagi kelaparan.
Keesokan harinya, seperti biasa mereka sibuk dengan kegiatan sekolah, Elin sudah tiba di sekolah sekitar jam setengah tujuh, tidak lama kemudian Raka muncul tiba-tiba.
"Elin, dari tadi ya? saya bawakan kamu kue puding ni, kebetulan di rumah tadi orang lagi buat kue, makanya aku ingat Elin. kamu coba yuk, pasti enak lhoo Elin."
Elin pun mencicipi puding yang dibawa Raka.
"Raka kenapa mesti kamu repot, bawakan saya, lain kali tidak usah ya?"
"Tidak apa Elin, ini bentuk kasih sayang saya sama kamu, saya betul betul sangat mencintaimu, perasaan ini sudah lama saya pendam akan tetapi baru kemarin saya sampaikan, kamu tahu tidak tadi malam saya tidak bisa tidur mengingat kamu, alangkah bahagianya saya."
tidak lama kemudian siswa lain pada datang, tetapi Raka tetap duduk di samping Elin, dia tidak peduli dengan siswa lain, rasa cintanya kepada Elin begitu kuat.
dari jauh Zara melihat mereka berdua, sambil berbisik ke Lilis.
"Lilis, kamu lihat mereka,"
sambil menunjuk kearah Elin dan Raka.
"Zara kamu tahu tidak, kenapa mereka tiba-tiba kayak perangko, mereka pacaran ya? masa Raka pacaran dengan anak kampung kayak gitu, dasar anak murahan, dia mendekati Raka supaya nasibnya berubah, tidak miskin miskin terus, dasar anak kampung tidak tahu malu!"
Zara emosi karena dari dulu dia mencintai Raka akan tetapi cintanya tidak di respon, malahan dekat dengan Elin gadis tidak mampu, gadis miskin dan tidak pintar bergaul dengan teman-temannya.
Tiba saatnya pulang Sekolah, Zara menghadang Elin dan langsung membentak dan menampar muka Elin.
"Dasar perempuan murahan, pengganggu dan suka cari muka, kenapa kamu godain Raka? memangnya kamu anggap dirimu cantik dan pintar, jadi seenaknya bertingkah?" teriak Zara dengan suara keras.
"Zara, saya tidak tahu salah saya apa? mengapa kamu tega memukul saya? tukang pengganggu maksudnya apa? selama ini saya tidak pernah mengganggu kamu, bicara ke kamu saja jarang, karena saya tahu diri kalau saya tidak sepantasnya bergaul dengan kalian, saya ini orang tidak mampu tetapi tidak sepantasnya kamu memukul saya tanpa sebabnya Zara," sambil menangis Elin mengeluarkan segala isi hatinya, berderai air mata Elin, karena selama ini dia pernah merasa bersalah ke Zara.
"Elin, kamu tahu tidak kalau Raka itu adalah pujaan saya, kenapa kamu berani mengganggu dia?" teriak Zara sambil menunjuk muka Elin.
"Zara, sebenarnya bukan saya yang mengganggu Raka, dia datang sendiri ke saya tadi pagi, kalau pun penyebabnya adalah itu, nanti saya sampaikan ke Raka, soalnya jika ribut cuma karena itu, saya malu Zara," Elin menjelaskan dan memberikan pengertian kepada Zara, karena dia merasa malu, baru kali ini kejadian seperti ini, walaupun dia miskin dia tetap menjaga harga dirinya.
Perdebatan begitu panjang saling menjelaskan, tidak lama kemudian Raka tiba - tiba muncul dengan motor besarnya.
"Elin, kamu mengapa disini, dari tadi saya cari kamu? Elin, kamu abis nangis ya? sayang apa yang terjadi denganmu?" Raka terus bertanya ke Elin, tanpa mempedulikan Zara yang ada di sampingnya, dia cuman fokus ke Elin, sementara Elin tidak menjawab apapun, dia hanya diam membisu, sambil menunduk.
"Hei, Raka kenapa kamu terlalu memperhatikan Elin, sementara saya tidak sama sekali kamu perhatikan, kamu tahu tidak kalau saya sangat cinta kamu, selama ini saya tidak mengungkapkan perasaan saya, ehh belum terungkap sudah ada yang nyosor duluan, itulah Elin, perempuan tidak tahu diri!"
"Diam kamu Zara, jangan kamu ucapkan kata itu ke Elin! terlalu lancang kamu bicara, tahu tidak kalau Elin itu adalah gadis yang punya tata Krama, tidak seperti kamu, lagian saya tidak ada perasaan cinta ke kamu, buat apa kamu paksakan perasaan saya, cuma Elin tempat saya merasakan adem, saya begitu lama menginginkan dia, tetapi mengapa mesti mengacaukan semuanya, kamu pergi Zara jangan gangguin Elin lagi." dengan nada menyesal Raka lampiaskan amarahnya ke Zara, tidak lama kemudian Zara pulang sendiri tanpa pamit lagi.
"Elin, ayo kita pulang, saya bonceng kamu pulang, ayo Elin sayang, saya tidak ingin melihat kamu sedih dan tidak mau ada orang yang menyakitimu sayang?" Raka membujuk Elin dengan membelai rambutnya agar ikut dengannya naik motor.
"Raka, tidak usah, biarlah saya jalan ke rumah, tidak usah repot, sambil mengusap air matanya, tolong kamu tinggalkan saya, cukup kali ini masalah terjadi padaku tentang kami, saya mohon kamu menjauhi saya, kamu tahu khan kalau beban hidup saya berat jika dekat kamu Maka masalah saya akan bertambah, sebelum jauh melangkah mending engkau meninggalkan saya, perasaan itu akan saya kubur dalam-dalam, Masalah sakit itu sudah biasa saya alami, jadi sekali lagi tolong jauhi saya Raka? saya pikir akan ada banyak rintangan saya hadapi jika bersamamu, biarlah saya hidup saya berdua dengan adik saya, terima kasih atas empati kamu, betul yang disampaikan Zara kalau saya ini tidak pantas bergaul dengan kalian," sambil menunduk Elin melangkah pulang ke Rumahnya, Raka pun bingung bagaimana cara untuk menjelaskan ke Elin.
"Elin, Elin tunggu saya, kamu tidak boleh meninggalkan saya, perasaan ini sudah besar buat kamu, aku cinta kamu Elin, saya ingin ungkapan cinta itu keluar dari mulutmu Elin, tolong Elin, janganlah engkau membuat saya menderita, perasaan ini sudah lama saya pendam, tidak kah kamu kasian dengan perasaan ini?" Raka sambil duduk didepan Elin dan memegang tangan Elin
"Raka, bukannya saya menolak perasaanmu, saya ini ingin berusaha bagaimana sekolah saya bisa lanjut, jika keadaan selalu seperti tadi kemungkinan kelanjutan sekolah saya terancam, karena ada beberapa cara yang akan mereka lakukan untuk menjatuhkan saya, tolong menjauh ke saya Raka, demi masa depan saya. kalau lah jodoh pasti kita tetap bersama, tetapi untuk sementara ini mohon menjauh dari saya Raka demi masa depan saya.cinta itu tidak dapat saya sembunyikan, saya juga mencintai kamu tetapi saya harus pintar - pintar mengambil langkah untuk keberlangsungan masa depan saya, kamu tahu tidak Raka, kalau kemarin adalah masa bahagia saya saat engkau telah mengungkapkan perasaan cintamu, tetapi tidak apalah walaupun sehari tetapi itu sudah cukup berarti buat saya, kamu satu - satunya yang aku kenal gigih untuk mendapatkan saya, padahal saya ini ibarat sampah di tengah-tengah kalian." ucap Elin, sambil berderai air matanya, perasaan sedih itu tidak bisa di bendung lagi.
Malam pun tiba perasaan Elin semakin dirundung sedih, perasaan cinta yang dia pendam selama ini haruslah dipaksakan untuk pudar bagai pelangi tanpa warna, memaksa hati untuk menerima keadaan, jikalau perasaan ini harus berakhir tidak apalah karena hati sudah terbiasa dengan luka, sambil menundukkan kepala Elin berjalan menuju kamarnya, matanya kali ini tidak bisa terpejam mengingat kejadian tadi, betapa besarnya cinta Raka, betapa sakit hatinya Raka, mungkinkah dia membenciku? semoga dia mengerti keadaan saya.
Keesokan harinya seperti biasanya Elin ke sekolah, kali ini bukanlah dia orang yang pertama datang akan tetapi ada Raka di sana duluan menunggu.
"Elin, saya tidak ingin melepaskan kamu, saya bilang tidak bisa meninggalkan kamu, please sayang, jangan hancurkan perasaanku, kamu tahu tidak sampai sekarang saya belum tidur hanya karena memikirkan kamu!"
suara keras Raka pun memecahkan kesunyian kelas sambil memeluk erat Elin, tidak ingin melepaskan pelukannya, namun Elin pelan - pelan mendorong Raka, takutnya siswa datang dan melihat kejadian ini.
"Raka, tolonglah kamu sadar, buat apa kamu nekad begini, tidak ada gunanya! semua ini tidaklah merubah pikiran saya, jikalau kamu sayangi saya tolonglah untuk sementara ini kamu menghindar, kamu tahu khan maksud saya? semua ini untuk menyelamatkan saya, jikalau Zara tahu mungkin niat untuk mencelakakan saya lebih berat lagi, yang saya takutkan sekolah saya tidak lanjut,dan yakinlah bahwa masalah jodoh itu tidak ada yang bisa mengubahnya karena itu adalah takdir dari Allah."
kali ini Elin yang membelai tangan Raka, seakan membujuk Raka untuk menjauh darinya.
"Elin, saya sangatlah mencintai kamu, baru kali ini perasaan saya begini dengan seorang gadis yang membuat hati saya merasa teriris, mengejar mimpi untuk bersamamu, jika memang itu yang membuat kamu merasa tenang biarlah perasaan ini yang mengalah, tapi ingat pintu hatiku hanya untukmu."
Raka pun pergi menjauhi Elin, dia harus tegar menghadapi kisah cintanya, walaupun perasaan ini sirna, namun masih ada harapan untuk menunggu kembali cinta Elin, dengan langkah gontai, dia menemui temannya yang ada di luar kelas.
Malam hari yang penuh kesedihan kembali dirasakan oleh Elin, sambil memandang langit-langit kamarnya, dia teringat tadi waktu Raka memeluknya erat - erat, seakan dia tidak ingin melepas pelukan Raka, ciuman Raka begitu hangat menggetarkan seluruh tubuh Elin, baru kali ini dia di peluk mesra oleh laki - laki, mungkinkah ini adalah cinta pertama saya perasaan ingin selalu didekatnya, sunyi malam menghantarkan perasaan cinta Elin, ada seribu mimpi di benaknya bercampur jadi satu tidak lama kemudian samar -samar kedengaran Elin menyanyikan lagu lagu Naff
Terendap Lara
Resah jiwaku menepi
Mengingat semua yang terlewati
saat kau masih ada disisi
mendekap ku dalam hangatnya cintamu
Lambat sang waktu berganti
Endapkan lara ku disini
coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindu mu
Sekian lama aku mencoba
menepikan diriku di redupnya hatiku
letih menahan perih yang kurasakan walau kutahu ku masih mendamba mu
lihatlah aku disini melawan getirnya takdirku sendiri
tanpamu aku lemah dan tiada berarti
sekian lama aku mencoba
meelupakan dirimu di redupnya hatiku
letih menahan perih yang kurasakan walau kutahu ku masih mendamba mu.
sambil menyanyikan tidak lama Elin tertidur pulas, terhanyut dengan lagu yang dibawakan.
Hari ini adalah hari libur, Elin tidak ingin terhanyut dengan perasaannya, dia kembali beraktifitas seperti biasa menjual cemilan keliling, untuk memenuhi kebutuhannya, uang yang dia pegang tinggal sedikit tidak mampu lagi untuk membeli lauk pauk, untung beras masih ada, kalau Masalah lauk Pauk tidak menjadi masalah karena dia sudah terbiasa makan nasi dengan garam.
Satu bulan kemudian waktu mereka lalui, Raka kini tidak pernah lagi mendekat dengan Elin, ketika pulang sekolah Raka seakan akan tidak mengenal Elin, cuman tersenyum kemudian pergi tanpa menyapa lagi, dalam hati Elin bertanya "ada apa dengan Raka mengapa dia berubah seperti itu, apakah dia tidak mencintai saya lagi, dia seakan bertingkah dingin ketika melihat saya, tidak seperti dulu lagi, apakah mungkin ada gadis lain yang dia cintai selain saya?" pertanyaan itu timbul dalam hati Elin, dia mengintip dari jauh langkah Raka, tidak lama kemudian ada siswa yang imut menghampirinya dari kelas sebelah, gadis itu parasnya cantik, mereka seakan sudah mengenal lama, tidak lama kemudian Raka memegang tangan gadis tadi, betapa hancurnya hati Elin, ternyata kata - kata yang dikeluarkan oleh Raka selama ini hanyalah gombalan semata-mata, sama seperti laki - laki lain yang dia kenal munafik, pura pura baik ternyata buaya darat yang tidak wajar di kasih hati.
Hancur perasaan Elin, dia berlari menuju rumahnya, apa yang dia cemaskan ternyata terjadi, dia terbuai dengan perasaan cintanya, sementara dirinya adalah orang yang tidak mampu, berkhayal menggapai bintang yang membuatnya sakit.
"Kakak kenapa, dari tadi saya lihat sedih, mungkin kakak ada masalah ya di sekolah? kakak janganlah di pendam sendiri, siapa tahu saya bisa membantu kakak?" ucap Raya sambil menatap dalam kakaknya.
"Saya baik - baik saja dek mungkin saya agak demam jadi kelihatan tidak semangat, kamu istirahat saja, biarlah saya duduk disini dulu."
Elin menutupi kesedihannya tidak menceritakan semuanya ke adiknya, dia tidak ingin memberikan beban buat adiknya, ini adalah masalah perasaan yang harus dia tanggung sendiri.
Suara jangkrik kedengaran begitu jelas, seakan menghibur hati Elin yang lagi sedih, angin sepoi-sepoi membelai wajahnya, bintang dan bulan pun ikut menyaksikan kesedihan hati Elin, semua seakan sedih melihat anak yatim-piatu itu, begitu berat beban hidupnya, tangisan hati tidak bisa dihitung dengan jari lagi, mungkin ada secercah harapan, mungkinkah ada perubahan dalam hidupnya, akankah Allah mengabulkan doa - doanya, mengapa derita itu tidak pernah sirna
Keesokan harinya seperti biasa Elin melakukan aktivitas ke sekolah, alangkah terkejutnya Elin ternyata didalam kelas sudah ada Raka dengan perempuan yang dia temani kemarin, mereka berdua bermesraan, Elin terdiam dan masuk di ruangan. begitu kejam Raka terhadapnya dalam hati Elin bergumam, tidak lama kemudian Raka mendekati Elin sambil memperkenalkan teman dekatnya.
"Elin, kamu kenalan yuk dengan Susi, anak Pindahan dari Samarinda, dia baru sekitar dua Minggu disini, ayo kamu kenalan, anaknya baik dan ramah lhoo." Elin seperti biasa agak canggung dengan orang baru.
" Iya makasih Raka, cukup dengan tahu namanya tidak usah terlalu perkenalkan diri, maaf saya keluar dulu,"
Elin pun keluar dari kelas tidak ingin mengganggu Raka dengan Susi, entah sakit hati yang ke berapa yang dia rasakan, tetapi mungkin sudah biasa jadi dia tidak terlalu menggubris tingkah dari Raka.
Tidak lama kemudian Raka datang menghampirinya.
"Elin, maafkan saya, saya telah membuatmu sakit hati, semua ini saya lakukan karena cuma Susi yang membuat hati saya jauh dari sedih saat kamu menolak saya, perasaan cintaku padamu membuat saya larut dengan sedih, untung ada Susi yang datang menghibur saya, dia juga gadis lembut hampir sama dengan kamu, maafkan saya Elin, dulu cintaku dalam terhadap kamu akan tetapi kamu punya alasan tersendiri untuk menjauh dariku, sekarang rasa cinta itu ada sebagian di Susi, walaupun aku tidak pungkiri rasa cinta saya ke kamu masih ada."
Elin terdiam, seakan merasa bahwa semua ini bukan kesalahan dari Raka, ini adalah salahnya sendiri, menolak cinta Raka dan mengharapkan untuk menunggunya namu hal itu tidaklah mungkin terjadi, karena perasaan cinta itu jika tidak dijaga maka akan hilang dengan sendirinya, begitupun dengan Raka, tetapi tidak apalah, Raka sudah memiliki pujaan hatinya.
Tiba di rumah Elin menangis keras, teriak
"tidak,tidak, kenapa nasib saya begini! mungkin Tuhan tidak akan memberikan saya kebahagiaan walaupun sedikit saja, mengapa penderitaan terus saya alami? apakah diri saya tidak pantas untuk bahagia? apa salah saya ya Allah?" Elin histeris menangis sekuat-kuatnya, seakan penderitaan yang dia alami tidak pernah hilang.
" lebih baik saya berhenti sekolah, tidak usah saya mengejar yang tidak mungkin saya gapai, buat apa saya berkhayal tinggi sementara nasib sepertinya hitam terus,"
Keesokan harinya Elin tidak pergi ke Sekolah, dia hanya menjual cemilan, sakit hatinya tidak dapat dia tahan.
Duhai hati, maafkanlah saya, tidak pernah memberikan kamu bahagia.
mungkin ini adalah nasib saya, mungkin saya hanya sebagai tempat hinaan mereka.
Tidak lama kemudian Elin sakit, tidak bisa lagi beraktifitas selain baring, yang merawat cuma adiknya, tiba - tiba Raka datang, mungkin saja dia penasaran karena beberapa hari ini Elin tidak masuk Sekolah.
"Elin, elin kamu kenapa?" Elin tidak bisa bicara lagi, dia hanya diam membisu.
"Elin, Elin, kamu sakit apa?" Raka teriak, seakan cemas melihat keadaan Elin, dia memegang tangan Elin sambil mengeluarkan air mata tetapi Elin sudah kelihatan lemas.
"Raya kenapa kamu tidak bawa kakakmu di rumah sakit dari kemarin? mestinya kamu bawah dek! Lihat kakakmu sekarang, kondisinya mengkhawatirkan."
" Kakak Raka tahu khan kondisi kami, saya mau bayar pakai apa kak jika kami bawah ke rumah sakit?"
ucap Raya dengan nada sedih, tidak lama kemudian Raka keluar cepat dari rumah itu mencari mobil untuk membawa Elin ke Rumah sakit, Raka mengangkat Elin masuk di mobil, Elin yang seakan tidak mengingat apa - apa lagi, matanya hanya terpejam, kondisinya sangat lemas, sampai di Rumah sakit Elin ditangani cepat.
"Dokter bagaimana dengan keadaan Elin?" tanya Raka dengan penuh kecemasan.
"keadaan pasien lagi drop, nanti kita lihat hasil laboratorium tentang penyakit yang dia derita." Raka termenung, keadaan Elin sampai sekarang belum siuman, invus dan bantuan pernafasan melilit di badannya, saya tidak mengerti tentang alat - alat itu semua, mungkinkah Elin bisa kembali sembuh gumam di dalam hati Raka, ada perasaan bersalah dalam diri Raka, mengapa dia tega menyakiti Elin? mungkin saja dia sakit gara - gara kelakuannya kemarin dengan Susi, ada penyesalan di dalam hati Raka.
"Raya, kamu pulang saja biar saya yang menjaga Elin, biar saya nginap disini saja."
"Iya kak Raka, saya pulang ke rumah dulu soalnya besok ada ulangan harian saya, terus untuk biaya rumah sakit gimana kak? soalnya kami tidak punya uang, sedangkan biaya yang di butuhkan kayaknya banyak kak, apalagi keadaan kakak Elin kayaknya parah."
"Tidak usah pikirkan itu dek, biar itu menjadi tanggungjawab saya, nanti saya tanggung pembayarannya, lagian baru kali ini saya membantu kalian."
"Makasih kak, kami sudah merepotkan kakak Raka, semoga Allah membalas semua kebaikan kakak."
Hening dalam ruangan, tinggal Raka
yang menunggu Elin, yang belum siuman, dia menatap dalam - dalam gadis yang ada di depannya, hatinya terasa teriris melihat keadaan Elin, gadis yang penuh penderitaan, nampak di mukanya seribu penderitaan yang dia tanggung, tidaklah terbayangkan jika hal tersebut terjadi padanya mungkin saja Raka tidak sanggup menghadapinya, di genggam tangan Elin.
"Elin, kamu tidak tahu perasaan saya yang sebenarnya, yang kamu tahu saya sakiti kamu, pasti kamu marah jika melihat saya disini, melihat keadaan mu sekarang sayalah merasakan perih dihati, saya sangat mencintaimu namun saya hanya melampiaskan amarah saya dengan Susi, saya berharap kamu cemburu dengan keadaan ini, ternyata tidak, kamu tetap pendam perasaan sakit itu, tanpa mengungkapkan perasaan cemburumu kepada saya, apalah arti saya jika sudah begini keadaan kamu Elin" sambil menggenggam tangan erat Elin, Raka menangis, Elin tetap dalam diamnya belum siuman.
"Jikalau jodoh itu bisa dipaksa, saya akan berusaha untuk berjodoh dengan kamu, walau rintangan apapun itu, kamu telah memberikan banyak pelajaran buat saya, di antara banyaknya bintang yang bertaburan di sana hanya engkaulah yang menjadi bintang di hatiku, jika engkau pergi di dunia fana ini, apalah artinya hidup saya, saya tidak ingin semua ini terjadi, saya ingin engkau bersamaku, menua bersamamu sayang," tatapan Raka semakin dalam ke arah Elin, air matanya tidak pernah berhenti, ada penyesalan yang luar biasa di dadanya. tiba - tiba ada gerakan pelan di tangan Elin.
"Elin, Elin, Elin, sayang kamu bangun, kamu bangun sayang, saya ada disini, ini Raka sayang." Elin masih menggerakkan sedikit tangannya setelah itu tidak sadarkan diri lagi.
Sekitar pukul 02.00 Elin mulai siuman dan memanggil nama Raya.
"Raya, Raya kamu dimana dek? tolong ambilkan saya air minum, saya haus dek," mata Elin masih terpejam tetapi dia sudah bisa menggerakkan badannya, perasaanya masih pusing.
"Elin, Raya tidak ada sayang, ada saya disini, saya Raka sayang,"
Sambil menjelaskan secara detail Raka terus menjelaskan ke Elin, akan tetapi Elin belum merespon ucapan Raka, keadaannya masih lemas, Elin belum sadar jika yang disampingnya itu adalah Raka, laki-laki yang selama ini membuatnya tersakiti, tidak lama kemudian Elin membuka matanya, pandangannya langsung tertuju kepada Raka, alangkah terkejutnya Elin.
"Saya dimana ini?mengapa saya disini? mengapa? dimana Raya, adik saya? kok kamu ada disini?" Elin berusaha untuk duduk, tetapi keadaannya belum bisa, pandangannya di alihkan.