Perut sudah meronta meminta diisi dan tenaganya sudah cukup terkuras banyak untuk berdebat dengan Cilla. Jonathan memutuskan ikut menggoreng nugget dan sosis, lalu membuat minuman hangat saja. Ia menikmati sarapan pagi yang terlambat di ruang tengah, memudahkan pria itu jika ingin kembali ke dapur.
Jonathan menikmati pagi harinya cukup santai. Ia menonton siaran teve tentang olahraga, tampak santai karena menselonjorkan kaki di atas meja seraya bersandar di sofa. Jonathan tidak memasak terlalu banyak, begitupula dengan nasinya. Ia hanya mengambil secukupnya, tidak seperti Cilla satu bungkus di gorengnya.
“Tutorial mencuci pakaian.”
Brussshhh ....
Kali kedua terlihat bodoh. Jonathan segera menaruh cepat piring, menyeka bibir bawah dan dagu, lalu menatap membeliak Cilla yang tadinya berjalan ke arah dapur sambil memegang ponsel, refleks berhenti.
“Lho? Kenapa, Jo, minumannya disemburin gitu?”
Jonathan menelan saliva susah payah ketika tenggorokannya terasa kering. Ia mengerjap, berusaha mengendalikan rasa terkejutnya sambil berdeham. Pria itu berdiri, lalu menatap Cilla dengan tatapan ragu. “Kamu ....”
“Kamu ngapain berpenampilan kayak gini?” tanyanya sinis, sekaligus tidak menyangka.
Cilla bertransformasi menjadi perempuan tidak tahu diri.
Tidak bisa melihat dan merasakan jika mereka berdua; berlawanan jenis, tampak terus saja dihadirkan bagian-bagian mengejutkan yang mengundang hasrat dan tatapan m***m.
“Nggak kenapa-napa,” sahutnya polos.
Jonathan berdecak kesal melihat Cilla dengan pakaian dalam layaknya ingin berenang. “Ini bukan di pantai yang berpenampilan dengan pakaian dalam,” sahutnya menatap tubuh Cilla.
Sebenarnya, ia sedikit merasakan gelenyar ketika mendapati perempuan yang dulunya kecil dan terlihat imut itu benar-benar jauh berbeda. Cilla di hadapannya tampak sempurna dengan lekuk tubuh yang sangat ideal.
Tapi pria itu tidak terlalu lama menatap bagian tubuh Cilla menyembul. Sangat mudah sekali ditatap Jonathan dari jaraknya duduk.
“Ini memang bukan di pantai.”
“Aku juga bukan pakai bikini. Tapi cuma bra sama celana dalam.”
“Cilla ....”
Jonathan menatap gemas perempuan yang menguncir kuda rambutnya.
“Bisa, nggak, berpikir negatif sedikit?”
“Untuk apa?”
Pertanyaan polos itu membuat Jonathan mengembuskan napas berat, lalu menggeleng lemah dan menatapnya tajam, “Kita cuma berdua di sini dan kamu berani berpenampilan yang nggak seharusnya?”
“Apa kamu berpikir mau menggoda aku? Kamu yakin, nggak bakal menyesal?”
“Pikiran kamu kurang waras kayaknya. Di sini pakai baju, bukan yang kurang bahan seperti di pantai,” lanjutnya menatap tajam Cilla yang dibalas mengedik perempuan itu.
“Sengaja, biar tergoda.”
Tatapan angkuh yang langsung menampilkan senyum jahil itu membuat Jonathan mengusap wajahnya dengan menatap frustrasi Cilla.
“Ini gimana, sih?! Aku nggak bisa nyuci pakaian. Lagian masih takut tanganku nggak mulus, indah di pandang atau di pegang orang lain. Terus, aku juga pakai beginian biar enak. Kan, mau basah-basahan,” tuturnya ikut mulai kesal.
Karena tujuan utama Cilla adalah tidak mengotori pakaiannya. Ia merasa jika mencuci pakaian tanpa mengenakan pakaian luar yang terlalu banyak, bisa membuatnya bebas bergerak.
“Laundry aja, ya?” Cilla masih mendesak dan merayu Jonathan.
Pria itu menggeleng pelan dan berlalu memilih balkon kembali untuk mengakhiri perdebatannya bersama Cilla. Terutama saat ia terlalu lama disuguhkan kulit putih dengan tubuh semampai itu.
Cilla berdecak kesal, lalu kembali ke dapur untuk mengisi minum. Ia merasa kering tenggorokannya karena sudah menghabiskan keseluruhan nugget yang digoreng.
Tidak berapa lama, Cilla sudah dihadapi kebingungan untuk memulai mencuci. “Di sini tutorialnya udah mudah, sih. Tapi gimana sama deterjennya? Bagus nggak, kalau udah bersentuhan sama telapak tanganku?”
Ia masih berdiri di wastafel, menaruh tegap ponselnya di sana untuk melihat saksama tutorial mencuci pakaian. Di samping ponsel itu juga sudah ada deterjen yang diberikan Jonathan.
“Oke, oke! Mudah!”
Cilla langsung mematikan ponsel dan meraih cepat deterjen tersebut. Tetapi sesampainya di depan dua ember dan salah satu berisi pakaian kotor Jonathan, Cilla terdiam.
“Ini susah banget disobekinnya,” gerutu perempuan itu seperti tidak ada tenaga merobek sisi deterjen.
“Ih ... kurang kuat, nih!” gemasnya dengan kedua tangan mengambil sisi belakang dan depan untuk dibuka secara bersamaan.
Bukannya benar. Karena tarikan yang cukup kuat, Cilla memekik. Setengah deterjen itu berserakan di bawah kaki Cilla, bahkan mengenai pakaian dan air yang sudah diisi Jonathan dalam ember.
“Waduh! Banyak juga yang ludes,” sahutnya menggigit bibir bawah.
Cilla mengumpati Jonathan yang seharusnya bisa memindahkan deterjen tersebut ke dalam wadah khusus, misalnya.
Karena kesal di hari pertama bekerja dan semuanya serba baru di pandangan Cilla. Ia mencari akal saat ember yang diberikan Jonathan terlalu kecil.
Tidak berapa lama menilik keadaan sekitar kamar mandi yang luas untuk tidur ini. Cilla menarik kedua sudut bibirnya. “Ini baru mantap,” sahutnya segera menggeret pakaian kotor Jonathan.
“Cilla ....”
“Kamu udah rendam semuanya, kan? Aku mau masuk ke toilet.”
Jonathan mengetuk pintu kamar mandi yang memang tidak kedap suara. Jadi, dipastikan ketukan dari suara Jonathan yang sedikit kuat itu akan terdengar oleh Cilla.
“Iya! Udah direndam, kok. Kamu kalau mau masuk, silakan aja. Aku lagi cuci tangan, banyak busa,” sahut Cilla dan langsung saja Jonathan membuka pintu kamar mandi.
Sialnya.
Dalam hati Jonathan, pria itu langsung disuguhkan b****g Cilla saat perempuan itu sibuk mencuci tangan di wastafel.
Cilla yang melihat keterdiaman Jonathan, mengerjap dari pantulan cermin untuk bertanya. “Jo?”
“Ah, iya.”
Jonathan mengumpati dirinya sendiri dan pandangan pria itu pun langsung teralihkan pada lantai di hadapannya. “Ya ampun, Cilla. Ini semua berserakan nggak kamu bersihkan?” Jonathan perlahan masuk dan melihat deterjen yang bisa saja membuatnya terpeleset karena lantai yang licin.
“Gimana kalau terpeleset dan gegar otak?”
“Nggak. Buktinya dari tadi aku aman-aman aja,” sahutnya begitu santai sambil mendekati Jonathan.
Pria itu memang salah memaksa Cilla berada di unitnya. Seluruh barangnya mulai dipertaruhkan, begitupula kerapian dan kebersihan. Ia memijat pelipis merasakan denyutan di kepala.
“Sekarang pakaiannya di mana?” tanya pria itu menoleh ke Cilla.
“Tuh, di sana,” sahutnya menunjuk tempat yang langsung membuat manik hitam Jonathan membeliak sempurna.
“Bathtub?!”
“Ya! Benar sekali,” sahut Cilla dengan penuh semringah.
Berbanding terbalik pada Jonathan yang mendekati bathtub dan meneriaki Cilla. “Ini bukan tempat rendam dan cuci pakaian, Cilla!”
“Kamu ngotorin semua tempat dan nggak manfaatkan dua ember yang ini?!”
“Kekecilan, Jo. Aku nggak puas kalau tempatnya kecil.”
“Ini muat!” ketusnya semakin meledak-ledak, sekaligus berusaha menahan emosi saat Cilla tertawa kecil, memainkan alisnya meminta Jonathan untuk meredam kemarahannya.
“Jangan marah, dong. Lagian nanti tinggal aku cuci, bilas bersih.”
Selalu saja dijawab santai tanpa beban dan rasa bersalah.
“Ya ampun ....”
Jonathan menangkup kepalanya, tampak merasakan denyutan yang semakin mendesaknya untuk terbaring lemah saja di atas ranjang. Daripada melihat Cilla seperti ini, ia lebih baik istirahat saja di unit Cilla. Gantian.
“Kamu kan baik. Pasti boleh dong, cuci di sini,” celetuk Cilla langsung menyenggol pinggangnya dengan pinggang pria itu.
Jonathan menatap melotot, tapi justru dibalas tawa puas Cilla.
“Aku beneran nggak bisa dikasih yang kecil.”
“Sama kayak yang ini ....”
“Kalau dilihatin yang kecil nggak bakal mau. Kalau dilihatin yang besar, mau banget.”
“Punya kamu besar atau kecil?”
Jonathan syok berat.
Ia membeliak sempurna saat Cilla dengan kurang ajarnya melihat bagian tengah Jonathan yang masih terlapisi pakaian luar. Pria itu refleks menutup bagian berbahaya dengan kedua telapak tangan. “CILLA! KAMU m***m BANGET!”
Jonathan takut dengan Cilla.
Ia memang tidak menyangka perempuan itu akan terlihat agresif dan tidak terlihat naif seperti kebanyakan perempuan yang Jonathan kenal.
Tapi semakin ke sini ia justru merasa ngeri. Pria itu takut diperkosa oleh Cilla atau mulai ada drama yang tidak mengenakkan.
Dengan penampilan seperti ini dan tiba-tiba kakeknya datang. Semua bisa saja terwujud semakin aneh di luar apa yang seharusnya terjadi, kan?
“Mandi!”
“Setelah itu kamu ikut aku!” tegasnya membuat kening Cilla mengernyit.
“Lho? Kok disuruh mandi?”
“Mandi berdua, ya? Mau, dong.”
Jonathan hampir saja mengumpati perempuan itu tepat di depan wajahnya. Ia menggeram, mengepalkan kedua tangan, lalu menatap Cilla dengan begitu sabar.
“Cilla ... kamu mandi sekarang juga. Sendirian.”
“Karena aku harus bertemu sama klien jam sepuluh nanti.”
“Tapi pakaiannya? Terus, masih lama juga ketemuannya.”
“Ck! Aku tetap Atasan kamu. Jadi, apa pun perintahku, kamu harus tetap mengikutinya.”
“Masalah pakaian ini, biarin dulu. Kepalaku pusing karena tingkah kamu,” jujurnya mengakui yang pagi ini terjadi.
Baru pagi pertama. Bagaimana dengan pagi selanjutnya atau bisa dikatakan lebih dari setengah hari ia mempekerjakan Cilla.
“Ngomong dong, dari tadi bisa langsung dibiarin aja. Tanganku udah aneh sentuhan dengan deterjennya,” gerutu perempuan itu mengulurkan kedua tangannya, merengek kesal pada Jonathan yang hanya dianggapnya angin lalu.
“Cepat mandinya. Kalau lama bisa didatengin hantu di kamar ini.”
“Jo!”
Perempuan itu refleks merangkul lengan Jonathan, terlalu erat sampai pria itu tertegun. Tidak berkutik sama sekali di saat Cilla menatapnya kesal sekaligus merasa takut. “Ih! Kenapa ditakutin lagi! Aku udah hampir lupa dan tadi santai aja ditinggalin sendirian.”
“Kalau kayak gitu ... pokoknya kamu harus tungguin aku mandi!”
Jonathan membeliak sempurna.
“Cilla. Kamu beneran udah nggak waras.”
“Ini masalah takut, bukan nggak waras!” Ia terus mengatakan apa yang terkonstruksi di dalam pikirannya sendiri.
“Nggak. Aku lama-lama bisa gila kalau harus turutin semua permintaan kamu.” Ia berusaha melepaskan kasar rangkulan Cilla di saat perempuan itu terus menahannya.
Cilla sama kuat untuk mengenggam erat tangan Jonathan.
“Sekalipun dia bakal tunjukin diri di depan kamu. Pasti nggak lama. Dia takut sama perempuan aneh dan kurang secanting kayak kamu.”
“Jo! “
“Masa dibilang perempuan aneh dan kurang secanting, sih?!”
Jonathan tidak peduli dan terus saja melepas paksa rangkulan Cilla. Ternyata perempuan itu terlalu kuat melakukannya dan Jonathan harus lebih kuat melepaskannya.
“Jo ... takut,” rengek Cilla.
“Nggak peduli, suer,” cetusnya berhasil melepaskan rangkulan Cilla dan mengikuti gaya bicara perempuan itu.
Jonathan segera berlari keluar kamar, tidak peduli dengan maksud dan tujuannya mengetuk pintu kamar mandi. Jika pun tidak tahan, Jonathan masih bisa mengunjungi toilet yang berada di lantai ini juga.
Keselamatan tubuh dan detak jantung serta pikirannya harus bisa terkendali.
Cilla benar-benar menakjubkan diusia dewasanya.
Semakin aneh.
Bahkan, dulu ia masih bisa merasa jika perempuan itu sudah cikal bakal akan berbeda; nakal dan jahil berujung m***m.
Cilla telah berhasil mendaratkan satu kecupan manis di pipi Jonathan saat mereka masih berada di bangku sekolah kelas satu. Perempuan itu m*****i pipi mulus dan wajah imutnya dengan serangan tidak terduga; kecupan singkat di masa lalu.
**