9. Kecantikan Berangsur Luntur

2058 Words
Byurrrr .... “Kyaaaaaa .... banjirrrrr ....” Cilla memekik kuat dan refleks terduduk setelah ia yakin masih menikmati mimpi indahnya. Napasnya tersengal dan dengan kasar mengusap wajah, lalu melihat apa yang terjadi sebenarnya. Jonathan berdiri di sisi ranjang Cilla, tersenyum miring sambil menggoyangkan gayung mandi mengejek perempuan yang terlalu lelap. Sepertinya Cilla tidak peduli jika perempuan itu bukan berada di rumahnya sendiri, melainkan sudah harus bekerja. Pekerjaan perdana di pagi hari yang langsung diguyur atas ranjang. “Jo! Tega banget sih, disiram kayak gini!” “Jadi basah pakaianku ...” gerutu Cilla mengibas-ngibaskan bajunya yang sudah basah. Gaun satin itu sudah sangat mudah menempel di kulit tubuh Cilla. Bahkan, rambut hitam tergerai panjang itu sudah basah. Cilla mandi pagi di ranjang, bukan kamar mandi. “Biar mudah dibangunkan. Terbukti ampuh, kan?” Ia masih tersenyum puas dan dibalas u*****n Cilla. Matanya mendelik sebal, lalu kembali berminat menatap benda di tangan Jonathan yang masih setia pria itu pegang. “Sejak kapan kamu punya gayung?” “Perasaanku nggak ketemu di kamar mandi ada beginian,” lanjutnya mengingat kembali. Cilla masih ingat ketika meminta ditemani Jonathan ke kamar mandi setelah pria itu berusaha mensugesti dirinya dengan hal horor. Tapi jika ditelisik, Cilla benar-benar tidak mendapati benda tersebut. Ia mengusap kembali wajahnya dan mengerjap, meyakinkan diri sendiri. “Ada. Mungkin mata kamu aja yang bermasalah,” sahutnya dingin dan membuat Cilla mendongak untuk melemparkan tatapan tajam. “Oh, iya. Sekarang waktunya buatkan aku sarapan pagi,” lanjut pria itu melirik arlojinya. Cilla baru sadar jika pria itu sudah rapi dengan kaus pendek dipadukan celana selaras. “Makan di restoran yang ada di apartemen ini aja,” balas perempuan itu menyibak dengan kasar selimutnya. Cilla mandi dadakan dan kekesalannya tidak akan bisa disalurkan sepenuhnya pada Jonathan. Pria itu sangat jahat, terlebih di pertemuan pertama mereka. Jadi, untuk hal seperti ini tidak mungkin ada keinginan untuk merasa bersalah dan berakhir meminta maaf. “Buang-buang duit. Kalau ada pembantu baru, kenapa harus keluar unit? Jadi nggak ada gunanya dia di sini.” Cilla berdiri di hadapan Jonathan dengan menggeram pelan. Dibalas sorot menantang dari Jonathan, membuat Cilla berpikir berulang kali untuk memaki pria itu. “Oke! Aku langsung masak basah-basahan kayak gini,” ketusnya langsung meninggalkan Jonathan, tidak lupa menyenggol lengan pria itu cukup keras. Sayangnya, Jonathan sudah antisipasi dan tidak begitu saja terjungkal di lantai dingin. Ia tersenyum penuh arti melihat kepergian Cilla tanpa membasuh wajah atau mengganti pakaian. Perempuan itu diliputi kemarahan yang membumbung tinggi. “Mau masak apa, sih? Orang nggak bisa masak ... malah disuruh berkreasi di dapur,” gerutu Cilla berkacak pinggang menatap kulkas yang sudah terbuka. “Ini nggak ada yang cepat saji apa, ya? Nugget, sosis, sama telur aja nggak ada di sini.” “Stok si Asher cuma ada sayur-sayuran mentah, terus daging ayam sama sapi ....” Cilla terus berbicara seraya mengusap tengkuknya, bingung sendiri dengan semua bahan mentah. Termasuk udang dan juga cumi. “Mami ... Cilla nggak bisa masak ...” Ia terduduk lemah di kursi dapur, mengumpati Jonathan dalam hati dan membiarkan saja pintu kulkas terbuka. Beberapa waktu terdiam. Cilla berpikir untuk mencari-cari yang lebih mudah. Sampai di rak bawah ia terdiam. Ada mie instan, telur ayam yang mungkin satu kilogram dengan beberapa bungkusan nugget di sana. “Dasar! Dia pasti mau ngerjain aku. Untung kepo dulu sama isi rak di sini.” Cilla berdiri, lalu berpikir sejenak sampai senyum semringahnya terbit. “Oke. Hari ini kamu harus cicipi sarapan pagi yang aku buat, Jo,” sahutnya dengan penuh arti dan mengambil satu bungkus nugget. Sebelumnya, Cilla bergegas menuju pintu dapur, melirik ke sana ke mari dan tidak mendapati tanda-tanda Jonathan akan menghampirinya. “Aman,” ucapnya nyaris berbisik dan segera memasak. ** Jonathan memang tidak berminat menghampiri Cilla. Ia memilih duduk di balkon dari arah ruang tengah, menikmati kesendiriannya bersama iPad dalam genggamannya. Pria itu membiarkan angin segar di pagi hari sedikit menerpa wajah dan memainkan rambutnya yang tadinya tertata rapi. Ia tidak akan berbicara pada Cilla jika semalaman ia sulit tidur. Alasannya? Jonathan yang tidak terbiasa mendapati seseorang di sampingnya saat tertidur di kamar ... nyaris jantungan saat satu tangan sudah mendekap dadanya. Ia berpikir bersiap didatangi malaikat pencabut nyawa. Karena refleks mata Jonathan terbuka sempurna; kaget. Pria itu baru terasadar jika tidur terlentang dan mendapati Cilla tidur menyamping dan memeluknya. Sialnya. Pria itu bisa dengan mudah melihat d**a Cilla yang sedikit menyembul ... terhimpit tubuhnya sendiri. Jonathan sudah tahu jika Cilla tidak memakai apa pun dari balik gaun satin itu dan memutuskan untuk tidur cepat. Bagaimanapun ia pria normal dan Cilla bukanlah perempuan normal. “Duh, ternyata di sini,” celetuk suara familier dan membuat Jonathan menoleh setelah mengaburkan pikirannya tadi. Cilla menyeringai membawa mangkuk berukuran biasa ditambah satu piring berisi nasi di tangan satunya. Kemudian perempuan itu meletakkan di meja samping kursi Jonathan. “Apa ini?” “Makanan.” Cilla menyahut polos, berdiri menatap Jonathan. “Ini sup sayur, Jo. Aku udah buat sarapan pagi kamu lebih baik tanpa ada embel-embel instan yang nggak bakal bagus di tubuh kalau terus menerus” “Bukannya masih ada daging?” tanyanya mendongak dengan tatapan bingung. “Suer! Bawel banget!” balasnya berdecak sebal. “Kamu kayaknya mau kerjain aku, ya? Ini sawi yang kamu potong-potong, terus kayaknya cuma direbus lalu masukin ke mangkuk ini dan ditambah air panas.” Ia sekaligus menaruh dua jemari tangan kanannya untuk mengecek suhu mangkuk. Benar. Ini air panas dan dilihat dari keruh atau tidaknya, sudah bisa ditebak. “Kamu gini banget, sih. Main tuduh aja, nggak menghargai masakanku.” “Lebih baik sarapan dengan sayuran, meskipun bukan salad. Lagian ada kok, rasa di kuahnya. Kamu juga belum cicipi,” sahut Cilla penuh yakin. Ia segera menyendok dan mengambil kuah tersebut, lalu menadah tangan bawahnya agar tidak menetes, menyodorkan ke arah Jonathan. Pria itu mendelik kesal dan menggeleng pelan. “Pasti sudah ditambah racun,” sahutnya. “Sembarangan! Aku mana pernah mau ngeracunin teman sekolah aku sendiri. Ya, meskipun kamu berlagak amnesia, aku nggak marah berkepanjangan, kok,” balasnya tersenyum manis karena terlalu geram dengan Jonathan yang terus memundurkan kepala dan ingin menjangkau pergelangan tangan Cilla. Sampai ia sudah tidak sabaran. Cilla terlihat seperti seorang ibu yang ingin membuat anaknya segera mendapatkan asupan makanan dari bubur bayi yang dibuat. Ia langsung mencengkeram pipi Jonathan, menariknya sampai mendongak. Di saat bibir itu sedikit terbuka oleh tekanan jemari tangan Cilla, perempuan itu segera menyodorkan ke dalam mulut Jonathan dan ... Brushhh ... “Cilla! Ini terlalu asin!” Perempuan itu tergelak mendapati Jonathan segera serabutan ke dalam menuju dapur. Pasti pria itu mencari minum atau membersihkan mulutnya di krant. Jonathan berulang kali mengeluarkan sisa rasa asin yang sangat di luar takaran orang memasak. Ia mengumpati Cilla, menumpukan kedua tangan di dekat krant hanya untuk menenangkan dirinya untuk agar langsung membalas Cilla. Ia tadinya ingin berlalu dan memarahi Cilla. Tapi tidak sengaja, pandangannya menangkap bungkusan nugget masih tertumpuk di sana. Sebenarnya tertutup oleh sampah, tapi Jonathan masih melihat jelas merk di sana. “Jadi, dia masak sendiri sebungkus penuh. Terus buatkan aku sup mematikan itu.” Jonathan sekali lagi membasuh permukaan bibirnya dan bergegas menemui Cilla yang justru duduk santai di tempatnya tadi. “Eh, ada Bapak Asher.” “Gimana, Pak? Enak kan, sup buatan saya?” jahil ia dengan genit mengedip-ngedip. “Kamu dapat nugget dari rak bawah, kan?” Cilla terkesiap. Perempuan itu berdiri di hadapan Jonathan yang memandangnya penuh selidik. “Benar, kan?” desaknya sekali lagi yang langsung membuat Cilla menerbitkan senyum polos. “Iya, ketemu di rak bawah. Udah aku goreng satu bungkus dan aku simpan sisanya di kamar sebelum ke sini. Aku juga udah makan beberapa pakai nasi di dapur sambil buat sup spesial buat kamu.” Cilla mendengkus geli mendapati Jonathan menatapnya tajam. “Lagian siapa juga yang pelit! Kamu sembunyikan biar aku nggak bisa makan enak, kan?!” Raut wajahnya sudah terlihat galak sambil berkacak pinggang. Pun, Jonathan melakukan hal yang sama pada perempuan di hadapannya. “Aku simpan bukan tanpa alasan. Biar kamu bisa buatkan sarapan untukku yang bukan cepat saji.” “Aku mana bisa masak. Salah sendiri paksa aku untuk buatkan kamu sarapan.” Cilla tidak ingin kalah dengan sahutan cepatnya. Jonathan mengembuskan napas lelah dengan ucapan Cilla. “Hari ini kamu nggak usah masuk bekerja,” cetusnya menghadirkan binaran di manik hitam Cilla. “Beneran?! Enak, dong! Bisa tidur seha—“ “—jangan lupakan pekerjaan kamu sebagai asisten rumah tangga di sini. Aku nggak suruh kamu masuk kerja, karena pekerjaan kamu akan dimulai dari sini. Ini hari pertama kamu sumbangkan tenaga kamu di unitku.” Seringai puas melihat Cilla yang terkesiap dengan bibir terkatup rapat. Bahkan, perempuan itu nyaris tidak berkedip. “Berhubung kamu udah sarapan untuk isi tenaga hari ini. Jadi, kamu langsung masuk ke pekerjaan utama. Cuci piring di dapur dan setelah itu cuci pakaianku.” Derita macam apa lagi ini? Cilla merasa lututnya lemas saat Jonathan sudah memintanya mengambil makanan mematikan tadi di atas meja untuk dicuci. Cilla berakhir terpaksa mencuci perabotan Jonathan, meskipun tidak terlalu banyak. Karena keduanya memang baru memulai aktifitas. “Kalau udah selesai. Aku bakal tunjukin pekerjaan kamu selanjutnya,” cetus Jonathan dari ambang pintu dapur, melihat Cilla yang terlalu menggebu mengusap ... mengeringkan piring dan sendok. “Tinggal minta pelayan kebersihan datang, kan?” “Atau ... mungkin aku disuruh ke tempat laundry?” “Memangnya siapa yang suruh kamu melakukan itu? Untuk menghemat dompetku dan juga memanfaatkan tenaga kamu. Aku udah siapkan tumpukan pakaian kotor di kamar mandi beserta ember dan juga deterjennya.” Cilla melongo sempurna. Bukan sulap, bukan sihir. Saat Cilla dengan refleks bangun tidur dan mendapati mandi di atas ranjang. Ia sudah melihat Jonathan dengan gayung yang sebelumnya tidak perempuan itu ketahui kapan datangnya. Sekarang, ia melihat dua ember berukuran sedang yang satunya berisi air penuh, lalu satu lagi tumpukan pakaian Jonathan. Ia tidak habis pikir melihat tumpukan layaknya segunung. Ini tidak mungkin Jonathan rajin membiarkan pakaian kotor tanpa memikirkan jika masih ada alternatif laundry, kan? “Ini ....” “Baju kotornya udah berapa hari dibiarin?” “Baru dua hari.” “Nggak mungkin banget, suer,” sahut Cilla cepat dengan mendelik sebal pria tinggi di sampingnya. Pria tampan asli pribumi yang memiliki senyum yang Cilla akui memikat dan juga bibir tipis kemerahannya ... tampak memandangnya santai. “Ya udah kalau nggak percaya.” Jonathan mengedik dengan sangat tidak peduli. “Mana mesin cucinya?” “Di sini nggak ada mesin cuci. Aku pindah ke sini, satu hari sebelum penyambutan di perusahaan. Jadi, keadaan di sini sama persis dengan keadaan kali pertama aku datang.” “Suer ... bohong banget untuk unit apartemen seluas ini. Pasti kamu sembunyikan juga, ya, kan? Mesin cuci itu nggak mungkin bisa jalan sendiri,” tuduh Cilla mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Jonathan, sekaligus menelisik pria itu. Ia benar-benar akan cepat keriput atau berakhir depresi. Jonathan bukan hanya sangat jahil. Tapi kali ini jauh lebih menyebalkan karena membuat Cilla menderita sangat parah. “Terserah,” sahutnya terlalu pendek dan membuat Cilla mengepalkan kedua tangan, menahan geram. “Jonathan yang baik ....” “Aku nggak bisa cuci pakaian. Tadinya aku pikir kamu mau kasih ongkos biar aku ke tempat laundry atau apa pun itu, kecuali disuruh cuci sendiri.” “Kamu mau tanggung jawab kalau telapak tangan aku jadi kasar? Gimana pas Mami atau Papi pegang telapak tangan aku dan ngerasa kulit anaknya kelihatan berbeda? Aku harus jawab apa?” “Dasar berlebihan,” cibir pria itu dengan datar. Cilla mendengkus sebal. “Jo ... aku beneran nggak bisa cuci pakaian. Tapi kalau disuruh godain kamu sampai iman yang goyah ....” “Aku juaranya.” Jonathan nyaris tidak berkedip saat Cilla begitu manja merangkul lengannya sangat erat. Ia sedikit menggoyangkannya merajuk untuk diberikan keringanan. Tapi pria bermanik hitam itu sedikit tidak nyaman karena Cilla memang terlalu santai terhadap dirinya sendiri. Cilla tidak memakai apa pun dibalik gaun satin yang sudah mengering itu. “Rayuan kamu nggak bakal mengubah keputusanku,” tegasnya dan melepas kasar tangan Cilla yang membuat perempuan itu tampak kesal. “Selamat bekerja, Priscilla Ogawa.” seringa Jonathan berlalu dari kamar mandi. Karena kejahilan Cilla, ia pun belum mengisi perutnya dengan asupan sarapan pagi. Karena Cilla juga ... ia harus mencicipi masakan perempuan itu yang masih terasa tidak enak di lidahnya. Sangat asin sekali. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD