Bab 10 - Pemotretan Prewedding

1302 Words
“Na, dari tadi aku perhatiin kamu kok cemberut terus sih. Kamu kenapa? Masih mikirin perjodohan sama Mr. Max?” Nana masih terdiam, dan malah memanyunkan bibirnya. “Udahlah terima aja, mungkin Mr. Max memang jodoh yang terbaik diberikan Allah untuk kamu.” Nana menatap Hani yang berada di sebelahnya. “Benarkah?” Hani mengangguk ribut. “Ya, aku yakin. Lagipula Mr. Max itu tidak begitulah buruk.” Nana kembali menatap ke depan, menopang dagunya dengan tangannya, menghela napas kasar. “Jalani saja dulu, nanti juga akan terbiasa eakk ...” “Apaan sih Han.” “Udah ngga usah cemberut gitu, mending kita main game.” Hani dengan cepat mengeluarkan ponselnya yang berada di tasnya. “Main aja sendiri, ngga usah ngajak-ngajak.” “Ya udah,” Hani akhirnya bermain game sendiri sementara Nana sibuk dengan pikirannya. Pandangannya beralih menatap keluar kelas dan mendapati dosen yang mengajar siang ini sudah berada di depan. “Hani, Bu Sri datang!” seru Nana seraya mengguncang lengan Hani hingga membuat ponselnya tak sengaja terjatuh ke lantai. “Aaa ... Nana!” “Selamat siang semuanya!" seorang dosen wanita berhijab memasuki ruangan kuliah hingga membuat semua mahasiswa meredam suaranya, begitupula dengan Nana dan Hani. Hani bergegas mengambil ponselnya di lantai dan beruntungnya layar ponselnya tidak pecah hanya ada lecet di bagian anti goresnya. “Siang Bu!” “Sorry,” bisik Nana pada Hani yang sedang menatapnya tajam.  “Untung aja ngga retak nih.” jawab Hani tak kalah pelan seraya menunjukkan layar ponselnya. “Oh, syukur deh.” Nana memasang senyum tanpa dosanya sementara Hani terlihat mencebik bibirnya lalu fokus untuk memulai pelajaran siang ini. *** Setelah kuliah siang ini usai, semua mahasiswa keluar dari ruang kuliah termasuk Nana dan Hani. Kuliah hari ini telah usai dan rencananya Nana mau langsung pulang ke rumah. “Na, kamu mau langsung pulang?” “Iya kayaknya, kamu ngga langsung pulang memangnya Han?” “Aku mau ke kantin dulu deh kayaknya, pengen jajan.” “Oh, ya udah aku duluan ya, byee~" “Byee~" Nana dan Hani akhirnya berpisah menuju tujuan mereka masing-masing, Hani ke kantin fakultas sedangkan Nana pergi ke parkiran fakultas. Setibanya di tempat parkiran, Ara membulatkan matanya ketika mendapati Max sedang berdiri di dekat mobilnya. “Mr. Max,” “Hai, kamu sudah mau pulang?” “Ya, tapi sorry kamu menghalangiku Mr,” “Aku akan mengantarkanmu pulang,” “Hah! Tapi aku bawa mobil sendiri, aku tidak perlu diantar pulang.” “Orangtua kita yang memintaku untuk mengantarmu pulang dengan aman sampai menjelang pernikahan kita nanti. Jadi, mulai hari ini aku akan mengantarmu pulang. Jika kamu bawa mobil, aku akan mengikutimu dari belakang.” “Ta-tapi apa kamu ngga sibuk Mr? Sebenarnya itu tidak perlu." “Aku bisa kembali ke kampus setelah mengantarmu. Aku akan mengambil mobilku dulu.” jawabnya final lalu mengambil mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari mobil Nana. 'What! Apa-apaan sekarang, kenapa harus diantar pulang segala, memangnya aku anak kecil apa!" misuhnya dalam hati. Namun, ia segera masuk ke dalam mobil. Tin! Tin! Mobil Mercedes Benz putih yang berada di belakangnya memberikan klakson, Nana menghela napasnya lalu menjalankan mobilnya lebih dulu dan diikuti dengan mobil Max yang mengikutinya dari belakang. Setibanya di rumah Nana, Max memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Nana. “Kalau begitu aku akan kembali ke kampus lagi, salam buat Mamamu ya,” “Hm, oke. Makasih ya Mr,” “Hm,” jawab Max dengan gumaman lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Nana berdiri di depan rumahnya menatap mobil Max sampai akhirnya hilang dari pandangannya. Setelah itu ia masuk ke rumahnya yang kebetulan tidak dikunci. “Assalamualaikum!” “Wa'alaikumsalam Na, kamu sudah pulang?” Nana mengecup tangan Mamanya dan mengangguk pelan. “Kamu tadi pulang diantar Max 'kan?” “Ma, ngapain sih aku pakai diantarin segala kalau pulang, sekarang juga masih siang bukan larut malam yang harus pake dikawal.” “Jadi, dia benar mengawalmu sampai rumah? Terus sekarang dia kemana?” tanya Yanti dengan pandangan mata yang menatap keluar rumah. “Mau kembali ke kampus katanya, dia juga titip salam untuk Mama.” “Wahh ... ternyata dia memang anak yang bertanggungjawab ya, awalnya itu Mama sama Bu Shanty menyarankan Max untuk sesekali mengantarkanmu pulang atau ngajak kamu jalan-jalan kalau dia tidak sibuk, agar kalian semakin dekat gitu, eh ternyata dia beneran menurutinya. Padahal dia masih ada kerjaan ya di kampus, tapi dia masih menyempatkan diri untuk mengantarkanmu pulang. Benar-benar suami idaman ya Na,” Nana menghela napasnya, “Ah, tidak tahu deh.” Nana masih bersikap masa bodo, melangkahkan kakinya meninggalkan Mamanya karena ia sedang tidak ingin membahas Max lagi. Yanti memperhatikan punggung anaknya yang semakin menjauh. ‘Lihat saja nanti Na, kamu pasti akan jatuh hati pada Max. Mama yakin itu! Biarkan waktu yang menjawabnya.’ *** Seminggu kemudian, akhirnya tiba juga hari dimana pemotretan prewedding Max dan Nana berlangsung. Mereka telah memilih lokasi pemotretan prewedding di luar ruangan, dimana lokasinya berada di taman bunga yang ditumbuhi banyak bunga-bunga seperti bunga matahari, dan bunga bermacam-macam jenis dan warna yang terhampar indah di lahan luas ini. Mereka datang bersama para orangtua dan juga tim fotografer untuk mengambil foto prewedding mereka. Max dan Nana tampak sudah rapi dengan outfit yang dipesan sebelumnya di butik milik Asri. Max tampak rapi dengan setelan tuxedo hitam, kemeja putih dengan dasi hitam. Rambutnya tampak di tata rapi memperlihatkan jidatnya. Sementara Nana terlihat anggun dengan gaun putih panjang berenda itu dengan rambut yang diikat setengah ke belakang, tampak juga mahkota bunga putih yang terpasang di kepalanya yang membuat penampilannya semakin cantik. “Oke, Mas sama Mbak silakan berdiri di sana dan berpose sesuai keinginan, nanti kalau tidak tahu bisa kami arahkan.” Seorang pria yang memegang kamera mengarahkan Max dan Nana untuk berdiri di lahan penuh bunga matahari itu untuk kebutuhan pemotretan prewedding. Max dan Nana menurutinya lalu melangkahkan kakinya menuju lahan penuh bunga itu, berdiri bersebelahan di tengah-tengahnya. “Oke, sekarang pose pertama boleh Mas peluk mbaknya dari belakang?” sang fotografer akhirnya memberikan arahan pose untuk mereka lakukan karena tampaknya Max dan Nana terlihat kaku, tidak tahu harus berpose seperti apa. “Hah, haruskah?” celetuk Nana dengan mata yang melebar. Sang fotografer sontak mengernyitkan dahinya bingung. “Na, tidak apa-apa lakukan saja. Memangnya kenapa? Kalian 'kan juga sebentar lagi mau menikah.” sahut Yanti. Nana pun terdiam dan hanya bisa menurut. “Oke, bisa kita mulai sekarang?” “Iya bisa Mas.” jawab Max lalu memposisikan dirinya di belakang Nana, tanpa banyak bicara langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nana, memeluknya dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak Nana. Nana sontak mengedip-ngedipkan matanya gugup, jantungnya berdegup lebih kencang dan entah kenapa telapak tangannya mulai berkeringat. “Oke senyum ya,” Nana membasahi bibirnya gugup sebelum akhirnya menyunggingkan senyum manisnya sesuai arahan dari sang fotografer. Max juga tampak menunjukkan senyum kecil tampannya. Cekrek! Cekrek! “Oke, sekarang ganti pose!” Max sontak melepaskan pelukannya. Yanti terlihat berbicara dengan sang fotografer hingga membuat Nana menatap Mamanya dengan tatapan curiganya. “Pose selanjutnya Mas gendong mbaknya ya, gendong bridal style.” Nana melebarkan matanya. ‘What? Ini pasti Mama yang suruh. Ihh nyebelin!' kesalnya dalam hati. Namun, ia kembali tersentak ketika Max dengan cepat mengendongnya, reflek ia mengalungkan tangannya di leher Max, menatap Max yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresinya. Nana mengedip-ngedipkan matanya sejenak lalu mengalihkannya ke arah lain, tidak sanggup untuk menatap iris hazel itu lebih lama. “Sekarang saling menatap dan melempar senyum bahagia ke satu sama lain ya!” Max menganggukan kepala mengerti. “Oke, satu, dua, tiga ...” Cekrek! Cekrek! Mereka tampak saling berpandangan dengan senyum bahagianya sesuai arahan dari sang fotografer sehingga menghasilkan foto yang bagus. Para orangtua yang melihatnya khususnya para Mama terlihat tersenyum bersama ketika kedua anaknya tampak sangat romantis di pemotretan prewedding hari ini. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD