Al-Kahfi

1055 Words
Wahai engkau pemilik suara merdu itu, maafkan aku yang sudah lancang mengagumi suaramu.  _______ Aku tidak tahu apakah ini sesuatu yang direncanakan takdir, atau hanya keberuntungan ku saja. Alunan itu terasa menyita seluruh perhatianku, merdunya bacaan surah Al-kahfi sedikit memberiku ketenangan. Benar kata orang-orang, jika bagian dari Al-Qur'an bisa memberi ketenangan dan mengobati sesakit apapun hati seseorang. Aku masih berdiri diujung masjid, dengan tidak tahu dirinya mata ini menatap seorang pria yang tengah duduk bersila, dengan Al-Qur'an dihadapan nya. Aku rasa, dia salah satu keluarga pasien di rumah sakit, karena setiap kali aku melihatnya sholat disini.  Kagum ku sudah berlebihan, apalagi ketika andai-andaian muncul menghiasi pikiran ku. "Andai pria itu menjadi pasangan ku." Ya Allah, sunggu kurang ajarnya hamba berpikiran sampai kesana. Memang, ini bukan pertama kalinya aku mendengar lantunan Al-kahfi dari pria tersebut. Sudah kali ketiga disetiap hari Jum'at aku mendengarnya. Aku hanya mendengar tanpa tahu rupa sang pembaca. Tapi aku bersyukur aku bisa mendengarkan lantunannya, karena bagaimanapun juga lantunan itu sedikit menenangkan hatiku yang tengah bergemuruh. "Jangan terlalu lama menatapi pria itu nak, itu tidak baik."  Suara lembut itu menyentak diriku, aku terlonjak kaget ketika mendapati wanita baya tengah berdiri disamping ku, seraya menampakkan senyum manisnya. Aku salah tingkah sendiri, mencoba terlihat biasa saja, namun itu juga sia-sia. Aku tidak bisa melakukannya. "Aku--" Ucapan ku terpotong ketika wanita baya itu berucap. "Ibu memperhatikan mu nak, sudah kali ketiga disetiap Jum'at ibu melihat mu melamun seraya memperhatikan pria itu, dan baru pertama kali ini ibu menegur mu. Bukan karena apa nak, ibu hanya tidak ingin kamu tergolong dalam kata zina." Aku tertunduk, aku tahu apa kata zina yang wanita baya itu maksud. Dan aku juga merasa malu, ketika aku terpergok tengah memperhatikan seorang pria, lebih parahnya ini didalam masjid. "Saya hanya mengagumi suaranya Bu, hati saya tenang mendengar setiap lantunan dari pria itu. Terkadang saya juga sadar, jika yang saya lakukan ini akan mendekati kata zina. Saya tahu betul itu Bu." aku tidak berani menatap wanita baya didepan ku ini. Membicarakan masalah ketenangan hati, caraku mendapatkan ketenangan sangatlah salah. Tapi, sampai detik ini hanya lantunan ayat Al-Qur'an dari pria itu yang mampu menenangkan hatiku yang tengah bergemuruh hebat.  Terkadang aku merasa sangat beruntung, sholat sudah bisa sedikit membantu ku, dan suara pria itu semakin menyempurnakannya. Tapi kembali lagi, cara ku salah. Aku tahu ini, aku tahu! "Apakah kamu ada waktu untuk kita bicara nak?" Aku mengerut bingung, namun tak urung juga mengangguk. Kebetulan setelah ini jam kuliah ku selesai, jadi tak ada alasan untuk menolak. °•°•°•°•° Setiap perkataan yang keluar dari wanita baya didepan ku ini, masuk kedalam hati dan pikiran ku.  Aku tersenyum dan ternyata tidak salah keputusan untuk berbicara berdua seperti ini. "Setiap masalah ada jalan keluarnya sendiri nak. Allah tidak akan memberikan masalah melebihi batas kemampuan hamba Nya. Yakinlah nak, semua akan indah pada waktunya. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan dalam hati, tapi semua itu juga ada syaratnya nak." "Apa syarat agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan?" "Rayulah Allah dalam sholat malam mu, bujuklah dia dengan doa-doa mu di sepertiga malam. Dan yakinlah kamu pasti akan mendapatkan yang kamu inginkan. Tapi kamu harus ingat, jangan melupakan Allah jika kamu sudah mendapatkan keinginan mu. Kadangkala manusia sering begitu. Mereka giat ketika meminta ini itu, giat sholatnya, doa nya dan lain-lainnya. Namun, ketika sudah mendapatkan keinginannya mereka lupa dengan siapa pemberinya dan lupa bersyukur serta lupa pada apa yang sebelumnya mereka jalani untuk mendapatkan semua itu. Mereka melupakannya dan meninggalkannya." Lagi lagi aku hanya bisa diam dan meresapi. Aku merasa tersindir, dengan semua penjabaran yang wanita baya ini jelaskan. Aku sering seperti itu, bahkan sudah menjadi kebiasaan.  "Mungkin hanya itu saja yang bisa ibu sampaikan, selebihnya kamu resapi sendiri nak. Dan terima kasih sudah mau mempercayai ibu untuk dijadikan pendengar semua keluh kesah kamu nak."  Senyumku mengembang tipis, aku mengangkat wajah dan mengangguk singkat, "Dan terima kasih ibu telah memberikan sedikit pencerahan untuk diriku. Aku tidak salah mengambil keputusan untuk menceritakan semua masalah ku pada ibu, padahal kita baru saja bertemu." "Kadangkala menceritakan masalah pribadi kepada orang asing itu lebih baik dari pada orang terdekat. Ibu juga seperti itu, dulu jika ibu ada masalah ibu selalu menceritakannya pada orang asing. Seperti teman namun belum pernah bertatap muka secara langsung." aku bingung dengan ucapan wanita baya ini. Maksudnya apa? Bercerita kepada orang asing? Bukankah tidak semuanya orang asing itu baik? Bisa saja kan orang itu menyebarkan apa yang telah kita ceritakan? "Jangan bertanya lagi nak, suatu saat kamu pasti bisa mengartikan apa yang ibu katakan ini. Dan omong-omong, ibu belum tahu siapa namamu." "Namaku Basyira, lebih tepatnya Basyira Syadza Nashira. Panggil saja Yira." jelasku. Terlihat wanita baya itu tersenyum manis. Ia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya. "Yira, nama panggilan yang bagus. Kalau ibu, nama ibu Fatima. Ibu salah satu pengurus panti asuhan yang berada dibelakang masjid Al-Azhar ini, kapan-kapan kalo ada waktu kamu datang ya nak." Aku mengangguk antusias, tak mengira jika mendapat tawaran seperti itu. Padahal ia baru saja kenal. "Kalau begitu ibu pamit pergi nak, anak-anak panti pasti sudah menunggu ibu. Assalamualaikum." pamit ibu itu, meninggalkan aku sendirian ditaman. Aku tersenyum tipis, beban dihatiku sedikit berkurang karena pencerahan yang diberikan ibu Fatima. "Jika ada waktu aku akan meluangkan datang ke panti Bu." lirih ku seraya berdiri dan melangkah meninggalkan taman belakang masjid. Aku melangkah kembali ke dalam rumah sakit. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagiku, tidak hanya satu sampai dua pasien saja yang aku datangi, ini melebihi tiga puluh pasien. Kadang aku berpikir, kenapa mereka bisa sampai di rawat di rumah sakit?  Kebanyakan dari mereka adalah remaja yang mungkin usianya belum genap 17 tahun.  Ah sudahlah, aku tidak ingin menambah beban pikiran ku lagi. Lebih baik tuntaskan pekerjaan dan segera pulang ke rumah, itupun jika tidak ada tambahan pasien lagi. Ya, semoga saja tidak ada, sehingga waktu istirahat ku tidak terpotong lagi. Dan seharusnya aku tidak berpikir seperti itu. Bukankah menjadi dokter adalah cita-cita ku? Lalu mengapa diujung jalan aku banyak mengeluh seperti ini. Belum jadi dokter saja aku sudah banyak mengeluh, apalagi nanti jika aku sudah resmi menjadi dokter. Semoga Allah membuatku ikhlas dalam pekerjaan ini. Kurang satu tahun empat bulan lagi. "Ayo Sya, kamu pasti bisa." ucapku menyemangati diri sendiri. ^°^°^°^°^ Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD