Dia yang kau takdir kan bersamaku. Itu siapa?
_________________
Hari sudah berganti, kicauan burung terdengar merdu saling bersahutan. Tak ada manusia yang masih meringkuk diatas ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya, kecuali orang-orang yang tuli akan panggilan Allah dalam shalat Subuh.
Aku langsung bergegas turun ketika aku sudah selesai dengan acara beberes ku. Kali ini aku akan berangkat lebih pagi ke rumah sakit dari pada biasanya. Maklum, hari ini adalah hari pertama ku bertemu dan melakukan bimbingan dengan dokter pembimbing.
Selama dua bulan menjadi koas di rumah sakit, selama itu pula aku belum bertemu dengan dokter yang akan menjadi pembimbing ku, sampai aku selesai menjadi koas di rumah sakit itu.
Entah hal apa yang membuat gerangan tidak bisa bertemu dan memberikanku bimbingan seperti kebanyakan dokter pembimbing lainnya.
Yang jelas aku tidak mau tahu. Lagipula, aku juga senang karena bimbingan terus saja diundur, dengan itu otakku tidak akan bekerja dengan keras lagi, dan menjadi santai untuk sementara waktu.
"Pagi Umi sayang." sapa ku, pada Umi tersayang. Wanita yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan ku kedunia. Aku sungguh menyayanginya.
"Pagi Sya, tumben udah rapi pagi-pagi gini?" tanya Umi. Ya jelas sekali dia terkejut, pasalnya jika aku berangkat ke rumah sakit, palingan aku akan berangkat pukul 7 pagi.
Dan sekarang? Pukul 6 saja belum
Ya Allah
"Ada bimbingan Umi. Oh iya, Syasya gak usah sarapan ya, Syasya bawa bekal aja." ucapku.
Jangan heran jika aku sering dipanggil dengan nama Syasya. Itu adalah panggilan kesayangan Umi dan kakak ku.
"Enggak ah, nanti palingan gak kamu makan bekalnya. Umi itu tau ya kamu itu orangnya gimana."
Aku menyengir dihadapan Umi, memang Umi ku selalu mengerti diriku.
Apapun kebiasaan ku, Umi pasti mengetahuinya.
"Enggak deh. Syasya janji nanti bekalnya di makan. Kalau gak lupa ya hehehe." ucapku.
Umi hanya bisa melotot dan menggelengkan kepalanya. "Awas aja gak kamu makan, bekalnya."
"Iya iya Umi ku, Syasya janji akan makan bekalnya. Yaudah ya, siapin bekal Syasya. Syasya mau pesen ojek online dulu."
Aku berlalu masuk kembali ke kamar ku. Inilah kebiasaan ku, aku adalah orang pelupa, apalagi dengan hal yang menurutku tidak penting sama sekali. Misalnya, ponsel.
Sudah menjadi kebiasaan ku, jika aku akan meninggalkan ponsel ku didalam kamar, dan berakhir aku akan kembali mengambilnya.
"Ya Allah Sya, kapan sih kamu itu jadi orang yang pengingat? Capek deh bolak-balik kamar kayak gini." lirihku.
Seusai masuk dan menemukan ponsel berwarna hitam miliki ku, dengan segera aku memesan ojek online guna untuk berangkat ke rumah sakit. Dan semoga saja, ojek sudah ada sepagi ini. Pasalnya, ini masih pagi sekali.
"Alhamdulillah, untung aja dapet tuh ojek."
°•°•°•°
"Nanti belok kiri aja ya pak, biar cepet nyampainya, saya keburu telat ini." ucapku dengan sedikit berteriak.
Aku juga heran, sepagi ini jalanan sudah diramaikan dengan aksi unjuk rasa dari para pekerja buruh, yang minta kenaikan upah. Apa tidak bisakah mereka melakukan demo di siang hari? Sehingga tidak menggangu aktivitas orang-orang di pagi hari.
"Loh loh pak, kok berhenti?" tanya ku. Bapak ojek itu menoleh sekilas dan mengacungkan jarinya kedepan, dimana ada banyak segerombolan orang yang bersiap untuk aksi demonya.
"Ya Allah. Aduh pak, puter jalan aja deh."
"Aduh gak bisa mbak, dibelakang banyak kendaraan juga."
Aku melirik kearah jam dipergelangan tangan ku. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit, dan janji pertemuan ku dimulai pada jam tujuh lebih lima menit.
Ya Allah semoga saja aku tidak telat. Bisa-bisa kena poin merah jika seperti ini. Kesan yang buruk dipertemuan petama.
"Ya sudah, aku berhenti disini saja pak. Ini ongkosnya."
Huft, ini adalah keputusan terbaik. Dan aku akan memutuskan berjalan dari sini menuju ke rumah sakit. Lagipula, jaraknya lumayan dekat, mungkin sekitar dua puluh menit an
"Ck, kenapa ramai sekali sih. Kan aku sudah bilang tadi, kenapa tidak demo waktu siang hari." gerutu ku disepanjang perjalanan.
"Astaghfirullah, aku tidak boleh begitu. Ayo, yang ikhlas Sya dan tidak boleh menggerutu seperti itu. Ayolah Sya, semangat." ucapku memotivasi diri sendiri.
Hahaha lucu sekali diriku ini. Berbicara sendiri dan memotivasi diri sendiri. Apakah tidak ada orang lain yang berniat memberi motivasi padaku?
Jelas tidak. Dasar jomblo
Ya, lebih baik aku jomblo dari pada menjalani pacaran yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Lagipula, pacaran nanti ujungnya ada dua. Kalau tidak pisah karena ingin menikah, ya pisah untuk selama-lamanya.
"Aww sakit tau." rintihku tiba-tiba, saat tak sengaja kepalaku terlempar batu dari banyak orang yang melakukan aksi demo.
Ini benar-benar nekat. Aku menerobos segerombolan orang yang tengah melakukan demo.
Benar-benar rekor, hahaha.
Aku tetap melanjutkan jalan ku, meskipun sesekali bertabrakan dengan banyak orang, tapi bagaimana lagi, jalanan sudah dipadati banyak orang.
Tapi saat tak sengaja mataku menangkap sosok wanita baya yang tengah terduduk di sekerumunan orang yang tengah berdemo. Aku rasa nenek itu tengah terjebak didalamnya.
Aku melangkahkan kaki secepat mungkin, dengan sesekali menerobos orang yang berpapasan denganku.
"Ya Allah nek. Ayo sini saya bantu." ucapku dengan mengulurkan tangan kearah nenek tua itu.
Tapi sebelum tangan nenek itu berhasil menggapai tanganku. Keadaan sekitar menjadi semakin tak terkendali.
Sorak-sorai dari orang-orang membuat aku tidak bisa mendengar suara dengan jelas. Ingin aku gapai tangan nenek tua itu, tapi senggolan dari belakang membuat aku terjerungsap sehingga tubuhku jatuh diatas aspal.
Aw sungguh sakit.
"Aww sakit." lirihku. Aku berusaha tidak mengeluarkan air mata. Meskipun aku yakin, kedua telapak tanganku tergores cukup dalam.
"Nak, kamu tidak apa-apa?"
Ya Allah, ini namanya bukan aku yang membantu nenek itu. Tapi nenek itu justru yang membantuku.
"Terima kasih nek. Ayo kita segera keluar dari sini." ajak ku saat kami berhasil berdiri diantara banyaknya orang.
"Nenek keluar dulu, baru aku." ucapku.
Nenek itu berjalan keluar meskipun agak sulit, dan sekarang tinggal aku yang terjebak sendirian didalam sini.
Ya Allah.
"Pengap." Batin ku
Tapi entah dorongan dari siapa, tubuhku kembali terjungkal dan lagi-lagi berbenturan dengan aspal.
"Hiks sakit."
"Hiks."
Entah kenapa aku tiba-tiba menangis dan tidak ada niatan untuk kembali berdiri, yang akhirnya nanti pun aku kembali terjatuh.
"Hei sini."
Aku terdiam, ketika ada suara samar-samar yang tertangkap di indra telinga ku.
"Ayo berdiri. Keluar dari ini."
Aku menatap sekeliling, aku mencoba berdiri dan akhirnya berhasil.
Ketika aku menoleh kesamping, terlihat seorang pria berpakaian rapi tengah menggerakkan tangannya kearah ku.
Tunggu, kearah ku?
"Kamu, cepat keluar dari sana jika tidak mau terjatuh lagi." teriak pria tersebut.
Dengan linglung, aku mencoba keluar dari segerombolan orang yang tengah berdemo. Sampai akhirnya---
^•^•^•^
Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an