Memalukan

1058 Words
Ya Allah biarkan jodohku mendekat, jangan ada Physical Distancing diantara kami ______________ Hari ini benar-benar menyebalkan. Aku tidak habis pikir dengan hal ini. Oh Syasya, kenapa kau bisa sebodoh ini.  "Ya ya aku bodoh. Sangat bodoh sekali, kenapa juga aku harus menerobos orang yang sedang berdemo?" aku lagi-lagi berbicara sendiri dan menyalahkan diri sendiri. Ini memang salah ku. Bayangkan, setelah aku bebas dari kerumunan orang-orang, aku lanjutkan jalan kaki dari sana ke rumah sakit.  Kalian tahu? Tidak ada transportasi sama sekali, bahkan ojek online sudah menolak order an ku berkali-kali. Ingin rasanya aku menangis. Ini semua karena demo. Andai saja mereka mendapatkan gaji yang sesuai, demo tidak akan terjadi dan merugikan orang lain. Dan sekarang? Sekarang pukul 8 kurang dua menit. Dan untungnya saja dokter pembimbing ku belum datang ke rumah sakit. Entah apa yang aku lakukan semalam, sehingga mendapat keberuntungan seperti ini. Memang benar. Dibalik ujian pasti ada hikmahnya. Ya, meskipun lutut ku sakit, telapak tangan ku lecet, dan aku telat. Setidaknya pembimbing ku belum datang di jam sekarang. Aku jadi bisa membuat alasan. "Maaf dok, saya sudah menunggu Anda cukup lama. Apa ada kendala saat di jalan, sehingga dokter datang terlambat?" Tanyaku dalam hati. Aku rasa aku akan menggunakan kalimat itu nanti, jika dokter pembimbing ku datang. Ya, hahaha "Maaf Sya, dokter Azzam udah dateng. Beliau sebentar lagi kesini." bisik Rara, salah satu koas disini. Dia sama seperti ku, dan sekaligus teman ku disini. "Ah makasih ya Ra." ucapku. Rara hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dan, ini juga salah satu kebiasaan ku. Selain tidak suka makan makanan bekal, kebiasaan ku yang lain, yaitu suka melamun di manapun dan kapanpun itu. "Yaudah aku pergi dulu. Pasien makin banyak nih Sya. Capek tau." "Jangan mengeluh terus ah, gak baik. Baru jam segini juga, udah bilang capek. Sana pergi, semangat ya." ucapku memberi Rara semangat. Sebenarnya kau juga sama ya. Aku juga sering mengeluh, tapi meminta teman rekan ku jangan mengeluh.  Memang aku. Terbaik hahaha Aku langsung berdiri dan mengambil posisi tepat didepan ruangan dokter pembimbing.  Tak lama kemudian datang seorang pria lengkap dengan snelli di tubuhnya. Tak menunggu lama aku langsung mengadakan kepala dan tersenyum pada seorang pria yang berdiri tepat didepan ku. "Pagi dok." sapa ku. Tapi dokter itu sama sekali tidak mengatakan apapun, berniat menjawab sapaan ku saja tidak. Tapi, ada yang aneh. Wajah dokter ini seperti mirip seseorang, tapi siapa aku lupa. Huaaa, kan. Lagi-lagi penyakit lupa ku kambuh. Aku tidak suka ini. "Silahkan masuk. Hari ini bimbingan dimulai selama satu jam." ucapnya. Aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti dokter itu masuk. Tunggu, siapa namanya? Oh Rara, ingatkan aku nama dokter ini. Umi, kakak aku ingin pulang. Memalukan! "Siapa namamu?"  "Ha?" seketika aku langsung menutup mulut ku. Setidaknya aku tidak merespon seperti ini, kesannya tidak sopan sama sekali. "Nama saya Basyira Syadza Nazhira. Dokter boleh panggsaya Yira." ucapku memperkenalkan diri. Ah aku gugup sekali. "Hm dok. Saya tadi sudah menunggu Anda cukup lama, apakah ada kendala di perjalanan sehingga dokter terlambat datang?" tanya ku. Huft, sunggu mendebarkan saat bertanya itu. Tapi respon dari pria dihadapan ku ini berbeda sekali dari harapan ku. Malah dia terkesan biasa saja. "Sudah lama menunggu saya?" tanyanya. "Iya dok. Saya datang ke rumah sakit setengah tujuh kurang lima menit. Dan dokter belum datang." jelasku. Sepertinya aku akan dapat poin baik. "Saya rasa menerobos kerumunan orang berdemo akan memakan waktu kamu. Tapi saya rasa tidak." Duh Mataku melebar kala dokter dihadapan ku mengatakan kalimat itu. "Maksud dokter?"  "Kamu kan orang yang saya tolong tadi. Kamu juga kan orang yang terjatuh karena aksi orang berdemo." ucapnya. Mampus aku. Ternyata wajah yang tidak asing itu dia. Pria yang sudah menolong ku tadi? Aku langsung menutup wajahku dengan tas yang aku bawa. Rasanya ini lebih memalukan dari pada menyatakan cinta dihadapan pria terlebih dahulu. "Mari kita lupakan itu. Intinya kamu sudah terlambat dalam jam bimbingan saya. Dan kamu harus tau, saya tidak suka orang terlambat."  Aku melepaskan tas yang menutupi wajah ku. Mulutku melongo dan mataku melebar, "Apa?" "Apa? Kamu terlambat dan saya tidak suka orang terlambat. Berarti kamu bukan orang yang disiplin." tegasnya.  Mendengar semua ucapannya, ingin sekali aku berdiri dan memaki dirinya. Enak saja mengatakan aku tidak disiplin. "Maaf ya dok, tapi dokter sendiri juga terlambat." ujarku. Lancang sekali mulutku ini. "Saya terlambat karena saya terjebak aksi orang yang sedang berdemo."  "Saya juga dok. Saya juga terjebak." ucapku. Jelas, aku juga terjebak. "Saya terjebak bukan dari kemauan saya. Sedangkan kamu jelas mencari masalah dengan menerobos orang yang sedang berdemo." Skak Jika seperti ini aku tidak bisa berkata-kata lagi. Benar-benar ya, mulut dokter ini pintar sekali berbicara dan membuat lawan bicaranya merasa kecewa. "Ditambah lagi kamu berbohong telah lama menunggu saya. Padahal kamu datang jam delapan kurang. Benar?" "Iya dok." jawabku lesu. Aku benar-benar terjatuh dalam kubangan lumpur. Oh Umi, bawa kabur anak mu ini. Syasya disini tidak kuat. "Maaf, nama kamu siapa tadi?" tanyanya lagi. Wah wah rupanya dokter itu sama seperti diriku. Pelupa! Akhirnya ada dokter pelupa juga, dan mungkin nanti jika aku sudah selesai koas dan menjadi dokter. Bukan hanya aku saja dokter yang pelupa. Hahah receh sekali aku ini. "Nama saya Basyira Syadza Nazhira dok. Panggil aja Yira." "Oke. Kamu dapat nilai minus 2 dari saya. Yang pertama telat dan kedua berbohong pada saya. Nanti, dipertemukan kedua dengan saya, harap kamu jangan terlambat dan berbohong seperti itu lagi." jelasnya. "Hmm iya dok. Maaf." cicitku. "Saya rasa kamu pasti sudah tau nama saya. Jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri disini." Duh Mati aku. Namanya saja aku lupa. Siapa tadi? Ah, tadi Rara berkata apa? Zamzam? Azan? Zaman? Apa Azab? "Dan saya harap selama pemberian materi berlangsung, kamu memperhatikan dan memahaminya. Bisa dimengerti Sya?" "Sya? Nama saya Yira dok." "Nama kamu ada kata Sya nya kan?" "Iya, tapi saya dipanggil Yira. Bukan Sya." protes ku. Apa-apaan ini, panggil Sya hanya untuk orang tersayang ku. Umi, kakak ku dan sahabat baikku. "Kenapa kamu malah mempermasalahkan soal nama? Mau dilanjut pemberian materi apa masih membahas soal nama?" sindirnya. "Maaf dok. Mari kita lanjutkan." Aku terus saja menggerutu selama dokter didepan ini menerangkan materi mengenai kedokteran. Tapi jujur saja, aku tidak memperhatikannya dan tidak paham sama sekali. Ya jelas lah, kan aku sibuk menggerutu dia didalam hati. Ada-ada saja kamu ini Sya.  Mana bisa paham kalau gitu? ^•^•^•^•^ Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD