Menyebalkan

1008 Words
Kenapa jika tak cinta harus mendekati dan ujungnya meninggalkan? Aku rupanya harus banyak-banyak menabung kesabaran saat bersama dokter menyebalkan itu. Rasanya hatiku sudah mulai panas, ingin meledak saat ini juga. Bagaimana tidak? Dia menjelaskan materi, tapi dengan intonasi yang cepat? Apa tidak gila, bagaimana aku bisa paham jika seperti ini. Ya, ya. Seharusnya aku bisa paham, tapi bagaimana lagi jika otakku yang kapasitasnya pas-pasan ini tidak mampu menampung materi yang dia berikan. Jika boleh jujur, aku sedikit menyesal mengambil jurusan kedokteran. Kalau tahu seperti ini jadinya, lebih baik aku masuk akutansi atau perbankan. Itu sedikit lebih baik. "Kenapa sih cemberut aja tuh muka? Kena semprot dokter Azzam ya?" tebak Rara. Perempuan itu sok menerka-nerka, padahal sih bener. "Iya, masa ya, di hari pertama pertemuan ku sama dia. Eh udah langsung dikasih nilai minus 2. Kesel gak sih." kesal ku. Rara yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. "Gak boleh gitu ah, gak baik. Syasya kan gak pernah kayak gitu. Dokter Azzam tuh ya, orangnya gak akan sembarang kasih nilai jelek kalo kita gak bikin salah. Ya, tandanya sih kamu pasti udah buat kesalahan. Ngaku." goda Rara. Aku hanya diam, karena memang aku yang salah. Tapi dokter itu menyebalkan, aku kan gak suka. "Kan bener dugaan ku. Kamu pasti buat salah." "Udah ah Ra, aku mau ke kantin aja. Kamu ikut gak?" tawaku. "Kamu gak ada pasien apa Sya?" "Enggak, nanti mungkin ada. Yaudah ayo." Kami berdua pun berjalan menuju kantin. Hari ini kantin lumayan sepi, mungkin nanti siangan akan ramai banyak orang. "Buk, kayak biasanya ya. Dua porsi." ucapku pada seorang ibu-ibu yang berjualan di kantin ini. "Eh Ra, aku boleh tanya gak?" Aku sedikit ragu sih untuk bertanya mengenai itu pada Rara. Tapi kan, hanya Rara yang bisa memberiku informasi tentang itu. "Tanya apa? Tumben pake izin segala?" "Yeh nih orang ya. Hmm gimana sih sifatnya dokter Azan?" tanyaku. Bagaimana pun aku harus bertanya ini pada Rara. "Hah? Dokter Azan. Dokter Azzam mungkin. Pembimbing kamu kan Sya?" Nah, Azzam ternyata namanya. Bukan Azan, Zamzam, Zaman atau Azab. "Oh jadi namanya Azzam. Baru tau dong Syasya." ucapku tanpa dosa. Detik itu juga gumpalan tisu mendarat tepat didepan mukaku. "Perasaan sebelum kamu masuk ruangan dokter Azzam, aku udah kasih tau namanya deh." Aku hanya bisa menyengir. Tidak tahu saja Rara, kan aku pelupa. Dan dia juga pelupa karena tidak mengingat jika sahabatnya ini orang yang pelupa. Rumit kan? Iya! "Nah nih pesanannya udah siap." Kami menoleh dan tersenyum. "Makasih ya Buk." "Jadi gimana sifatnya dokter Azzam? Orangnya itu gimana sih?" tanyaku kepo. Ya karena memang aku orangnya kepo. "Aku sih gak seberapa tau ya Sya. Yang paling melekat di ingatan ku sih, kalau dokter Azzam itu orangnya tegas dan gak main-main sama yang namanya pekerjaan. Dan kalau misal kamu salah dikit aja dalam penanganan pasien, bisa di semprot tuh sama dokter Azzam." jelas Rara dengan berbisik. Sepertinya perempuan itu tidak berani berbicara keras-keras, mungkin takut jika nanti orang yang tengah dibicarakan tiba-tiba lewat. Kan bisa gawat. Hahahah, aku tidak membayangkannya. Ya semoga tidak. "Amit-amit deh. Doain ya biar Syasya gak kena semprot sama dokter itu." Rara mengangguk, jika seperti ini kami seperti dua orang bodoh. "Apa kalian tidak punya pasien sehingga jam segini masih bisa makan di kantin?" Byurr Minuman yang baru saja aku seruput, muncrat secara spontan dihadapan Rara. Aku pastikan, saat ini baju yang Rara kenakan, terkena air muncratan ku. Maafkan aku Rara. Aku memberanikan diri menoleh dan langsung bersitatap dengan dokter Azzam. "Maaf dok. Saya belum ada pasien. Mungkin nanti, jadi saya mau mengisi perut saya dulu di kantin." jelasku. Bodoh bodoh. Lancang sekali mulutku ini. "Jadi karena tidak ada pasien, kamu ke kantin berniat mengisi perut? Kamu disini kan menjadi koas lalu kenapa sikap kamu tidak bisa seperti koas-koas yang lain. Ketika mereka tidak ada pasien, maka mereka menawarkan bantuan pada sesama rekannya, bukan menghabiskan waktu di kantin seperti ini juga. Dan kamu, siapa nama kamu?" tanya dokter Azzam. Matanya melirik kearah Rara. Hahaha mampus kamu Ra. Kena semprot juga kan. "Hmm Rara dok. Dokter pembimbing saya dokter Ishak dok." jelas Rara. Perasaan perempuan itu lancar sekali bicaranya. Apa tidak takut? "Saya hanya tanya nama kamu. Bukan dokter pembimbing kamu. Sekarang kamu kembali dan kamu tetap disini berurusan dengan saya." perintahnya dan diakhir kalimat, dia menatap diriku. Oh Syasya, matilah kamu Dengan segera Rara beranjak meninggalkan kantin dan meninggalkanku sendirian bersama dokter ganas ini. "Mampus, berarti aku dong yang bayar makanannya." lirihku pelan, pelan sekali. "Jadi?" "Jadi dok?" "Jadi, kamu mendapat tambahan nilai minus dari saya." Aku melotot kan mata, apa-apaan ini. Nilai minus lagi? Bisa-bisa aku tidak lulus dalam masa koas ini. "Tapi dok. Tadi kan udah dikasih nilai minus sama dokter. Dua malahan, kok ditambah lagi." protes ku. Aku benar-benar tidak terima. "Karena kamu tidak disiplin. Semua itu ada etikanya. Jika nanti kamu jadi dokter, lalu tiba-tiba ada pasien yang membutuhkan penanganan kamu, sedangkan kamu sedang makan dikantin. Bagaimana jadinya pasien itu, bisa-bisa mati dia karena tidak mendapat penanganan yang cepat." cercanya sekali lagi. Sebenarnya dia itu pria apa wanita sih, kenapa mulutnya seperti wanita. Banyak omong sekali, kan aku jadinya tidak suka. "Oke, maaf dok. Saya akui saya salah dan saya tidak akan mengulangi kejadian seperti ini lagi." "Baik. Cepat selesaikan makan mu dan kembalilah bertugas!" Aku hanya bisa menghela nafas panjang saat dokter itu sudah berlalu pergi. Rasanya seperti tengah berada di rumah hantu. Horor banget. Jadi? Dokter itu ke kantin hanya ingin menceramahi ku saja? Ya Allah tidak berguna sekali. "Buk, berapa total semuanya?" "Dua puluh tujuh ribu." Kan, kan. Uang bulanan ku keluar dengan sia-sia. Dan ini semua karena dokter itu. Jika saja tidak menyuruh Rara pergi, maka tidak akan sebanyak ini aku mengeluarkan uang. Tapi tak apalah, nanti pasti Allah akan ganti yang lebih banyak. Secara kan aku anak Soleha. "Oke Syasya. Gak boleh menggerutu lagi. Kamu harus disiplin oke, dan jangan sampai dapat nilai minus lagi, bisa-bisa gak lulus kamu. Oke, semangat Syasya." ucapku menyemangati diri sendiri. Ya kalau tidak aku yang menyemangati, lalu minta siapa yang menyemangati. Pacar? Astaghfirullah jangan sampai aku punya pacar. Punya suami aja gapapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD