Kaca Yang Retak

1096 Words
Sebab Allah tidak menyukai hamba-Nya yang putus asa. __________ Setelah berjam-jam melewati masa-masa melelahkan, akhirnya aku bisa juga pulang dan merebahkan diri dengan nyaman dikamar tercinta ku. Uh, inilah yang sedari tadi aku tunggu-tunggu.  Jika mengingat lagi, waktu istirahat ku selalu aku gunakan untuk memeriksa ulang pasien di rumah sakit, atau kalau tidak melakukan bimbingan di saat dokter Azzam ada jam kosong. "Ehh mau kemana kamu?" tanya Umi saat aku melewatinya. Huh pasti aku akan kena omelnya lagi. Bukannya buruk sangka, pasti itu terjadi. "Tadi sore Umi kan bilang sama kamu. Tolong temui Hafiz sekalian bilang suruh jemput Zizah di rumah mertuanya. Kok kamu gak bilang sih, sampai kakak kamu pulang sendirian." cerah Umi. "Maaf Umi, Syasya lupa. Tadi banyak banget pasien." elakku. Sebenarnya sih memang banyak pasien, tapi jika untuk meluangkan waktu menemui mas Hafiz dan memberikan amanah dari Umi, aku sebenarnya bisa. Tapi maaf, tidak akan aku lakukan. "Hafiz tadi menjenguk atasannya, di rumah sakit yang sama kayak kamu. Palingan gak sampai setengah jam kamu meluangkan waktu untuk menemui Hafiz dan mengatakan pesan Umi. Jika saja ponsel Hafiz aktif, Umi gak akan minta bantuan kamu Sya."  Apa-apaan ini, kenapa kesannya aku yang disalahkan. Kenapa coba, tidak kak Zizah saja yang menelpon suaminya itu dan memintanya menjemput di rumah orang tuanya. Kenapa harus aku? Mereka berdua memang tidak tahu tentang aku. Mereka tidak mengerti aku. "Maaf Umi, tadi pasien banyak. Maaf, Syasya juga lupa." "Lain kali jangan seperti itu Sya. Kakak kamu lagi hamil loh, disuruh pulang malem-malem kayak gini, sendirian lagi. Iya, kalau keluarga Hafiz ada yang mengantarnya. Kamu tau sendiri kan, kalo bundanya Hafiz sakit dan ayahnya sedang di luar kota." Ditengah perdebatan ku dengan Umi, terdengar suara derap langkah kaki dari atas tangga. Aku menengok, dan terlihat kak Zizah tengah berjalan dengan tangan memegangi perutnya. "Ada apa sih, kok ribut. Kedengaran loh dari atas. Memangnya kenapa sih Umi, Sya?" tanyanya.  "Enggak ada apa-apa kok. Umi cuma negur Syasya karena tadi dia lupa kabarin Hafiz." Kak Zizah tersenyum manis, "Ah Umi lebay deh. Gapapa kali Umi, kan Syasya juga sibuk di rumah sakit, apalagi dia kan orangnya pelupa. Hahahah." "Ck kak." tegur ku. Entah mengapa dia selalu suka mengataiku pelupa. Ya memang aku pelupa. "Yaudah, sekarang kamu masuk kamar gih terus mandi, abis itu makan ya. Makannya nanti kakak siapin di meja makan." ucap kak Zizah. Aku terpaksa tersenyum, bagaimana bisa aku melukai perasaannya nanti. Ya Allah kuatkan hatiku, buatlah hati ini tertutup untuk dia yang tak lagi bisa aku milik. Kak Zizah adalah kakak terbaikku, dia paling mengerti aku setelah Abi dan Umi. Yang tidak dia mengerti adalah, isi hatiku saat ini.  Setelah kepergian Abi tujuh tahun lalu, karena serangan jantung. Hidup kami semua ditanggung oleh kak Zizah. Padahal gajinya juga pas-pasan, sesuai dengan pekerjaannya yang hanya bekerja di apotek. Dia benar-benar hebat, dia mampu membiayai kuliah ku, disaat Umi sendiri sudah angkat tangan kerena kondisi keuangan yang sudah buruk. Kak Zizah ingin adiknya menjadi orang sukses, dan dapat membanggakan dia dan juga kedua orang tua.  Padahal, jika dilihat-lihat. Biaya kuliah ku dan kak Zizah lebih banyak aku. Dan aku merasa sangat berhutang budi kepadanya. Apalagi saat kak Zizah menikah dengan mas Hafiz. Semua tanggung jawab kak Zizah, berpindah pada mas Hafiz dan kini, semua kebutuhan ku di penuhi oleh mas Hafiz. Aku sebenarnya agak tidak enak hati. Mengingat siapa itu mas Hafiz dan bagaimana masa lalu ku dengan mas Hafiz. "Loh malah melamun. Ayo gih masuk terus mandi. Udah malem loh Sya, hampir jam sebelas ini." gereget kak Zizah. Aku hanya menyengir dihadapannya dan cepat-cepat berlalu dari hadapan Umi dan kak Zizah. Bisa-bisanya aku melamunkan itu. Apalagi ada kak Hafiz dalam lamunanku. Ingin rasanya aku segara menikah dan meninggalkan rumah ini. Aku sudah tidak kuat jika harus kak Hafiz yang selalu memenuhi kebutuhan ku. Aku tidak enak hati akan itu. "Hari ini melelahkan sekali." gumam ku. Aku tidak langsung masuk kedalam kamar mandi, aku malah asik merebahkan tubuh ku diatas kasur. Menatap langit-langit kamar, aku jadi teringat akan kejadian itu. Dimana aku menangis meraung-raung ketika mendengar Hafiz datang ke rumah untuk melamar kak Zizah. Waktu itu hatiku sangat hancur, pria yang aku kagumi sejak lama tiba-tiba datang ke rumah dan berniat melamar kakak ku. Bukan aku. Bayangkan bagaimana hancurnya hatiku. Sepuluh tahun aku berteman dengan Hafiz. Mulai dari aku duduk di kelas 6 SD dan dia di kelas 3 SMP.  Awalnya, keluarga ku pindah kemari karena rumah yang lama sudah dijual dan diganti rumah yang lebih luas dari yang sebelumnya.  Aku bertemu dengan Hafiz dan sampai aku bersahabat dengan dia, diwaktu aku pulang dari sekolah jalan kaki. Karena saat itu Abi tidak bisa menjemput ku dan apes nya, waktu itu juga aku tidak tahan untuk BAB. Mengenaskan kan. Hari itu aku bertemu dengan Hafiz dan dia mungkin kasihan melihat anak SD seperti ku jalan kaki. Apalagi dengan posisi kedua tangan ku memegang perut dan wajah ku yang lusuh. Hahahaha Akhirnya, dia menawarkan tumpangan. Alhasil aku iya kan saja dan berakhir aku pulang dengan dia membonceng ku. Selama di perjalanan Hafiz mengajakku berbicara, saling tanya nama dan berakhir bersahabat sampai sekarang. Hingga waktu aku duduk di bangku SMP, aku baru menaruh hati pada dia. Awalnya aku rasa ini cinta monyet, tapi sayang. Sampai sekarang pun aku masih memiliki perasaan untuk Hafiz. Yang sebenarnya tidak boleh aku lakukan lagi, karena sekarang Hafiz sudah menjadi kakak ipar ku. Itulah, kenapa aku enggan melaksanakan amanah Umi. Karena ku tidak ingin berinteraksi secara terang-terangan dengan Hafiz. Karena aku yakin, hati yang sudah aku tata, akan hancur kembali. Bayangkan saja, selama satu tahun kak Zizah menikah dengan Hafiz. Aku harus benar-benar merubah semuanya. Termasuk panggilan ku pada Hafiz. Yang awalnya aku hanya memanggil nama karena dianya sendiri yang menginginkan itu. Berakhir harus ada tambahan kata mas. Mas? Ya Allah, sulit sekali hatiku menerima kenyataan ini. Meskipun sudah satu tahun berlalu, aku tetap mencintainya. Dan selama satu tahun, aku benar-benar menghindari pertemuan dengan Hafiz di dalam rumah. Entah dengan aku pulang larut malam atau aku lembur mengerjakan tugas di kampus. Karena semua itu aku lakukan untuk menyatukan hati yang hancur. Semua tidak tahu kondisi hatiku. Aku benar-benar mencintai dalam diam. Dan itu menyesakkan. Ingin sekali aku pergi meninggalkan rumah dan mencari kehidupan baru. Tanpa Hafiz yang menjadi penanggung jawab kehidupan ku. Jika saja ada pria yang datang melamar ku, tidak akan aku tolak dia. Karena aku benar-benar mau bebas dan tidak bergantung lagi pada uang pemberian Hafiz.  Andai. Jika ada pria yang datang melamar ku dan menjadikan aku wanita dalam hidupnya. Andai.  ^•^•^•^•^ Bacaan apapun, yang lebih utama adalah Al-Qur'an
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD