Yudhistira Saleem
Akhirnya aku mengambil keputusan ini. Mungkin semua orang akan menganggap aku gila. Tapi biarlah, karena kegilaan ini memang tanggung jawabku. Aku tak mau semua orang menanggung aib yang diciptakan laki-laki b******k itu, Ben, yang telah menebar benih kebencian sekaligus benih ‘bayi’ nya di rahim Bella.
Sungguh, aku sangat ingin marah dengan kelakuan bejadnya yang menghancurkan Bella. Aku ingin menghajar laki-laki itu hingga remuk, atau mungkin hilang bentuk. Tapi aku tak ingin tanganku kotor karena darah manusia seperti dia. Karena aku yakin, aku punya cara membuatnya sakit tanpa harus mengotori tanganku.
Aku pasti akan menemukan cara itu.
Dan inilah yang akan aku lakukan, menikahi Bella apapun yang terjadi. Dan langkah awal yang harus aku tempuh adalah memutuskan secara pasti hubunganku dengan Ratna.
Tapi sebuah tamparan menjadi hadiah kejujuranku memutuskan cintanya. Tapi aku maklum dengan luapan emosinya, kurasa semua perempuan juga akan begitu jika lelakinya malah pamit untuk menikahi perempuan lain. Meskipun untuk kasusku, bukan perempuan lain yang aku nikahi, tapi adikku sendiri. Meskipun dia adik angkat.
Kutinggalkan bar dimana tadi aku janji ketemuan dengan Ratna. Kulajukan mobilku dengan kecepatan normal menuju rumah sakit. Keadaan Bella memang berangsur membaik, karena beberapa botol infus telah memulihkan kondisinya lebih stabil.
Malam ini koridor sedikit lengang ketika aku menyusurinya. Tiba di depan kamar Bella, aku mendengar suara obrolan-obrolan. Siapa yang masih ada di kamar Bella malam begini ? Pelan, kubuka pintu ... dan kulihat disana Bella sedang ngobrol dengan seseorang. Laki-laki. Entah mengapa tiba-tiba aku jengah, kurasa wajahku memerah oleh semburan amarah.
Tapi jelas aku harus meredakannya demi melihat Bella yang wajahnya ceria dengan obrolan bersama laki-laki tersebut.
“Hei ?”, aku menyapa. Kudekati ranjang Bella, dan laki-laki yang duduk di kursi dekat ranjang itu tersenyum padaku.
Dan sial, aku sungguh tak bisa untuk berpura-pura tersenyum padanya padahal hatiku bahkan benci tanpa alasan.
“Udah baikan, Belle ?”
Gadisku ini mengangguk. Lihatlah, senyumnya yang cerah ini. Aku bahkan nyaris tak sanggup mengatakan bahwa dia sekarang sedang hamil. Ya, Tuhaaannn... harus dari mana aku memulainya ?
Maka aku menoleh ke arah laki-laki itu, Ronald, sepupu Eva.
“Kurasa sudah malam, biar Bella saya yang jaga. Terima kasih telah menemaninya”
Ronald kulihat terkejut dengan kata-kataku. Mungkin dia juga merasa bahwa aku mengusirnya, meski halus.
Persetan, aku hanya tak ingin dia terlalu dekat dengan Bella. Bagaimanapun, gadis ini akan menjadi istriku, sebentar lagi.
“Baiklah, saya permisi. Belle ... cepet sehat ya ?”, kata Ronald sebelum berangkat pulang.
Bella mengangguk.
“Kakak hati-hati di jalan”
Ronald mengangguk sebelum hilang dibalik pintu.
“Temen deket ?”, aku bertanya pada Bella dengan d**a bergemuruh, takut gadis itu akan mengangguk.
Entah mengapa, aku selalu tak suka dia dekat dengan teman laki-lakinya.
Tapi Bella menggeleng, dan hatiku seperti tersiram air es.
“Dari tatapan matanya, sepertinya dia menyukai kamu”
Bella diam.
“Ya. Dia bilang mencintai Bella”
Deg !!!
“Dan kamu menerimanya ?”
Sungguh, aku berharap dia menggeleng.
“Dia baik sama Bella. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk Bella, Bella nggak berani mengharapkan sesuatu yang lebih dari ini”, jawabnya dengan nada sendu.
Senyum cerianya yang tadi tersungging, kini berganti mendung.
“Kenapa bilang begitu ?”, aku bertanya lirih.
“Bella nggak pantas untuk Ronald. Bella nggak akan pernah pantas untuk siapapun”, suara lirihnya terdengar bergetar.
Tangisnya kembali luruh, menuntun tanganku untuk merengkuhnya ke dalam pelukanku. Hatiku seperih luka sayatan yang tersiram cuka. Tangisnya bukan mereda, malah semakin tergugu.
“Sssttt...kita akan menghadapinya berdua. Kakak akan selalu ada untukmu, oke ?”
Dia mengangguk dalam tangisnya.
“Sekarang kamu harus istirahat jika ingin cepat sehat dan pulang ke rumah”, kurebahkan tubuhnya. Menyelimutinya dan mengusap rambutnya yang legam.
“Kakak akan pulang ?”, suaranya serak.
Aku menggeleng.
“Kakak akan menungguimu. Selalu”
Dia lalu menggenggam tanganku.
“Terima kasih karena selalu ada untuk Bella”
Aku tersenyum. Kucium dahinya dengan segenap rasa yang kupunya. Rasa sayang, rasa ingin melindungi, rasa ingin memikul bersama beban yang kini dipanggulnya, juga rasa posesive yang kadang-kadang muncul tak terkendali. Dan kini muncul rasa kurang ajar yang membuat dadaku berdesir detiap kali dekat dengannya.
“Kakak akan selalu ada untukmu”
Bella tersenyum lalu memejamkan matanya. Kupandangi wajahnya yang mulai tertidur.
Wajah ayunya kini semakin memucat. Wajahnya yang dulu gembil, kini sedikit tirus. Bibirnya yang dulu ceria, kini jarang menyunggingkan senyum. Senyum yang akhir-akhir ini selalu kurindukan.
Rindu ? Tentu saja aku sangat merindukan keceriaannya. Merindukan pagi-pagi yang terlewati dengan sarapan pagi sambil mendengar celotehnya tentang nilai-nilainya yang sempurna. Tentang teman-temannya yang semua bersaing untuk memperoleh nilai terbaik. Dan aku merindukan wajahnya yang cemberut ketika Ayah mengejeknya masalah cowok.
Kusandarkan kepalaku yang mulai terasa berat di sisi ranjangnya. Kugenggan jarinya yang hangat. Dalam kesadaranku yang mulai menghilang, kurasakan dia membalas genggaman tanganku.
Kedamaian itu menyusup ke hatiku, menggiringku ke alam bawah sadarku. Mencari bidadari di alam mimpi ... meski aku tahu, bidadariku itu kini ada di hadapanku.
* * * * *
Romi dan Rin telah tiba kembali di Indonesia. Dan Bella juga sudah mulai baikan kondisinya, bahkan telah pulang juga dari rumah sakit. Roman wajahnya mulai ceria, tapi satu yang tak disadarinya.
Dia hamil.
Dan malam ini, Romi, Rin dan Yudhis sedang membicarakan rencana keinginan Romi untuk menikah.
“Jadi kapan melamarnya ?”, Rin bertanya pada laki-laki muda yang kelihatan muram meskipun wajah tampannya kelihatan demikian sempurna.
Sementara Romi yang duduk di sebelah istrinya hanya senyum – senyum melihat anak sulungnya yang demikian salah tingkah.
Yudhis menggeleng, membuat Rin dan Romi saling pandang dengan tatapan penuh tanya.
“Yudhis ??? Nggak bisa begitu dong, Sayang ?? Kamu ini akan menikahi manusia lho, tentu dia punya keluarga, punya harga diri ....”
“Ceritanya panjang, Bunda ...”
“Cerita apa ini ? Kok Bunda dari tadi nggak paham ?”, Rin kebingungan.
Dan cerita tragis itu mengalir membuat Rin menyesali kepergiannya ke Australia. Bahkan tangisnya demikian saja meluncur. Dia tak menyangka gadisnya yang ceria itu akan mengalami nasib setragis ini.
“Apa tidak sebaiknya kita menuntut laki-laki b******k itu ke polisi ?”, Romi demikian emosi.
“Kita nggak punya bukti, Yah. Karena dia demikian bersih menghilangkan semua jejak”
“Kita bisa bicara baik-baik mungkin ?”, Rin mengusulkan.
“Itu merendahkan harga diri, Bunda. Dan aku tak ingin Bella terhina jika harus memohon tanggung jawab laki-laki b******k itu”
Buntu.
“Itulah mengapa Yudhis harus menikah secepatnya”, kata Yudhis tegas.
Rin dan Romi saling berpandangan.
“Lho, kok kamu harus menikah segera ?”
“Bunda, kita tahu ini aib. Jadi menurut Yudhis, dengan menikahi Bella, adalah jalan terbaik yang bisa kita ambil untuk saat ini”, Yudhis berkata dengan tenang meski tak mampu menyembunyikan getaran dalam nada suaranya.
“Astaga ??! Tapi dia adik kamu, Yudhis ?”, Romi angkat bicara.
“Yah, Bella hanya adik angkat. Dan ini satu-satunya jalan untuk menutup aib ini”, nada suara Yudhis meninggi.
“Istighfar, Yudhis .... Sabar. Bagaimanapun kita harus mencari jalan keluar yang terbaik untuk semuanya”, Rin melerai.
Sementara Romi tak habis pikir dengan pola pikir Yudhis, Rin masih saja menangisi kejadian yang menimpa Bella.
“Ini jalan terbaik untuk menutup aib ini, Bun”, Yudhis berkata lirih.
“Apa maksud kamu, Yudhis ?”
“Bella hamil, Bun, dan itu karena laki-laki b******k itu !!”
Prang !!!!!
Tiba-tiba terdengar sesuatu yang jatuh dan pecah berantakan. Ketiga orang itu mencari arah sumber suara yang berasal dari pintu ruang kerja dimana mereka bertiga berbicara. Dan betapa terkejutnya mereka saat disana telah berdiri Bella dengan wajahnya yang shock.
Kemudian mereka baru menyadari bahwa Bella telah mendengar kabar kehamilannya, ketika gadis itu berlari menuju ke kamarnya dengan tangisnya yang mulai terdengar menggugu.
Yudhis, Rin, dan Romi lantas berlari mengejar gadis itu. Tapi pintu kamar terkunci dan terdengar teriakan histeris Bella.
“Belle ... buka pintunya, Bella !!!”, Yudhis menggedor pintu kamarnya.
Tak ada sahutan, hanya tangis dan makian yang terdengar.
”Belle ... Bella ... !!!”, Yudhis memanggilnya
Namun lagi-lagi gadis itu tak mau mendengar.
Dan ketiga orang itu semakin khawatir ketika tiba-tiba tangis Bella tak terdengar lagi. Maka tanpa pikir panjang, Yudhis mendobrak pintu itu. Sungguh, dia trauma dengan kejadian Bella yang nekad mengiris urat nadinya waktu itu.
Dua kali dobrakan tak membawa hasil. Tapi pada dobrakan ketiga, mereka berhasil membuka paksa pintu itu. Dan mereka langsung berlari ke dalam ketika dilihatnya Bella tergeletak pingsan.
“Belle ...bangun, Belle”, Yudhis mengguncang pipi gadis itu yang kini direngkuhnya.
“Belle ... bangun, Sayang ...”, Rin ikut membangunkan.
Tapi gadis itu tak bergeming.
“Angkat ke kasur, Yudhis”, Romi memberi perintah.
Maka Yudhis lantas membaringkan gadis itu di ranjangnya. Menyelimutinya.
Yudhis terlihat sangat panik. Sementara Rin masih saja terisak.
“Kita panggil dokter Ferdy ?”, tanya Romi.
Yudhis mengangguk. Romi segera menghubungi dokter keluarga itu.
* * * * *
“Usia kehamilannya semakin bertambah. Sekarang sudah hampir dua bulan, jadi kita harus segera mencari solusinya”, dokter Ferdy membuka suara.
Suasana di ruang tengah demikian hening namun sangat terasa bahwa penuh masalah. Rin dan Romi masih membisu.
“Aku tetap pada keputusanku”, Yudhis menjawab. Romi dan Rin bersamaan menatap Yudhis.
“Berarti kita harus menyiapkan mental dan segala macamnya karena jelas semua relasi, bahkan teman akan bertanya tentang pernikahan yang tak lazim ini”, Ferdy menjawab.
“Tak lazim bagaimana ?”, Yudhis meninggikan suara.
“Yudhis ... jangan menutup mata ! Semua orang tahu bahwa Bella adalah bagian keluarga Saleem karena memakai nama Saleem. Dan jelas itu artinya dia adalah adik kamu”, jawab Ferdy.
Sementara Rin dan Romi belum juga menemukan solusi untuk masalah pelik seperti ini.
“Kita punya akta kelahiran dia selain akta bahwa dia adalah anak adopsi, Fer ?!”
“Dan itu yang harus harus kita siapkan untuk menangkis semua penilaian buruk tentang pernikahan kalian”
“Pernikahan kami bukan pernikahan buruk”, Yudhis emosi.
“Sabar, Yudhis ... kita harus berkepala dingin”, Rin melerai.
Romi masih terpekur dengan banyaknya masalah yang menimpa keluarga mereka kali ini.
“Pernikahan harus disegerakan, Bund ... kita tak akan bisa menyembunyikan kehamilan Bella lagi”
“Bahkan kita belum tahu apa jawaban dan reaksi Bella untuk rencana ini, Rom ?”, Rin menyadarkan Yudhis, bahwa mereka lupa memperhitungkan keberadaan Bella.
“Astaga ... maaf, Bund ... Yudhis lupa bahwa kita harus melibatkan Bella dalam pembicaraan ini”, Yudhis terlihat menyesal dengan emosinya yang sedikit di luar kontrol.
“Biar Bunda yang nanti menyampaikan sama dia”, kata Romi, diliriknya Rin dan istrinya itu mengangguk.
Yudhis dan Ferdy terkejut dengan reaksi Romi.
“Jadi Ayah setuju kalau Yudhis mengambil keputusan tak biasa ini ?”, Yudhis bertanya ragu.
Romi mengangguk.
“Ayah percaya sama kamu. Jika kamu merasa ini langkah yang tepat untuk kamu ambil, Ayah mendukung apapun keputusan kamu”, Romi berkata dengan mantab.
Sementara Rin sedikit shock dengan dukungan yang diberikan suaminya. Memang selama ini Yudhis menjadi anak yang bisa dipercaya dalam ucapan dan tindakannya. Rasanya tak salah jika mereka kembali mempercayakan masalah ini akan terselesaikan oleh Yudhis.
Mereka berharap, masalah ini akan berakhir sesuai dengan keinginan mereka. Bagaimanapun, badai ini memang telah ditakdirkan untuk mereka.
* * * * *
Bella Amora Saleem
Malam telah menunjukkan pukul dua dini hari ketika mataku tiba-tiba terbuka. Rasa pusing dan berat sangat terasa di kepalaku. Kulirik sekilas, selimut tebalku melingkupi tubuhku. Siapa yang menyelimutiku ?
Lalu ... tiba-tiba saja terbayang bagaimana tadi. Saat aku berniat membuatkan teh panas untuk Ayah, Bunda, dan Kak Yudhis yang sedang bicara dengan serius di ruang kerja Kak Yudhis. Bagaimanapun, aku sangat merindukan Bunda yang beberapa bulan ini berada di Australia.
Bundaku yang manis itu hidupnya selalu penuh cinta. Suaminya, Ayah kami, adalah laki-laki yang memandang Bunda dengan pandangan penuh cinta dan memuja. Jangan bilang aku tak ngiri, karena aku sangat ingin memiliki pasangan hidup yang seperti Ayah.
Meski kini kusadari, bahwa aku tak kan mungkin memiliki mimpi memiliki suami seperti Ayah. Kalian tahu, meski Ayah dan Bunda bukan orang tuaku kandung, dan itu kutahu ketika aku sudah kelas satu SMA, tapi beliau berdua adalah malaikat yang melingkupi hidupku dengan penuh cinta.
“Bella hamil, Bun, dan itu karena laki-laki b******k itu !!”, kembali kalimat kak Yudhis menghantui otakku.
Ya, Tuhaaannn...
Bisakah Kau jelaskan padaku apa dosa besar yang telah kulakukan hingga Kau menanamkan benih laki-laki biadab itu di rahimku ? Tak cukupkah Kau pisahkan aku dengan orang tuaku ? Tak cukupkah pengabdianku pada Ayah dan Bunda yang membuatku seperti putri kandung mereka ?
Dan kini ?
Kau berikan aku bayi yang tak pernah kuinginkan ini ?
Sesal dan tangisku tak kan berujung, aku yakin itu. Dan apa yang kini terjadi, jelas adalah aib terbesar yang akan menampar nama besar keluarga Saleem. Aku harus mencari jalan keluar untuk menyelamatkan nama baik keluarga ini.
Ya, kehadiran kini hanya akan semakin membuat nama baik keluarga Saleem tercemar. Apa kata mereka jika tahu bahwa putri keluarga Saleem hamil sebelum menikah ? Aku memang hanya anak adopsi, tapi apa mereka tahu ?
Ya, aku harus mengambil tindakan ini.
Aku beranjak dari ranjang menuju lemari. Kuambil obat di lemariku, kuminum dengan dosis sesuai keinginanku. Setelahnya, aku kembali berbaring di kamar. Kantukku menyapa. Pandang mataku mulai mengabur. Rasa mulas dan mual mengaduk perutku.
‘Ayah ...Bunda ... Kak Yudhis ... Kak David ... Maafkan aku ...’
‘Tuhan, ampuni jika aku sempat mengeluh pada-Mu ...’
‘Semoga ini yang terbaik untuk semua ...’
Aku benar-benar merasa sangat berat, namun samar masih kudengar suara pintu yang terbuka dan sebuah teriakan. Guncangan kurasakan di tubuhku, namun aku tak bisa berbuat banyak ...
* * * * *