SISTER IN STEP

2578 Words
Ben Richard Wijaya Aku melajukan mobilku meninggalkan rumah. Malam ini aku janji ketemu dengan Ratna. Ya, tentu kalian bertanya mengapa aku bisa mengenalnya. Tentu saja aku mengenalnya. Perempuan yang kini berprofesi sebagai dosen itu, dulu adalah salah satu perempuan koleksiku. Dan dia bahkan salah satu perempuan yang liar, tak hanya dalam fantasinya tapi dia juga liar dalam berekspresi. Terutama ketika di ranjang. “Sudah mengenaliku, Baby ?”, aku masih ingat dengan pertanyaanku malam itu, ketika aku menghubungi nomor telepon genggamnya, usai dia menampar Yudhis. Dia belum menjawab. Aku tahu dia mungkin bingung dengan diriku. Entah lupa, atau sedang mencari alasan, aku tak ingin menduga. “Aku Ben, kalau kamu lupa”, aku membuka diriku. “Ben ??? Bagaimana kamu tahu nomorku ?”, dia terdengar kaget dengan keberadaanku yang tiba- tiba saja meneleponnya. “Apa yang tak bisa kulakukan, Baby ? Oh, ya ... apakah kita bisa bertemu ?”, aku mencoba merayunya. “Untuk apa ?”, dia terdengar sinis dan tak suka dengan permintaanku. “Ayolah, Baby .... mungkin kita bisa sedikit bersenang-senang ? Kulihat kamu emosi menghadapi lelakimu” “Lelaki ?” “Ya .... yang semalam kamu tampar itu ?” “Bagaimana kamu tahu ?”, jawaban judes terdengar di sana. Aku tergelak. “Apa yang tidak kutahu, Baby ?” “Dia bukan lelakiku lagi”, Ratna menjawab dalam dengusan. “Oh ya ??? Good ... Itu artinya, kita bisa melanjutkan kisah panas kita yang sempat terhenti karena laki-laki itu”, aku merasa mendapat angin segar mendengarnya telah lerai dari Yudhis. Jujur saja, kebersamaanku dengan Ratna, meski hanya urusan kepuasan ranjang, memang terlerai karena kehadiran Yudhis dalam hidup Ratna. Perempuan itu mulai menolak permintaanku untuk bertemu dan bercinta, karena dia akan lebih senang menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar Yudhis, laki-laki itu. Meski belakangan aku tahu bahwa mereka sempat bersama selama dua tahun ini, tapi aku jujur saja mulai tak suka karena terkalahkan oleh Yudhis. Jadi jangan pernah bertanya mengapa aku begitu membenci laki-laki itu. Karena kalian tahu apa yang kurasakan. Semua yang kujalani, selalu bersinggungan dengannya, bahkan selalu terampas olehnya. Kubelokkan mobilku menuju sebuah apartemen mewah, alamat yang disebutkan Ratna dalam teleponnya. Turun dari mobil dan memasuki hunian itu, aku berdecak kagum dengan kemewahan yang di sajikan hunian ini. Aku sempat bertanya dalam hati, berapa budget yang harus dikeluarkan perempuan ini untuk sekedar menghuninya ? Aku bertanya kepada resepsionis, untuk menanyakan keberadaan kamar Ratna. Dan ke lantai 5 aku melangkahkan kaki. Nomor 525 kini terpampang di depanku. Kupencet alarmnya dan aku menunggu beberapa saat. Dua menit berlalu, tapi tak juga ada jawaban. Kuulurkan tanganku untuk kembali memencet alarm ketika pintu tiba-tiba terbuka. Wajahnya muncul di depanku, di balik pintu yang hanya terbuka separuh. Tak ada aura cerah, yang kulihat hanya muram. “Boleh aku masuk, Baby ?”, aku bertanya dengan nada merayu. Kadang aku merasa sangat geli, bagaimana bisa aku begini manis ketika berdekatan dengan perempuan. Ups, tentu saja karena mereka adalah salah satu pemanis hidupku. “Masuklah”, jawab Ratna, sambil membuka pintu lebar-lebar. Aku masuk dengan langkah pelan. Kuedarkan pandanganku ke segenap penjuru kamar Ratna. Aku berdecak kagum. “Mau minum apa ?” “Apa saja, Baby ... asal kamu yang membuatnya, aku yakin rasanya akan nikmat” Kulihat dia mencibir, tapi lantas berjalan menuju kulkas dan membawa sebotol minuman. “Beri aku soft drink saja, Baby ... aku tak ingin lepas kendali karena hanya berdua denganmu disini” “Tumben ?” Aku tersenyum kecut. Aku pun heran, mengapa aku tak berniat menikmati minuman yang berpotensi membuatku hilang kendali. Tentu saja, aku ingin membahas sesuatu yang lebih vital dari sebuah whisky. Soft drink dingin dalam kemasan kaleng kini tersaji di depanku. Kami sedang duduk di ruang tamu minimalis kamar Ratna, sambil menikmati pemandangan luar yang penuh kerlap-kerlip cahaya lampu kota. Semarak, tapi background nya adalah langit gelap. Aku miris, seperti itulah hidupku. “Sebenarnya ada apa, kok kamu getol menghubungi aku selama seminggu ini ?”, dia bertanya. Aku tersenyum. “Kamu lupa, Baby ? Dulu, sebelum laki-laki itu hadir dalam hidupmu, kamu yang biasanya selalu getol menghubungi aku ? Tak peduli aku sedang sibuk dengan pekerjaanku”, aku tersenyum sedikit sinis, mengingatkannya bagaimana dia dulu sering menghubungi aku. Tak peduli betapa sibuknya aku dengan pekerjaanku, bahkan ketika aku juga sedang sibuk dengan perempuan mainanku. “Jangan mengingatkan aku dengan kebodohanku, Ben!” “Jangan bilang kamu bodoh, Baby ... karena kamu adalah perempuan paling cerdas yang singgah dalam hidupku”, lihatlah, aku bahkan masih bisa merayunya dengan demikian gombalnya. Ratna hanya tersenyum, muram. “Jadi sejujurnya ada apa ?”, dia bertanya lagi. “Tak ada yang penting, Sayang ... aku hanya merindukanmu. Apa itu salah ?” “Jangan membahas sebuah rindu, Ben ... aku tahu siapa kamu. Kamu tak akan melakukan sesuatu yang tak menguntungkanmu!”, Ratna berkata demikian tegas. Huft !!! Aura dosen nya keluar. Memangnya aku ini mahasiswanya apa ? Aku terbahak. “Tak kuduga, kamu demikian mengenaliku, Baby ? Bahkan lebih dari diriku sendiri ?” “Bagaimana pekerjaanmu ?”, dia mengalihkan topik. “Semua berjalan baik, sesuai keinginanku” “Kurasa ada yang tak baik, karena kamu menghantui nomor teleponku seminggu ini” Aku kembali terbahak. Sial !!! Bagaimana dia tak kubilang cerdas, kalau hanya dengan tindakan konyolku yang nekad menghubunginya tanpa henti, dia tahu bahwa aku dalam keadaan tidak baik ? “Oke ... aku ke sini hanya sekedar ingin tahu, bagaimana bisa kamu menampar lelaki setampan lelakimu itu ?” “Jangan bilang dia lelakiku lagi kalau tak ingin kutendang keluar”, Ratna menjawab dengan emosi mulai muncul. “Tenang, Baby ... By the way .... apa yang terjadi ?” Ratna terdiam sesaat. Tapi dia lantas beranjak dari duduknya. Menyambar soft drink di atas meja, dan berjalan pelan menuju jendela yang mengarah ke pemandangan malam. Sesuatu yang beratkah yang terjadi ? “Mungkin ini karma buat aku”, kata Ratna dengan nada yang membuatku merinding. Aku tersenyum tipis. “Karma itu tak ada. Itu hanya omong kosongg orang-orang yang takut menghadapi hidup” “Kamu tak akan percaya, sampai kamu merasakannya”, jawab Ratna lagi. Entah mengapa, kalimatnya ini mengusikku. “Hanya karena laki-laki itu lalu kamu mempercayai karma dan segala macamnya ?”, kuteguk soft drink hingga tandas. “Aku dulu pernah meninggalkan seorang laki-laki, calon suami aku, hanya karena aku ingin mengejar karierku. Dan dari karier itu aku terjebak arus kehidupan bebas” Sesaat Ratna diam. “Dan kamu mengenalku juga dari dunia itu ”, aku menimpali kalimatnya. Dia mengangguk. “Jadi ketika aku mengenalnya, kurasa ini jalanku untuk kembali menjalani kehidupanku dengan benar” “Itu sebabnya kamu tak mau lagi kencan denganku ?” Dia menatapku sekilas, lalu mengangguk. “Kupikir dengan mencintai dan memiliki laki-laki sempurna seperti Yudhis, akan membuatku menjadi perempuan paling beruntung di dunia” “Bukankah itu kenyataannya ?” Ratna menggeleng. Aku terkejut. Bagaimana mungkin dia tidak merasa beruntung ? “Semula aku memang beruntung karena dia juga baik sama aku. Sering mengantarku kerja, makan siang bersama, meski kami jarang menghabiskan malam minggu berdua” “Kenapa begitu ?”. kau bertanya. Sial !!! Aku bahkan menjadi demikian kepo tentang kehidupan pribadi laki-laki sialan itu. “Yudhis itu laki-laki yang tak mau menjalani SBM. Dari situ aku merasa bahwa dia akan menuntunku menjadi manusia yang baik” Aku tertawa. “Laki-laki seumur dia belum pernah melakukan s*x ? Kurasa dia akan menjadi laki – laki yang kurang beruntung karena belum merasakan kenikmatan bercinta. Apalagi dengan perempuan sepanas kamu”, aku menyusuri lengan atasnya dengan punggung tanganku. Halus, masih sehalus dulu ... “Nyatanya dia tak pernah tergoda dengan diriku” “Meskipun kamu kekasihnya ?” Ratna menatapku tajam. “Aku bahkan lupa bahwa dia tak pernah mengatakan cintanya padaku, karena aku sibuk mengejar cintanya tanpa mempedulikan apakah dia mencintaiku atau tidak” Aku terdiam. Mencoba menyimak apa yang dikatakannya. “Tapi gadis kecil itu mengacaukan mimpiku”, suara Ratna tiba-tiba terdengar menakutkan. “Gadis kecil ?” “Ya ! Namanya Bella !” “Bella ? Bukannya dia adik lelakimu itu ?”, aku makin terkejut. Dia mengangguk. “Acara kencanku sering terbengkalai hanya karena gadis kecil itu minta diantar ke toko buku, minta diantar ke rumah temannya, kadang karena terlalu protektiv, Yudhis bahkan ikut ke acara kemping gadis kecil itu” Aku manggut-manggut dengan nada marah yang tersirat dalam ucapan Ratna. Makin mengerti dengan situasi ini. “Kamu cemburu dengannya ?” Ratna menatapku tajam, lagi. “Bagaimana mungkin aku tak cemburu, melihat kedekatan mereka ?”  “Kamu cemburu, bahkan dengan adiknya ?” “Mereka hanya saudara angkat”, kata-kata Ratna membuatku seperti kejatuhan bom. “Maksudmu ?” “Jangan bodoh ! Gadis itu hanya anak angkat keluarga Saleem. Jadi bukan tidak mungkin mereka berdua saling jatuh cinta mengingat bagaimana kedekatan mereka selama ini” Sial !!! Mengapa aku tak pernah tahu bahwa perempuan itu adik angkat Yudhis ? Bahkan semua orang hanya tahu bahwa Bella adalah adik Yudhis, karena gadis itu juga menyandang nama Saleem. Aku menggeram dalam diam. Tapi aku lantas tersenyum, karena dengan situasi seperti ini pun aku masih bisa mengambil manfaat. Kalau kalian pikir aku akan melewatkan hal ini, kalian salah. Karena aku akan tetap mengambil manfaat dari situasi apapun. Jangan bilang aku b******k, karena itu bawaanku semenjak kecil. “Kamu tak perlu risau. Laki-laki itu pasti akan kembali padamu”, aku menghiburnya dengan pandangan menggoda. Ratna menggeleng. “Itu tak mungkin” “Mengapa tidak ? Aku tak tahu harus mengatakannya dari mana, karena kamu pantas berterima kasih padaku untuk satu hal ini” Ratna kembali menatapku. “Maksud kamu ?” Aku tertawa dengan kekepoannya. “Sementara kamu membenci gadis itu, aku telah membalas kebencianmu. Kamu tahu, aku memiliki sesuatu yang harus kubalaskan. Dan aku telah  melakukannya” “Ben, katakan dengan jelas apa maksud ucapan kamu ?” Aku berjalan mendekat ke jendela. Memasukkan tanganku ke saku celana. menatap pemandangan luar yang semakin gemerlap. “Kuharap kamu tahu, aku sangat membenci lelakimu itu. Terlepas dari dirinya yang merenggutmu dari kehidupan s*x ku, dia juga telah menerobos beberapa proyek pembangunan hunian yang sedianya akan dihandle perusahaanku” Ratna masih tak bereaksi dengan ceritaku. “Aku tahu tak memiliki kekuatan yang cukup besar untuk melawan perusahaannya yang jauh lebih professional daripada perusahaanku. Tapi aku harus menghancurkannya” “Kamu tak menyadari bagaimana tangguhnya seorang Yudhis. Dia memiliki benteng kekeluargaan yang bahkan tak bisa diukur dengan uang”, kata-kata Ratna seolah menciutkan nyaliku. Tapi tidak ! Karena aku telah berhasil menghancurkannya. Setidaknya sampai saat ini cukup berhasil. “Kamu salah, Ratna. Aku tahu ukuran ketangguhan seorang Yudhistira. Dan aku telah menghancurkannya” Ratna tersenyum sinis, menertawakan ucapanku. “Tak semudah yang kamu bayangkan, Ben” “Jangan remehkan kemampuanku, Ratna. Mungkin kamu tak akan mengira bahwa aku mampu menghancurkan Yudhis-mu itu, tapi aku telah melakukannya”, aku menjawab datar. “Memangnya apa yang telah kamu lakukan  ?” “Aku tak tahu keberuntungan macam mana yang menghampiriku ketika aku berhasil membawa gadis kecil yang kau benci itu, ke rumahku” “Kau menculiknya ?” Aku mengangguk. “Bahkan aku telah menikmati tubuhnya” Ratna menjerit tertahan. Jarinya menutup mulutnya. ‘Tidak mungkin ! Kamu pasti bohong ! Yudhis tak pernah membiarkan adik kesayangannya itu tanpa pengawasan” Lagi-lagi aku tertawa. “Ayolah, Baby ... Kau lupa bahwa keberuntungan selalu berpihak padaku ?” Ratna nampak senang melihat gadis kecil yang diam-diam menjadi pesaingnya itu telah hancur hidupnya. Tapi aku terkejut ketika tiba-tiba kulihat dia muram. “Tapi itu tak mengubah apapun. Karena mereka akan menikah, sebentar lagi” Aku terkejut. “Menikah ? Mereka ? Maksudmu ?” “Kamu tahu, Ben ? Yudhis memutuskan untuk menikahi gadis kecil sialan itu !”, jawaban Ratna yang nyaris berteriak memenuhi gendang telingaku. Sumpah, jawaban Ratna membuatku seperti terkena arus listrik ribuan watt. Bagaimana mungkin Yudhis berpikir menikahi gadis itu, sementara dia tahu bahwa dia telah hancur ? Dan mengapa mereka harus menikah ? Apakah ada sesuatu yang terlewatkan olehku ? “Kenapa mereka harus menikah ?”, aku bertanya pada Ratna dengan nada keras. “Jangan tanyakan padaku karena bukan aku yang akan menikah. Tanyakan pada mereka !”, Ratna menjawab sengit. Aku diam, kehilangan orientasi untuk apa yang baru saja aku dengar. Informasi ini membuatku merasa marah, tanpa tahu apa yang kumarahi. Aaarrrggghhh ..... benar-benar sialan !!! Bahkan dengan cara paling kotor pun aku tak mampu membuat mereka hancur. Harus dengan apa lagi aku menghancurkan mereka ? Ketika aku terpaksa harus menebar aib noda pada perempuan kecil itu, Yudhis malah datang sebagai dewa penolong dengan menutup aib tersebut. Sial !!! Benar-benar sial !!! Tanpa banyak kata, aku pergi meninggalkan apartement Ratna. “Hei ... mau kemana kamu, Ben ?”, masih kudengar teriakan Ratna. Tapi itu tak kan mampu menghentikanku untuk mencari tahu mengapa Yudhis harus menikahi Bella. Apakah gadis itu .... Tidak !!! Aku tak mau berandai-andai dengan sesuatu yang tak pasti, dan jelas aku benci.   * * * * *   Kulajukan mobilku melesat cepat menuju rumahku. Malam mulai larut. Mobil Melly sudah nangkring di bagasi ketika aku sampai di rumah. Tapi kali ini lebih dari satu mobil. Pasti dia mengusung teman-temannya lagi. Kebiasaan. Ketika aku melangkahkan kaki memasuki ruang tengah rumah besarku ini, kulihat beberapa pasangan teman-teman Melly ada di sana. Mereka terlalu biasa untuk tidak menyapaku sebagai tuan rumah. “Hei, Kak ? Kok pulang cepet ? Tumben ?”, Melly menyapaku yang berjalan pelan menuju kamarku. “Ya ... ada meeting besuk pagi. Jadi kakak harus tidur lebih awal” Melly mengangguk. Aku melangkah menuju kamarku. Kulempar jaket yang sedari tadi membuatku gerah, selain kabar rencana pernikahan Bella dan Yudhis tentu saja. Kuraih teleponku dan kuhubungi seseorang yang sangat kupercaya untuk menjadi informanku, Soni. “Apa ada yang terlewat olehku, Soni ?” “ ..................” “Aku mendengar Yudhis dan Bella akan menikah, segera” “.................” “Ya...ya...ya... kamu benar, mereka kakak beradik. Tapi kita tak pernah menduga bahwa mereka hanyalah Saudara angkat”, aku berkata dengan geram. Sial !!! Bagaimana mungkin aku terlewatkan oleh info bahwa mereka bukan saudara kandung ? “...............” “Seharusnya kamu tak menanyakan padaku apa yang harus kamu lakukan, Soni !”, aku membentaknya karena dia bertanya tentang apa yang harus dilakukannya. “...............” “Mereka akan menikah segera, cari tahu apa yang menyebabkan laki-laki itu nekad menikahi perempuan itu” “ ...............” “Jangan biarkan aku menunggu informasinya, Soni ! Kamu tahu, aku tak suka menunggu” Kututup telepon tanpa menunggu dia mengakhiri. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Pikiranku menerawang, mencoba menelisik apa yang menyebabkan Yudhis akan segera menikahi Bella. Tok ... tok ... tok ... Kudengar ketukan di pintu kamarku. Enggan, aku beranjak untuk membuka. Dan wajah Melly muncul disana. “Ada apa ?” “Nih, Sinta nggak punya teman malam ini. Kakak nggak kemana-mana kan ?” Aku menatap gadis di samping Melly. Sial, hanya sekilas saja dia terlihat sangat menggairahkan. Aku mengangguk dan membuka pintu kamarku lebar-lebar, mempersilahkan dia masuk. Melly pergi dari depan kamarku, sambil mengerling genit ke arah kami, aku dan Sinta. Dan ... kalian tahu .. Ini akan jadi malam yang panjang, karena aku jelas tak kan terlelap hingga pagi.   * * * * *        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD