Dua hari kemudian, saat Adhi keluar dari gerbang kampus menuju parkiran motornya yang sederhana, sebuah mobil sedan hitam mengkilap tiba-tiba memblokir jalannya. Empat pria bertubuh besar dan berpenampilan dingin keluar dari mobil. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang rapi.
Adhi merasakan bahaya. Ia menarik napas dalam, mengingat pelatihan bela diri ala kadarnya yang pernah ia pelajari dari Kakek Yasser.
“Kau Adhyaksa?” tanya salah satu pria, suaranya berat dan tanpa emosi.
“Ya. Ada perlu apa?” jawab Adhi, mencoba menjaga ketenangan.
“Ikut kami sebentar. Ada yang ingin bicara denganmu,” kata pria itu, mencengkeram lengan Adhi dengan kuat.
Adhi menyentak tangannya. “Aku tidak kenal kalian. Lepaskan aku!”
“Jangan membuat keributan, Adhyaksa,” pria itu mengeluarkan dompet, menunjukkan lencana kecil. “Kami dari keamanan pribadi Keluarga Wibisana. Kami hanya ingin mengantarmu bertemu Tuan Jonathan.”
Jonathan Wibisana. Nama itu langsung menusuk kesadaran Adhi. Dia ingat, Jonathan adalah pria di foto keluarga Tania—ayah Tania. Dan ia juga—meskipun Adhi belum tahu kebenarannya secara keseluruhan—adalah alasan mengapa Almira bekerja di luar negeri.
Adhi terpaksa masuk ke dalam mobil. Perjalanan terasa sunyi dan mencekam. Mereka berhenti di sebuah restoran mewah yang menjulang tinggi di pusat kota. Adhi dibawa ke ruang privat di lantai atas.
Di sana, duduk di kursi berlapis kulit, adalah Jonathan Wibisana. Pria itu tampak berwibawa, mengenakan jas mahal, dan sorot matanya dingin, menghakimi.
“Duduk, Adhyaksa,” perintah Jonathan, gesturnya menunjukkan kekuasaan yang tak terbantahkan.
Adhi duduk di seberang meja, menolak untuk gentar. “Saya Adhyaksa, Tuan. Tapi saya lebih suka dipanggil Adhi. Ada urusan apa sampai Tuan harus menjemput saya dengan cara begini?”
Jonathan tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. “Aku suka gayamu yang berani. Sayang sekali, keberanianmu ditempatkan pada target yang salah.”
Jonathan meletakkan setumpuk foto di meja—foto Adhi dan Tania saat di kafe, saat berjalan di kampus, bahkan saat mereka berbagi tawa di dekat perpustakaan. Adhi terkejut, merasa privasinya telah diinvasi secara total.
“Aku ingin kau menjauhi putriku, Tania,” kata Jonathan, suaranya rendah dan mengancam. “Tania adalah anakku, pewaris keluarga Wibisana. Masa depannya sudah diatur. Dia akan menikah dengan pria yang setara dengannya, yang bisa membawanya pada kehidupan yang seharusnya.”
“Tuan, kami hanya berteman. Kami belajar bersama,” bantah Adhi, amarah mulai memuncak.
“Jangan bodoh, Adhi,” Jonathan mengambil segelas air dan menyesapnya. “Aku tahu apa itu ‘pertemanan’ di usiamu. Dan aku tahu, tipe sepertimu hanya akan menjadi beban dan masalah bagi anakku.”
Jonathan mengeluarkan sebuah cek kosong dan meletakkannya di depan Adhi. “Isi saja nominalnya. Aku akan membiayai kuliahmu sampai selesai, bahkan memberikan modal usaha. Dengan satu syarat: kau menghilang dari kehidupan Tania, sekarang juga.”
Adhi menatap cek itu, lalu menatap mata Jonathan. Harga dirinya, yang ia bangun mati-matian dari keringat ibunya, terasa diinjak-injak. Ia teringat Kakek Yaseer yang selalu bilang mereka “orang kecil” dan Jonathan membuktikannya.
“Saya tidak butuh uang Anda, Tuan,” kata Adhi, mengambil cek itu dan merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil di depan mata Jonathan.
Jonathan tidak marah. Ia justru tampak terkejut, lalu tertawa kecil, tawa yang meremehkan. “Menarik. Kau punya harga diri, Adhyaksa. Tapi harga diri tidak bisa membayar kuliah, Nak. Dengarkan aku baik-baik. Ini peringatan. Jika kau mendekati Tania lagi, aku tidak akan hanya mengirim preman untuk menjemputmu.”
Tatapan Jonathan berubah gelap, dingin, dan mematikan.
“Aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa lulus. Aku akan membuat hidupmu, dan kehidupan kakek-nenekmu, dipermudah kehidupannya... di penjara. Kau mengerti? Kau adalah orang kecil. Kau tidak punya hak atas putriku.”
Ancaman itu, yang melibatkan Kakek Yaseer dan Nenek Helena, sukses membuat darah Adhi mendidih. Ia menahan keinginan untuk meledak, mengingat ia sedang di kelilingi pengawal.
Adhi bangkit berdiri, tangannya terkepal di bawah meja. “Saya mengerti peringatan Anda, Tuan Wibisana. Tapi saya tidak akan mundur karena ancaman.”
“Pikirkan baik-baik. Jangan bermain api dengan orang sepertiku,” Jonathan memperingatkan terakhir kali.
Adhi keluar dari restoran itu, ia tidak lagi merasakan kehangatan cinta monyet. Yang ia rasakan hanyalah penghinaan, amarah yang membakar, dan kesadaran bahwa Tania, mahasiswi Hukum yang ia cintai, adalah bagian dari dunia yang telah menindas keluarganya. Jonathan Wibisana—ayah Tania—kini secara resmi menjadi musuh terbesarnya.
Di jalanan yang ramai, Adhi berdiri, menggenggam kunci motornya erat-erat. Ia harus memilih: janji pada Ibunya, dan menjauhi Tania, atau melawan Jonathan untuk harga dirinya dan demi cintanya. Tapi ia sudah tahu. Konflik ini tidak hanya tentang cinta. Ini tentang kuasa dan dendam yang baru saja tersulut.
----
Seminggu telah berlalu sejak Adhi merobek cek Jonathan Wibisana. Peristiwa itu tidak hanya mengancam, tetapi juga menyuntikkan keberanian yang dingin ke dalam nadinya.
Ancaman Jonathan justru membuat Adhi lebih keras kepala; ia menolak untuk menjadi korban status sosial. Namun, ia menyembunyikan konfrontasi itu dari Tania, hanya mengatakan bahwa ada sedikit masalah yang melibatkan orang tuanya.
Malam itu, Adhi menunggu Tania di Taman Kota Bunga, sebuah tempat tersembunyi yang jarang didatangi orang. Lampu-lampu taman yang redup menciptakan suasana romantis yang melankolis.
Tania tiba, wajahnya tampak cemas. Ia segera duduk di bangku kayu di samping Adhi.
"Adhi, kenapa kau mengajakku bertemu di tempat tersembunyi begini?" tanya Tania, meraih tangan Adhi. "Aku tahu ada yang kau sembunyikan. Kau terlihat tegang. Apakah itu ada hubungannya dengan masalah yang kau sebutkan?"
Adhi menggenggam tangan Tania erat-erat. "Ya, ada. Ini tentang kita. Tania, orang tuamu... mereka sangat tidak setuju dengan hubungan ini. Mereka ingin aku menjauhimu. Mereka melihatku sebagai penghalang."
Tania menghela napas panjang, matanya dipenuhi kesedihan yang sudah ia duga. "Aku tahu. Ibuku... dia sudah beberapa kali mengisyaratkan. Mereka sangat obsesif dengan status sosial dan siapa yang harus aku nikahi. Tapi mereka tidak mengerti," suara Tania bergetar.
"Apa yang mereka tidak mengerti?" tanya Adhi lembut, memajukan wajahnya.
"Mereka tidak mengerti bahwa aku tidak butuh uang mereka, atau gelar mewah. Aku butuh ketulusan. Aku butuh orang yang melihatku sebagai Tania, bukan sebagai putri Jonathan Wibisana," jawab Tania. Air mata mulai menggenang di matanya.
"Dan kau, Adhi, kaulah orangnya. Hanya kau."
Adhi merasakan seluruh kekhawatiran dan janji-janji pada Kakek Yaseer runtuh. Ia tidak bisa pergi. Ia tidak bisa meninggalkan ketulusan ini demi ketakutan akan ancaman.
"Kalau begitu, mari kita buktikan pada mereka bahwa status sosial tidak berarti apa-apa," kata Adhi, nadanya tegas dan penuh komitmen. Ia menyentuh pipi Tania dengan lembut. "Aku tahu aku tidak punya apa-apa. Aku hanya punya janji pada ibuku dan rasa cinta yang tulus padamu. Aku mungkin menghadapi banyak bahaya jika mempertahankan- mu, tapi aku tidak peduli."
Tania tersenyum, senyum yang meyakinkan Adhi bahwa keputusannya benar. "Aku juga tidak peduli, Adhi. Aku sudah bilang, bersamamu aku merasa bebas. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan kebahagiaan kita."
Pada saat itu, di bawah keremangan lampu taman, janji itu terucap. Adhi memeluk Tania, dan ciuman pertama mereka adalah deklarasi perang terhadap dunia materialistis yang memisahkan mereka. Mereka sepakat, mulai malam itu, mereka resmi berpacaran, sebuah hubungan yang dibangun di atas fondasi cinta rahasia dan perlawanan.
Mereka menghabiskan waktu hingga larut, merencanakan kencan rahasia, dan saling berbagi mimpi. Bagi Adhi, malam itu adalah puncak kebahagiaan yang melupakan sejenak beban ibunya.
Jauh dari taman, di dalam sebuah mobil mewah gelap yang diparkir di balik pepohonan, seorang wanita memegang teropong. Wanita itu adalah Winda Wibisana, ibu Tania, dan istri Jonathan. Wajahnya cantik, namun memancarkan aura dingin dan perhitungan.