Setelah menjalani malam yang panjang dan menghinakan di bawah kendali Rebecca, Adhi akan segera mandi dan memulai rutinitas rahasianya.
Pukul 06.00 pagi. Adhi sudah berada di perpustakaan rahasia. Ruangan itu sunyi, hanya suara gemerisik halaman buku yang terdengar.
Di tangannya, bukan lagi buku kuliah, melainkan literatur yang jauh lebih brutal: “Atlas Anatomi untuk Seniman Bela Diri”.
Adhi menggunakan penanda berwarna untuk menandai urat nadi, titik-titik vital, dan sambungan tulang yang paling rapuh.
Wajahnya fokus, matanya menghafal setiap kurva dan garis.
Selain metode menghafal dari teks book, Adhiyaksa mempraktekkan teknik olah pernafasan, sebuah teknik dasar untuk mengontrol emosi dalam sebuah keadaan yang diluar kendali.
Adhyaksa duduk bersila di lantai, dia mulai mengatur ritme mengambil nafas perlahan, menahan nafas dalam hitungan tertentu dan melepaskannya. Dia terus mengulangi dan mengulangi hingga akhirnya teknik dasar dari pernafasan sudah dia kuasai.
Lalu dia mencoba ke teknik lanjutan, dimana teknik pernafasan ini dapat menjadi teknik pelarian yang efektif dari kejaran musuh atau lawan,
Kemudian dia beralih ke teknik melempar senjata, Dia menggunakan manekin dan titik titik dalam ruangan itu yang sudah ditandai sebagai target sasaran latihan.
pertama dia menggunakan shuriken sebagai senjata, di melemparkan senjata itu dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
shut shut shut
belasan shuriken menancap tepat di titik yang sudah ditandai.
Lalu dia mengambil pisau untuk melanjutkan latihan melempar senjatanya, namun sebelum melakukan itu dia menyadari seseorang akan datang.
Dr. Lio masuk membawa secangkir teh herbal yang biasanya digunakan untuk pemulihan otot. Ia menemukan Adhi duduk di bawah cahaya lampu baca, dikelilingi diagram tubuh manusia yang menyeramkan.
“Kau tidak tidur sama sekali, Adhi,” sapa Lio, nadanya lebih ke pengamatan daripada teguran.
Adhi mendongak, matanya yang gelap menunjukkan kurang tidur namun penuh tekad. “Aku tidak butuh tidur, Lio. Aku butuh pengetahuan. Tidur hanya membuatku ingat di mana aku berada.”
Lio meletakkan teh itu di meja. “Kau sudah menghabiskan seluruh perpustakaan anatomi. Kau bahkan sudah mulai membaca bab-bab tentang ‘Metode Interogasi Ringkas’. Itu bukan bahan bacaan untuk pasien.”
“Aku bukan lagi pasien, Lio. Aku adalah murid,” jawab Adhi, menutup buku itu. “Kau bilang, aku harus memanfaatkan waktu. Aku belajar. Aku tahu titik mana di leher seseorang yang bisa membuat dia kehilangan kesadaran hanya dengan sentuhan, dan titik mana yang bisa membuat jantungnya berhenti dalam tiga detik.”
Lio menyilangkan tangan, menatap Adhi dengan kekaguman yang samar. “Kau berubah lebih cepat dari perkiraan Nona Rebecca. Kami butuh waktu bertahun-tahun untuk mendidik seseorang mencapai level ini, dan kau hanya butuh beberapa minggu di sini. Rasa sakit adalah guru yang hebat, ya?”
“Bukan rasa sakit. Itu kebencian,” koreksi Adhi. “Aku ingin setiap detail ini tertanam di otakku, agar ketika aku punya kesempatan, aku bisa melakukan apa yang Winda lakukan padaku... tapi lebih efisien. Tanpa suara, tanpa jejak.”
“Keberanian yang menarik,” ujar Lio. “Tapi pengetahuan tanpa aplikasi hanyalah teori. Apakah kau sudah mencoba fisiknya?”
“Tentu,” Adhi bangkit. Ia mengenakan kaus training yang biasa ia pakai. “Tangan ini harus memegang pisau, bukan hanya pena. Tubuh ini harus menjadi senjata, bukan hanya bantal. Aku menghabiskan tiga jam setiap pagi di gimnasium itu, memukul karung pasir, menguji reflek aku. Aku memaksakan diriku hingga batas terakhir, agar rasa sakit fisik menutupi rasa sakit emosional.”
Lio mengangguk. “Ingat, Adhi. Pembunuh bayaran yang baik adalah pembunuh yang dingin. Kau tidak boleh marah. Marah itu boros energi. Kau harus tenang. Dingin seperti es. Emosi hanya boleh menjadi bahan bakar, bukan pengemudi.”
“Aku sedang mematikan emosiku, Lio. Tinggal menunggu instruksi yang tepat,” tutup Adhi.
Sore hari di gimnasium. Adhi sedang berlatih dengan intensitas gila. Ia melompat, memukul, dan menendang manekin latihan, membayangkan setiap pukulan diarahkan pada Jonathan, Winda, dan bahkan Rebecca—meskipun ia tahu Rebecca adalah sumber kekuatannya.
Keringat membasahi tubuhnya, memperlihatkan otot-otot baru yang terbentuk di bawah luka lamanya.
Pintu gimnasium terbuka. Rebecca masuk. Ia mengenakan pakaian olahraga ketat, tampak segar dan kuat.
“Lio bilang kau sudah menjadi atlet yang fanatik,” kata Rebecca, menyilangkan tangan di d**a. “Kau memukul seolah karung pasir itu adalah masa lalumu.”
Adhi berhenti, mengambil napas dalam-dalam. “Karung pasir ini membantuku fokus. Apakah ini juga merupakan bagian dari layanan yang harus kulakukan, Nona?”
Rebecca tertawa kecil. “Tidak, ini inisiatifmu. Dan aku menghargainya. Otakmu tajam, dan fisikmu sekarang keras. Tapi kau belum diuji. Kau hanyalah teori yang berjalan.”
Rebecca berjalan mendekat, mengambil sebuah belati kecil dari tas pinggangnya. Belati itu tajam, berkilauan di bawah cahaya neon gimnasium.
“Kau tahu bagaimana membunuh dari buku. Tapi apakah kau tahu bagaimana melihat ke dalam mata musuhmu dan mengakhiri hidupnya? Apakah kau punya keberanian untuk mengambil nyawa orang lain?” tantang Rebecca.
“Aku tidak takut darah, Nona. Aku akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuanku,” jawab Adhi.
Rebecca menyeringai puas. “Aku suka itu. Ada tugas kecil. Bukan membunuh, tetapi eliminasi yang krusial. Kau harus melakukannya untuk membuktikan bahwa pelajaranmu sudah cukup.”
Rebecca menjelaskan: “Ada seorang informan, namanya Candra. Dia adalah salah satu mata-mata kami di perusahaan kecil yang menjadi target kami. Dia mencoba memeras kami, mengancam akan membocorkan data kepada polisi lokal. Aku tidak bisa membiarkan itu. Dan aku tidak mau mengirim agen reguler.”
“Kau ingin aku melumpuhkannya?” tanya Adhi, matanya fokus.
“Tidak. Aku ingin kau menghilangkannya dari peredaran,” koreksi Rebecca. “Dia harus pergi, tapi tanpa jejak. Buat seolah dia lari dari tanggung jawab. Ini bukan tentang kekejaman Winda. Ini tentang efisiensi.”
Rebecca memberikan Adhi detail tentang lokasi dan kebiasaan Candra. “Dia akan berada di gudang penyimpanan di pinggiran kota, sendirian, pukul dua belas malam. Ini adalah kesempatanmu. Kau akan menggunakan keterampilanmu, Adhi. Bukan lagi b***k, tapi eksekutor.”
“Mengapa saya? Mengapa tidak orang profesional Anda?”
“Karena aku ingin tahu seberapa baik aku telah membentukmu,” jawab Rebecca, matanya menantang. “Jika kau berhasil, kau akan mendapatkan rasa puas, dan aku akan tahu bahwa aku tidak sia-sia berinvestasi padamu. Jika gagal... yah, Lio akan menyiapkan ruang medis lagi. Sekarang, siapkan dirimu. Malam ini adalah ujianmu.”