Saran Dari Marwa

1609 Words

Beberapa saat, ruangan Marwa menjadi hening. Jihan yang katanya ingin mengatakan sesuatu yang penting, tiba-tiba saja terdiam. Ada sebuah keraguan tampak di wajahnya. Sementara Marwa juga diam karena menunggu cerita dari Jihan. “Apa jadi bercerita?” tanya Marwa seraya tersenyum. “Entahlah, Mbak. Saya sebenarnya ingin bercerita, tapi saya takut kalau anda nanti membuka semuanya. Ini cukup menakutka bagi saya, apa lagi saat ini saya hamil.” Jihan menoleh ke arah perutnya, lalu ia elus perut itu dengan lembut. Entah karena merasakan sentuhan lembut sang ibu, atau karena memang kebetulan ia ingin bergerak, Jihan pun merasakan kalau janinnya bergerak ketika ia sentuh. “Lihatlah, ia bergerak.” Marwa tersenyum seraya menoleh ke arah perut Jihan, “Aku belum bisa melihatnya. Tapi mungkin aku b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD