Besok pagi harinya. Ke-tujuh Kerajaan sedang berdiskusi masing-masing dalam suatu rapat melalui media video call hologram. Rapat waktu itu membahas tentang para Pahlawan yang berada di kerajaan mereka masing-masing.
Mereka saat ini sedang kebingungan dengan munculnya Pahlawan yang tidak dikenal, dan berjumlah tujuh. Karena di sejarah aslinya, para Pahlawan hanya ditulis dengan jumlah enam dan bukannya tujuh.
Mereka bertukar informasi, tentu saja mengenai gelar para Pahlawan juga. Namun saat Raja Asgard menyebutkan gelarku. Raja-Raja lainnya jelas kebingungan. Kenapa? Karena tidak ada yang mengenal gelar Pahlawanku yang disebut sebagai Pahlawan Tipu Muslihat.
"Kurasa kita harus menerimanya untuk saat ini. Munculnya Pahlawan ke-tujuh sama sekali tidak bisa kita perkirakan. Bagaimanapun juga itu sudah melenceng dari sejarah yang menyatakan bahwa jumlah Pahlawan hanyalah enam. Terlebih lagi dia juga memiliki tanda Pahlawan yang asli, yang membuat kita tidak bisa menuduhnya begitu saja." Begitulah kata salah satu dari mereka. Sepertinya mereka mau tidak mau harus tetap menerimaku sebagai salah satu dari kandidat Pahlawan.
Selain itu rapat tersebut juga bukan hanya membahas mengenaiku saja. Melainkan juga bagaimana cara untuk mengumpulkan semua Pahlawan menjadi satu kelompok. Kemudian, terjadilah perdebatan pendapat yang menyatakan bahwa semua Pahlawan harus berkumpul di suatu Kerajaan tertentu.
Semua kerajaan berdebat mengenai siapa yang akan menampung semua Pahlawan. Tentu saja mereka tidak menghasilkan suatu mufakat dari debat itu. Alhasil, semua Pahlawan akan diserahkan pada organisasi PBB dimana mereka adalah pihak netral dan lebih pantas untuk menampung para Pahlawan.
Aku terbangun dari tidurku hanya untuk mendengar teriakan Olivia—yang sudah aktif entah sejak kapan—seperti suara alarm keras yang sangat mengganggu. Lalu aku menyadari sesuatu bahwa kemarin malam aku lupa mematikan mini-chip di tengkuk leherku sehingga aku bisa melihatnya lagi.
Saat aku mematikannya. Olivia menghilang dari pandanganku. Sepertinya aku hanya bisa melihatnya jika mini-chip itu aktif. Jadi aku mengaktifkannya terus hanya untuk sementara waktu ini.
Disaat aku tengah sibuk merapikan tempat tidur dan rambutku yang berantakan. Aku merasakan kehadiran seseorang dari balik pintu. Meski aku mengatakan merasakan sebenarnya tidak begitu. Kemampuanku adalah membaca pikiran, jadi aku bisa tahu keberadaan orang itu dengan membaca pikiran orang tersebut.
"Tuan Arga. Apakah Anda sudah bangun?"
"Ya." Setelah sedikit berdandan. Aku membuka pintu kamar. Di depan pintu sudah terdapat Putri Roroa yang menunggu dengan senyum cerahnya.
"Yang Mulia ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuk Anda."
Aku mengangguk, seperti biasa Putri Roroa memanduku menuju ke tempat Raja Asgard berada. Namun, bukan ke Aula seperti sebelumnya tetapi aku dibawa ke suatu ruangan yang dijaga dengan ketat oleh beberapa Prajurit berzirah dengan revolver dan pedang di pinggang mereka. Menyadari kehadiran Putri Roroa, mereka langsung membukakan pintu sembari mempersilahkan kami berdua untuk masuk kedalam.
Pintu kembali ditutup. Di dalam ruangan, terdapat sebuah bangku dimana diatas mejanya terdapat banyak sekali berkas-berkas yang sepertinya sangat penting. Selain itu di seberang meja juga duduk seseorang yang kukenal. Tapi wajahnya terlihat sangat kelelahan. Apakah dia bekerja lembur?
"Ayah, aku sudah membawanya kemari."
"Terimakasih, bisakah kami berdua meminta waktunya sebentar saja?"
"Tentu saja. Tetapi Ayah, ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Ini pesan dari Ibu."
Mendengar hal itu, raut wajah Raja Asgard langsung menegang. "A-apa itu?"
"Karena Ayah kemarin memecahkan vas kesayangan Ibu. Sekarang Ibu sangat marah sekali. Ibu menyuruhku menyampaikan kepada Ayah kalau Ayah nanti harus tidur diluar kamar."
"A-aku mengerti. Tapi setidaknya ketika membahas hal itu lakukanlah saat tidak ada orang lain."
"Ah, betapa cerobohnya aku. Kalau begitu, permisi. Nikmati waktu kalian berdua."
Putri Roroa pergi setelah memberi kabar buruk kepada Ayahnya. Aku tidak terlalu mengerti, tetapi mungkin keluarga mereka sangatlah akur—atau mungkin tidak. Yah aku juga tidak terlalu peduli. Selain itu aku malah heran kenapa Raja Asgard memanggilku di ruangan pribadinya dan bukannya ruang Aula Istana dimana banyak orang bisa mendengarnya.
"Maaf atas yang tadi Nak Arga. Selain itu, tolong rahasiakan ini juga."
"Tenang saja Yang Mulia, saya adalah orang yang pandai menjaga rahasia."
"Aku lega mendengarnya."
Aku tidak tertarik dengan konflik yang terjadi pada keluarga kerajaan karena ingin menghindari masalah, jadi aku tidak akan menyebarkannya. Selain itu, aku lebih terkejut lagi saat mendengar Raja Asgard memanggilku dengan sebutan, "Nak" dan bukannya Tuan Pahlawan seperti sebelumnya. Yah, apapun itu bolehlah. Lagipula aku juga tidak ingin dipanggil Tuan karena terlihat lebih tua.
"Nak Arga, mungkin ini sangat mendadak tapi semua sudah diputuskan saat sidang rapat internasional kemarin. Kami membahas tentang bagaimana caranya mempertemukan semua Pahlawan dan menjadikan mereka dalam suatu kelompok untuk dilatih bersama. Hasilnya, kalian semua akan ditampung oleh PBB."
"PBB?"
"Ya, karena ini adalah informasi yang sangat rahasia. Aku memanggilmu secara privasi disini. Bahkan para petinggi-petinggi keluarga Kerajaan juga tidak mengetahui tentang hal ini."
Jadi itu sebabnya kenapa ruangan ini dijaga sangat ketat oleh banyak prajurit di depan. Sekarang sudah menjadi sangat jelas.
"Sebuah mobil melayang akan menjemputmu melalui halaman belakang Istana dalam kurang waktu setengah jam. Aku juga sudah melarang semua orang untuk kesana jadi jangan khawatir."
Kurasa sudah waktunya bagiku untuk berhenti bermalas-malasan di dalam Istana yang megah ini. Aku pun mengangguk kepada Raja Asgard meski hatiku sangat tidak ingin untuk pergi ke tempat jauh apalagi diharuskan untuk bertemu dengan para Pahlawan lainnya. Bukannya aku tidak suka berkenalan dengan orang baru, hanya saja aku merasa gugup ketika berada disamping orang yang tidak terlalu akrab denganku. Rasa gugup itu membuatku sangat tersiksa.
***
Seperti yang dikatakan oleh Raja Asgard. Sekitar tiga puluh menit kemudian—setelah aku menghabiskan seluruh waktu yang tersisa untuk berkemas-kemas sedikit—di halaman belakang Istana terdapat mobil melayang yang perlahan mulai mendarat di tanah.
Saat itu aku hanya bersama Raja Asgard saja. Setelah mobil itu sudah mendarat sepenuhnya. Seseorang keluar dari dalam mobil. Dia adalah seorang pria tampan berambut pirang yang memakai setelan jas. Dia berbicara dengan Raja Asgard, keliatan akrab. Mereka pun tertawa bersamaan. Sungguh, aku sama sekali tidak mengerti dengan percakapan orang dewasa.
"Jadi ini adalah Pahlawan yang terpilih itu?"
"Ya. Dialah orangnya."
Orang itu melirik ke arahku. Meski aku hanya diam. Tetapi aku bisa membaca pikirannya. Dia mengamati dari atas dan bawah, terlihat meremehkanku. Bahkan di dalam pikirannya dia juga mengejekku beberapa kali seolah menganggapku hanya sebagai seekor kutu kecil. Jika saja aku tidak bersama Raja Asgard, mungkin aku sudah melompat ke arahnya dan memukul tepat di wajahnya, namun karena kelihatannya dia adalah orang yang cukup penting aku mencoba untuk menahan hasratku.
"Perkenalkan, namaku adalah James Thom. Seorang agen PBB yang bertugas untuk menjemput Pahlawan dari kerajaan Symphomia. Salam kenal, Tuan Argya Mahendra. Ah, maaf ... sepertinya agak susah untuk menyebutkan nama Anda dengan lidah orang asingku ini." James menyodorkan tangannya kepadaku.
Sudah jelas sekali bahwa dia tadi melakukannya dengan sengaja untuk mengejekku. Karena aku bisa membaca pikirannya oleh sebab itu aku mengatakan bahwa dia itu benar-benar sengaja. Sepertinya dia iri denganku yang masih tergolong seorang anak-anak terpilih menjadi seorang Pahlawan. Jika saja aku bisa bertukar posisi dengannya mungkin aku akan langsung memberikan posisi Pahlawan ini padanya.
"Tidak masalah, salam kenal juga Tuan James Thom."
Aku menjabat tangannya, dia meremasku seolah mencoba menyampaikan dengan jelas deklarasi perang diantara kami berdua. Tapi maaf saja karena aku seorang pemalas, aku benci hal merepotkan seperti terlibat dengan orang yang emosional.
***
Aku dibawa masuk ke dalam mobil melayang. Pria itu yang bertugas sebagai supirnya. Padahal cuma supir tapi sikapnya sangat belagu. Mobil pun mulai lepas landas, hingga kami sepenuhnya melayang di atas tanah.
Disepanjang jalan, aku melihat keluar jendela dan terdapat banyak sekali mobil melayang yang berlalu lalang. Zaman sudah sangat moderen. Tapi siapa sangka jika Dewa Iblis kembali lahir di masa-masa seperti ini.
Aku menghabiskan waktu yang membosankan dengan berbicara dengan Olivia menggunakan perantara mini-chip. Pria pirang itu memandangku aneh. Sepertinya dia menganggapku sebagai orang gila karena aku berbicara sendiri, dari situ pula aku menarik kesimpulan bahwa Olivia tidak bisa dilihat oleh orang lain selain diriku sendiri.
Tidak aneh karena Olivia merupakan bagian dari mini-chip yang kupakai. Ngomong-ngomong, Kantor PBB berada di sebuah pulau melayang yang bernama Leavegeard. Disebut pulau melayang karena pulau itu memang melayang di langit. Kenapa bisa melayang? Cara kerjanya tentu saja menggunakan gabungan sihir dan teknologi yang canggih. Karena aku tidak terlalu paham jadi aku tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut.
Setelah beberapa jam perjalanan di udara, pulau itu mulai terlihat. Itu pulaunya, pulau yang tampak besar dan ramai mobil melayang yang berlalu lalang disekitarnya. Keluar masuk dari pulau itu, ada berbagai orang asing yang kulihat. Entah kenapa perasaan bosan di dalam hatiku tadi langsung menghilang. Mungkin melakukan perjalanan jauh tidaklah merepotkan seperti apa yang aku kira.