Chapter 4

1402 Words
Pulau Leavegeard. Merupakan pulau melayang. Pulau tersebut dipakai sebagai markas rahasia sebuah organisasi badan internasional yang bernama PBB. PBB bertugas sebagai penjaga kedamaian dunia. Bila ada suatu kerajaan yang ingin melakukan deklarasi perang, maka PBB akan turun tangan untuk berusaha menengahi mereka dan menyelesaikan konflik yang ada. Jadi oleh sebab itulah PBB lebih berhak untuk menampung seluruh Pahlawan untuk menjalani latihan mereka. Saat ini aku sedang berada diatas pulau tersebut. Masih di dalam mobil aku bisa melihat banyak orang yang ada dibawah. Rata-rata dari mereka memakai setelan jas hitam dan memakai sebuah lencana di kerah lengan kanan mereka yang bertuliskan M. PBB (member PBB). Sepertinya mayoritas penduduk disini bekerja sebagai anggota dari organisasi tersebut. Tidak mengherankan juga. Toh, lagipula tempat ini memang dikhususkan sebagai tempat untuk naungan PBB. Karena James yang katanya membual bahwa dirinya adalah salah satu dari petinggi langsung masuk begitu saja ke dalam pulau tanpa melakukan proses administrasi terlebih dahulu. Saat aku bertanya, ternyata James memang tidak perlu untuk mengurusnya karena Ketua PBB sendiri sudah menjelaskan kepada para administrator. Dari jarak pandangku. Aku bisa melihat sebuah bangunan yang besar. Mirip seperti pabrik akan tetapi lebih besar lagi. Hanya saja tidak ada asap hitam tebal yang dihasilkan oleh tempat itu. Sebaliknya, tempat itu terlihat bersih. James mulai merendahkan ketinggian mobil melayang dan kami pun memarkirkannya di tempat parkir. Setelah itu aku keluar bersamanya, sehingga aku bisa melihat secara langsung gedung besar mirip pabrik yang sekarang berdiri dengan kokohnya tepat di depanku. Aku masih tidak percaya, gedung ini bahkan lebih besar dari Istana kerajaan Symphomia. Berapa lama waktu pembuatannya? "Gedung di depan Tuan Arga ini adalah gedung PBB. Disinilah kalian para Pahlawan akan dilatih untuk bertempur." Aku tahu. Selain besar gedung ini juga memiliki luas yang mencakup setengah pulau. Sepertinya dana yang mereka gunakan untuk membuat gedung ini sangat banyak dan pastinya, mereka mencoba untuk mengumpulkannya dari ke-tujuh kerajaan dengan alasan sebagai perdamaian dunia. Tapi yang membuatku terganggu adalah, suhu udara di pulau ini sangatlah panas. Karena pulau ini terletak di atas langit jadi semakin dekat pula dengan radiasi matahari. Oleh sebab itu udara menjadi semakin panas. Aku masuk ke dalam gedung ditemani oleh pria pirang itu. Tidak terduga, ternyata didalam gedung terasa dingin. Aku juga banyak menemukan orang yang memakai setelan jas berlalu lalang kesana kemari terlihat sibuk. Namun tidak lama kemudian perhatian mereka terpusat padaku. Baiklah, baiklah, aku tahu bahwa aku adalah seorang Pahlawan jadi berhentilah menatapku seperti itu. Kalian tahu, tatapan kalian itu cukup menggangguku yang seorang introver. Kami memasuki lift untuk menuju ke lantai bawah tanah. Aku tidak berniat mengobrol dengan James karena aku bisa membaca pikirannya bahwa dia juga tidak ingin terlalu banyak berbicara denganku. "Tuan, apakah kau gugup?" Olivia tiba-tiba muncul di depanku. "Jika aku bilang tidak akan terdengar bohong. Tapi benar seperti katamu, aku gugup hingga membuatku ingin mati." "Tapi wajahmu tidak terlihat seperti itu." "Begini ya Olivia. Terkadang saat berada di lingkungan baru aku harus memasang Poker Face demi dapat beradaptasi." "Hmm, aku tidak tahu karena aku adalah sebuah AI. Baiklah kalau begitu akan kumasukkan informasi penting ini ke dalam memoriku." "Tidak, kau tidak perlu menyimpan informasi semacam itu. Lagipula itu hanya berlaku bagiku. Sifat setiap orang berbeda, jadi ada mereka yang dengan mudahnya bisa beradaptasi. Ada juga yang tidak, sepertiku ini." "Hmm, jadi itu hanya berlaku untuk Tuan, ya. Kalau begitu aku akan memasukkan informasi mengenai Tuan yang sangat menyedihkan ini ke dalam memoriku." "Hentikan!!" Setelah beberapa kali mencoba untuk menangkap Olivia yang terbang kesana kemari hingga menyulitkanku untuk menangkapnya. Secara tidak sadar lift yang kami naikin telah berhenti, pintunya pun terbuka. Kami sampai di dalam sebuah ruangan dimana dindingnya terbuat dari besi yang kokoh dan juga terdapat orang-orang yang memakai pakaian armor yang berlalu-lalang. Sangat berbeda sekali dengan lantai atas sebelumnya dimana terdapat banyak orang yang memakai setelan jas. Kami berkeliling di koridor, hingga tidak lama kemudian aku dipandu oleh James si pria pirang untuk masuk ke dalam suatu ruangan lagi. Sesaat, aku kembali dibuat terkejut. "Professor Paul, dia adalah Pahlawan yang terakhir." "Aku mengerti, serahkan saja padaku." James si pria pirang bertukar sapa dengan seroang pria paruh baya yang memakai jubah almamater. Mereka terlihat akrab satu sama lain, hingga tidak lama kemudian James meninggalkanku di dalam ruangan ini sendirian. Baiklah, kurasa dari sini aku harus mulai mandiri. Aku melihat bahwa ada beberapa anak yang seumuran denganku, ada juga yang seorang siswa, dan ada juga pria kantoran dan wanita yang terlihat lebih tua dariku. Mereka semua berkumpul dalam satu ruangan. Ada yang bermain smartphone, ada yang bermain game, ada juga yang kebingungan dengan dimana mereka saat ini. Karena aku adalah orang yang pintar. Aku akan mencoba bersikap tenang untuk sementara waktu. Salah, sebenarnya aku sangat gugup dan ingin sekali lari dari ruangan ini. Pria paruh baya itu bertepuk tangan dengan keras hingga menyita perhatian kami semua. "Semuanya dengar sini!! Ehem ... untuk pertama-tama mari kita mulai dengan perkenalan. Namaku adalah Professor Paul. Aku yang akan melatih kalian semua para Pahlawan untuk enam bulan ke depan sebelum melepaskan kalian dibawah komando PBB langsung. Sebelumnya maaf karena telah mengundang kalian tiba-tiba di tempat ini tapi mau bagaimana lagi karena seluruh dunia sedang memasuki status gawat darurat karena lahirnya Dewa Iblis yang baru." Seorang mengangkat tangannya. "Ya, apakah ada yang ingin kau tanyakan, Alexander Gabriel?" "Aku ingin tahu, apakah orang-orang di sekitarku ini juga Pahlawan?" "Hahaha! Bukankah itu sudah jelas? Tentu saja. Mereka semua sama denganmu." Orang yang bernama Alexander Gabriel itu membuang mukanya sambil mendecakkan lidahnya dengan kesal. Aku tidak tahu apa masalahnya tapi dia sepertinya tipe orang yang sulit untuk diajak berbicara. Dia seperti memiliki pribadi yang keras kepala dan berandal. Jika dilihat dari umurnya dia mungkin satu tahun lebih tua dariku. "Baiklah, kurasa sudah cukup untuk perkenalanku. Sekarang giliran kalian. Oh ya, selain nama jangan lupa untuk menyebutkan gelar, level, dan kegiatan apa yang kalian suka ya, karena data ini sangat penting untuk data pelatihan kalian nanti." Professor Paul menoleh ke arahku yang berada di barisan paling kiri. "Dimulai darimu, hmm kalau tidak salah namamu adalah Argya Mahendra, bukan?" "Arga Mahendra." "Oh, benarkah? Maafkan aku." Bahkan dia tidak ingat dengan namaku tapi mengingat nama Pahlawan lainnya. Yah bukan masalah. Tapi sepertinya aku akan menjadi sorotan karena memulai perkenalan untuk pertama kalinya. Aku akan mencoba untuk melakukannya dengan cepat dan tanpa rasa gugup sama sekali. "N-namaku Arga Mahendra. Gelarku Pahlawan Tipu Muslihat, levelku nol. Yang aku sukai adalah membaca buku." Sialan aku benar-benar mengacaukannya. Sekarang semua orang menatapku dengan aneh dan ada dua gadis yang berbisik satu sama lain disana. Aku ingin mati, tapi yang tadi itu aku tidak berbohong. Aku suka membaca, yah meski yang k****a kebanyakan adalah Komik dan Light Novel. "Namaku adalah, Amelia Smith. Gelarku adalah Pahlawan Penyihir. Levelku seratus. Hal yang aku sukai ... hmm, kurasa adalah mempermainkan hati para cowok," kata seorang gadis yang sangat cantik dan gaul dengan rambut pirangnya. Selain itu dia blak-blakan sekali dengan hal yang disukainya. "A-anu, namaku adalah Eliza Marron. Gelarku adalah Pahlawan Penyembuh. Levelku seratus. H-hal yang kusukai ... maksudku yang aku sukai adalah berkebun." "Namaku adalah Hiro Karasuki. Gelarku adalah Pahlawan Cahaya. Levelku seratus. Hal yang kusukai adalah berteman dengan semua orang. Oleh sebab itu, karena kita akan menjadi rekan aku ingin menjadi teman kalian semua. Salam kenal." Seketika pandangan semua mata tertuju ke arahnya. Tentu saja, lagipula siapa yang tidak kenal dengan gelar Pahlawan Cahaya. Dia adalah Pahlawan terkuat diantara Pahlawan lainnya. Terlebih lagi, gelar itu sekarang jatuh di tangan seorang remaja seumuran denganku yang terlihat masih polos. "Namaku Alexander Gabriel. Gelarku adalah Pahlawan Pedang. Levelku seratus dan tidak banyak hal yang kusukai." "Namaku adalah Ren Zeran. Gelarku sebagai Pahlawan Strategi. Levelku seratus dan aku suka pekerjaanku sebagai administrator," kata seorang pria yang memakai setelan jas. "Namaku adalah Flora Angelina. Gelarku adalah sebagai Pahlawan Perusak. Levelku seratus. Dan yang kusuka adalah memasak." Perkenalan berakhir. Sepertinya ada beragam karakter pada masing-masing Pahlawan dengan ciri khas mereka tersendiri. Tunggu, semua ini aneh. Aku ingin tahu apa yang aneh jadi aku menelusuri lebih lanjut. Tidak lama kemudian, akhirnya aku menemukan keanehan itu. Level mereka, bukanlah level mereka terlalu tinggi?! Aku mengecek statusku dan lagi-lagi pada kolom levelku hanya terdapat angka nol. Untuk memastikannya lagi, aku mencoba untuk mengecek level beberapa orang yang ada disini dan yang benar saja mereka benar-benar memiliki level seratus. Apakah itu yang disebut dengan berkah Dewi? Aku tidak tahu tapi apakah Dewi itu terlalu tidak menyukaiku?! Yah, apapun itu sepertinya kehidupanku sebagai Pahlawan penyelamat dunia akan segera dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD