Chapter 15

1730 Words
"AAAAAAA!" Aku terjun bebas di udara. Dengan keadaan kabel Skyboard milikku yang terlilit dengan kabel Skyboard milik Amelia. Kami saat ini berusaha dengan keras untuk melepaskan lilitan itu. Namun, karena panik dan posisi yang sangat tidak nyaman. Aku gagal, begitupun dengan Amelia yang juga gagal melepaskan lilitan diantara kami. "Pecundang cepat lepaskan ini!" "Hei aku juga sudah berusaha tahu! Lagipula ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak mendorongku tadi!—tunggu, perutku mulai mual. Ugh! Kurasa aku akan pingsan sebentar lagi." "Apa yang kau katakan? Hei, jangan menutup matamu! Bagaimana dengan nasibku nanti!" Setelah mendapat tamparan keras di pipi oleh Amelia. Aku tersadar kembali, hampir saja aku pingsan karena Phobia ketinggian yang aku derita sejak lahir. Sial sekarang situasi kita berdua benar-benar gawat sekali. Aku memutar keras otakku sementara Amelia masih mengomel-ngomel padaku. Daripada mengomel bukannya lebih baik jika dia juga mencari jalan keluarnya? Bahkan dengan skill Mind Reading. Apa yang gadis itu katakan benar-benar sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Dengan begini aku berani menyatakan, bahwa Amelia benar-benar seratus persen membenciku dari dalam lubuk hatinya. "Itu dia! Aku ada satu cara. Tapi aku memerlukan persetujuan mu." "A-apa itu? Dan kenapa juga kau memerlukan persetujuan ku disaat situasi kita seperti ini?! Sudahlah lakukan saja!" "Kalau begitu, sekarang ...." Tanpa melepaskan lilitan diantara kabel Skyboard kami berdua. Aku langsung saja menancapkan ujung kabelnya pada sabuk energi di pinggangku. Begitupun dengan Amelia, aku dengan tanpa permisi langsung menancapkannya begitu saja. "Hei, Arga. Jangan-jangan—" "Nona, karena perjalanannya akan sedikit tidak mulus. Diharapkan Anda bisa berpegangan pada saya." "Tung—Uwwwaaaaa!!" Tanpa menunggunya jawabannya. Aku langsung saja berpegangan pada Skyboard milikku yang melesat begitu saja tanpa dapat aku kendalikan. Sementara itu, Amelia berpegangan di pinggangku dengan wajah yang ingin menangis. Aku tersenyum penuh kemenangan, karena akhirnya aku bisa membuat gadis yang selalu membully selama masa pelatihan membuat wajah yang menyedihkan seperti itu. Tapi meski begitu, aku sebenarnya juga takut karena tidak bisa mengendalikan Skyboard milikku. "UAAAAAAAA!!" *** Sementara itu di tengah keramaian orang di distrik perbelanjaan. Ada satu orang yang terlihat sangat mencolok. Dia memakai jubah berwarna coklat lusuh dengan robekan di bagian ujungnya. Kakinya tidak memakai alas, dan terdapat luka lecet disana dimari pada bagian kulitnya. "Ah, maaf." Seseorang menabrak orang berjubah hingga membuatnya terjatuh. Disaat yang bersamaan, botol yang sedari tadi dia pegang pecah. Botol itu berisi cairan ungu yang mengeluarkan uap, mirip seperti asap. Hanya saja baunya sangat pekat. Saat orang berjubah itu melihatnya, tubuhnya bergetar ketakutan. Tidak lama kemudian, salah satu orang yang ada di sekitarnya mengalami kejadian aneh. Dia berteriak keras hingga membuat keributan, dia juga menggaruk-garuk lehernya tidak jelas hingga memerah. Wajahnya membiru, entah karena apa tapi semua orang mulai takut padanya. Setelah itu, dari lehernya muncul pola merah yang menjalar hingga setengah tubuhnya. Dari wajah sampai ke kaki, bagian tubuh yang terkena pola tersebut semuanya menghitam. Melihat itu, orang berjubah itu langsung lari ketakutan, lalu disusul oleh orang lain. "Gah!!" "M-monster!" *** Dilain sisi aku mendarat dengan sempurna bersama Amelia. Aku mendarat di tempat yang lumayan empuk. Namun memiliki bau yang sangat khas. "Kau! Cepat menyingkir dariku! Kenapa juga kita harus jatuh di tempat sampah!" Ya, benar. Maksudku mendarat di tempat yang lumayan empuk adalah karena kami berdua mendarat di tumpukan plastik kantong sampah sehingga tidak mengalami luka selain nyeri-nyeri biasa. Tempat sampah itu berada di dalam sebuah gang yang sempit dan gelap. Setidaknya aku bersyukur karena tidak ada orang yang melihat kami seperti ini. Apa jadinya jika mereka mengetahui Pahlawan yang jatuh ke tempat sampah? "Amelia ... baumu seperti orang yang baru saja keluar dari buang air be—" "Diam! Lagipula ini semua salahmu karena memilih tempat mendarat seperti ini." Aku dipukul dengan keras olehnya. Lagian aku saat itu sedang panik jadi hanya ini satu-satunya tempat pendaratan yang cocok untuk kita agar tidak mengalami luka yang serius. Tapi, gadis ini sama sekali tidak bisa berterimakasih. Padahal yang menyebabkan kami terjatuh dari ketinggian empat ribu meter lebih adalah dia sendiri. Tapi untung saja, suit yang kami pakai juga memiliki fitur untuk menyerap bau busuk. Aku bersyukur sekali lagi karena tidak perlu ganti pakaian, hanya saja bagi Amelia yang sangat peduli dengan tubuhnya. Dia tetap saja protes padaku. "Aku ingin bersama Kak Louisa," gumamku. Akhirnya kami keluar dari gang. Menemui keramaian Distrik perbelanjaan. Distrik perbelanjaan hanya tidak berbeda jauh dengan kota besar. Dimana disini terdapat supermarket, taman, dan gedung-gedung pencakar langit. Hanya saja Distrik perbelanjaan tidak terikat dengan wilayah Kerajaan manapun, dan tentu saja penduduk seluruh dunia bisa mengakses tempat ini dengan mudah. Kebanyakan pendatang biasanya datang di distrik ini untuk berbisnis. Oleh sebab itulah dinamakan distrik perbelanjaan. "Hei, bukankah ini berbahaya jika seorang pria masuk? Lagipula kita datang kemari untuk magang Pahlawan, bukan?" "Berisik tahu tidak! Aku tidak bisa berkeliaran di keramaian setelah jatuh di tempat sampah. Lagian aku tidak menyuruhmu masuk, cukup tunggu aku diluar sini. Mengerti?!" "Y-ya Bu!" Bagaimana aku bisa menolak setelah dia memasang wajah mengerikan seperti itu. Setelah itu Amelia masuk ke dalam sebuah toko pakaian (khusus perempuan) tempat kami berhenti. Pada akhirnya aku harus menunggu Amelia untuk membeli pakaian dalam baru. Padahal memakai suit sudah baik-baik saja, sudah kuduga gadis itu memang selalu merepotkan kalau sudah menyangkut soal tubuhnya. Aku menunggu hingga kira-kira setengah jam, satu jam, satu jam setengah. Tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Amelia akan keluar dari toko. Disaat itulah kesabaranku mulai habis. "Kenapa lama sekali!!!!" Aku berteriak kencang hingga menyita perhatian banyak orang. Bahkan skill pembaca pikiranku juga menangkap bahwa mereka semua menganggapku sebagai orang aneh. Disaat itu, aku menangkap suara pikiran seseorang yang berbeda. Suaranya sangat kecil dan juga rapuh. "Tolong ... aku ... seseorang ... kumohon." Suara pikiran itu semakin bergema di dalam kepalaku. Semakin mendekat dan semakin mendekat, namun aku tidak bisa mengetahui asal suara tersebut karena keramaian orang yang memenuhi distrik perbelanjaan. Jika aku meninggalkan Amelia sendirian disini, ada kemungkinan dia akan marah. "Bodo amatlah." Karena aku penasaran dengan suara yang menghantui kepalaku ini. Aku memutuskan untuk mencarinya, hanya sebentar saja. Untuk memastikan bahwa orang itu tidak sedang dalam situasi yang berbahaya. "Ah?!" Namun, belum sempat maju satu langkah. Seseorang menabrakku. Dia memelukku dengan erat, sangat erat hingga kupikir tulangku akan retak untuk kedua kalinya. Orang yang memelukku memiliki tinggi setengah dari tinggi badanku—artinya dia masih anak-anak—dan dia juga memakai jubah bewarna coklat yang lusuh. Kedua tangannya meremasku dengan gemetar. Aku merasakan ada ketakutan yang mendalam dari anak ini. Disaat yang bersamaan, secara tidak sengaja aku membaca pikirannya, dan aku langsung tahu bahwa suara minta tolong yang tadi itu berasal dari anak ini. "Tolong aku." Tubuhnya menggigil. Aku tidak tahu ada apa tapi tidak seharusnya dia merangkul orang yang baru saja dia temui. Terlebih lagi, aku dilihat oleh banyak orang dengan tatapan tajam. Aku bukan penyuka anak-anak oke? Anak ini duluan yang langsung nempel begitu saja padaku. "H-hei, ada apa? Apa kau tersesat?" Untuk saat ini aku mencoba untuk bertanya padanya. Apakah dia terpisah dengan orang tuanya atau dikejar oleh orang jahat yang berkeliaran di distrik perbelanjaan. ".... Tolong aku." Tetap saja, dia tidak menjawab pertanyaanku yang barusan. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang sepi karena disini terlalu banyak orang yang melihatku dengan hasrat membunuh yang kuat. "U-untuk sekarang ini mari kita pergi ke tempat lain terlebih dahulu, oke? Kau bisa menceritakan masalahmu saat kita disana." Pada akhirnya, dia mengangguk padaku. Aku langsung saja mengajaknya ke dalam kafe yang terlihat memiliki sedikit pengunjung. Maafkan aku Amelia, tapi aku akan menyusulmu nanti. Kemudian kami mengambil bangku yang berada di pojok ruangan. Karena sepertinya tempat itu tidak terlalu mencolok. Setelah memesan sesuatu, aku kembali bertanya padanya. "Jadi, apa yang bisa aku tolong?" "Sembunyikan aku." "Maaf?" "Aku mohon sembunyikan aku!" Dia menggebrak meja dengan kuat, hingga tudung yang selama ini menutupi wajahnya terlepas. Disaat itulah aku terkejut, karena saat melihat rupanya. Aku dapat melihat dua telinga yang runcing disana. Tidak salah lagi, dia berasal dari ras Elf. "K-kau ... dari ras Elf? Tunggu! Cepat pakai tudungmu kembali!" "Uwaa?! Maaf!" Dia langsung menyadari bahwa tudung yang dia pakai terlepas. Dilain sisi aku masih tidak percaya bahwa aku menemui ras Elf di tempat seperti ini. Elf, adalah ras yang juga hidup berdampingan dengan manusia. Namun semenjak perang Pahlawan pada masa lampau, populasi mereka menurun dengan drastis hingga mendekati kepunahan. Oleh sebab itu, aku tidak percaya saat bertemu langsung dengan mereka. Tidak lama kemudian pesanan kami berdua datang. Itu adalah dua es serut dengan harga yang sangat murah. Karena harganya murah makanya aku membelinya. Untung saja semenjak aku menjadi Pahlawan. PBB selalu memberiku uang saku dalam jumlah besar setiap satu bulan. Jadi aku tidak perlu memikirkan bagaimana dengan kehidupanku nantinya. "Kau ... seorang Elf? Dan terlebih lagi, gadis Elf." Gadis itu mengangguk. Sepertinya, aku bisa mencium sesuatu yang merepotkan yang akan menimpaku sebentar lagi jika aku terus bersama gadis ini. "Siapa namamu?" "Umm, Keylia." "Baiklah, Keylia. Setelah kau menghabiskan es serut itu. Kita akan berpisah, tenang saja aku yang akan membayarnya. Jadi anggap saja sebagai balas budimu untuk menganggap bahwa kita tidak pernah bertemu satu sama lain, oke?" Aku melahap dengan cepat es serut itu. Kemudian meletakkan uang diatas meja dan ingin segera pergi. Namun, langkahku tiba-tiba berhenti. Saat aku melihatnya, ternyata Elf yang bernama Keylia itu memegang kakiku dengan kuat hingga aku tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. "Lepasin!!" "Tidak! Tuan juga sudah melihat identitas asliku jadi aku tidak bisa membiarkanmu pergi! Lagipula bukankah Tuan sepertinya akan menolongku?" "Jika kau hanya tersesat aku akan menolongmu. Tetapi dilihat dari gelagatmu sepertinya masalahmu lebih rumit dari yang kuduga. Jadi lepasin!" "Tidak!" Meski aku mengeluarkan segenap kekuatanku. Entah kenapa aku masih belum cukup kuat untuk dapat lepas dari pegangan Keylia. Sepertinya perbedaan kekuatan antara ras manusia dan Elf sangat berbeda jauh. Meski aku adalah seorang Pahlawan yang umumnya memiliki status diatas rata-rata manusia lainnya. Tapi aku masihlah Pahlawan yang tidak berguna. "Kumohon! Aku sudah tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi!" Saat mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Aku berhenti memberontak, menolehnya. Aku bisa melihat air mata yang berlinang diantara wajah Keylia. Entah kenapa perasaan ini muncul kembali, perasaan yang sama waktu aku ingin menyelamatkan Eliza. Tanpa sadar, mulutku mengeluarkan kata-katanya sendiri. "Mau bagaimana lagi. Baiklah aku akan membantumu." Wajahnya tampak terkejut. Bahkan pada akhirnya aku akan tetap terlibat dengan gadis Elf ini. Yah, aku memang seorang pemalas akut. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan begitu saja seseorang yang meminta tolong dengan serius. "Sial, pecundang itu benar-benar meninggalkanku sendirian ... dimana kau Arga?!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD