Chapter 14

1382 Words
Beberapa hari kemudian. Tulangku sudah kembali seperti sedia kala. Kenapa regenerasi nya sangat cepat? Jawabannya sederhana. Teknologi sudah berkembang jauh di zaman yang moderen ini. Jadi perban yang sebelumnya digunakan untuk menutup lenganku bukanlah perban biasa. Melainkan perban itu memiliki Warm Chip yang berfungsi untuk mempercepat regenerasi pada luka luar maupun luka dalam. Sungguh praktis sekali. Sekarang kami berkumpul di tempat pelatihan. Berbaris secara horizontal. Di depan kami adalah Kak Louisa yang cantik seperti biasanya. "Aku memiliki sesuatu yang harus dibahas kepada kalian. Mengetahui bahwa Unit Pahlawan sudah dibentuk dan ujian Battle Royale sebelumnya dibatalkan karena insiden bentuk kebangkitan Hiro. Jadi kita harus memilih seorang Leader untuk unit Pahlawan melalui musyawarah jalur voting." "Kalau begitu, Arga saja." "Ya, setelah dipikir-pikir Arga lebih baik." "Benar-benar, dia saja." "J-jika itu Arga aku tidak keberatan." "Lagipula Nak Arga adalah orang yang baik. Dia pasti bisa melakukan tugasnya dengan baik juga." "Tunggu! Tunggu! Tunggu! Jangan bercanda dong kalian! Bukannya kalian selama ini bertarung demi merebutkan posisi itu?! Kenapa kalian semua malah melemparkan posisi itu padaku sekarang?!" "Tentu saja, tapi kami berubah pikiran." "Kalian ini...!!" Aku menghela nafas lelah. Memutuskan untuk menyerah. Posisi Leader sepertinya tidak terlalu buruk bagiku. Aku bisa melakukan apa saja untuk menyuruh bawahannya, bukan? "Kalau begitu sudah diputuskan, Arga yang akan menjadi Leader dari unit Pahlawan. Lalu siapa yang menjadi Wakilnya?" "Aku memilih Amelia!" "Tunggu!!" Aku tersenyum licik padanya. Salah sendiri karena dia tiba-tiba mengajukanku sebagai Leader. Sekarang aku membalasnya. "Baiklah, kalau begitu Amelia yang akan menjadi wakilnya." "Tunggu dulu! Commander—" "Kita akan kembali ke topik utama. Kalian semua silahkan buka menu dari masing-masing mini-chip. Jika disana ada tombol "Tampilkan untuk umum" maka tekanlah." Menghiraukan Amelia, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Kak Louisa. Kami membuka menu pada mini-chip kami, dan yang benar saja. Disana terdapat tulisan seperti apa yang disebutkan oleh Kak Louisa tadi. Padahal belum lama ini tulisan itu tidak ada. Apakah baru saja di update? Tanpa menunda-nunda, aku segera menekan tulisan tersebut. Kemudian, tidak lama setelah itu. Pandanganku diselimuti oleh cahaya. "A-apa ini?" Saat aku mengalihkan perhatian pada Pahlawan lain. Aku melihat bahwa di samping mereka, terdapat seekor spirit yang mirip dengan Olivia. Mereka memiliki tubuh yang kecil dengan kedua sayap di punggung. "Kalian semua pasti sudah mengerti bukan? Bahwa setiap Pahlawan pasti di dampingi oleh AI spirit pembantu mereka masing-masing. Tulisan yang kalian tekan sebelumnya membuat spirit kalian bisa dilihat secara umum, oleh sebab itulah kalian semua bisa melihatnya." Itu benar, aku bisa melihat AI spirit selain Olivia. Ada yang bewarna merah, ungu, putih, merah muda, dan masih banyak beragam warna lainnya. Sudah kuduga, bahwa selama ini aku bukanlah satu-satunya Pahlawan yang memiliki Olivia. "Setiap AI Spirit memiliki kemampuan yang berbeda-beda, dan lagi mereka sangat pintar karena memiliki memori dan informasi mengenai perang masa lampau dan para Pahlawan. Aku yakin mereka akan sangat membantu kalian." Aku melihat ke arah Olivia. "Hei, Olivia. Kemampuanmu itu, apa sebenarnya?" "Hmm, kurasa adalah Hacking Sistem. Aku bisa mengirim virus ke dalam software maupun Hardware untuk mengambil alih mereka selama tiga puluh detik. Seperti yang aku lakukan pada Drone sebelumnya." "Sudah kuduga. Apa itu artinya kau memiliki kemampuan yang hebat daripada AI spirit lainnya?" Aku bertanya dengan wajah serius. "Apa yang kau bicarakan, Tuan ...." Olivia menatapku dengan wajah seriusnya juga. "Tentu saja bukan? Aku adalah versi yang lebih kuno daripada para pendatang baru itu. Tentu saja aku adalah yang terbaik." Kami berdua tersenyum dengan licik. Seperti layaknya dua orang penjahat yang sedang merencanakan sesuatu. *** "Commander, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Benar, pastinya Kak Louisa tidak mengumpulkan kami hanya untuk menunjukkan pertunjukan seperti tadi. "Ah, benar. Kalian akan magang mulai dari sekarang." "Anu, Commander." "Ada apa, Alex?" "Apakah kita bisa melewatinya saja dan langsung fokus pada tugas Pahlawan? Lagipula. Kita tidak bisa terus begini dan sama sekali tidak berkembang sementara Dewa Iblis mungkin telah memulai pergerakannya." Sepertinya aku bisa mengerti apa yang ingin Alex sampaikan. Selama enam bulan terakhir ini yang kami lakukan hanya latihan dan latihan saja. Kami belum pernah melakukan misi langsung seperti mengalahkan musuh kuat seperti Pahlawan di masa lampau. Ekspresi wajah Kak Louisa berubah dari yang tadinya cerah menjadi super serius. Semua orang bisa merasakan perubahan udara yang mendadak tersebut. "Alex, apa artinya seorang Pahlawan bagimu?" Alex menjawab dengan gugup. "Pahlawan adalah orang yang menyelamatkan dan melindungi orang lain dari segala kejahatan di dunia ini." "Setengah benar," jawabnya. "Pahlawan adalah orang yang memiliki hati yang kuat. Bukan harus tentang melindungi dan menyelamatkan. Tapi mereka juga harus memiliki hati yang kuat, dan bisa menilai lingkungannya dengan baik." Aku mendengarkan dengan serius. Sangat jarang melihat ekspresi wajah Kak Louisa saat sedang serius. Aku harus merekamnya dengan jelas di dalam ingatanku. "Oleh sebab itu, pada magang kali ini. Kalian akan ditugaskan di distrik perbelanjaan. Tugas kalian adalah berpatroli, dan menghentikan kejahatan apabila terjadi. Kita akan membagi menjadi empat tim, dengan masing-masing tim berisi dua orang. Tentu saja, aku juga akan ikut berpartisipasi untuk melengkapi kekurangan orang pada kelompok kalian." Mendengar bahwa Kak Louisa akan ikut serta. Aku mendadak menjadi bersemangat, jika aku bisa berpasangan dengannya. Mungkin saja aku bisa menunjukkan sisi kerenku kepadanya saat magang nanti. Kemudian, Kak Louisa akan langsung jatuh hati padaku. Sungguh rencana yang sempurna. Aku bersyukur karena hanya terdapat tujuh Pahlawan dan bukannya enam. *** "Baiklah, ini adalah kolaborasi yang cocok." Dalam sekejap, harapanku langsung dipatahkan saat pembagian tim telah dilakukan. Saat ini, sudah terdapat empat tim yang terbentuk. Tim satu adalah tim Om Ren dan Tante Flora, tim kedua berisi Alex dan Eliza. Kemudian tim tiga adalah Hiro dan Kak Louisa. Sedangkan aku bersama .... "Tunggu Commander Louisa! Kenapa aku bersama dengan pecundang ini?!" "Hmm? Yah, bukannya kalian berdua terlihat sangat akrab belakangan ini?" "A-akrab darimana coba?!" "Kalian selalu bertengkar setiap saat bukan? Ada suatu teori yang mengatakan bahwa setiap pertengkaran bisa mempererat hubungan pertemanan." "Tapi ini berbeda!" Sementara Amelia berusaha protes dengan pembagian tim kepada Kak Louisa. Aku berjongkok dan murung. Sialan, kenapa dari semua orang harus gadis menyebalkan ini? Aku harusnya bersama dengan Kak Louisa. Bahkan ketika Om Ren, Tante Flora, dan Hiro mencoba untuk menghiburku. Aku tidak merasa lebih baik sama sekali. "Kalau begitu ayo tanyakan kepada orangnya secara langsung. Arga, apa kau mau satu tim dengan Amelia?" tanya Kak Louisa padaku. Aku langsung berdiri dengan tegap. "Ya, aku mau!" *** "Hei, pecundang. Biarkan aku bertanya satu hal padamu. Kenapa kau menjawab dengan jawaban, "Ya" tadi?" "Maaf, hanya saja aku tidak bisa menolak permintaan dari Kak—maksudku Commander Louisa." Amelia menatapku dengan tatapan penuh dengan hasrat membunuh. Mau bagaimana lagi, aku memang tidak bisa menolak permintaan dari seorang yang paling aku kagumi sekaligus orang yang kusukai. "Kita akan berkumpul kembali disini saat jam sudah masuk pukul lima sore. Baiklah, semoga beruntung dengan pelatihan magang kalian." Kak Louisa dan Hiro langsung turun dari tepi pulau untuk menuju di distrik perbelanjaan yang berada tepat dibawah pulau melayang ini. Benar, kami semua sekarang berada di tepi pulau Leavegeard. Aku menoleh ke bawah. Sama sekali tidak terlihat apapun selain awan yang tebal. Aku segera menelan ludahku begitu mengetahui bahwa Phobia ketinggianku mulai kumat. "Kalau begitu kami selanjutnya." Om Ren dan Tante Flora memasang menancapkan kabel Skyboard pada sabuk energi yang mereka pakai. Lalu setelah itu, mereka terjun ke bawah seperti Kak Louisa dan Hiro sebelumnya. Skyboard, adalah papan yang mirip dengan skateboard. Hanya saja membutuhkan energi listrik sebagai bahan bakar untuk mengeluarkan tekanan angin yang akan muncul dari knalpot bagian bawahnya. Saat menaiki Skyboard. Pertama-tama Kalian harus menancapkan kabelnya pada sabuk energi yang kalian pakai. Lalu setelah itu naik ke papannya dan kemudian kalian bisa mengendalikannya untuk melayang di udara. Mirip seperti mobil melayang, hanya saja Skyboard lebih praktis dan cepat. Setelah giliran Om Ren dan Tante Flora. Alex dan Eliza kemudian menyusul. Hingga menyisakan aku dan Amelia yang berada pada giliran terakhir. "Lady First." "Hah? Kenapa harus aku duluan?" "Bukannya sungguh mulia ketika ada pria yang mempersilahkan wanita lebih dahulu dibanding dirinya sendiri." "Ini dan itu adalah dua hal yang berbeda tahu. Di situasi seperti ini, seharusnya Pria yang lebih dulu jatuh. Cepat sana!" "T-tunggu Amelia ... jika kau terus mendorongku seperti itu terus kita akan berakhir dengan jatuh bersama. Lihat!! Kabel Skyboard kita terlilit satu sama lain." "P-payah! Cepat lepaskan itu—uwaaa!!" Kami berdua terpeleset, dan kemudian terjun bebas bersama dalam keadaan kabel Skyboard kami yang masih melilit satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD