Dorothy merasakan tubuhnya seperti diputar dan desakan rasa mual menyerang perutnya sangat parah. Ia menutup mulutnya kuat-kuat dengan telapak tangan dan memejamkan mata untuk menahan hasrat muntah yang menderanya. Dorothy menggigit bagian dalam pipinya dan memejamkan mata erat-erat hingga rasa berputar itu menghilang. Ketika ia membuka matanya lagi, ia tengah berdiri di tempat yang asing.
“Eh?” Gumam Dorothy pelan. Dorothy menatap sekitarnya, dinding-dinding batu berwarna coklat gelap menghampar di sekitarnya. Ia melirik ke sana dan ke mari, seluruh jangkauan matanya hanya menangkap pemandangan dinding-dinding itu.
Dorothy berusaha merumuskan apa yang baru saja terjadi. Ia tengah berdiri diam di perbatasan distrik hiburan Westminster karena hendak bertemu dengan iblis yang memberinya perintah. Ketika telah lama menunggu dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menemuinya karena ia sama sekali tidak tahu harus kemana, Dorothy berniat untuk kembali dan melupakan semuanya. Ia pikir, mungkin lebih baik mengabaikan hal itu. Tapi kemudian seseorang—atau bukan? Mencengkram erat pergelangan tangannya. Dorothy baru saja hendak berbalik untuk memaki siapa saja orang yang dengan lancang mencengkram pergelangan tangannya kuat-kuat, namun ia merasakan tubuhnya tiba-tiba seolah berputar dan ia sama sekali tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan hingga dirinya sampai pada tempat asing ini.
“Halo?” seru Dorothy, suaranya terdengar menggema. Ia melangkah pelan, sepatunya berketuk-ketuk pada lantai batu yang ia injak. Dorothy menyentuh dinding bantu di sampingnya, ketika ia mengetuk-ngetukkan jemarinya, ia sadar bahwa dinding batu itu sangat tebal. Ia bertaruh seseorang dari balik dinding tidak akan mendengarnya meski ia berteriak kencang.
Dorothy meremat surai pirangnya. Desakan rasa kesal membuncah, membuatnya mengumpat berkali-kali. Ia sudah lama tidak mengeluarkan kata-k********r karena bekerja sebagai wanita penghibur yang harus bersikap baik dan anggun. Pada dasarnya, ia tetaplah Dorothy, mantan pembunuh bernama Ripper yang senang merobek tubuh korbannya. Berkata kasar seharusnya sudah menjadi kebiasaannya andai ia tidak menjaga diri.
“Halo? Apakah ada orang di—hei!” Dorothy membelalakkan matanya. Tangannya dicengkram kuat oleh seorang pria pelayan yang tersenyum dengan pandangan kosong kepadanya. Hanya dengan sekali pandang, Dorothy merasakan tekanan kuat dari sorot mata beriris crimson milik orang itu. Dia, yang menjelma menjadi bangsawan muda dan menemuinya di rumah hiburan; Si iblis Pelayan.
“Kau mencariku, kuasumsikan kau sudah mendapatkan informasi yang kuminta.”
Dorothy langsung menundukkan pandangannya. Ia terlalu bersikap sombong sebelumnya dan berpikir untuk lari dari segala tanggung jawab yang secara sepihak dibebankan kepadanya. Ia bahkan bisa sampai di tempat seperti ini hanya dalam waktu singkat dan dengan cara yang begitu aneh.
“Kau ini, sebenarnya siapa?” Tanya Dorothy. Ia merasakan mulutnya begitu kering dan lidahnya kelu hanya untuk mengeluarkan pertanyaan sederhana seperti itu. Ia sama sekali tidak mampu untuk balas memandang iblis pelayan itu karena Dorothy sama sekali tidak bisa menahan tekanan intimidatif dari iris berwarna crimson yang menatapnya begitu tajam.
“Tuan Muda memberiku nama Nicolin, aku hanyalah seorang pelayan.”
Dorothy membeku. Sebuah senyum dingin diberikan oleh si iblis pelayan yang mengaku bernama Nicolin. Ia tidak sempat menjawab apa-apa karena Nicolin segera berbalik dan berjalan menjauh. Dorothy tidak mengerti dan hanya mengikutinya, ia menyimpulkan seperti itu karena Nicolin belum kembali mengungkit tentang informasi yang harus Dorothy dapatkan.
Dorothy terus mengekor ke mana Nicolin melangkah. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, satu-satunya suara yang terdengar di antara mereka hanyalah ketuka sepatu yang menyentuh lantai batu. Nicolin membuka pintu kayu tebal berwarna coklat gelap yang dipoles nyaris sama dengan warna dinding-dinding yang Dorothy lihat. Jika berada di kegelapan, pintu kayu itu jelas tersamar dan tidak akan terlihat sama sekali.
Dorothy mengernyitkan dahinya ketika pintu kayu itu dibuka. Cahaya super terang membuat kelopak matanya spontan menutup karena serangan cahaya yang tiba-tiba. Pelan-pelan ia berkedip, untuk berusaha mengenali apa yang berada di hadapannya saat ini. Ia menganga ketika kedua bola matanya telah terfokus dan memandang apa yang tersaji di depan matanya. Tempat yang ada di hadapannya begitu mewah dan tampak memanjakan mata. Deretan furnitur mahal yang tertata rapi sesuai tempatnya, berkilauan dan memanjakan mata. Lantai berwarna cerah yang membuat Dorothy bahkan sayang untuk menginjaknya. Pada dasanya, ia memang tidak pernah melihat barang-barang yang begitu indah seperti itu. Rumah hiburan tempatnya bekerja sudah cukup indah di matanya, tetapi apa yang ia lihat kali ini berkali-kali lebih indah.
Nicolin terus melangkah, dan Dorothy yang sempat tertegun karena pemandangan indah itu segera berlari kecil untuk menyusul langkahnya. Pelayan itu terus melangkah hingga ke sebuah ruangan dengan pintu kayu ganda. Nicolin berhenti dan berbalik menatap Dorothy, membuat wanita itu reflek mengalihkan pandangannya ke lantai.
“Tunjukkan rasa hormatmu dan jangan berani-berani mengangkat wajahmu sebelum Tuan Muda mengizinkannya.”
Dorothy mengangguk tanpa berani untuk bertanya.
Nicolin menegakkan tubuhnya dan membuka pintu ganda itu. Ia mempersilahkan Dorothy untuk masuk terlebih dahulu, membuat Dorothy melangkah dengan kaki-kakinya yang terasa kaku. Nicolin segera menutup pintu ganda itu ketika keduanya sudah benar-benar masuk ke dalam. Dorothy bisa melihat sepasang kaki dengan sepatu mewah yang tampak benar-benar indah. Ia tidak berani mengangkat wajahnya seperti yang diperintahkan Nicolin meski hasrat dalam hatinya ingin sekali untuk mengangkat wajah dan melihat siapa pemilik kaki jenjang yang memakai sepatu mewah berkilauan itu.
“Oh, kau yang dibawa Nicolin.”
Dorothy sedikit berjengit ketika mendengar suaranya. Ia membayangkan suara berat yang terdengar serak seperti bangsawan-bangsawan tua yang selalu mengunjungi rumah hiburan tempatnya bekerja. Tapi tidak, Dorothy mendengar suara itu cukup segar seperti seorang pemuda. Meski begitu, ia tetap merasakan tengkuknya merinding hanya dengan mendengar suara itu. Seolah suaranya memiliki sengatan listrik yang menundukkannya secara otomatis.
“Tegakkan wajahmu.”
Dorothy mengangkat wajahnya dengan gerakan patah-patah. Seorang bangsawan yang sangat muda duduk menyilangkan kakinya di hadapan Dorothy. Ia mengira-ngira berapa usia pemuda bangsawan itu karena wajahnya tampak begitu muda. Ia sudah membayangkan wajah-wajah seram seperti yang selalu ia temui di distrik hiburan. Tapi tidak, pemuda bangsawan itu sangat jauh dari perkiraannya. Nicolin selalu tampak serius dan menghormati Tuan Mudanya sepenuh hati. Ia bahkan tampak begitu tunduk dan tidak berniat melawan sama sekali. Dorothy menyimpulkan jika Tuan Mudanya jelas bukan seorang pemuda yang jika dilihat lebih lekat masih tampak seperti anak laki-laki. Dia begitu tampan dan manis secara bersamaan dengan wajah mudanya, dan Dorothy bisa membayangkan seberapa tampannya ia ketika di masa depan dia tumbuh menjadi seorang pria. Hanya satu hal yang sangat kontras dari penampilan indah dan manisnya, yaitu sorot mata tajam dan iris matanya yang berwarna ruby darah merpati. Dorothy pernah mendengar jika seseorang dengan iris mata berwarna seperti itu sangatlah langka.
“Katakan, siapa namamu?”
“Dorothy… um Tuan Muda.”
Gilbert menatapnya lekat-lekat, membuat Dorothy tanpa sadar meremat pakaiannya sendiri karena ia benar-benar merasa terintimidasi olehnya. Jika saja pemuda itu bukan bangsawan, Dorothy mungkin tidak merasa begitu terintimidasi oleh kehadirannya. Meskipun sebenarnya, sosok dirinya sendiri sudah benar-benar mengintimidasi. Dengan iris sewarna ruby darah merpati itu, Dorothy bertaruh rekan-rekan sesama bangsawannya takkan kuasa berlama-lama menatapnya. Lalu, bagaimana bisa dia yang masih begitu belia memiliki pelayan sesosok iblis? Beragam pertanyaan benar-benar mendesak di otaknya. Dan tidak, Dorothy hanya mampu memikirkannya saja tanpa berani mengatakannya.
“Aku Gilbert Grey.”
Dorothy nyaris merasakan jantungnya berhenti ketika mendengar nama itu. Tidak, ia tidak pernah memiliki masalah dengan bangsawan kecuali bangsawan-bangsawan korup dan munafik yang ia bunuh dahulu. Nama Grey sangatlah familiar di telinganya. Gosip tentang keluarga dan juga kebakaran hebat yang menewaskan keluarga Grey dan hanya menyisakan satu-satunya keturunan yang ada. Tampak seperti gosip pada umumnya dan tidak harus membuat Dorothy terkejut, seharusnya. Tapi Dorothy dengan telinganya yang mendengar segala hal selalu berhasil mendapatkan informasi yang seharusnya rahasia.
Dorothy pernah mendengar segerombolan keluarga Kerajaan yang berkunjung ke rumah hiburan tempatnya bekerja membicarakan tentang Gilbert Grey. Ia tak terlalu menaruh atensi pada hal itu sebelumnya hingga ia mendengar beberapa hal berbau supernatural yang mereka bicarakan. Dorothy tidak bodoh, dengan ketertarikannya terhadap hal-hal tak lazim, topik mengenai hal-hal supernatural jelas seketika menarik atensinya. Diam-diam ia mendengarkan sembari menemani pelanggan, hingga sampai pada pembicaraan tentang siapa jati diri Gilbert Grey yang sebenarnya dan mengapa ia bisa selamat dari kebakaran itu dalam kondisi yang mulus seolah ia tidak pernah mengalami tragedi itu. Dorothy hendak mendengarkan kelanjutannya kala itu, ketika mereka mulai menyebut-nyebut beberapa hal yang aneh dan membuatnya mengernyit bingung, namun pelanggan yang meminta ditemani olehnya sudah kepalang terangsang dan ingin menidurinya hingga Dorothy tidak bisa tetap duduk di sana dan diam-diam mencuri dengar.
“Katakan semua informasi yang kau tahu.”
Dorothy berkedip dua kali, ia sedikit tersentak ketika mendengar suara Gilbert karena ia begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Segera ia menoleh kepada Nicolin dengan pandangan bertanya. iblis pelayan itu menganggukkan kepalanya sebagai respon.
“Nell menjadi tumbal sebagai wadah iblis. Annie—uh, maksudku salah satu rekanku di rumah hiburan tidak sengaja melihatnya memukul-mukul dadanya sendiri dan terus meneriakkan kata ‘keluar’ kepada dirinya sendiri. Rekanku itu juga melihat ada bola mata lain yang mendesak untuk keluar sehingga Nell seperti memiliki tiga mata.”
“Lalu?”
“Lalu—um…. A-aku belum mendapatkan informasi lebih lanjut. Nell selalu bersama dengan bangsawan-bangsawan kelas atas dan tidak selalu bisa untuk didekati. Tidak ada yang mencurigakan selain sikapnya yang berubah dan kesaksian Annie. Aku berusaha untuk mendekatinya, tetapi dia selalu berusaha menghindar dan terus-terusan melayani pelanggan. Padahal, Nell bukan jenis orang yang suka menerima banyak pelanggan terus-menerus.”
Dorothy beberapa kali melirik Gilbert dan ketika matanya bertemu pandang dengan mata Gilbert, ia akan dengan reflek menundukkan pandangannya. Ia benar-benar tidak bisa tahan dengan sorot intimidatif dari Gilbert.
“Kau….” Gilbert menggantungkan kalimatnya. “…. Ripper?”
Seharusnya Dorothy tidak perlu terkejut jika Gilbert mengetahui identitas masa lalunya. Tidak mungkin Nicolin merahasiakan hal itu dari Tuan Muda yang amat dia kasihi itu. Tapi tetap saja, ia merasa tidak nyaman ketika identitasnya perlahan diketahui. Tentu, Dorothy yakin mereka tidak akan menyebarkan identitas itu jika dilihat dari sikapnya. Namun Dorothy benar-benar tidak nyaman dengan hal itu.
Gilbert menurunkan kakinya yang menyilang. Ia agak menunduk dengan menumpukan wajahnya di atas kedua telapak tangan. Sebuah seringai terpasang di kedua belah bibirnya.
“Kau, maukah kau bekerja denganku?”
“H-Huh?”
Gilbert berdiri dan mendekat. “Mansion Grey tidak berisi pelayan-pelayan biasa. Mungkin kau mendengar desas-desusnya di tempatmu bekerja? Lagipula Grey sudah cukup sering diterpa rumor macam-macam. Semua pelayanku memiliki masa lalu yang mirip denganmu. Sangat berguna karena aku tidak perlu lagi menyewa bodyguard untuk mengamankan kediamanku. Aku cukup terkejut ketika Nicolin mengatakan ada seorang pembunuh berantai yang bekerja sebagai p*****r. Rasanya sangat aneh. Kau, mengapa memilih untuk menjadi p*****r?”
-----