Dorothy nyaris tidak berkonsentrasi sama sekali terhadap pekerjaannya selama beberapa hari karena tanggung jawab untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Nell Gwyn yang diperintahkan oleh iblis pelayan yang memaksanya beberapa hari yang lalu. Sejauh ini, yang ia dapatkan sebatas fakta bahwa Nell Gwyn menjadi wadah dan bukan ia sendiri yang berinisiatif untuk melakukan kontrak abu pemanggil dengan iblis. Dorothy tidak bisa tenang sebelum ia setidaknya mendapatkan petunjuk tentang siapa yang memakai Nell Gwyn sebagai tumbal wadah untuk kontrak itu. Apapun itu, meski hanya sebatas informasi kecil selama hal itu mengarah kepada petunjuk tentang Nell Gwyn Dorothy akan sangat lega karena ia bisa segera melaporkannya kepada iblis itu dan berharap tidak perlu lagi berurusan dengannya.
Dorothy menepuk dahinya. “Bagaimana caranya aku melaporkan semuanya? Maksudku, aku bahkan sama sekali tidak tahu di mana keberadaannya.” Gumamnya pada diri sendiri.
“Melaporkan? Melaporkan apa?”
Dorothy tersentak. Ia tengah duduk menemani seorang bangsawan paruh baya yang sedari tadi tengah bercerita seru. Kebanyakan, Dorothy tidak mendengarkannya dan hanya memasang wajah manis tersenyumnya sebagai topeng. Daripada mendengarkan cerita bangsawan itu yang lebih terdengar sebagai kesombongan belaka, otak Dorothy lebih memikirkan keselamatannya sendiri dan bagaimana caranya ia lepas dari iblis itu.
“Tidak, maafkan aku, Tuan. Ceritamu sangat panjang sehingga terkadang aku tanpa sengaja mengucapkannya agar bisa mengikuti alurnya.”
Bangsawan paruh baya itu terbahak-bahak hingga air liurnya muncrat. Dorothy diam-diam bergidik jijik. Ia bukannya tidak biasa menghadapi bangsawan-bangsawan jorok seperti ini. Lagipula, distrik hiburan seperti ini adalah tempat di mana orang-orang menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya.
“Jadi, apa aku harus mengulangi ceritaku?” tawarnya dengan kedipan nakal.
Dorothy berusaha tersenyum semanis mungkin. Ia tidak ingin kisah panjang bangsawan itu diceritakan ulang karena hanya akan membuang-buang waktunya.
“Ah, tidak perlu Tuan. Apa yang ingin Tuan lakukan setelah ini?”
Bangsawan itu mengulurkan lengan gemuknya dan meraba pergelangan tangan Dorothy. Pandangan matanya penuh kabut napsu dan ia menjilati bibir bagian bawahnya. Sementara pria paruh baya itu terus mengelus kulit tangan Dorothy, ia hanya berusaha untuk tersenyum dan membiarkannya saja. Ia tahu, jika pelanggannya sudah menunjukkan gelagat ingin menyentuhnya, maka ia akan berakhir untuk tidur bersama mereka, melayani napsu liar mereka yang tak tersalurkan di kehidupan mereka yang sesungguhnya.
Meski Dorothy sedang sama sekali tidak berhasrat untuk melakukannya karena beban pikiran di mana ia harus mendapatkan informasi yang diminta iblis pelayan itu, ia tetap harus melayani pelanggannya. Sudah menjadi aturan di rumah hiburan ini untuk berkewajiban mendapatkan setidaknya satu pelanggan setiap harinya. Tuan yang mengelola tempat ini jelas membutuhkan banyak biaya untuk mengurus bangunan, membayar pekerja kebersihan, membelikan gaun-gaun indah untuk para wanita-wanitanya, juga perlengkapan lainnya.
Waktu terasa begitu lama ketika seseorang tidak menikmatinya. Sepertinya ungkapan itu memang benar adanya. Dorothy sama sekali tidak menikmati apapun yang dilakukan si bangsawan tua padanya. Secara visual, jelas tidak ada darinya yang membuat Dorothy b*******h. Tetapi ia sudah terbiasa untuk tidak memfokuskan diri kepada visual pelanggannya dan hanya menikmati apa yang dilakukan mereka. Hal itu pula yang membuatnya selalu meminta untuk disetubuhi dengan posisinya membelakangi si pelanggan. Ia tidak perlu melihat wajahnya dan hanya perlu merasakan saja.
Suara desah napas berat menggema di ruangan mungil itu. Dorothy menungging, kedua telapak tangannya meremat seprei kasur dengan erat. Sementara itu bangsawan tua yang menyetubuhinya meremas pinggangnya sembari terus bergerak di dalam dirinya.
“Kau menggairahkan, Dorothy.” Serunya dengan napas berat.
Tubuh Dorothy terguncang-guncang ketika si bangsawan terus menghujamkan miliknya ke dalam tubuh Dorothy, menggerakkannya kuat dan cepat, membuatnya meringis sembari menggigit bibirnya untuk menahan erangannya keluar.
“Jangan tahan suaramu. Keluarkan saja, kurasa aku akan lebih terangsang.”
Rentetan kata-kata kotor dan godaan terus diucapkan olehnya. Seharusnya hal itu membuat Dorothy—setidaknya menikmati persetubuhan mereka. Tetapi tidak, Dorothy benar-benar tidak menikmati sama sekali apa yang ia lakukan kali ini. Ia hanya terus menahan dirinya untuk mengimbangi gerakan si pelanggan hingga dia puas membuang-buang benihnya.
“Akh! Aku lelah sekali, Tuan.” Erang Dorothy pelan.
Bangsawan tua itu terbahak, sama sekali tidak mempedulikan keluhan Dorothy yang sudah ia setubuhi berkali-kali. Setiap kali ia mengeluarkan benihnya, ia akan kembali menggerakkan dirinya di dalam tubuh Dorothy, kuat dan cepat, membuat Dorothy sama sekali tidak memiliki jeda waktu untuk menstabilkan napasnya.
Seharusnya Dorothy sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Bukan pertama kalinya pula ia mendapatkan pelanggan liar sepertinya. Tapi sekali lagi, pikiran tentang beban yang harus ia selesaikan mengenai permintaan si iblis membuatnya sama sekali tidak bersemangat untuk menikmati apapun yang dilakukan pria bangsawan itu pada tubuhnya. Dorothy merasakan bagian bawahnya benar-benar becek dan berlendir, dan itu cukup menjijikkan untuknya. Tetapi pria bangsawan itu terus memuaskan dirinya tanpa peduli dengan kondisi Dorothy. Ya lagipula, tujuan mereka membayar mahal memang untuk itu.
Menjelang fajar, pria bangsawan itu baru menghentikan kegiatannya dan bernapas puas. Ia jatuh tertidur di samping Dorothy bahkan tanpa peduli untuk membersihkan sisa miliknya yang tercecer banyak sekali. Dorothy segera memunguti gaunnya dan bergegas membersihkan diri. Tubuhnya benar-benar terasa lelah dan ia ingin sekali tidur untuk memulihkan stamina. Tetapi sayang, ia bahkan sama sekali tidak merasa mengantuk. Pinggangnyanya terasa begitu nyeri, dan lututnya ngilu karena terus-terusan menungging nyaris sepanjang malam.
Dorothy melirik pelanggannya sebentar. Ia membenarkan selimut yang berantakan, memastikan pria bangsawan itu tertidur dengan nyenyak. Segera Dorothy pergi setelah memastikan dirinya sudah membereskan kekacauan yang dilakukan bangsawan itu semalaman.
---
Seharusnya Dorothy menemani pelanggannya hingga pergi. Sudah menjadi aturan di rumah hiburan tempatnya bekerja untuk selalu memikirkan kepuasan pelanggan dan meninggalkan kesan baik sampai selesai. Dorothy biasanya juga selalu melakukannya, tidak peduli siapa saja pelanggannya.
Hanya karena perintah dari iblis yang secara tidak sengaja ia temui, seolah keseharian Dorothy yang selalu tertata mendadak berantakan. Apapun yang ia lakukan, fokusnya tak pernah terkontrol dan membuat pikirannya melayang tak tentu arah. Sebagian besar memikirkan bagaimana menyelesaikan perintah itu, sisanya memikirkan bagaimana dia melaporkan temuannya dan apa yang akan terjadi padanya jika ia tidak mendapatkan apa yang diminta oleh si iblis.
Dorothy menghela napas berat. Kucuran air dingin nyatanya tak bisa sedikit mendinginkan kepalanya. Ia membersihkan tubuhnya dengan seksama, memperhatikan tiap jengkal kulitnya bersih tanpa noda apapun.
Dorothy berniat untuk menemui Nell Gwyn pagi ini. Semalam, wanita itu mendapatkan pelanggan seorang bangsawan kelas tinggi yang tampak tampan dan berwibawa. Dorothy mengenali wajahnya karena bangsawan itu sering berkali-kali muncul di surat kabar berserta pencapaian-pencapaian yang ditulis oleh sang jurnalis tetapi merujuk kepada penunjukan dirinya sendiri. Dorothy juga tahu bahwa pria bangsawan itu sudah memiliki istri dan beberapa gundik yang juga tinggal di mansion-nya. Sepertinya, istrinya tidak begitu peduli dengannya. Mungkin mereka menikah atas dasar perjodohan keluarga? Sudah bukan hal yang baru hal seperti itu terjadi apalagi di antara para bangsawan dan tanggung jawab mereka untuk melindungi nama baiknya. Jika ia beruntung, pagi ini bangsawan itu pasti sudah pergi. Lagipula dia tidak pertama kalinya kemari. Karena posisinya, ia bisa berkali-kali mendapatkan Nell Gwyn sebagai wanitanya setiap kali melakukan kunjungan kemari.
Buru-buru Dorothy merapihkan dirinya. Ia tidak berniat untuk menemani pelanggan kali ini, meski seharusnya itu wajib. Ia sengaja memakai pakaian biasa dan bukannya gaun berkilau yang menjadi pakaian standar wanita-wanita penghibur di rumah hiburan.
“Dorothy? Kenapa tidak memakai gaun?” Annie berpapasan dengannya ketika Dorothy baru keluar dari ruangan pakaian yang biasa digunakan untuk menyimpan seluruh gaun milik wanita-wanita penghibur di rumah itu.
Dorothy menyibak rambut pirangnya. “Aku baru saja selesai menemani pria bangsawan sejak semalam. Aku bahkan tidak tidur sama sekali.” Katanya nakal.
Wajah Annie merona. Dorothy sangat hapal, bahkan meski Annie tampak keras dan tegas dari luar, ia sebenarnya adalah seorang wanita yang pemalu. Dia lebih dulu bekerja di sini sebelum Dorothy datang, dan sejauh yang Dorothy ingat, hanya ia saja yang bisa berbicara secara kasual dengannya. Fakta yang semua orang tahu bahwa Annie bermusuhan dengan Nell Gwyn, sisanya Annie hanya dikenal sebagai wanita keras dan menyebalkan.
“K-Kalau begitu apa aku perlu mengabari Tuan bahwa kau lelah agar hari ini tidak perlu menemani pelanggan?”
“Ide bagus. Aku ingin sekali beristirahat hari ini. Bagaimana denganmu? Apakah semalam lancar?”
Annie mengangguk. “Hanya menemani minum hingga mabuk.”
Dorothy merangkul bahu Annie. “Hee…. Enak sekali. Jika bisa, aku ingin hanya menemani mereka minum atau mendengarkan ocehan mereka saja, agar aku tidak perlu mengangkangkan kakiku di hadapan pelanggan-pelanggan itu.
Annie menepuk pipi Dorothy. “Apa yang kau harapkan dari pekerja di tempat seperti ini? Sejak kau menginjakkan kaki kemari, berarti kau sudah siap untuk menjual tubuhmu.”
Dorothy tertegun sejenak, lalu kemudian tertawa. “Benar! benar! yang tadi itu hanya pikiran sekilas kok. Okay, kalau begitu aku akan istirahat. Terima kasih atas izinnya.”
“Tidak masalah.”
Dorothy menatap Annie hingga wanita itu menghilang di balik pintu. Ia kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan segala sesuatu agar tidak ada yang menyadari bahwa ia tidak sedang beristirahat di kamarnya, melainkan memanfaatkan alasan itu untuk keluar dari rumah hiburan. Dorothy seharusnya mendapatkan informasi lanjutan mengenai siapa yang memaksa Nell Gwyn menjadi tumbal wadah kontrak iblis itu, tetapi hingga hari ini ia sama sekali tidak menemukan titik terang dan ia tidak tahan menyimpan informasi itu dan ingin segera menyampaikannya. Jika beruntung, ia bisa bebas dari iblis itu dan kembali melanjutkan kehidupannya tanpa perintah siapa pun.
Dorothy menepuk dahinya. “Aku benar-benar bodoh, memangnya keman aku bisa menemui iblis itu?” pikirnya.
Tapi toh dia tidak berhenti dan tetap melanjutkan rencananya untuk menemui iblis pelayan itu. Ia harap, kali ini keberuntungan tengah berpihak kepadanya.
Dorothy keluar melewati pintu belakang. Ia mengenakan kain hitam sebagai tudung untuk menyamarkan dirinya. Meski pagi masih tampa gelap dan mentari belum benar-benar menampakkan diri, rumah hiburan di distrik lampu merah Westminster tidak pernah sepi. Bisa dibilang, di waktu apapun distrik itu tidak akan pernah sepi. Kondisi yang sangat menguntungkan karena asalkan bisa bertingkah dengan wajar, tidak akan ada yang menyadari penyamaran di area itu.
Dorothy melewati beberapa tukang kebersihan yang dipekerjakan Tuannya dengan susah payah. Berkali-kali ia harus menempelkan dirinya sendiri di antara dinding-dinding bangunan hingga bisa benar-benar keluar dari area rumah hiburan tempatnya bekerja. Lelehan keringat turun di pelipisnya, Dorothy mengusapnya dengan kasar. Jantungnya terasa berdetak dua kali lebih cepat, membuatnya begitu lelah seketika. Ia bahkan belum menyentuh makanan sama sekali sejak semalam.
Dorothy tidak memiliki tujuan pasti, dan ia terus berjalan hingga dirinya sampai pada perbatasan distrik. Ia berdiri, menoleh ke sana dan kemari seperti orang yang kehilangan arah.
“Aku benar-benar bodoh.” Gumamnya kepada dirinya sendiri. ”Iblis itu bahkan sama sekali tidak mencariku, dan aku malah menyusahkan diriku sendiri.”
Dorothy melepaskan kain yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya. Segera ia berbalik, hendak kembali ke rumah hiburan sebelum sebuah telapak tangan dengan kuku-kuku tajam mencengkram pergelangan tangannya kuat-kuat. Hanya dengan gerakan itu, serangan rasa ngeri begitu cepat merambat ke seluruh tubunya, membuat hawa dingin tiba-tiba terasa menusuk di tubuhnya.
Dorothy menoleh dengan patah-patah. “Kau—“
-----