Ramona membeku dengan kedua bibir terbuka. Gilbert menatapnya, tajam dan menusuk. Hanya beberapa saat lalu suasana di antara mereka cukup menghangat dan membawa kenangan indah masa kecil, dan satu kalimat dari pertanyaan Gilbert spontan membalik suasana indah itu menjadi tegang dan tidak nyaman.
“Ap—“ Ramona tertawa hambar. “Apa maksud pertanyaanmu, Gilbert?”
“Maksudku, mengapa kau masuk ke ruangan itu tanpa izinku?”
Ramona menggeleng, masih berusaha mempertahankan tawa hambarnya seolah ia berharap bahwa Gilbert sedang bercanda di hadapannya. “Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu.”
“Aku tahu kau perempuan cerdas yang tidak mungkin bingung dengan pertanyaan sederhanaku.”
Ramona menghentikan tawanya. Gilbert sangat jelas melihat ada raut panik di wajah perempuan itu. Kulitnya yang dipoles perona tidak bisa menyembunyikan warna pucatnya. “Aku tidak mengerti.”
“Kau hanya bertingkah seolah kau tidak mengerti.”
Ramona berdiri, menampilkan raut marah. “Jika kau memang ingin memutuskan pertunanganmu denganku, katakan saja! Tidak perlu membuat alasan lain seolah-olah aku yang bersalah.”
“Dan jika memang kau tidak melakukannya, kau tidak akan bereaksi semarah ini. Aku mengenalmu sejak kecil, Ramona. Kau pikir sudah berapa lama aku beradaptasi denganmu? Aku bisa melihatnya, kau bukan perempuan yang pandai untuk berbohong.”
Gilbert secara tidak sadar memujinya karena itu adalah kebenaran. Ramona adalah gadis yang jujur, bahkan hingga sekarang Gilbert masih berpikir bahwa apa yang dilakukan Ramona bukan dari kemauannya sendiri. alasannya tidak langsung menemui Ramona ketika ia kehilangan beberapa data miliknya, tak lain karena Gilbert masih berusaha menolak apa yang terjadi. Dari sekian banyak orang luar yang ia kenal, hanya Ramona yang secara otomatis ia percayai. Tapi sial, sepertinya memang Gilbert ditakdirkan untuk hidup sendirian. Sayang sekali, Gilbert sudah kehilangan belas kasihan di dalam hatinya, dan kesalahan seperti apapun, akan tetap menjadi kesalahan. Bahkan meski Ramona yang melakukannya.
“A-Aku tidak masuk ke ruangan itu. Mana mungkin aku berani.”
Gilbert tersenyum. “Mungkin, karena aku tidak tahu faktor apa yang membuatmu nekat memasuki ruang bawah tanah kediama Grey bahkan meski kau takut.”
“Gilbert!”
“Selain itu, kau bahkan mencuri dokumen milikku di ruangan dokter Albert. Mengejurkan sekali, Ramona. Sejak kecil, aku tidak pernah berpikir kau memiliki nyali sebesar itu. Mencuri di kediaman tunanganmu huh?”
Wajah Ramona merah padam, campuran antara marah dan emosi lain yang campur aduk. Selama bertahun-tahun, hanya ekspresi bahagia yang ditampilkan Ramona kepadanya. Ada saat-saat di mana ia menangis karena ketakutannya pada hal-hal tertentu saat mereka bermain bersama. Tetapi, sekali pun Gilbert belum pernah melihat Ramona dalam raut marah.
“Kau pikir aku hanya wanita lemah yang penakut huh? Yang hanya berjalan mengekorimu kemana saja, yang tidak memiliki kemampuan apapun dan hanya akan menangis untuk hal-hal sepele? Aku tidak seperti itu, Gilbert!”
Gilbert menaikkan sebelah alisnya. “Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu.”
“Bohong! Sejak dulu kau selalu menganggapku sebagai wanita lemah. Benar, seorang wanita memang harus lemah lembut, harus tampak murni, dan seindah bunga. Wanita harus menunjukkan kesan keibuannya, tidak boleh kasar apalagi mengungguli lelaki. Aku tahu! Dan kau sebenarnya tidak suka dengan wanita seperti itu karena sosok seperti itu hanya akan merepotkanmu di masa depan. Satu-satunya alasanmu menerima pertunangan kita karena kau menghormati orang tuamu, dan aku adalah satu-satunya wanita yang cukup akrab denganmu. Kau tidak memiliki alasan lain seperti rasa suka. Kau tidak, Gilbert!”
Gilbert terdiam. Setiap kalimat yang dikatakan Ramona tepat menusuk di hatinya, menghantarkan rasa ngilu imajiner yang hanya dirasakan oleh Gilbert sendiri. Ia tidak pernah berpikir tentang hal itu. Ia juga tidak pernah menggolongkan Ramona sebagai wanita lemah atau semacamnya. Gilbert sama sekali tidak pernah memikirkan alasan bertunangan dengan Ramona, karena Gilbert hanya merasa itulah yang paling tepat.
“Jadi ini suara hatimu yang kau tahan bertahun-tahun kah?”
“Ap—“
Gilbert terbahak kencang, ia sampai memegangi perutnya. Ramona menganga melihat hal itu. selama bertahun-tahun ia mengenal Gilbert dan bahkan menjadi tunangannya, ia tidak pernah melihat Gilbert terbahak kencang. Ia selalu tampak kalem. Sekarang, ia terbahak begitu kecang, hingga air mata mengintip di ujung kelopak matanya. Ramona tidak merasa ada hal yang lucu. Bahkan, perbincangan mereka lebih kepada hal yang serius. Tawa Gilbert hanya membawa hawa ngeri di sekitar Ramona.
Susah payah Gilbert berusaha menghentikan tawanya. Ia mengusap setitik air mata di ujung kelopak mata, sembari memaksa bernapas dengan normal. Ia menatap Ramona, dengan sorot mata tajamnya yang biasa. “Aku tidak tahu jika kisah kita pada akhirnya menjadi selucu ini. Maksudku, jika kau memang mencurinya, katakan saja kenapa kau mencurinya. Tapi tidak, kau berbelit kemana-mana dan mengungkit hal-hal yang sebenarnya tidak ada kaitan sama sekali dengan apa yang sebenarnya sedang kubicarakan.”
“Apa maksudmu?”
Gilbert melangkah, mendekat kepada Ramona tepat di hadapannya. “Katakan Ramona, kenapa kau mencuri dokumen di ruang bawah tanah?”
“Aku tidak mencurinya!”
“Jangan berbohong. Sudah kukatakan kau tidak pandai berbohong. Ayahmu yang menyuruh untuk mencurinya? Atau memang kau menginginkannya sendiri? Tapi rasanya tidak mungkin jika pencurian itu atas dasar keinginanmu sendiri karena aku tahu kau tidak membutuhkannya.”
Ramona menggigit bibirnya, air mata sudah berlinangan, membasahi pipinya. “Aku tidak.” Ujarnya parau.
Gilbert mencengkram kedua bahu Ramona, memaksa gadis yang tengah menangis sembari menunduk itu untuk menatapnya. “Sampai kapan kau akan menyembunyikannya? Katakan saja, apa sebenarnya tujuanmu!” Tanpa sadar, Gilbert sedikit meninggikan suaranya.
“Aku tidak melakukannya!” Ramona melepaskan dirinya secara paksa. Ia mundur beberapa langkah dari Gilbert, menatap Gilbert seolah pemuda itu adalah penjahat berbahaya.
Gilbert menghela napas. “Baiklah jika memang itu yang kau mau. Ingatlah ini Ramona, jika kau berpikir aku adalah Grey yang sama seperti ayahku yang lemah lembut itu, maka kau salah besar. Kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan padamu, termasuk kepada ayahmu.
“K-Kau mengancamku?”
“Tidak.” Gilbert menggeleng. “Kau yang membuat keputusan. Sejak awal, kau yang bersalah karena mencuri sesuatu yang bukan hakmu. Pikirkan itu baik-baik, dan juga pertunangan kita selesai hari ini.” Gilbert berbalik, melangkah menjauh.
“Ap—Gilbert! Tidak!” Ramona mengejar Gilbert, menahan pergelangan tangan pemuda itu. Air mata yang sebelumnya mengering bertambah dengan air mata baru, lebih deras dan tampak menyedihkan. “Kau tidak bisa membatalkan pertunangan kita secara sepihak! Tidak!”
Gilbert menaikkan sebelah alisnya kemudian terkekeh. “Kenapa? Kau tidak kuat menanggung malu jika beritanya tersebar?” Gilbert melepaskan genggaman tangan Ramona di pergelangan tangannya. “Aku tidak mau mempunyai calon istri pencuri. Sekali pun kau tidak mengaku, aku tahu semua yang kau lakukan.”
Ramona menangis sejadi-jadinya, melupakan tata krama dan berteriak penuh frustrasi. Ia jatuh terduduk membiarkan gaunnya kotor dan wajahnya berantakan. Gilbert menatap miris pada pemandangan itu. Di masa lalu, Gilbert akan menarik telapak tangan Ramona dan memeluknya hingga gadis itu tenang. Kebiasaan itu terus berlaku selama bertahun-tahun. Lalu, mereka sampai pada titik ini, di mana Gilbert tidak lagi bisa mengulurkan tangannya.
“Selamat tinggal, Ramona.”
-----