Past Memories (4)

1764 Words
Leander memandangi bangunan mansion besar dan megah yang sudah lama ia tinggalkan. Taman bunga yang dulu selalu terawat dan cantik telah bercampur dengan rumput-rumput liar. Beberapa dinding bagian bawah mansion berlumut, juga sarang laba-laba yang menggantung di sudut-sudut bangunan. Dilihat dari sisi mana pun, mansion Swinford lebih tampak seperti bangunan tua berhantu. Plang nama Swinford di gerbang depan yang mengarah ke jalan bahkan sudah pecah sebagian. Jika dilihat dari kondisi itu, sepertinya tidak ada pihak Kerajaan yang masuk atau memeriksa mansion Swinford. Tentu, hal itu harus dipastikan dengan memeriksa bagian dalam juga. Leander masih menyimpan kunci pintu utama mansion. Tentu saja ia tidak membawanya selama ia kabur ke hutan dahulu. Ia menyimpannya pada salah satu pot bunga besar yang ada di dekat pintu utama. Pot itu tidak bisa dipindahkan karena memang dibuat untuk selalu berada di sana. Leander menguburnya di dalam tanah yang berisi bunga. Bunga itu sekarang bahkan sudah kering dan hanya tertinggal batangnya saja yang sudah mengerut. Segera Leander menggali tanah yang telah mengeras itu untuk mencari kunci yang ia kubur tujuh belas tahun silam. “Ah! Ada.” Serunya. Helaan napas lega tercipta. Buru-buru ia memasukkan kunci itu dan membuka pintu ganda mansion Swinford. Bau apek dan berdebu langsung menyerang sesaat setelah Leander mendorong pintu ganda besar mansion-nya. Sionn yang sepanjang hidupnya sama sekali tidak pernah keluar dari area hutan cukup banyak terkejut ketika mendatangi mansion Swinford. Siapa sangka ia yang lahir di hutan ternyata keturunan seorang bangsawan ternama di masa lalu. Sayang sekali jalan hidup keluarga ayahnya begitu buruk. “Ayah selalu tinggal di tempat yang besar ini huh?” Tanya Sionn sembari menatap sekelilingnya. Leander melirik Sionn. “Hm. Kami punya ruang bawah tanah sebesar mansion ini. Hanya kepala keluarga yang memiliki akses ke sana. Aku seharusnya belum memiliki akses, tetapi karena permasalahan waktu itu, dan aku adalah anak pertama, aku sudah memiliki aksesnya sejak dulu. Tapi aku belum pernah memasukinya.” Sionn memperhatian sekitarnya. Seluruh perabotan yang ada di mansion itu masih tertata sebagaimana aslinya. Tragedi keluarga ayahnya sama sekali tidak bisa diprediksi, dan tentu saja mansion mereka pada akhirnya ditinggalkan begitu saja. “Sebenarnya, mengapa ayah disebut sebagai iblis?” Leander terdiam. Ia tidak ingin mengingat-ingat apa yang terjadi di masa lalu. Dan siapa sangka orang-orang yang ia lupakan, juga kejadian yang berusaha ia hapus tetap saja kembali dan bahkan kembali menghancurkan keluarganya. Leander menghela napas, menggandeng pergelangan tangan Sionn dan membawanya duduk ke salah satu kursi di ruang tamu. “Ayah?” “Ah, maaf.” Leander menghirup udara dalam-dalam kemudian melepaskannya dengan keras. “Padahal kukira aku tidak perlu mengungkit kejadiannya.” Kekehnya getir. “Aku harus tahu mengapa mereka mengejar ayah sampai lewat lima belas tahun. Ayah bilang ayah juga tidak melakukan apapun usai bersama ibu. Lalu kenapa mereka masih ingin membunuh ayah. Pasti ada alasan mengapa mereka segencar itu untuk melenyapkan seluruh keluarga ayah, juga mengapa mereka menyebutku anak dari seorang iblis.” “Ipsissmus. Aku tidak tahu kapan mulanya.” Leander menarik kain yang terikat di pergelangan tangan kanannya. Sebuah gambar berbentuk seperti tato kupu-kupu berwarna abu-abu kusam tampak sangat jelas di sana. “Awalnya karena simbol yang tiba-tiba muncul di pergelangan tangan kami.” “Apa itu?” Leander menggaruk tengkuknya. “Ipsissmus bisa dikatakan sebagai peramal, mungkin. “ Ia mengangkat bahunya tak yakin. “Jika bersentuhan dengan seseorang, lalu kami menghendakinya, kami bisa masuk ke dalam pikiran mereka dan melihat ingatan mereka. Saat menyentuh benda-benda, kami bisa tahu asal muasalnya, dan apa yang terjadi sebelumnya. Termasuk, mimpi-mimpi tentang masa depan yang mengerikan.” Sionn memeriksa pergelangan tangannya sendiri. “Aku tidak punya. Lalu, kenapa orang-orang dengan kemampuan hebat seperti itu malah dikejar dan hendak dibunuh?” “Kemampuan itu tidak ada hebatnya, Sionn. Aku bahkan harus membiasakan diriku karena terkadang ketika tidak sengaja bersentuhan dengan seseorang atau benda-benda asing di sekitarku, aku bisa melihat apa yang terjadi padahal aku tidak mau. Ingatan seseorang, termasuk apa yang terjadi di masa lalu dengan saksi bisu benda-benda itu tidak selamanya nyaman untuk dilihat, Sionn. Ditambah lagi dengan mimpi-mimpi mengerikan yang berulang setiap malam.” Leander mengusap wajahnya. Berusaha mengingat-ingat masa lalunya yang kelam tidak baik untuknya, tetapi ia harus melakukan itu agar semuanya jelas untuk Sionn. “Lalu, mengapa mereka mengejar keluarga ayah jika masalahnya hanya karena ayah bisa melihat hal-hal itu?” “Yang memiliki tanda ini di pergelangan tangan hanya aku, ayahku, dan adik laki-lakiku, Leopold. Ibu, dan dua adik perempuanku tidak memilikinya. Hari itu, adik laki-lakiku masih berumur sepuluh tahun. Ia sering sekali berteriak-teriak ketika tidak sengaja bersentuhan dengan seseorang, juga tidur sambil berjalan. Saat sedang ada acara jamuan makan malam di Istana untuk ulang tahun Puteri Charlotte, tentu saja Swinford menjadi tamu kehormatan, lalu adikku yang tengah mencium punggung tangan puteri Charlotte malah melihat masa depannya. Semuanya menatap adikku dengan pandangan marah karena posisinya sedang di tengah pesta dan tentu saja apa yang dikatakan adikku merusak suasana. Ibu langsung membawa adikku ke kamar tamu yang disediakan. Kupikir hal itu sudah selesai, karena orang-orang kembali menikmati pesta. Lalu….” Kedua bola mata Leander bergerak-gerak gelisah. Sionn menggenggam telapak tangan ayahnya dan berusaha menenangkannya. “Ayah…. Apa yang dikatakan paman Leopold kepada Puteri Charlotte?” Leander menggigit bibir bawahnya ragu. “Itu um…. Leo mengatakan jika pernikahan Puteri Charlotte tidak akan mendapatkan akhir yang bahagia, ia akan mati di tangan suaminya sendiri. Harusnya hal itu menjadi peringatan untuk Puteri Charlotte, tetapi karena mereka tidak mengerti apa yang dilihat para ipsissmus, yang dikatakn Leo dianggap sebagai hinaan. Tentu saja, keluargaku dicari setelah apa yang dikatakan Leo benar-benar terbukti.” Sionn menganga. “Benar-benar terjadi? persis seperti apa yang dikatakan paman Leopold?” Leander mengangguk. “Hanya sehari usai hari pernikahan besar itu, puteri Charlotte ditemukan tewas dengan tubuh termutilasi di kamar pengantinnya. Suaminya menghilang entah kemana. Dan seolah tidak ada waktu untuk bersedih, pihak Kerajaan malah sibuk menuduh keluarga Swinford sebagai seorang penyihir jahat.” “Ta-Tapi bisa saja yang dikatakan paman Leopold hanya kebetulan ‘kan?” Leander tersenyum, mengusap surai pirang Sionn dengan lembut. “Di awal mereka menganggap begitu. Tapi kemudian, adikku tidak sengaja mengatakannya lagi ketika tidak sengaja menyentuh lengan Duke Henrie. Duke Henrie akan mati tertusuk tujuh tombak, katanya. Bulan berikutnya, Duke Henrie benar-benar kembali dengan kondisi seperti itu. Leopold tidak salah, tentu saja. Dia hanyalah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.” “Tapi mengapa tanda itu bisa muncul?” Leander mengangkat bahu. “Tanda ini tidak muncul sejak lahir. Ayah mendapatkannya saat berumur dua puluh tahun, aku mendapatkannya saat berumur tiga belas, dan Leopold mendapatkannya saat berumur delapan tahun. Apa yang bisa diharapkan dari anak kecil seperti Leopold, dia sudah cukup tersiksa dengan penglihatan-penglihatan yang selalu mengganggunya. Awalnya kami tidak mengerti tanda apa itu sebenarnya, lalu ayahku menjelaskan segalanya dan kakekku juga memiliki tanda yang sama. Kupikir, mungkin tanda ini bisa diturunkan?” Sionn mengernyit. “Lalu mengapa aku tidak punya?” “Aku malah bersyukur saat tahu kau tidak memilikinya. Percayalah Sionn, tanda itu hanya membawa petaka dalam hidupmu. Lihat, kau bahkan tidak memiliki tanda itu tetapi kau terseret dalam masalah ini karena ayahmu memilikinya.” “Lalu, apa ayah juga tahu kalau ibu akan meninggal dengan cara tragis seperti itu?” Leander memalingkan wajahnya, bayangan wajah tersenyum Eda yang manis berganti dengan ekspresi terakhirnya yang berlumuran darah. Seseorang yang ia cintai, pelipur laranya di saat ia tidak lagi memiliki tempat pulang. Sekarang, wanita penyelamatnya itu benar-benar telah tiada. “Ayah!” Sionn mengguncangkan tubuh Leander. “Aku melihatnya!” seru Leander keras. Ia langsung menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu. “Aku selalu melihatnya, Sionn. Selama bertahun-tahun aku terus melihat bayangan itu. Aku berusaha untuk mengabaikannya, dan berpikir bahwa hal itu hanyalah sisa paranoia masa laluku. Tapi, bayangan itu terus saja muncul dan membuatku ketakutan. Kenapa aku harus melihat semua masa depan di hadapanku, mengapa yang kulihat hanya hal-hal mengerikan. Aku sungguh tidak mengerti.” Sionn melepaskan cengkramannya, mengganti posisinya menjadi melingkari leher ayahnya. “Maafkan aku, ayah. Aku tidak tahu jika kau menanggung hal berat itu selama ini. A-Aku benar-benar minta maaf, ayah.” “Kau tidak tahu apa-apa, Sionn. Kau bahkan jauh menderita karena harus terseret dalam masalah ini. Aku tidak pernah memberikan kehidupan yang damai untuk orang-orang di sekitarku. Ingatlah pesanku, Sionn. Kau adalah Sionn Grey, kau harus hidup dengan bergantung kepada dirimu sendiri. Jangan menaruh kepercayaan kepada siapa pun, bahkan kepadaku meski aku adalah ayahmu sendiri. Kau harus lebih licik untuk melawan orang licik, kau harus berdiri dengan kakimu sendiri dan melawan orang-orang yang menusukmu. Jangan pernah percaya kepada siapa pun, karena mereka hanya akan menusukmu ketika kau lengah. Sampai nanti kau memiliki keturunanmu sendiri, ingatkan mereka agar mereka tidak pernah lalai.” Sionn memasang wajah serius kemudian mengangguk mantap. “Aku, Sionn Grey akan selalu berdiri dengan kakiku sendiri.” Leander berusaha tersenyum, menghapus sisa air mata di pipinya. Ia selalu mengikat pergelangan tangannya dengan kain, berharap tanda itu tidak pernah lagi tampak untuknya mau pun untuk orang-orang di sekitarnya. Leander juga berpikir jika menutup tanda itu mungkin bisa menutup penglihatan di pikirannya. Kenyataannya, hal itu sama sekali tidak terjadi. Ia tetap mendapatkan penglihatan yang mengerikan, ia tetap masuk ke dalam ingatan orang lain, termasuk melihat kejadian-kejadian mengerikan dari saksi bisu barang-barang yang tidak sengaja ia sentuh. Leander mungkin bisa terbiasa karena telah bertahun-tahun melihat hal-hal seperti itu, tapi rasa terbiasanya langsung sirna saat ia melihat gambaran Eda yang meninggal dengan cara begitu mengenaskan. Setiap malam Leander terus melihat gambaran mengerikan itu, dan setiap malam pula ia berdoa bahwa apa yang dilihatnya bukanlah ramalan. Namun sepertinya, status ipsissmusnya bukanlah nama belaka. Melihat Eda terbaring kaku dengan kondisi yang mengenaskan persis seperti apa yang selalu ia mimpikan adalah hal yang langsung mengahancurkannya. Terlebih, dengan fakta bahwa yang membunuh Eda adalah orang-orang yang mengincarnya. Eda, wanita yang sangat ia cintai meninggal karena kesalahannya. Ia berjanji melindungi Eda, ia berjanji melindungi keluarganya, pada akhirnya semua janji itu hanya sekadar kata-kata belaka, sama sekali tidak ada realisasinya. “Ayah?” “Ah, iya?” “Kemampuan yang ayah miliki bukanlah kutukan. Satu-satunya yang menjadi masalah adalah orang-orang di istana, yang bukannya berterima kasih kepada keluarga ayah tetapi malah menggantung mereka semua dengan keji. Tidak hanya itu, mereka bahkan berani menyakiti ibuku.” Sionn mengepalkan tangannya, aura gelap menguar di sekitarnya. Leander menatap puteranya dalam diam. Ia tidak bisa untuk tidak setuju dengan apa yang dikatakan olehnya. Kemampuan itu justru memberikan peringatan kepada mereka, tetapi keluarga kerajaan yang penakut dan egois itu malah menuduhnya sebagai penyihir jahat. Mereka semua harus membayar seluruh penderitaan keluarganya, dan mengingat Grey sebagai keluarga baru yang layak untuk dihormati. -----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD