Leander dan Sionn mengira bahwa pihak Kerajaan masih belum tahu bahwa mereka melarikan diri dan kembali ke mansion lama Swinford. Sesaat setelah mereka menguburkan Eda, Leander dan Sionn tidak banyak berpikir panjang dan langsung menuju ke mansion Swinford untuk memulai segalanya. Untuk ipsissmus seperti Leander, mendapatkan penglihatan buruk sepanjang hidupnya bukanlah hal yang baru. Namun berkali-kali ia bersentuhan dengan anaknya, sekali pun ia tidak bisa melihat apa yang akan terjadi dengannya. Penglihatan yang ia harapkan dan tidak harapkan di saat bersamaan, nyatanya sama sekali tidak bisa ia lihat. Bahkan, ketika Leander mencoba memasuki kenangan Sionn yang ia yakini hanya berisi kehidupannya bersama Eda dan Leander sendiri, hanya kegelapan yang ia terima, tidak ada apapun, tidak ada petunjuk, semua jelas-jelas tidak bisa ia lihat. Kemungkinan besar, ada fakta lain mengenai ipsissmus yang tidak Leander ketahui. Dan karena jati diri Leander sudah ketahuan oleh dua orang yang ditugaskan Raja untuk membunuh istrinya, mereka tidak berlama-lama untuk menunggu dan langsung menuju mansion Swinford dengan membawa beberapa pembunuh terbaik mereka.
Sionn mengintip dari balik celah jendela besar ketika mendengar suara banyak langkah kaki di depan mansion Swinford. Mereka hanya berdua dan baru saja hendak memikirkan apa yang akan mereka lakukan demi menyelamatkan diri dan membalas dendam kematian Eda. Nyatanya, pihak Kerajaan jauh lebih cepat dan tidak akan membiarkan mereka lolos.
“Ayah, mereka datang membawa senjata lengkap.”
Leander menggigiti kukunya, pikirannya benar-benar buntu. Jujur saja, hidup sebagai bangsawan kelas atas membuatnya selalu hidup dalam kedamaian, ia diajari berkuda dan berlatih pedang, tetapi latihan untuk bangsawan bukan benar-benar ditujukan untuk peperangan, dan selama belasan tahun ia melarikan diri di hutan, yang biasa ia lakukan adalah berburu hewan liar untuk makanannya dan keluarganya. Bagaimana bisa hal itu disamakan dengan peperangan?
“Jika mereka benar-benar memaksa masuk kemari, kau harus bersembunyi di dalam ruang bawah tanah yang kukatakan. Tidak ada yang tahu ruangan itu termasuk orang-orang di Istana. Apapun yang terjadi, kau harus selamat, Sionn.” Leander menepuk bahu Sionn dan menarik pedang panjang yang digantung di dinding. Ada banyak senjata yang dijadikan hiasan di mansion Swinford, yang kebanyakan hanya dikira imitasi belaka namun sebenarnya adalah senjata asli. Agaknya leluhur Swinford memiliki ketertarikan tersendiri dengan senjata, dan entah mungkin untuk keadaan darurat dimana mereka hanya tinggal menarik senjata-senjata yang terpanjang nyaris di seluruh dinding mansion.
“Tapi bagaimana dengan ayah? Aku tidak mau menyelamatkan diriku sendiri dan meninggalkan ayah. Apa yang harus kulakukan jika aku sendirian?”
Leander memandang sedih kepada puteranya. Ia dan Eda membesarkan Sionn dengan penuh kasih meski mereka hidup dalam kondisi serupa rakyat jeláta. Karena hidup di hutan lebih mudah, Sionn tidak pernah merasa kekurangan, atau setidaknya itulah yang Leander dan Eda pahami. Sionn tidak pernah berlatih bela diri yang memfokuskan pada lawan manusia, yang ia lakukan hanya berlatih melindungi diri dari hewan buas karena memang seperti itulah kehidupan mereka. Leander juga tidak ingin berpisah dengan Sionn, hasratnya untuk menghancurkan Kerajaan dan juga isinya begitu besar, hingga ia tidak mau melihat puteranya berjuang sendirian.
Leander tidak mendengarkan rengekan Sionn yang terus berusaha mengikutinya. Keadaan di luar mansion Swinford benar-benar sudah ramai dengan para pengawal Kerajaan yang mengejar mereka. Leander tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi mereka. Sionn harus selamat dan menjadi seorang Grey. Ia akan menjadi sosok baru dan tanda kebangkitan Leander dan Eda Swinford.
Leander menarik pergelangan tangan Sionn, memaksanya ikut berlari menuju ke ruang bawah tanah mansion Swinford yang amat rahasia. Bagian itu benar-benar tidak tampak hanya dalam kasat mata. Bahkan Sionn terkejut ketika melihat area itu karena sejak mereka sampai ke mansion Swinford pun, Sionn berkali-kali melewati area itu dan tidak melihat jalur masuk ke ruang bawah tanah.
Segera Leander mendorong Sionn masuk ke dalam ruang bawah tanah hingga puteranya itu nyaris jatuh dari anak tangga yang dipijaknya. Belum sempat Sionn mempertahankan keseimbangannya, Leander langsung menutup akses pintu keluar dari ruang bawah tanah tersebut dari luar. Pintu kayu yang memisahkan mereka dari dua tempat berbeda tersebut ditahan dan dikunci dari luar. Sebenarnya, Leander pun khawatir mengenai puteranya. Ia juga tidak yakin bahwa dirinya akan selamat ketika keluar dan menemui ratusan tentara Kerajaan yang siap membunuhnya kapan saja. Jika Leander tidak selamat, ia tidak tahu apakah Sionn bisa mengeluarkan dirinya dari ruangan itu atau tidak. Hanya pemegang kunci yang bisa keluar masuk ruang bawah tanah tersebut, dan Leander membawa kunci itu bersamanya hanya agar Sionn tidak ikut terlibat dalam peperangan tidak seimbang ini. Sionn pasti akan langsung tumbang jika ia menampakkan diri di hadapan mereka. Siapa pun yang memiliki darah Swinford, bahkan meski bukan Ipsissimus. Ketakutan pihak Kerajaan kepada mereka yang melihat apa yang tidak terlihat menjadi paranoia berlebihan yang mengerikan.
Leander siap untuk mati jika ia memang harus, namun ia harus membuat Sionn aman dan membangkitkan Grey sebagai bangsawan baru yang dihormati sepanjang hidupnya. Kerajaan harus membayar semua yang telah mereka lakukan kepada Swinford. Leander telah menghapus nama itu, dan Grey akan menjadi satu-satunya bangsawan yang memiliki kekuasaan bahkan sebebas Raja.
"Ayah! Ayah! Buka pintunya!" Teriak Sionn dari balik pintu kayu. Suaranya teredam dengan sangat baik. Hanya dalam jarak beberapa meter saja, teriakan Sionn tidak akan ada yang mendengarnya.
Leander mengusap pintu kayu yang memisahkannya dengan Sionn. "Kau akan hidup Sionn. Sampai hari di mana Kerajaan membayar semua dosanya kepada keluarga kita, kau akan terus hidup dengan keturunanmu sampai hari itu tiba."
Leander membuang napas kasar. Ia menarik pedang peninggalan keluarganya yang digantung di dekat kamar utama orang tuanya. Sarung pedang itu tertutup debu dan sarang laba-laba. Ketika Leander masih dalam pelarian, ia sama sekali tidak berpikir untuk membawa benda itu ke hutan. Hingga bertahun-tahun kemudian dan ia kembali, pedang itu masih berada di tempat yang sama, benar-benar tidak berubah sedikit pun. Leander menarik pedang itu, dan bilah tajamnya sama sekali tak berkurang meski bertahun-tahun ditinggalkan. Ia mengusap pedang mengkilap itu, menatap pantulan wajahnya sendiri dari bilah pedang tersebut. Rasanya sudah lama ia tidak melihat wajahnya sendiri. Selama hidup di hutan, menjaga penampilan bukan lagi prioritas untuknya. Sekali kakinya keluar dari mansion Swinford, maka lepas pula gelar bangsawannya.
Leander sudah menahan bertahun-tahun dendamnya di dalam hati. Sekarang ini pun, jika orang lain bisa melihat bagaimana rupa hatinya, mungkin bagian tersebut tak lagi tampak normal sebagaimana hati manusia pada umumnya, namun menghitam dan pekat sebagai gambaran dendamnya yang begitu besar. Sampai hari di mana Kerajaan membayar kesalahan mereka, Leander tidak akan pernah lepas dari dunia terkutuk yang telah membunuh keluarganya.
Leander keluar dengan kepercayaan diri tinggi namun juga siap mati. Ia menatap penglima perang Kerajaan yang amat dikenalnya. Pria itu berteman baik dengannya sebelum seluruh tragedi di Kerajaan terjadi. Semuanya menghormati Leander sebelum mereka semua menganggap Ipsissimus penyihir. Saat ini, setelah bertahun-tahun Leander tidak bertemu dengan kenalan-kenalannya di Kerajaan yang dulu sangat memujanya, untuk pertama kalinya Leander menatap mereka hanya dengan pandangan kebencian.
"Kita bertemu lagi, pényihir!"
Leander menarik ujung bibirnya mendengar hal itu. Kedua bola matanya bergerak, menatap orang-orang yang berkumpul di halaman mansion Swinford. Leander tidak bisa menghitung dengan pasti berapa jumlah mereka, tetapi melihat begitu banyaknya tentara yang berbaris rapi di belakang sang panglima, Leander bisa melihat betapa inginnya mereka membunuh Leander.
Hingga saat ini, Leander belum pernah mengendalikan kemampuan Ipsissimus miliknya. Setiap bayangan yang ia lihat sepanjang hidupnya, selalu muncul tanpa bisa ia kontrol. Jujur saja, Leander ingin sekali menyentuh si panglima di depan sana dan melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang akan terjadi dengannya setelah p*********n besar-besaran ini. Yang mereka incar hanya dua orang; Leander Swinford dan Sionn Grey, tetapi mereka membawa pasukan seolah hendak menginvasi wilayah lawan. Sebegitu takutnya kah mereka dengan seorang Ipsissimus hingga membawa kepanikan bertahun-tahun?
"Tangkap penyihir itu!" Seru sang panglima keras.
Suara sorakan menggema kuat. Leander bahkan merasa tanah tempatnya berpijak bergetar ketika gerombolan tentara Kerajaan itu berlari mengerubunginya. Leander memejamkan matanya, telapak tangannya menggenggam erat pegangan pedang dan ia langsung mengayunkan benda itu secepat yang pernah ia pelajari. Satu per satu tentara tumbang. Mereka yang memakai tombak tidak bisa bergerak sebebas Leander. Masing-masing dari mereka harus mempertahankan jarak untuk keselamatan mereka dan rekan mereka sendiri. Leander tidak peduli dengan apapun yang terjadi saat ini, fokusnya hanya mengayunkan pedang yang telah lama tidak ia sentuh untuk menebas para tentara itu. Suara teriakan, debuman keras, benturan dua benda tajam, dan geraman kesakitan membaur menjadi satu. Leander bahkan sudah tidak bisa mendengar dengan jelas lagi apa yang ada di sekitarnya.
Leander mungkin memiliki keistimewaan sebagai Ipsissimus. Setiap kali ia tidak sengaja bersentuhan dengan para tentara Kerajaan itu, pikirannya selalu menampilkan bayangan masa depan mereka yang beragam. Dalam konteks singkat, Leander tahu mana yang akan langsung mati dalam situasi p*********n ini di tangan Leander. Secara reflek pula Leander langsung menebas mereka. Tidak satu pun yang ia lewatkan meski tubuhnya mulai kelelahan.
Sejak awal, p*********n ini tidak seimbang sama sekali. Leander hanya sendirian dengan pedangnya, sementara para tentara itu bersama-sama dengan tombak mereka. Jika Leander tidak terlatih, mungkin tubuhnya sudah hancur berlubang-lubang berkat tusukan tombak-tombak besar tersebut. Kehidupan kerasnya di hutan selama bertahun-tahun membentuk stamina yang cukup lebih besar daripada ketika ia menjadi bangsawan. Namun meski begitu, tetap sadar setelah menumbangkan puluhan tentara Kerajaan sebenarnya adalah keberuntungan. Leander tidak tahu kapan keberuntungan itu akan berakhir, maka dari itu ia mempergunakannya sebaik mungkin.
Setengah dari tentara Kerajaan yang dibawa oleh panglima Raja tumbang dengan tubuh tersayat pedang yang dibawa Leander. Seluruhnya tak bergerak dan terkapar di halaman mansion keluarga Swinford. Wajah dan tubuh Leander bak mandi darah. Seluruh pakaiannya yang memang lusuh semakin lusuh. Leander bahkan harus beberapa kali menyeka wajahnya karena darah-darah prajurit itu m*****i wajahnya.
Leander menatap tajam ke arah panglima Kerajaan yang juga menatapnya dengan heran. Mungkin, melihat seorang pria dewasa hanya seorang diri mengalahkan puluhan prajurit berbakat adalah hal yang nyaris mustahil untuk disaksikan. Tentara yang masih bertahan mundur atas arahan sang panglima, dan ia sendiri maju meski Leander bisa dengan jelas melihat wajah tegangnya.
"Bagaimana caramu bertahan dengan semua serangan itu? Kau benar-benar penyihir." Teriak sang panglima penuh kebencian.
Leander tersenyum tipis. "Bahkan jika kujelaskan pun kau dan seluruh isi Kerajaan akan tetap memanggilku penyihir, jadi untuk apa aku menjelaskannya?"
"Bedebàh!"
Sang Panglima menggeram marah. Ia maju dengan baju zirah dan pedang panjangnya, berusaha menusuk Leander yang langsung melompat mundur untuk menghindar. Leander tidak hebat, ia mengakui hal itu. Ia hanya kebetulan rajin melatih kekuatan fisiknya di masa lalu. Kemudian kehidupan di hutan membuatnya semakin terlatih dengan kehidupan yang keras. Mungkin, bertahun-tahun hidup dalam pelarian membuatnya secara alami waspada, kemudian terlatih dalam menghindar dari musuh yang mengincarnya.
Isi pikiran Leander hanya keselamatan Sionn. Ia tidak peduli bahkan jika dirinya harus mati. Tetapi putera satu-satunya harus hidup selamanya bersama para keturunannya. Sionn akan menjadi kebangkitan untuk keluarga mereka. Sionn akan menjadi bangsawan baru yang dihormati. Kerajaan akan mengakui kehebatan Sionn Grey dan anak keturunannya dari masa ke masa. Hasrat besar di hatinya yang terlapisi dendam itu begitu besar dan berat, menekan bak batu meteor yang siap meledak ketika menyentuh atmosfer bumi.
"Leander, demi kebaikan Kerajaan, kau dan puteramu harus mati!"
Serangan bertubi-tubi diterima. Level kemampuan sang panglima jelas jauh lebih hebat dibanding seluruh tentara Kerajaan sekali pun. Leander kesulitan melawannya. Gerakannya begitu cepat dan kuat. Leander berkali-kali terlempar karena tendangan kuatnya. Tubuhnya benar-benar terasa remuk setelah ia mulai melawan sang panglima. Bagaimana caranya bertahan dalam situasi tersebut? Leander harus memastikan Sionn hidup untuk menjadi Grey yang baru. Sementara itu, sang panglima yang geram karena melihat tentaranya ambruk begitu berhasrat membunuh Leander saat itu juga.
Entah sudah berapa lama Leander berperang dengan sang panglima. Yang jelas, ia merasa tubuhnya benar-benar sakit. Napasnya mulai tak beraturan. Sang panglima tersenyum di balik helm baju zirahnya. Ia menekan pedangnya pada pedang Leander, membuatnya mundur dan terjebak di antara tubuh sang panglima dan pohon besar di mansion Swinford. Kedua tangan Leander bergetar hebat. Bunyi benturan pedang dan gesekan kuat terdengar begitu menyakitkan di telinga. Pada akhrinya, Leander mungkin tidak sekuat yang dibayangkan.
"Hyaaaaaaaa!"
Sang panglima berteriak keras, menekan jauh lebih kuat pedangnya hingga tekanan pada Pedang Leander tak dapat lagi menahan semua itu. Hanya sekian detik setelahnya, posisi Leander telah berubah jatuh terlentang di tanah dengan pedang yang terlempar cukup jauh untuk ia gapai pada posisi seperti itu.
Jantung Leander berdegup sangat cepat. Sang panglima yang berdiri menatapnya siap menusukkan pedang ke tubuh Leander. Ujung lancip pedang tampak berkilau di mata Leander. Hanya dalam jarak beberapa senti lagi benda tajam itu akan membunuhnya.
"Aku tidak boleh mati."
"Aku tidak boleh mati sebelum Kerajaan membayar dosa-dosanya."
"Aku harus tetap hidup sampai Sionn menjadi bangsawan yang dihormati."
"Kerajaan harus hidup dalam kutuan selamanya."
"Aku tidak boleh mati."
"Aku tidak boleh mati."
"Aku tidak boleh mati."
JLEB!
Kedua mata Leander membola ketika pedang sang panglima menembus perutnya. Bagian perutnya terasa sangat sakit dan perlahan mati rasa. Air mata mengumpul di kedua ujung matanya. Ia mungkin tidak mengatakan apa-apa, tetapi batinnya terus menjerit mengatakan keinginannya untuk hidup dan membalas dendam yang begitu besar. Detik-detik berikutnya, Leander merasakan dorongan kuat untuk memuntahkan darah dari mulutnya. Seluruh tubuhnya benar-benar mau mati, namun kesadaran Leander nyaris tidak berkurang sama sekali. Ia terlalu banyak berpikir, ia terlalu banyak menyuarakan dendamnya dalam hati. Di waktu berikutnya, ketika Leander merasakan kedua matanya nyaris tidak lagi kuat untuk terbuka, bayangkan hitam samar-samar melayang di hadapannya. Bagian tanda Ipsissimus yang ada di tubuhnya terasa membakar. Leander tidak tahu apa yang terjadi, tidak pula tahu siapa bayangan hitam samar itu.
Apakah dewa kematian siap menjemput Leander yang pendosa?
***