"Sekali manusia menolak takdirnya, maka tidak akan ada lagi kesempatan untuk melewati gerbang surga."
Samar-samar, Leander mendengar suara tersebut. Suara itu terdengar aneh, campuran antara suara berat laki-laki dan suara melengking perempuan. Leander seolah mendengar suara itu di dalam kepalanya sendiri. Ia tidak ingat pernah mendengar suara semacam itu, dan ia juga tidak ingat bahwa inderanya masih berfungsi dengan baik usai tusukan pedang panglima Kerajaan. Ia kira, dirinya sudah mati, namun mengapa ia masih mendengar suara tersebut?
Leander merasakan tubuhnya menjadi ringan. Berangsur-angsur, rasa sakit luar biasa yang terasa di seluruh tubuhnya menghilang. Mendadak, ia mati rasa. Leander merasakan tubuhnya seolah melayang, dan sebuah tangan dengan kuku-kuku panjang nan tajam yang terasa menyentuh kulitnya menahan Leander dalam posisi gendongan. Leander masih tidak bisa membuka matanya. Ia bertahan pada posisi terpejam namun merasakan semuanya dengan jelas.
"Apakah aku sudah mati?" Leander membatin pada dirinya sendiri.
"Kau berada di ambang kematian dan kehidupan. Kau seharusnya sudah mati sesaat setelah pedang itu menembus tubuhmu, tetapi keinginan kuatmu untuk terus hidup dan membalas dendam menarik minatku. Aromanya sangat lezat, dendammu begitu manis, dan aku tertarik padamu. Kutahan jiwamu sebelum lepas pada kematian. Sekarang, kutawarkan padamu perjanjian darah untuk tetap hidup, namun setelah urusamu usai, kau tidak akan pernah bisa ke surga. Tempatmu adalah di neraka terdalam bersamaku." Suara aneh itu kembali terdengar, seolah sosok tersebut bisa mendengar apa yang Leander katakan meski dalam hati.
"Aku masih bisa hidup?"
"Kau juga bisa membalas dendam. Namun bayarannya sangat mahal."
Leander tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Ia bahkan tidak pernah berpikir bagaimana rupa surga dan neraka. Baginya, sesaat setelah Kerajaan memfitnah Swinford dan menjatuhi mereka hukuman mati di hadapan seluruh rakyat, konsep surga dan neraka langsung sirna dari kepalanya, benar-benar hilang tanpa bekas. Apakah manusia akan menemui surga dan neraka setelah kematian? Apakah tempat yang selalu dibayangkan manusia itu benar-benar ada? Leander melupakan hal itu setelah ia pergi dan tinggal di hutan. Tidak ada gunanya mempercayai hal yang tidak bisa ia pastikan kebenarannya.
"Apa yang harus kubayar untuk memenuhi dendamku?"
"Jiwamu, Leander Swinford, ah... atau harus kusebut dirimu sebagai Leander Grey?"
Jiwa? Apa yang harus dilakukan dengan jiwanya. Siapa yang datang dan menawarkan pertukaran dengan bayaran jiwa itu? Leander terus bertanya-tanya dalam hatinya. Ia tahu sosok itu pasti bisa mendengar apa yang dipikirkan olehnya. Terbukti dari suara-suara aneh itu yang terus menggema dan menjawab setiap kebingungannya. Leander bahkan bisa mendengar suara tawa rendah yang mengerikan di kepalanya, seperti suara tawa banyak orang yang membaur menjadi satu.
"Katakan Leander, katakan kau bersedia menerima perjanjiannya. Aku akan membebaskanmu dari situasi menyakitkan ini, aku pula yang akan membantumu membalas dendam. Sampai dendammu selesai, aku akan terus menemanimu."
"Aku bersedia."
Leander berucap mantap. Beberapa detik setelahnya, suara tawa membahana memekakkan telinga Leander. Ia merasa tubuhnya seperti ditarik paksa. Ketika ia berhasil kembali pada kesadarannya, luka tusuk di tubuhnya akibat pedang panglima Kerajaan mendadak sirna, benar-benar tanpa bekas. Leander mengusap bagian itu. Kulitnya kembali seperti semula. Ada rasa panas luar biasa terasa di dahinya, bagian itu terasa terbakar. Leander berusaha keras bertahan dengan sengatan rasa panas membara itu, sampai kemudian dari dahinya muncul cahaya-cahaya berwarna crimson berpendar, menampilkan sosok mengerikan yang belum pernah Leander saksikan selama hidupnya. Suara derap langkah pelan dari sepatu berhak tinggi nan lancip, tawa rendah dan intimidatif, kuku-kuku panjang berwarna hitam yang siap mencabik, dan senyum lebar mengerikan dengan dua taring tajam di antara gigi-gigi lainnya.
Sosok mengerikan itu membungkuk, meletakkan tangan kanannya di dadá kiri. Sekian detik sampai lututnya benar-benar menyentuh tanah dan menunduk, penampilan mengerikannya seketika berubah, menjadi seorang pria muda berpakaian pelayanan dengan wajah teduh dan senyum menenangkan.
"Apapun yang kau butuhkan, My Lord."
Seluruh pasukan yang masih bertahan, bahkan sang panglima terkejut ketika Leander membuka matanya dan kembali berdiri seolah tusukan pedang sebelumnya sama sekali tidak berefek apapun. Noda darah masih ada di pakaiannya yang koyak, namun kulitnya bersih seolah luka sebelumnya tidak pernah ada.
Satu per satu mundur dengan ekspresi horor. Seolah, melihat Leander hidup dengan tanda heksagon berpendar di dahi juga sosok lain yang berdiri di sampingnya merupakan hal yang sangat mengerikan. Leander menggerakkan lengannya, dan pedang yang sebelumnya terlempar jauh langsung berada di genggamannya. Pandangan matanya benar-benar dingin, membuat sang panglima Kerajaan kebingungan dan tampak panik.
"Kau! Kau benar-benar penyihir!" Seru sang panglima keras.
Untuk pertama kalinya, Leander melihat panglima Kerajaan begitu panik di medan perang padahal yang ia hadapi hanya satu orang saja. Bertahun-tahun pria kekar itu dikenal sebagai panglima paling sukses di Kerajaan. Banyak penaklukan wilayah yang berhasil atas pimpinannya. Namun saat ini, seluruh imej tersebut mendadak sirna. Leander sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan orang-orang Kerajaan karena ia memang melarikan diri dari mereka. Namun melihatnya dalam kondisi panik benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Apa yang harus kulakukan kepada mereka, My Lord?"
Leander melirik perwujudan pelayan pria yang berdiri di sampingnya. Ia benar-benar tampak seperti manusia, tanpa cela, tanpa cacàt. Benar-benar manusia yang sempurna. Leander tahu siapa yang menawarkannya kesempatan untuk hidup. Ia juga tahu konsekuensi dari menentang takdir. Sosok iblís itulah, yang berbisik dengan sangat lembut di telinganga ketika ia begitu putus asa, yang memberikan harapan dari sisi terkelam yang ia bangkitkan, benar-benar perwujudan dari dendam seumur hidupnya yang terus membesar.
Leander sudah tidak mempercayai siapa pun, bahkan Tuhan sekalipun. Karena ia tidak datang menolongnya ketika seluruh keluarganya difitnah sebagai penyihir, ia tidak datang menolongnya ketika keluarganya dibantai di depan umum, ia juga tidak datang ketika istrinya dibunuh dengan sangat keji. Di akhir hidupnya, ketika ia nyaris mati, lagi-lagi Tuhan juga tidak datang untuk menolongnya, melainkan si iblís terkutuk itu yang datang mengulurkan tangan, menawarinya kesempatan untuk hidup dengan bayaran yang begitu mahal. Leander menganggap kompensasinya seimbang. Ia bahkan tidak peduli jika setelah mati jiwanya ke neraka, karena ia bahkan tidak pernah percaya keberadaan surga dan neraka.
"Bunuh meluruh tentara itu, sisakan panglimanya. Aku ingin berbicara dengan pria itu."
"Yes, My Lord."
Si iblís bergegas. Ia hanya maju beberapa langkah, menyisakan sedikit jarak dengan Leander untuk berdiri di belakangnya. Perwujudannya sebagai pria sempurna itu menghalangi pandangan Leander. Yang bisa ia lihat hanya gerakan tangannya. Tidak ada dari tentara tersebut yang berinisiatif untuk menyerang. Seolah, seluruh tubuh mereka kaku hanya dengan menatap iblís tersebut.
Sang iblís dalam balutan pakaian pelayanan itu menggerakkan tangannya, dan hanya sekian detik berikutnya suara teriakan bersahut-sahutan, menggema di halaman mansion Swinford. Leander memandangi tubuh-tubuh yang tercerai berai di halaman mansion-nya. Isi tubuh mereka berserakan, bau anyir menguar hebat, darah mengalir bak air hujan yang mengalir di tanah. Napas Leander memburu melihat pemandangan mengerikan tersebut. Ia berkali-kali melihat kematian, namun belum pernah melihat p*********n. Aneh, karena ia tidak merasa takut sama sekali. Seolah melihat tubuh manusia tercerai-berai sampai isi tubuhnya berserakan adalah hal yang biasa. Mungkin Leander sudah tidak lagi merasakan ngeri, sudah tidak lagi merasakan takut sejak ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaiamana seluruh keluarganya dibantai, bagaimana istrinya dibunuh dengan keji. Leander sudah tidak lagi memiliki stok rasa kasihan di hatinya, karena yang tersisa hanya dendam dan keinginan membalas semuanya.
Leander melangkah, melewati tumpukan tubuh manusia yang terbelah dan tercabik mengerikan, menginjaknya tanpa rasa bersalah. Di tengah-tengah tubuh-tubuh yang terpisah itu, sang panglima Kerajaan kehilangan keseimbangannya, jatuh terduduk dengan ekspresi horor. Kedua matanya melotot tajam melihat seluruh tentaranya mati dengan kondisi yang amat mengerikan, tepat di depan matanya, hanya dalam hitungan detik, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Leander menodongkan ujung pedangnya. Hanya beberapa senti ujung pedang itu menyentuh mata biru sang panglima. Leander ingin sekali mencabik-cabiknya dengan pedang yang ia bawa. Ia ingin sekali mendengar teriakan kesakitannya sampai mati, namun Leander berusaha berbaik hati. Ia menunduk, menatap wajah sang panglima yang pucat pasi.
"Katakan kepada Raja, seluruh negaranya ini akan terkena kutukan jika mereka terus berusaha membunuhku dan anak keturunanku. Anggap itu sebagai peringatanku."
Sang panglima berusaha berdiri dengan kakinya yang lemas. Ia berlari, secepat kilat menaiki kudanya dan melesat pergi. Leander menghela napas. Ia berbalik, menatap iblís yang membantunya. Iblís dalam wujud pria dewasa itu tersenyum sopan dan membungkuk hormat.
"Bereskan semua kekacauan ini." Seru Leander tegas.
"Yes, My Lord."
Leander melangkah masuk ke dalam mansion, membiarkan sang iblís bekerja sesuai perintahnya. Ia segera menuju pintu ruang bawah tanah dan membebaskan Sionn dari sana. Puteranya itu langsung menghambur memeluk Leander sembari menangis. Leander bisa merasakan betapa kencangnya detak jantung Sionn ketika berpelukan dengannya. Mendadak, perasaan negatifnya hilang ketika berpelukan dengan Sionn. Puteranya adalah satu-satunya pengingat untuk Leander bahwa ia masih manusia.
Sionn yang menyadari bercak darah di bagian depan pakaian Ayahnya langsung panik. "Ayah! Apa yang terjadi? Kau terluka?"
Leander menggeleng, ia menghapus air mata di kedua pipi puteranya. "Sionn, Ayah baik-baik saja."
"Tapi Ayah, ada darah di—"
"Sionn, dengarkan Ayah baik-baik."
Sionn langsung diam begitu Leander menangkup kedua pipinya dan menghadapkan wajah puteranya lurus kepadanya. Kedua mata mereka bertemu, saling menatap satu sama lain.
"Mulai saat ini, kau tidak boleh menunjukkan kelemahanmu kepada siapa pun. Air matamu, tidak boleh jatuh untuk orang lain. Ingat Sionn, kau adalah Grey pertama, kau akan membangkitkan keluarga kita."
Seolah merasa terhipnotis, Sionn mengangguk patuh. Ia melirik ke belakang tubuh Ayahnya ketika melihat sosok pria dewasa berpakaian pelayan membungkuk di hadapannya.
"Siapa dia?"
"Pelayan baru Grey."
Hari itu, Leander kira semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Ia sudah membuat perjanjian darah dengan sesosok iblís di ambang kematiannya, ia juga menyelamatkan Sionn dari potensi dibunuh pihak Kerajaan. Leander pikir, ia hanya perlu memulihkan keadaan mansion-nya, mengganti nama keluarganya menjadi Grey, dan mengembalikan status kebangsawanan yang telah bertahun-tahun ia buang dalam pelarian.
Sayang sekali, Kerajaan tidak mendengarkan peringatan yang dibuat oleh Leander. Beberapa hari setelahnya, Kerajaan kembali menyerang mansion Swinford yang telah berubah nama menjadi mansion Grey. Mereka membawa tentara lebih banyak, dan pendeta-pendeta yang siap mengusir iblís. Semuanya percaya, Leander Swinford bertahan karena bantuan kekuatan terkutuk.
Dalam kepanikan itu, Leander siap untuk mati kapan saja asal keturunannya terus hidup sampai pembalasan dendam itu tiba. Entah butuh berapa tahun sampai pembalasan itu terjadi Leander tidak peduli. Mungkin Sionn, atau mungkin keturunan Sionn. Sepuluh tahun, seratus tahun, bahkan ribuan tahun pun dendamnya akan terus ada. Siapa pun itu, suatu hari anak keturunannya akan membalas apa yang dilakukan oleh Kerajaan pada mereka.
Leander menitipkan Sionn kepada iblís yang terikat kontrak dengannya, dan hanya dalam sekejap, tanda ipsissimus di lengan Leander mendadak berpindan ke lengan Sionn. Sekali lagi, tragedi keluarga Swinford terulang. Pihak Kerajaan hendak membantai Sionn sekaligus, namun beberapa pendeta melarangnya dan meminta mereka untuk bermurah hati. Gereja akan melakukan pengusiran setàn kepada Sionn, lalu menjadikannya sosok manusia baru yang suci. Tujuan mereka sangat mulia, namun sayang sekali, kutukan yang diperingatkan oleh Leander sebelum algojo memenggal kepalanya benar-benar terjadi.
Kutukan yang sebelumnya dianggap gertakan belaka, benar-benar menyerang Kerajaan dan membunuh mereka satu per satu. Para keluarga Raja menderita penyakit kulit yang menjijikkan dan mati satu per satu. Kepanikan menyerang seluruh area Kerajaan, dan warga mulai mengungkit-ungkit kutukan yang diteriakkan Leander sebelum bilah pedang algojo memotong lehernya. Rakyat semakin larut dalam anggapan mereka, dan berpikir bahwa kutukan itu benar-benar menyerang keluarga Raja. Mendadak, Raja dan keluarganya menjadi bahan gunjingan rakyat dan bangsawan lainnya. Mereka mulai meragukan kesalahan Leander, dan berpikir bahwa mungkin Raja salah menghukum mereka sehingga karma mengerikan mulai membalas mereka perlahan-lahan. Gunjingan di mana-mana, ketidakpercayaan rakyat kepada Kerajaan mulai membesar. Pada masa itu, Kerajaan benar-benar berada dalam masa terpuruk yang sangat parah.
Di tempat lain, di sebuah biara tua yang berada di hutan, Sionn bangun dengan keadaan seperti seseorang yang benar-benar kehilangan ingatannya. Ia bahkan sama sekali tidak ingat siapa namanya sendiri. Para pendeta melakukan prosesi pengusiran setàn sesuai apa yang mereka pahami, dan itu tampaknya berdampak pada kesehatan mental dan fisik Sionn hingga membuatnya benar-benar seperti manusia yang tidak memiliki memori apapun di kepalanya.
Pihak Kerajaan sebelumnya memutuskan akan terus mengasingkan Sionn ke biara tersebut dan menjadi tanggung jawab para pendeta. Para pendeta itu tertarik dengan fenomena ipsissimus yang begitu menggemparkan Kerajaan selama bertahun-tahun. Saat ini, Sionn memiliki tanda itu hanya sesaat setelah Ayahnya ditangkap oleh Kerajaan. Meski berusaha untuk tidak terpengaruh dan membuka pikiran bahwa ada fakta lain selain bahwa mereka penyihir, pendeta-pendeta yang diberi tanggung jawab untuk mengamankan Sionn ingin meneliti lebih jauh mengenai hal tersebut baik secara ilmiah maupun spiritual. Sayangnya, belum sampai mereka benar-benar meneliti mengenai ipsissimus, berita wabah kutukan penyakit di area Kerajaan sampai ke telinga para pendeta yang ada di biara. Mereka dipanggil oleh Raja ke istana untuk menyembuhkan penyakit itu karena para tabib dari berbagai wilayah yang dikenal hebat pun sama sekali tidak bisa menyembuhkan mereka. Keluarga Raja satu per satu meninggal dengan kondisi yang mengenaskan, dan mereka percaya bahwa penyakit itu tak lagi bisa disebut penyakit medis, melainkan benar-benar kutukan. Anggota Kerajaan yang sebelumnya telah mengalami paranoia bertahun-tahun kepada keluarga Leander Swinford semakin didera kepanikan. Isi Kerajaan benar-benar kacau dari dalam dan luar.
***