Past Memories (7)

1114 Words
Sionn dibawa ke Kerajaan beberapa hari setelah ia sadar dari tidur panjangnya pasca penyucian yang dilakukan para pendeta di biara terpencil tersebut. Hanya ada dua pendeta yang berada di biara tua tersebut, ditugaskan untuk mengawasi Sionn barangkali pemuda itu menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengingat semua yang sudah terjadi sebelum ia disucikan. Entah metode seperti apa yang dilakukan sebelumnya sampai Sionn berubah menjadi orang linglung, yang jelas para pendeta di biara terpencil tersebut menyebutnya sebagai proses pensucian Sionn Grey. Ketika Sionn bangun untuk pertama kalinya setelah masa penyucian itu, pandangan matanya benar-benar kosong. Daripada terlihat seperti seseorang yang baru sembuh dari sebuah penyakit, Sionn malah tampak seperti seseorang yang mengidap penyakit mematikan. Kulitnya yang sudah pucat semakin tampak pucat. Seolah, sama sekali tidak ada darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Setiap kali para pendeta yang menjaganya bertanya, Sionn hanya akan melirik mereka dengan pandangan super datar. Ia benar-benar tidak ingin berbicara sama sekali. Melihat kekacauan yang terjadi di Kerajaan karena keluarga Swinford termasuk dampak dari kematian Leander yang begitu menggemparkan seluruh rakyat, keputusan untuk mengasingkan Sionn di biara terpencil itu selamanya langsung dirubah. Raja meminta untuk membawa Sionn dan percaya bahwa anak itu akan menyelesaikan masalah yang terjadi di Kerajaan karena ia adalah satu-satunya keturunan Leander yang masih hidup. Ketika pendeta yang bertugas menjaga Sionn mengatakan bagaimana keadaan Sionn, sang Raja tidak peduli dan tetap bersikeras bahwa Sionn harus kembali ke Kerajaan untuk menyelesaikan kutukan penyakit yang terus menjangkiti keluarga Kerajaan dan membunúh mereka satu per satu. Kedatangan Sionn kembali ke Kerajaan menjadi buah bibir yang sangat ramai di kalangan bangsawan dan rakyat. Mereka semua mulai membicarakan keterkaitan wabah penyakit yang hanya menjangkiti keluarga Kerajaan dengan kematian Leander yang sebelumnya dihukum mati oleh Kerajaan. Rumor tersebut tentunya sudah sampai ke telinga Raja, namun sebisa mungkin dia tidak mempedulikannya. Saat ini, daripada memikirkan rumor yang terus berembus di masyarakat, sang Raja lebih memilih untuk fokus menyembuhkan keluarga besarnya. Jika wabah penyakit itu terus dibiarkan, keluarga Raja akan benar-benar musnah. Raja memiliki keinginan kuat untuk membunúh Sionn sejak awal. Ia begitu benci dengan Leander dan keturunannya. Lagipula, Sionn tidak seharusnya hidup. Sang Raja hanya menghormati para pendeta yang kasihan kepada anak itu. Mereka berpikir bahwa Sionn hanyalah jiwa yang yang tersesat. Dia butuh penyucian agar jiwanya kembali. Namun penyakit aneh yang menyerang keluarga Kerajaan benar-benar membuatnya tidak bisa lagi percayalah bahwa Sionn adalah manusia biasa. Dia pasti sama saja dengan Ayahnya, dan keluarganya yang lain. Sang Raja begitu ketakutan. Ia bahkan mulai berpikir jauh mengenai kejadian bertahun-tahun silam di mana keluarga Swinford dituduh sebagai penyihir dan dihukum mati di hadapan seluruh rakyat. Hanya Leander yang tersisa. Rumor mengenai karma untuk keluarga Kerajaan berembus sangat kuat di masyarakat. Raja sangat tahu apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang di luar istana. Sebenarnya, bahkan beberapa kerabat Raja yang tidak tinggal di istana juga menggunjingkan hal tersebut. Butuh dua hari bagi para pendeta di biara terpencil itu membawa Sionn sampai ke Kerajaan. Mereka seharusnya bisa menuju ibu kota hanya dengan berkuda, namun Sang Raja meminta agar wajah Sionn tidak dilihat oleh orang-orang selama mereka menuju ke istana. Secara khusus Sionn dijemput dengan kereta kuda milik istana. Semua orang di istana sebenarnya bertanya-tanya mengapa Raja memanggil Sionn ke istana padahal dia sedang diasingkan ke biara terpencil itu. Raja berharap bisa menyembuhkan keluarganya dengan bantuan Sionn. Raja percaya diri bahwa pemuda itu akan membantunya, apalagi setelah para pendeta yang menjaganya mengatakan bahwa Sionn telah melupakan siapa jati dirinya yang sebenarnya. Sionn tampak linglung ketika berada di istana. Ia terus dikawal oleh para pendeta yang menjaganya. Masing-masing keluarga Raja yang sakit dipisah dalam kamar-kamar yang berbeda. Kebanyakan dari mereka menderita penyakit kulit yang menjijikkan dan berbau busuk. Ada banyak dokter Kerajaan yang menyerah menangani mereka saking parahnya. "Sionn, kau bisa membantu mereka bukan?" Salah satu pendeta yang menggandengnya berbisik pelan ketika mereka berdiri di dalam salah satu ruangan dan menatap seorang wanita paruh baya yang merupakan seorang Duchess. "Apa yang harus kulakukan?" "Setidaknya coba sentuh mereka. Dokter bilang, meski tampak parah, penyakit itu sama sekali tidak menular kepada mereka. Hanya keluarga Kerajaan yang tertular. Jadi kau tidak perlu khawatir menyentuhnya." Sionn mendekat. Ia menyingkap lengan pakaiannya dan menemukan tanda heksagonal di area urat nadinya berpendar. Ada kernyitan bingung di dahinya. Ia tidak pernah melihat tanda itu karena selalu memakai pakaian lengan panjang selama di biara. Sejak kapan simbol aneh itu ada di sana? Ketika jemarinya menyentuh tubuh sang Duchess, rasa panas terbakar terasa di pergelangan tangannya yang memiliki tanda heksagonal tersebut. Sionn meringis menahan sakit. Tubuhnya bahkan sampai bergetar hebat. Sementara itu, Duchess yang ia sentuh berteriak histeris. Orang-orang yang berada di ruangan itu panik dan hendak memisahkan Sionn dengan sang Duchess karena mengira bahwa tindakan Sionn menyakitinya. Namun hanya dalam beberapa detik setelah Sionn menyentuh kulit sang Duchess, penyakit kulit menjijikkan yang menjangkitinya perlahan-lahan mengering bak luka yang sudah sembuh. Bau busuk yang sebelumnya menguar kuat menghilang, dan rasa lemas di tubuh Duchess itu benar-benar hilang. Sionn segera mundur dan melepaskan pegangannya. Ia mengerjap pelan, menyadari bahwa ia telah melakukan sesuatu yang besar. Lebih dari itu, ia melihat apa yang tidak seharusnya dilihatnya. Mendadak, seluruh ingatan yang sempat terhapus masuk dan membuatnya benar-benar pusing. Sionn menggigit bibirnya, sakit luar biasa di kepalanya terasa menyiksa. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi ketika wajah Ayahnya, Leander Swinford mendadak muncul di ingatannya. Lalu, satu per satu ingatan buruk mengenai apa yang terjadi kepada keluarganya mendadak muncul dan membuatnya ingat segalanya. Pandangan kosong di mata Sionn telah berubah, namun sepertinya tidak ada satu pun yang menyadari perubahan itu karena terlalu bahagia dengan euphoria kesembuhan sang Duchess. Sionn tidak mengatakan apa-apa meski telah menyadari apa yang terjadi. Ia ingat semua hal termasuk janji untuk membalas dendam kepada Raja. Kapan pun, sampai masa itu tiba, Sionn dan keturunannya harus tetap hidup. Rumor kembali merebak di ibu kota mengenai Sionn Swinford yang berubah nama menjadi Sionn Grey. Berkat kedatangannya yang kemudian keluarga Kerajaan sembuh secara ajaib, orang-orang berpikir, Raja memanfaatkan Sionn untuk situasi yang tidak terpikirkan. Banyak dari mereka yang berpikir bahwa Raja sengaja memperlakukan Sionn Grey dengan baik bukan karena merasa berterimakasih, melainkan karena dengan cara itu Sionn Grey bisa dikontrol tanpa harus menimbulkan kekerasan. Sionn mendengar semuanya, dan ia tidak naif. Ia tahu hal itu mungkin jika pun tidak sepenuhnya benar tetaplah kebenaran. Tidak lama setelah keluarga kerajaan sembuh berkat Sionn, ia resmi menjadi seorang Marquess. Tidak ada lagi nama Swinford melainkan Grey. Sionn Grey kembali ke mansion lama Swinford yang telah berubah menjadi mansion Grey. Bahkan jika kehidupan Sionn telah berubah lebih baik. Segela sesuatu ada masanya, dan Sionn tidak menyangka bahwa ada masa di mana ia merasa nyaman dengan kehidupan barunya yang belum pernah ia rasakan dan kemudian melupakan dendam keluarganya. -----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD