Past Memories (1)

2132 Words
“Mereka sudah mulai mengacaukanmu huh?” Gilbert duduk diam, menatap malas Leander Grey yang sejak tadi berbicara banyak hal dan terus-terusan menanyakan perihal permasalahan yang baru saja muncul. Gilbert baru saja berbaring untuk tidur ketika Nicolin meninggalkan kamarnya, ia harap malam ini bisa menjadi waktu istirahat yang baik sebelum besok dia yakin akan mendapat banyak masalah terkait tulisan nama keluarganya di rumah hiburan. Sayang sekali, leluhurnya yang tertinggal di dimensi gelap itu menariknya kembali, memaksanya untuk berbicara padahal tubuh Gilbert sedang lelah luar biasa. “Bisakah aku kembali? Kau tahu, aku sedang ingin tidur.” Leander tertawa. “Tapi kau memang sedang tertidur, Gilbert.” “Tidak ada gunanya aku tidur jika jiwaku kau bawa paksa untuk ke tempat gelapmu ini. Aku ingin beristirahat dengan tenang karena kuyakin besok aku harus menghadapi banyak hal. Jadi, untuk Leander yang terhormat, bisakah cucumu ini kembali tidur dengan tenang?” Leander memutar bola matanya. “Ayolah Gilbert, ceritakan padaku.” “Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau bisa melihat apapun yang terjadi padaku? Lantas, untuk apa aku menceritakannya kembali?” Leander tersenyum, menghapus raut jenaka di wajahnya yang sejak tadi ia tampilkan hanya untuk menarik atensi Gilbert. Grey di hadapannya benar-benar berbeda. Gilbert tidak mudah terdistraksi, selalu terfokus pada hal yang sedang ia kerjakan atau pikirkan, dan melupakan hal-hal remeh yang memang tidak perlu untuk diurusi. Jika boleh jujur, mungkin sosok seperti Gilbert hanya akan muncul sekali saja di dunia ini. “Mungkin kita bisa berbagi pendapat?” “Kau dan aku hidup di zaman yang berbeda, Leander. Sangat jauh jaraknya hingga aku berpikir kau mungkin tidak akan mengerti apa yang terjadi di duniaku. Aku tidak ingin menghinamu, jika kau benar-benar seorang Grey, maka kau adalah leluhur yang harus kuhormati. Hanya saja, bagaimana bisa aku menghormatimu jika kau tidak menceritakan secara detail apa yang sebenarnya terjadi padamu.” Leander menopang dagu, menatap lekat wajah Gilbert seolah tengah mengamati ekspresi pemuda di hadapannya. Ia baru memperkenalkan namanya kepada Gilbert tidak lama, dan sebenarnya alasannya melakukan itu agar Gilbert menemukan fakta tentangnya dengan usahanya sendiri. Satu-satunya alasan mengatakan namanya, karena Gilbert mengatakan soal buku harian itu, yang hanya tersisa tiga halaman pertama sementara lembar lainnya menjadi kosong. Leander tidak tahu teknik apa yang digunakan hingga kertas-kertas yang berisi tulisan tangannya bisa bersih seperti baru dan mengapa hanya tiga halaman pertama yang masih ada. Jika memang orang-orang di istana benar-benar ingin menghilangkan jejaknya, kenapa tidak seluruh tulisan yang ada di buku itu yang dihilangkan? Mengapa harus menyisakan tiga halaman pertama? Fakta bahwa Gilbert menemukan buku itu sebenarnya sudah cukup mengejutkan untuk Leander. Ia kira, bahkan buku itu sudah musnah bersamaan dengan penghapusan eksistensinya di dunia. Pasti ada alasan lain yang membuat mereka masih menyimpan buku itu. “Leander?” “Oh? Ya?” Gilbert mendecih. “Kembalikan saja aku jika kau tidak ingin menceritakan apapun.” “Tunggu, tunggu! Aku akan menceritakannya. Tapi, sebelum itu aku ingin bertanya padamu.” “Apa?” “Soal buku harianku yang kau temukan itu, di mana kau menemukannya?” Gilbert mengernyit bingung. “Apakah aku belum mengatakannya? Sepertinya aku sudah bilang jika aku menemukan buku harian itu di perpustakaan lama Istana. Ada di sebuah laci meja kayu tua, ditutupi dengan papan untuk mengecoh agar laci itu tampak kosong. Bahkan, ada minyak khusus yang diletakkan di sekitar buku itu untuk mencegah serangga-serangga menggerogotinya.” “Ooh…” Leander mengusap dagunya. “Mengapa bukuku masih disimpan?” gumamnya pada diri sendiri. “Dan kenapa kau tiba-tiba menanyakan soal buku itu? Apa kau tidak tahu soal ini? Bukankah kau melihat semua yang kulihat?” “Aku muncul di pikiranmu belum lama ini, Gilbert. Sebelum kau membuka dan membaca buku itu, aku belum bisa terkoneksi denganmu. Lagipula, bahkan meski misalnya ada Grey lain yang mengambil dan membaca bukuku, belum tentu juga mereka akan terhubung denganku.” “Kenapa?” “Kau tidak pernah berpikir, bahwa kau mungkin reinkarnasiku?” Gilbert menaikkan sebelah alisnya. “Jika aku reinkarnasimu, maka aku tidak akan berhadapan denganmu ‘kan? Karena kita seharusnya satu sosok yang sama hanya saja terlahir kembali pada masa yang berbeda.” “Ya, aku juga berpikir demikian. Tapi, kenapa kita memiliki wajah yang begitu mirip. Sejak aku pertama kali bisa terhubung denganmu, rasanya aku seperti melihat diriku sendiri dalam versi yang jauh lebih muda. Jika pun kita bukan reinkarnasi, itu tidak merubah fakta bahwa jiwa kita terhubung. Mungkin, semacam titisan?” Gilbert terdiam, menyetujui apa yang dikatakan Leander tentang mereka berdua. Gilbert bahkan sempat berpikir jika dirinya hanya berhalusinasi saat pertama kali bertemu dengan Leander karena wajahnya yang begitu mirip dengannya hanya saja versi lebih dewasa. Leander selalu mengatakan bahwa ia berada pada dimensi gelap itu untuk menunggu urusannya terselesaikan, menunggu hingga ia bertemu dengan keturunannya yang bisa terhubung. Ratusan tahun ia menunggu hingga akhirnya bertemu dengan Gilbert, yang kemudian secara mengejutkan memiliki wajah yang begitu mirip. “Mungkin karena aku keturunanmu.” Leander terbahak. “Jangan melucu, Gilbert. Kau pikir sudah berapa generasi Grey sampai pada dirimu?” “Ayahku juga mirip denganku, dan mungkin juga kakekku, lalu berlanjut hingga sampai padamu.” “Mirip. Tapi wajah kita benar-benar sama. Satu-satunya yang membedakan kita hanyalah kau masih muda sementara aku sudah dewasa. Aku yakin saat kau seusiaku, wajahmu akan benar-benar sama denganku.” Gilbert terkekeh. “Aku tidak akan sampai pada masa itu.” “Maaf?” “Lupakan soal itu dan ceritakan saja tentangmu dan mengapa kau ada pada dimensi gelap ini selama ratusan tahun!” “Jika kau membaca tiga halaman awal buku harianku, maka kau pasti sudah bisa menebak mengapa aku terjebak pada dimensi ini dalam waktu selama itu, dan mungkin ceritaku akan menjadi cerita yang cukup panjang untuk kau dengarkan.” --- Leander Grey yang sebelumnya menjadi seorang bangsawan yang sangat dihormati benar-benar jatuh kehormatannya ketika keluarganya dituduh secara sepihak oleh Raja. Ia menjadi satu-satunya yang disisakan dari keluarganya, hidup dalam belenggu rasa malu dan juga cemooh berkelanjutan. Setiap kali ia berjalan, bisikan penuh hina dan terkadang bahkan lemparan batu ia terima. Leander benar-benar harus menanggung luka baik di dalam hati mau pun di fisiknya.  Ia bertahan pada kondisi memprihatinkan seperti itu cukup lama. Tuhan sepertinya berbaik hati, Leander yang mengasingkan dirinya di hutan untuk waktu yang lama karena ia tidak kuasa menahan luka ketika tinggal di mansion Grey tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis jelata yang tengah mencari tumbuh-tumbuhan. Leander melihat gadis itu tengah memetik tumbuhan yang ia tidak tahu apa jenisnya. Ia hanya mengenakan pakaian biasa, dengan rambut coklat kemerahan ikal yang diikat seadanya. Kulit wajahnya kemerahan, dua bola matanya berwarna abu-abu, dan bibirnya semerah bunga mawar. Kisah mereka menjadi sangat klise karena Leander yang sudah lama berdiam dalam kesendirian akibat kehilangan keluarganya menjadi tertarik kepada gadis itu. Tidak ada perasaan romantis pada awalnya, hanya ada rasa penasaran karena Leander tidak pernah melihat gadis itu bersama orang lain. Ia selalu berjalan sendirian, kembali sendirian, namun tidak ada gurat kesepian sama sekali dari wajahnya. Leander hanya memandangi gadis itu dari jauh dalam waktu yang cukup lama. Ia selalu duduk diam di balik pohon menunggunya datang untuk memetik tumbuhan. Jangankan menyapanya, Leander bahkan tidak berani untuk mengikuti kemana sebenarnya gadis itu tinggal. Kemudian, selama beberapa hari lamanya gadis itu tidak kembali ke tempat yang sama. Leander tetap menunggunya, duduk diam di balik pohon dengan harapan akan melihatnya datang lagi. Namun hingga hari-hari berlalu, dia tetap tidak datang. Leander mulai merasakan kecemasan di hatinya, yang ia tidak mengerti mengapa padahal ia sama sekali tidak mengenal gadis itu. Leander ingin tahu bagaimana keadaannya, tetapi ia sendiri juga tidak tahu kemana ia harus mencari sehingga ia hanya mengulangi rutinitasnya; duduk diam sembari berharap bahwa gadis itu akan kembali. Lama sekali Leander bertahan pada rutinitas seperti itu hingga pada hari yang entah sudah keberapa, gadis itu kembali lagi. Ia memetik tumbuhan yang sama, masih dengan penampilan yang sama. Satu-satunya yang membuatnya tampak berbeda, hanya sinar ceria di kedua bola mata abu-abu itu yang sirna. Leander tidak tahu apa yang terjadi, tetapi hatinya ikut merasa sakit. Gadis itu memenuhi keranjang bambunya dengan tumbuhan yang ia petik lalu kemudian duduk diam bersandar pada batang pohon besar di dekatnya. Leander melihat itu sebagai keanehan, gadis itu selalu buru-buru pergi setiap selesai memenuhi keranjang bambunya. Ia bertahan pada posisi itu, sampai kemudian isakan kecil terdengar. Ia memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya dan terisak-isak tertahan. Leander membeku, suara isakan itu seolah mengiris-iris hatinya. Tubuhnya ikut bergetar, dan entah keberanian darimana sampai ia keluar dari persembunyian yang selalu ia gunakan sejak lama dan berdiri di hadapan gadis itu. “Kau akhirnya keluar.” Leander mengerjap bingung. “Huh?” “Kau selalu melihatku sejak lama, tetapi kau tidak pernah keluar. Aku tidak tahu apa tujuanmu, dan seharusnya aku merasa takut karena kau menguntitku. Namun, entah mengapa aku sama sekali tidak merasa takut.” Leander berjongkok, telapak tangan kanannya terulur, menyeka air mata yang membasahi pipi kemerahan gadis itu. “Jangan menangis.” Gadis itu terdiam. Selama beberapa menit keduanya saling menatap tanpa berbicara apapun, hingga Leander sadar dan menarik tangannya sendiri. “Maaf.” Ucap Leander. Gadis itu menggeleng. “Siapa namamu?” “Leander.” “Kenapa kau berada di hutan? Dilihat dari penampilanmu, kau sepertinya bukan rakyat jelata sepertiku.” Leander menggaruk tengkuknya. “Itu…. aku—“ “Namaku Eda.” “Huh?” “Tidak perlu menjawab pertanyaanku sebelumnya, aku tahu kau pasti memiliki alasan mengapa kau berada di sini. Salam kenal, Leander.” Leander tersenyum lebar, pertama kalinya sejak keluarganya digantung. Eda benar-benar manis dalam jarak yang begitu dekat, dan Leander bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari senyum gadis itu. “Eda, kenapa kau menangis?” Senyum di wajah Eda memudar. Ia memainkan jemarinya, menunduk, dan menghindari tatapan Leander. “Maaf, jika kau tidak ingin membahasnya, tidak perlu mengatakan apa-apa. Maafkan aku.” Eda menggeleng dan memaksakan senyum. “Hari ini, ibuku meninggal. Setelah sekian lama aku merawatnya, pada akhirnya beliau meninggalkanku. Kemiskinan membuatku tidak bisa menyewa dokter atau membeli obat yang bagus dan bisa menyembuhkan penyakit ibuku. Jadi, aku hanya mencari obat-obatan herbal di sekitar sini. Setidaknya, tanaman-tanaman ini bisa sedikit meredakan rasa sakit yang dirasakan ibuku. Aku tinggal dengannya saja, dia adalah satu-satunya keluargaku dan aku benar-benar merasa kosong.” Leander mendekat, menarik bahu Eda dan membawanya dalah rengkuhannya. “Aku tahu bagaimana rasanya ditinggal keluarga.” Eda meremat pakaian Leander di bagian d**a, menangis sejadi-jadinya. Selama bermenit-menit Leander memeluk gadis itu, memebiarkannya menumpahkan segala kesedihan di hatinya sesuka hati. Leander tidak pandai menghibur, dan yang ia lakukan hanya memeluk dan mengusap-usap bahu gadis itu, berusaha membuatnya sedikit lebih tenang. “Apa yang harus kulakukan sekarang, Leander?” Seru Eda di antara tangisnya. Wajahnya benar-benar basah dengan air mata dan Leander bahkan merasakan air mata Eda merembes ke pakaiannya hingga terasa di kulitnya. “Aku akan menemanimu.” Setidaknya, kalimat itulah yang membuat mereka memutuskan untuk hidup bersama. Leander yang kehilangan keluarganya bertemu dengan Eda yang sama-sama kehilangan keluarganya. Keduanya dipertemukan untuk saling mengisi kekosongan di hati mereka yang kehilangan, atau setidaknya itulah yang Leander percayai. Ia tidak pernah mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya, karena ia tidak mau Eda akhirnya meninggalkannya juga. Ketakutan itu tidak berdasar, tetapi Leander hanya berusaha berjaga-jaga. Leander dan Eda tinggal di rumah lama Eda. Keduanya merenovasi sebisanya, menatanya sebaik mungkin dan memulai kehidupan mereka yang bahagia. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menyadari bahwa kenyamanan di antara mereka membawa perasaan lain yang perlahan tumbuh, berkembang dengan sempurna. Rasa cinta. Leander dan Eda mengucap janji suci mereka di hadapan makam ibu Eda, menganggapnya sebagai tanda ikatan pernikahan mereka. Hanya beberapa bulan dari mereka mengucap janji untuk setia sampai mati, Eda akhirnya mengandung seorang bayi. Keduanya benar-benar bahagia. Leander yang sepanjang hidupnya selalu dilayani sebagai keluarga bangsawan kelas atas secara mengejutkan bahkan bisa menikmati kehidupan rakyat jelatanya. Mungkin, perasaan nyaman karena bersama dengan seseorang yang dicintai menjadi alasan utama mengapa ia bisa menikmati saja kehidupan yang benar-benar anomali dari statusnya. Hanya satu kekhawatirannya, yaitu tentang proses kelahiran anaknya. Leander tidak bisa keluar ke kota sembarangan, dan ia juga tidak mungkin menyewa dokter. Eda mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Ibunya melahirkannya sendirian. Eda pikir, ia akan tetap bisa melahirkan meski tanpa bantuan dokter. Tapi Leander selalu melihat proses kelahiran adalah proses yang berat dan menyakitkan. Ia ingat bagaiman ekspresi ibunya ketika melahirkan adiknya beberapa tahun yang lalu, dan Leander yang tidak ikut merasakan pun seolah ikut kesakitan. Bagaimana ia bisa tega melihat Eda yang ia cintai menahan sakit luar biasa seperti itu? Beberapa bulan kemudian, Eda benar-benar melahirkan tanpa bantuan dokter. Leander tidak berhenti menangis sembari memegangi telapak tangan Eda ketika wanita itu memekik kesakitan dalam proses melahirkannya. Dan ia tidak bisa untuk tidak jatuh lemas ketika akhirnya seorang bayi laki-laki mungil yang sehat lahir ke dunia, tanpa kekurangan apapun. Eda menangis bahagia, dan Leander tidak pernah merasakan kelegaan sebesar itu di sepanjang hidupnya. -----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD