Untuk pertama kalinya setelah ia kehilangan keluarganya, Leander merasakan kehangatan luar biasa di hatinya. Bayi laki-laki itu tampak begitu mirip seperti Leander. Kedua bola matanya berwarna ruby, teramsuk rambut pirang platinanya yang benar-benar sama dengan rambut Leander.
Eda tersenyum di sela-sela tangis harunya. “Aku yang bersusah payah membawanya selama berbulan-bulan, mengapa dia terlihat sangat mirip denganmu?”
“Mungkin, anak ini begitu menyayangiku.”
Leander tidak bisa untuk tidak terharu. Ia mengusap rambut merah Eda yang kusut karena keringat, kemudian mencium lembut pelipis wanita itu. Mereka berdua adalah sosok-sosok yang cukup muda, yang sama-sama kehilangan keluarga. Leander tidak pernah berpikir dirinya akan mendapatkan keluarga lagi usai apa yang terjadi dengannya dan keluarganya.
“Anak ini akan kau beri nama siapa, Leander?”
Leander melebarkan matanya. “Eh? Aku?”
“Tentu saja! Kau ‘kan ayahnya. Lagipula, wajahnya benar-benar mirip denganmu.”
Leander mencolek pipi tembam bayi mungil di dalam pelukan Eda. Bayi itu menggeliat pelan. Leander takjub, bagaimana mungkin sosok mungil dan lemah seperti ini bisa hidup di dunia yang kejam? Rasanya benar-benar menyedihkan.
“Sionn.” Leander tersenyum lembut. Ia mengusap pipi anaknya, merasakan kehangatan dari kulit lembut bayi mungil di gendongan istrinya. “Namamu berarti rubah, kau harus tumbuh menjadi pria yang pintar dan cerdik seperti rubah, agar kau tidak pernah dikhianati.”
Eda ikut tersenyum, ia mencium lembut pipi anaknya. “Sionn.”
Leander dan Eda membesarkan Sionn tanpa nama belakang. Leander tidak pernah membicarakan soal nama keluarganya, pun Eda. Wanita itu juga tidak keberatan dan sama sekali tidak pernah menanyakannya.
Tahun-tahun terus berlalu dan mereka tidak memikirkan tentang hal yang mereka pikir sepele. Sionn hidup dengan baik dan tumbuh menjadi pemuda yang kuat sudah cukup untuk keduanya.
Eda mengajarkan banyak kemampuan untuk hidup kepada Sionn seperti memasak makanan agar suatu hari Sionn tetap bisa hidup jika sudah tidak ada dirinya dan Leander lagi. Di sisi Leander, ia mengajarkannya untuk berburu. Bagi Leander sendiri, berburu bukanlah kemampuan yang ia miliki secara mahir. Sepanjang hidupnya sebelum tragedi keluarganya, hidupnya terlalu nyaman dengan banyaknya pelayan. Ia tidak pernah kesusahan, segalanya selalu disediakan. Lalu, seluruh hidupnya benar-benar jungkir balik dan hidup bersama Eda membuatnya belajar sedikit demi sedikit untuk melanjutkan hidupnya dalam cara yang benar-benar berbeda.
Leander secara resmi melupakan bagaimana kehidupan lamanya. Ia benar-benar bahagia dengan kehadiran Eda dan juga Sionn. Bayi mungil yang sekarang telah tumbuh menjadi seorang pemuda lima belas tahun benar-benar tampak kuat dan tampan. Leander tidak bisa menyangkal bahwa Sionn tampak seperti seorang bangsawan kelas atas meski dengan pakaian sederhana seperti itu. Auranya berbeda, dan Eda beberapa kali mulai menanyakan siapa ia sebenarnya sebelum bertemu dengan Eda.
Suatu malam, Leander, Eda, dan Sionn berkumpul di rumah kayu mereka usai makan malam bersama. Biasanya Sionn akan menyingkir ke ruangannya dan membiarkan orang tuanya untuk menikmati waktu berdua, namun malam ini berbeda.
“Aku ingin mengatakan kebenaran kepada kalian berdua. Kuharap, apapun yang kukatakan tidak pernah merubah keluarga kita.”
Eda dan Sionn menatap Leander dengan kerut di dahi masing-masing. Eda selalu menganggap Leander sebagai pribadi yang kikuk, dan ia juga tidak ingat pernah melihat suaminya berekspresi sangat serius seperti itu. Sementara Sionn memandang ayahnya sebagai pria yang periang dan selalu mengalah dalam situasi-situasi yang sulit. Mendapatinya dalam gurat serius merupakan hal yang baru.
“Aku tidak pernah memberitahukan siapa dan darimana asalku yang sebenarnya kepada Eda karena aku tidak mau dia meninggalkanku. Sampai Sionn lahir, aku tidak memberinya nama belakang dan hanya bertahan dengan nama Sionn saja. Eda tidak keberatan, karena dia begitu baik dan tidak pernah memikirkan hal-hal yang tidak penting. Namun, kurasa aku perlu mengatakan yang sesungguhnya. Namaku yang sesungguhnya adalah Leander Swinford, aku adalah anak pertama dari Damon Swinford dan Isabelle Swinford, seorang Marquess dan Marchioness di ibu kota. Aku tidak pernah mengatakannya kepada kalian karena keluargaku digantung di ibu kota atas tuduhan pengkhianatan kepada Raja.” Kilsa-kilas kejadian beberapa tahun silam mendadak muncul, merobek luka lama di dalam hati Leander yang selama ini selalu ia tutup rapat-rapat.
Eda mendekat, mengusap bahu Leander. Kedua kelopak mata pria itu melebar, tidak menyangka melihat Eda tidak bereaksi seperti bayangan buruk yang ia pikirkan. Wanita itu memang tampak terkejut ketika ia pertama kalinya mengungkapkan tentang siapa ia sebenarnya, namun ekspresi terkejut itu tidak bertahan lama.
“Aku tidak tahu mengapa Raja secara sepihak menuduh keluargaku, mereka bahkan sama sekali tidak punya bukti. Satu-satunya tuduhan mereka hanyalah bahwa Swinford melakukan praktik sihir untuk menyerang keluarga Kerajaan. Dan aku juga dibiarkan menjadi satu-satunya yang hidup karena aku baru pulang dari perjalanan kerja mewakili nama ayahku sehingga mereka tidak memiliki alibi untuk menggantungku juga. Aku tidak bisa memakai nama Swinford lagi karena semuanya sudah berakhir. Nama Swinford telah hilang bersama dengan kematian keluargaku. Aku melarikan diri ke hutan karena semua orang mencemoohku. Dan bukan hal yang jarang juga mereka datang dan berusaha melenyapkanku begitu saja, ramai-ramai di jalanan kota. Kemudian aku berlari dan tinggal di hutan, meninggalkan mansion Swinford dan bertemu dengan Eda. Maafkan aku, karena tidak pernah mengatakannya.”
Sionn menggenggam telapak tangan kanan Leander dan mengulas senyum lembut. “Kalau begitu, ayah tinggal menghapus nama Swinford dan ayo kita membuat nama baru untuk keluarga kita.”
Leander dan Eda saling berpandangan. Sionn tersenyum lebar, hal yang sangat jarang ia lakukan mengingat sifatnya yang cukup kalem dan cenderung tidak banyak berekspresi. Pemuda lima belas tahun itu lebih sering mendengarkan dan menjawab seperlunya daripada memaparkan sebuah ide dengan ekspresi cerah ceria. Tapi toh ide dari Sionn bukanlah hal yang buruk. Mungkin terkesan kacau dan sembarangan mengingat mereka sebagai rakyat jelata sebenarnya tidak terlalu membutuhkan nama belakang, namun hal itu bisa menjadi satu tanda ikatan mereka kedepannya.
“Jadi, nama apa yang kau sarankan untuk nama belakang kita, Sionn?” Tanya Leander penuh semangat. Ia secara cepat menghapus air mata yang tersisa di kedua pipinya, menampilkan senyum ceria yang biasa ia sunggingkan.
“Grey.”
“Huh?” Eda dan Leander kembali berpandangan.
“Ayah dan ibu memiliki kehidupan yang kelabu, tapi kemudian kalian memberikan kehidupan yang cerah untukku. Anggap saja nama itu sebagai tanda bagaimana awal mula keluarga kita terbentuk. Apakah itu bagus?”
Leander mengusap dagunya sembari mengangguk. “Tentu! Ide darimu sangat bagus dan bermakna. Baiklah, mulai saat ini nama belakang kita adalah Grey! Kita adalah keluarga Grey!”
Begitulah Leander melupakan tentang masa lalunya dan memulai hidupnya dengan nama baru, nama yang dipilih oleh anaknya sendiri.
---
Suatu hari, Leander terpaksa harus ke kota untuk membeli beberapa obat-obatan untuk Eda. Tidak lama berselang sejak mereka membuat nama keluarga baru, tubuh Eda mulai melemah dan membuatnya mulai kesulitan untuk melakukan rutinitasnya. Ia sering terbatuk-batuk kemudian bernapas tidak teratur. Pertama kali terjadi, Leander dan Sionn berpikir bahwa Eda sedang kelelahan. Namun, bahkan hingga beberapa hari berlalu, kondisi Eda tidak membaik. Leander harus menjual hasil buruan termasuk beberapa tumbuhan yang ia petik ke kota untuk ditukar dengan obat-obatan. Leander tidak mengerti tentang penyakit, dan ia hanya menjelaskan ciri-ciri penyakit Eda kepada apoteker yang melayani.
Sionn bertugas untuk menjaga Eda selama wanita itu sakit. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan Eda berakhir di tangan Sionn, tetapi pemuda lima belas tahun itu sama sekali tidak keberatan. Ketika Leander sampai membawa obat-obatan, Sionn bernapas lega. Mengobati Eda dan membuat satu-satunya wanita dalam hidup mereka tetap sehat adalah prioritas.
“Sionn, tinggalkan ibumu. Biarkan dia beristirahat dengan tenang.”
Sionn menatap ibunya ragu. Ia mengusap surai kemerahan Eda dan mencium sekilas dahi ibunya. “Cepat sembuh, ibu.”
Leander mengajak Sionnn duduk di teras rumah mereka. Teras kayu itu biasanya diduduki bertiga; ia, Sionn, dan juga Eda.
“Apakah ibu akan baik-baik saja?”
Leander mengacak surai pirang Sionn yang identik dengannya. “Tentu saja! Eda itu wanita yang sangat kuat, jauh lebih kuat daripada aku.”
“Lalu mengapa ibu tiba-tiba sakit?”
“Ayah tidak tahu, karena ayah tidak mengerti tentang hal terkait medis.”
Sionn mengernyit. “Ayah seorang bangsawan ‘kan?”
“Dan bukan berarti aku belajar medis, Sionn. Aku anak pertama, tentu saja aku diwajibkan untuk belajar politik karena aku direncanakan untuk menjadi kepala keluarga Swinford, bukan untuk menjadi dokter.”
Sionn menghela napas, ia menyisir surai pirangnya ke belakang. Ia tidak terlahir sebagai bangsawan meski ayahnya seorang bangsawan kelas atas. Sionn tidak banyak mengerti ilmu pengetahuan karena tidak memiliki waktu. Yang terpenting, ia bisa membaca, menulis, dan berhitung.
“Sionn.”
“Hm?”
“Ayah memiliki mansion di ibu kota. Ayah meninggalkannya usai kematian keluarga Swin ford. Tidak ada yang memiliki akses ke sana kecuali keturunan Swinford, yah… meski Swinford sudah tidak ada lagi. Suatu hari nanti, jika ayah dan ibu pergi, kembalilah ke sana dan hiduplah sebagai kepala keluarga Grey, bahkan meski kau tidak mendapatkan anugerah gelar bangsawan.”
Sionn berkedip bingung. “Kenapa? Aku bukan bangsawan.”
“Tapi kau tetap anak seorang bangsawan. Aku tidak memaksamu. Hanya saja, kami tidak selamanya bersamamu, Sionn. Suatu hari nanti, kau harus berjalan sendirian, dan kurasa aku perlu mengatakan ini. Lagipula, mansion dan segala isinya tetap saja menjadi hakmu jika aku tidak ada.”
Sionn mengangkat bahu tak acuh. “Kupikirkan saja nanti.”
Leander tersenyum, mengusap bahu puteranya dengan sayang. Ia menarik tubuh Sionn, membawanya dalam pelukan hangat. Keduanya sama-sama berusaha menenangkan diri terhadap keadaan yang mulai tidak lagi stabil sebagaimana biasanya. Leander tidak ingin muluk-muluk, dan melihat kondisi Eda, firasatnya sudah mengarah kepada hal-hal yang buruk. Kondisi Eda tampak sekali bukan penyakit biasa. Ia teringat tentang cerita kematian Eda beberapa tahun silam, mengenai ibunya yang batuk darah dan melemah seiring waktu hingga akhirnya meninggal. Leander tidak menginginkannya, tetapi ia tidak ingin terlalu denial. Pada akhirnya, jika nanti tidak sesuai dengan harapannya, Leander takut kekecewaan atas dirinya sendiri sulit untuk diredakan, dan hatinya yang hancur tak lagi bisa diperbaiki.
“Ayah akan ke ibu kota lagi besok untuk memebeli obat ibumu. Kau harus memastikan semua kebutuhannya terpenuhi.
Sionn mengangguk. “Baik, ayah.”
---
Pagi-pagi sekali Leander menuju ibu kota. Jarak dari hutan tempatnya tinggal dengan ibu kota cukup jauh, dengan membawa barang-barang yang harus ia jual agar mendapatkan uang untuk membeli obat, Leander membutuhkan waktu yang cukup lama hingga sampai kembali ke rumah. Meski sudah lebih dari sepuluh tahun berlalu sejak tragedi keluarganya, Leander tetap menggunakan tudung untuk menyamarkan wajahnya tiap kali pergi ke ibu kota.
Bukan sekali dua kali ia bertemu dengan rekan-rekan keluarganya di masa lalu. Meski samar, tampaknya mereka masih sedikit mengingat wajah Leander karena ketika tidak sengaja bertemu mereka pasti menanyakan apakah mereka pernah bertemu. Leander selalu menunduk dan menyangkal semua pertanyaan mereka kemudian buru-buru pergi menjauh.
Sampai petang menjelang, Leander baru menghabiskan seluruh barang yang ia jual. Uang yang ia kumpulkan langsung ia bawa untuk membeli obat yang biasanya dipakai untuk Eda. Seharian ia harus berada di ibu kota tiap kali memebeli obat.
Buru-buru Leander pulang saat sudah mendapatkan semua kebutuhannya. Meninggalkan Eda adalah hal yang sangat membuatnya terganggu meski ia tahu Sionn sudah cukup dewasa untuk menjaga istrinya. Dalam keadaan super lelah pun, Leander selalu memaksakan dirinya untuk secepatnya sampai ke rumah mereka. Sejak penyakit Eda muncul, rasa khawatir menjurus ke paranoia terus menyerang pikiran Leander, membuatnya sulit tenang, dan seringkali kepikiran istrinya.
Bulan sudah sangat tinggi ketika Leander sampai ke rumahnya. Ia hendak bergegas untuk masuk usai mencuci kaki ketika dirinya mendapati Sionn terbaring di rerumputan tak sadarkan diri.
“Sionn!!!” Seru Leander.
Leander menarik tubuh anaknya, menyentuh leher Sionn untuk memastikan keadaannya. Leander bernapas lega ketika ia merasakan denyut di leher Sionn. Pemuda itu penuh luka di sekitar tangan dan kakinya. Pelipisnya berdarah, dan ia juga mimisan. Ketika Leander menarik pakaian Sionn, ada banyak memar di pinggang Sionn yang kesemuanya sudah membiru.
“Sionn! Sionn! Bangun Sionn!” Leander mengguncang-guncang tubuh Sionn, memaksa anaknya untuk sadar.
Sionn yang merasakan tubuhnya remuk susah payah membuka mata. “A…yah?”
“Sionn! Apa yang terjadi?”
Sionn bernapas pendek-pendek, berkali-kali ia terbatuk. “Ibu…. Ugh…. Ibu.”
Leander merasakan jantungnya seperti dilepas paksa dari dalam dadanya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa hal ini bisa terjadi. mengapa Sionn tergeletak bersimbah darah di luar rumahnya, apa yang sebenarnya menyerang istri dan anaknya ketika Leande pergi.
Leander pelan-pelan meletakkan tubuh Sionn, ia segera berlari ke dalam rumahnya dan menendang pintu kayu yang langsung rubuh begitu saja. Hanya sejenak usai pintu kayu itu itu menjeblak terbuka, Leander merasa jiwanya seperti ditarik secara paksa dari tubuhnya. Eda tergeletak di lantai kayu rumahnya, dengan perut robek dan darah berceceran di sekitarnya.
Badan Leander bergetar, ia jatuh berlutut menatap tubuh kaku Eda yang mengenaskan. Tidak, ia tidak menangis, satu-satunya emosi yang muncul di dalam hatinya hanyalah kemurkaan yang besar.
Leander mengepalkan telapak tangannya sendiri. “Aku akan membunuh siapa saja yang menghancurkan keluargaku.”
-----