Who Are You?

1400 Words
Gilbert berendam dengan Nicolin yang mengusapi rambutnya. Ia diam saja, memandangi langit-langit kamar mandinya dengan pikiran mengawang. Beberapa kali ia mencoba untuk memejamkan mata dan membayangkan wajah yang ia lihat ketika ia kesakitan sebelumnya, tetapi nihil. Gilbert hanya melihat kegelapan, dan setitik pun tidak ada bayangan pria itu sama sekali. “Tolong pejamkan matamu, Tuan Muda. Aku akan menyiram rambutmu.” Gilbert memejamkan mata, kembali membayangkan wajah pria itu. Ketika air hangat disiramkan perlahan di atas kepala Gilbert, ia semakin memejamkan matanya erat-erat, namun tetap saja tidak ada bayangan pria itu lagi. Gilbert semakin ragu bahwa apa yang ia lihat sebelumnya itu nyata. Ketika Gilbert mencapai kesadaran penuh, ia sama sekali tidak bisa kembali melihat wajah pria itu. Jika bayangan itu hanya sekadar halusinasi, lantas mengapa bayangannya terasa begitu jelas, menariknya perlahan, membuatnya kepikiran dan ingin menatap wajahnya lagi. Lebih dari itu, mengapa wajah pria dalam bayangan itu begitu mirip dengan Gilbert? “Silahkan keluar Tuan Muda, akan kusiapkan pakaianmu.” Gilbert menggeleng. “Tinggalkan saja, kurasa aku masih ingin berendam.” Nicolin sedikit melebarkan mata. Meninggalkan Gilbert dan membiarkannya memakai pakaiannya sendiri terdengar tidak benar. Ia bahkan belum pernah melihat Gilbert mengancingkan bajunya sendiri. Membiarkan seorang bangsawan yang seumur hidupnya selalu dilayani untuk bertindak sendiri terdengar meragukan untuk Nicolin. “Tuan Muda yakin?” Gilbert mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Nicolin sejujurnya merasa aneh. Gilbert akhir-akhir ini bertingkah agak aneh. Dia tetap tenang, tetapi di waktu-waktu tertentu gampang sekali terpancing untuk marah. Tentu, hal itu hanya terjadi di hadapan Nicolin. Jika sudah seperti itu, maka Nicolin yang akan menjadi pelampiasannya. Entah ditampar hingga berdarah, atau dilempar vas bunga—yang sebenarnya Nicolin bisa menghindar tetapi membiarkannya saja agar Gilbert puas melampiaskan kemarahannya. Nicolin pada akhirnya tetap patuh. Ia membungkuk hormat dan segera meninggalkan Gilbert, membiarkannya tetap berendam hingga ia puas. Sementara Nicolin sudah pergi, Gilbert kembali memejamkan matanya erat-erat, berusaha untuk kembali melihat bayangan pria itu. Detik-detik berlalu, tetap saja hanya kegelapan yang Gilbert lihat. Tidak ada bayangan apapun, apalagi sosok yang ingin dilihatnya. “Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melihatnya?” gumam Gilbert frustrasi. Gilbert menarik napas dalam-dalam kemudian membiarkan seluruh wajahnya tenggelam di dalam air. Rasa hangat air membuat seluruh tubuh dan kepalanya tenang. Gilbert bertahan pada posisi itu cukup lama, dan semakin ia menenggelamkan kepalanya, semakin nyaman pula tubuhnya. Seharusnya, hanya ada jarak beberapa senti antara wajahnya dengan permukaan air, dan kondisi ruangan yang terang dengan banyak lilin penerangan, harusnya bayangan warna merah yang tampak ketika Gilbert memejamkan mata. Tetapi tidak, semakin lama semakin gelap bayangannya ketika ia terpejam. Kegelapan dalam pejaman mata adalah hal yang wajar, seharusnya seperti itu. Tapi— “Huh?” Gilbert menoleh, tidak ada apapun di sekitarnya selain kegelapan. Ia memandangi tubuhnya, dan ia sudah berpakaian lengkap sebagaimana pakaiannya yang biasa. “Halusinasi lagi, kah?” Pikirnya. Gilbert berjalan, menyusuri kegelapan tak berujung yang dipijaknya. Ia tidak tahu kemana arah yang benar, karena di sekitarnya hanya ada kegelapan. Seolah, ia tengah terjebak pada kotak besar yang ditutup rapat. Gilbert tidak bisa melihat apapun, rasanya ia seperti buta. Apa maksudnya? Mengapa ia berhalusinasi berada di tempat gelap seperti ini? Gilbert menghela napas, memejamkan matanya dan berharap ketika membukanya lagi, ia sudah kembali ke tubuhnya sendiri, dalam kesadaran dan posisinya yang masih berendam. Sayang, ketika ia membuka matanya lagi, tidak ada perbedaan dari apa yang tampak di pandangannya. Semuanya tetap gelap, tetap seperti sebelumnya. Yang itu artinya bahwa ia masih berada dalam halusinasinya sendiri, dengan kesadaran penuh tetapi tidak tahu bagaimana caranya kembali. “Tch, apa-apaan ini, kenapa aku—ugh…” Gilbert membelalak, rasa sakit menghimpit di dadanya yang akhir-akhir ini terus menyerangnya kembali terasa. Ia jatuh terduduk, memegangi dadanya dan menekannya kuat-kuat demi menahan rasa sakit yang bagaikan menusuk-nusuk. “Kenapa harus di saat seperti ini, aakh.” Gilbert bernapas pendek-pendek. Semakin ia berusaha bernapas, semakin sakit dadanya. Kedua bola mata Gilbert melotot, menahan rasa sakit dan sesak yang menyerangnya secara bersamaan. Pikirannya mulai berkelana, dan ia terus-terusan memikirkan kemungkinan bahwa ia akan mati bahkan sebelum dendamnya tercapai. Gilbert tidak bisa, dan tidak boleh. Ia sudah melawan takdir kematiannya sendiri, merelakan kehidupan setelah kematiannya berada di neraka untuk dendam-dendamnya. Ia juga menggadaikan jiwanya. Harga yang sangat mahal itu bukan untuk membuat Gilbert kembali mati, dan hanya karena sakit di d**a? Benar-benar konyol. Sebuah tepukan halus terasa di bahunya. Gilbert berjengit, dan spontan mendongak. Ia menyipitkan matanya ketika melihat cahaya yang begitu terang tiba-tiba muncul di kegelapan pekat seperti itu. Butuh beberapa detik hingga Gilbert bisa memfokuskan pandangannya, dan ia hanya bisa membelalak penuh keterkejutan ketika ia tahu tangan siapa yang tengah berada di bahunya. “Kau berhasil kemari.” Katanya. Gilbert menganga, seluruh suaranya hilang seolah tercekat di tenggorokan. Ia hanya membelalak dan sama sekali tak berkedip, sementara sosok yang berada di hadapannya hanya tersenyum lembut, menatapnya dengan pandangan teduh. Gilbert sudah lama tidak mendapatkan pandangan seperti itu, ia bahkan sudah melupakan jenis pandangan seperti itu. “K-Kau siapa?” Segera setelah Gilbert berhasil mendapatkan suaranya, hal yang pertama harus ia tanyakan adalah sosok pria itu. Gilbert terus menatapnya, masih dengan posisinya yang berlutut. Dilihat dari sisi manapun, pria itu tetap saja tampak seperti versi dewasa Gilbert. Benar-benar mirip. Pria itu tersenyum, mengulurkan tangannya kepada Gilbert. Gilbert yang tidak tahu apa-apa secara reflek ikut mengulurkan tangannya, menerima hal itu. Si pria menggandengnya, tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum saja. Gilbert semakin bingung. Sedalam inikah halusinasi yang ia alami? Gilbert masih sadar bahwa dirinya yang sebenarnya, tubuhnya sendiri masih berendam di kamar mandi mansion-nya, dan sudah berapa lama ia terjebak dalam halusinasi ini? Apakah tubuhnya masih hidup jika tenggelam dalam air dalam jangka waktu selama itu? Beragam pertanyaan timbul, tapi tidak ada satu pun jawaban. Gilbert menghentikan langkah, menarik telapak tangannya hingga terlepas dari genggaman pria itu. Ia mundur selangkah, mengerutkan kening sembari memandangi pria di hadapannya lekat-lekat. “Kau siapa?” ulang Gilbert. Pria itu menatap Gilbert lama, dan sekali lagi yang ia lakukan hanya tersenyum tanpa jawaban yang pasti. Gilbert frustrasi, ia tidak tahu di mana dirinya sekarang. Apakah halusinasi atau memang kenyataan, atau dirinya sebenarnya gila? Gilbert mencengkram kepalanya, berkali-kali menggeleng dan memejamkan mata, berharap ketika ia membuka mata dirinya sudah kembali ke kamar mandinya, tengah berendam. “Kau yang pertama mencariku, Gilbert.” Tubuh Gilbert bergetar perlahan. Benar, Gilbert memang mencarinya, tapi ia hanya ingin tahu siapa sosok itu sebenarnya. Sayangnya pria itu sepertinya tidak berminat untuk menjawab pertanyaan yang diinginkan Gilbert. “Aku mencarimu karena aku ingin tahu siapa kau sebenarnya. Kau yang pertama kali muncul dalam bayangan ketika dadaku terasa amat sakit. Kau tidak mungkin muncul secara kebetulan. Katakan!” “Dadamu terasa sakit?” Gilbert mendecih. “Jangan mengalihkan pembicaraan!” “Buka pakaianmu.” “HUH?” “Lakukan saja.” Jika Gilbert tidak ingat di mana ia sekarang, ia pasti akan dengan senang hati melempar vas bunga ke arah pria itu. Gilbert meraba pakaiannya, dan menarik setiap kancing hingga dadanya terekspos. Hanya sekian detik setelah Gilbert membiarkan dadanya terbuka, sebuah cahaya berpendar, ia yang tidak siap dengan hal itu kontan terjatuh. Gilbert merasakan dadanya panas, persis seperti ketika kulitnya menyentuh besi panas membara saat ritual pemujaan kala itu. Rasanya sakit sekali hingga Gilbert berteriak. Ia meronta, mengusap-usap dadanya dan berharap rasa terbakar nan menyakitkan itu sirna. Pria yang berdiri di hadapan Gilbert maju, kembali menggenggam telapak tangan Gilbert seperti sebelumnya. Rasa panas membara yang terasa di d**a Gilbert perlahan berkurang, dan ia mulai bisa menguasai dirinya sendiri lagi. Ketika pandangan Gilbert semakin jelas, ia bisa melihat simbol heksagon di dahi pria itu, persis seperti ketika pertama kali ia melihatnya. “Perhatikan dadamu, Gilbert.” Katanya. Gilbert menunduk, dan tidak bisa untuk tidak merasa terkejut ketika ia menemukan simbol yang sama, tercetak sama jelas persis seperti yang ada di dahi pria itu. “A-Apa maksudnya ini?” Gilbert mengusap simbol itu, namun sama sekali tidak hilang. Ia menatap pria di hadapannya yang hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. “Katakan!” “Kita terhubung Gilbert.” Tautan tangan mereka terlepas. Pria itu semakin menjauh, dan sekeras apapun Gilbert berlari mengejarnya untuk meminta penjelasan, pria itu sama sekali tak terkejar. Dia begitu cepat menghilang, kembali meninggalkan Gilbert dalam pekat kegelapan. “—da.” “Tuan Muda!” “Tuan Muda!” Gilbert membuka matanya secara tiba-tiba dan ia tampak linglung ketika melihat Nicolin tengah memegangi tubuhnya. “Nicolin?” “Tuan Muda terlalu lama berendam, kau pingsan di dalam air.” “H-Huh?” -----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD