“Tuan Muda?” Nicolin membalik tubuh Gilbert agar berhadapan dengannya. Kedua kelopak mata Gilbert melebar, tubuhnya bergetar hebat, dan tatapan horor terpantul dari kedua iris sewarna darah merpati itu.
Milo, Darius, Miya, dan Charly menoleh karena mendengar suara Nicolin yang terdengar panik.
“Ada apa?” tanya Milo.
Nicolin sigap untuk segera mengubah posisi berdirinya. Ia yang sebelumnya berada di hadapan Gilbert maju untuk berdiri di belakang punggung Gilbert dan menghalangi pandangan Milo dari Gilbert.
Milo yang melihat hal itu mengernyit, ia berpandangan dengan teman-temannya yang lain dan sama-sama mengangkat bahu karena tidak mengerti.
“Ada apa dengan Tuan Muda, Nicolin?” Ulang Milo.
Nicolin memunggungi Gilbert dan menghadap Milo, masih dengan tangan kanannya yang menahan bahu Gilbert. “Tidak apa-apa. Kalian urus mereka, aku akan membawa Tuan Muda istirahat.” Jawabnya tegas.
Milo hanya mengangguk, meski rasa penasaran tidak hilang dari dalam hatinya.
---
Nicolin menggandeng Gilbert, memastikan sang Tuan Muda tidak jatuh ketika berjalan ke dalam kamarnya. Sebisa mungkin Nicolin berada di belakang tubuh Gilbert, memastikannya agar tidak terlihat oleh Milo, Charly, Darius, dan Miya sampai keduanya benar-benar masuk ke dalam mansion. Gilbert benci terlihat lemah di hadapan siapa pun, dan sebenarnya juga di hadapan Nicolin sendiri. Tetapi Nicolin telah mengetahui segalanya. Ia adalah pelayan pribadi Gilbert Grey, lagipula. Tanggung jawab sebagai pelayan pribadi Gilbert juga untuk memastikan bahwa Gilbert harus selalu tampak sempurna di hadapan siapa saja.
Trauma Gilbert datang pada saat-saat yang tidak bisa diprediksi. Ini kedua kalinya sejak trauma pertama yang terjadi di aula rahasia kala itu. Keduanya memiliki penyebab yang sama, yaitu berkaitan dengan tragedi yang pernah dialami oleh Gilbert. Ia mungkin adalah pemuda berjiwa kuat, namun pada akhirnya hatinya tetap manusia biasa. Sekuat apapun Gilbert berusaha menghapus tragedi hari itu, ingatan tentang rasa sakit dan keputusasaannya sama sekali tidak bisa hilang. Bayangan kengerian hari itu tetap ada, sangat jelas seperti baru saja terjadi kemarin, dan Gilbert harus hidup dengan menanggung semua kepedihan itu bersamaan dengan dendam membuncah yang membakar di hatinya. Sampai hari pembalasan itu tiba, Gilbert akan tetap hidup dalam bayang-bayang kengeriang dan kepedihan itu.
Nicolin mendudukkan Gilbert di pinggiran ranjang, ia berjongkok dan melepas sepatu Gilbert untuk kemudian menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. Gilbert hanay diam, masih dengan keringat dingin yang menetes-netes di pelipisnya juga kedua kelopak matanya yang melebar seolah tengah mengalami serangan ketakutan hebat.
“Tuan Muda?” Nicolin menyentuh pipi Gilbert, namun hanya sepersekian detik karena Gilbert secara reflek langsung menampik telapak tangan Gilbert. Ia sendiri kemudan berjengit kaget atas apa yang ia lakukan.
“Keluar, tinggalkan aku.” Seru Gilbert dengan suara serak.
Nicolin membelalak. “Tapi, Tuan Muda—“
Gilbert menatap Nicolin tajam, meski bahunya masih bergetar pelan. Nicolin membuka mulutnya hendak berbicara, namun urung melakukannya dan hanya membungkuk sebagai penghormatan sebelum akhirnya keluar dari kamar Gilbert.
Sepeninggal Nicolin, Gilbert membungkuk, memegangi dadanya yang terasa sakit dan membenamkan wajahnya pada ranjang demi menahan teriakan yang ingin sekali ia lakukan. Rasa menghimpit itu sudah ia rasakan sejak berada di Istana, dan semakin menjadi-jadi ketika traumanya kambuh akibat melihat para penyusup yang memakai topeng yang sangat ia kenali. Hingga ia masuk ke kamarnya saat ini, rasa menghimpit di dadanya masih terasa menyiksa, membuatnya berguling-guling di atas ranjang sembari menekan bagian dadanya.
Gilbert merintih pelan, menahan suaranya agar tidak terdengar keluar. Ia terus menahan rasa menghimpit di dadanya itu dan berharap Nicolin segera keluar sejak tadi, dan menampik telapak tangan Nicolin adalah bentuk responnya karena rasa sakit itu. Napas Gilbert terus memburu, dan bahkan air matanya sudah mengalir tanpa ia sadari.
“Ugh, sa…kit.” Rintihnya pelan.
Gilbert menelentangkan tubuhnya, sembari menekan dadanya sendiri. Kedua kelopak matanya terbuka lebar berikut dengan bibirnya. Hanya langit-langit kamar yang bisa ia lihat, dan bahkan pandangannya pun mulai kabur karena air mata yang terus mengalir tanpa bisa ia cegah.
Gilbert mengedipkan matanya, semakin ia bernapas, semakin saki pula dadanya. Ia sudah tidak begitu kuat lagi untuk bergerak, dan hanya bertahan pada posisi itu sembari terus menekan dadanya sendiri. Meski tindakan itu nyatanya tidak begitu membantu, Gilbert tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak bisa berteriak karena ia memang tidak mau. Menunjukkan kelemahan adalah pantangan terbesar dalam hidupnya. Dalam kondisi apapun, Gilbert hanya ingin tampil dalam kondisi yang baik.
“Tidak mungkin aku mati sebelum dendamku terbalaskan, bukan?” Batinnya frustrasi.
Gilbert memejamkan matanya, berusaha keras mengatur napas demi menahan rasa sakit di dadanya yang terus menyiksa. Dalam bayangan matanya ketika Gilbert terpejam, ia melihat seseorang yang mirip dengannya, hanya saja lebih dewasa, dengan rambut pirang panjang yang berkilau, dan sebuah tanda heksagon di dahinya.
“Siapa?”
Sosok pria dengan rambut pirang panjang itu tersenyum, melambai kepadanya. Gilbert tidak mengerti, namun secara alami berusaha mengejarnya. Namun, semakin ia berlari, sosok pria itu semakin menjauh, mengecil, dan tertelan kegelapan. Gilbert berdiri dalam kebingungan, menengok kesana-kemari dan tidak menemukan apapun.
Gilbert memegangi dadanya, serangan rasa sakit yang menghimpit dadanya kembali datang, membuatnya jatuh terduduk sembari berusaha menekan dadanya sendiri dengan tangannya.
Hanya tak lama setelah itu, Gilbert membuka matanya lebar-lebar. Ia masih terbaring di atas ranjangnya dengan kedua tangan direntangkan. Tubuhnya terasa menggigil, tetapi rasa sakit di dadanya telah hilang. Gilbert meraba dadanya sendiri, dan sama sekali tidak ada rasa sakit yang tersisa. Ia bangun dan segera duduk, mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Rambut pirangnya lengket di sekitar dahi dan pelipis, dan ia masih merasakan jejak air mata yang mengering di kedua pipinya.
“Bayangan siapa yang baru saja kulihat?” Tanya Gilbert kepada dirinya sendiri.
Ia turun dari ranjang dan mencari buku khusus yang berisi lukisan-lukisan keluarganya dari generasi ke generasi. Karena keluarga Grey selalu hanya memiliki satu keturunan laki-laki, mereka terbiasa mengabadikan wajahnya dalam sebuah lukisan, terus seperti itu hingga ke ayah Gilbert. Sampai saat ini, hanya Gilbert yang belum memiliki lukisan wajahnya karena ia belum menjadi kepala keluarga sementara keluarganya sudah terlebih dahulu meninggal dalam kebakaran mansion itu.
Ketika pertama kali Gilbert kembali bersama Nicolin, gambar-gambar lukisan itu yang ia cari. Dokumen itu disimpan dalam wadah khusus, yang tahan api mau pun air. Ia bernapas lega ketika menemukan kotak itu masih dalam kondisi utuh pasca kebakaran. Sebelumnya kotak itu disimpan di bawah tanah, tetapi sekarang diletakkan di kamar Gilbert.
Gilbert membongkar isi kotak dan mengeluarkan semua gambar-gambar wajah keturunan Grey sebelumnya. Ia tidak pernah peduli sebelumnya, baginya gambar-gambar itu hanya sebagai pengingat garis keturunan. Tidak ia sangka, saat ini ia membutuhkannya. Gilbert tidak mengenal sosok pria yang ia lihat ketika dirinya pingsan beberapa menit sebelumnya, tetapi wajah itu terasa familiar. Kemungkinan, karena wajahnya begitu mirip dengan Gilbert sendiri.
Ada banyak sekali lembaran, dan Gilbert bahkan tidak menyangka gambar-gambar itu ada banyak sekali. Yang pertama digambar adalah seorang pria dengan garis wajah tegas dan sorot mata tajam, bernama Evert Grey. Lukisan itu dibuat pada tahun 1203.
“Tunggu, kenapa dikatakan bahwa Evert Grey adalah pendiri keluarga Grey? Sebagai Grey yang pertama?”
Gilbert menarik buku harian yang ia temukan. Buku itu bahkan ditulis di tahun 1100-an, yang mana berarti berjarak seratus tahun dari Evert Grey yang dikatakan sebagai Grey pertama. Gilbert meraba sampul kusut itu, kembali membaca tulisan luntur yang jelas-jelas tertulis sebagai Grey, hanya nama depannya saja yang tidak bisa dibaca.
Gilbert menggelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan pikiran. Ia kembali memilah-milah gambar-gambar di hadapannya. Kebanyakan dari lukisan itu dibuat saat pewaris Grey telah berada pada usia matang termasuk ayahnya sendiri—Alexander Grey. Tidak ada dari mereka yang dilukis saat masih berusia dua puluhan, atau saat masih lebih muda ketika mereka remaja. Dan ketika Gilbert memeriksa untuk kedua kalinya, ia sama sekali tidak menemukan wajah yang cukup mendekati dengan wajah yang ia lihat dalam bayangan yang tampak padanya.
Gilbert mengembalikan seluruh lukisan itu ke dalam kotak dan kembali menyimpannya. Ia kemudian duduk di pinggiran ranjang, hanyut dalam beragam spekulasi yang muncul di dalam kepalanya.
“Siapa? Dia sebenarnya siapa? Mengapa dia tiba-tiba muncul? Apa aku hanya berhalusinasi karena rasa sakit di dadaku tadi?” Gilbert mengusap wajahnya, merasa tidak puas ketika ia tidak bisa menemukan jawaban yang pasti.
Gilbert kembali meraba dadanya, benar-benar sama sekali tidak ada rasa sakit yang tertinggal, seolah kesakitan yang menyiksanya tadi hanya halusinasi belaka. Gilbert tidak ingin berpikir macam-macam, dan ia mengaitkan rasa sakit menghimpit di dadanya sebagai akibat dari traumanya karena para penyusup itu. Ya, seharusnya memang begitu. Tapi pada kenyataannya, ia bahkan sudah beberapa kali merasakan sakit yang sama, dan rasa sakit itu muncul secara acak, seolah tanpa penyebab dan hilang dengan sendirinya, tanpa penyebab pula.
Tok… tok…
Gilbert tersentak. Ia mendongak ketika mendengar ketuka pintu kamarnya. “Masuklah, Nicolin.”
Iblis pelayan itu masuk dan segera menunduk hormat. Ia mendekat kepada Gilbert dan menatapnya cukup lama. “Apakah Tuan Muda baik-baik saja?”
Gilbert mengangkat bahu tak acuh, bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. “Seperti yang kau lihat.”
Meski begitu, Gilbert tidak akan terkejut jika Nicolin mencium hal tidak wajar pada dirinya. Pada dasarnya, memang Nicolin selalu seperti itu. Ia terdiam, terus memandangi wajah Gilbert dalam waktu yang lama.
“Tuan Muda berkeringat dingin, ada jejak air mata, dan pakaian Tuan Muda di bagian d**a sangat kusut. Tuan Muda merasa kesakitan di bagian d**a, benar ‘kan?”
Gilbert mendecih, ia berdiri dan memukul wajah Nicolin hingga pelayan itu berdarah di ujung bibirnya karena terkena cicin Gilbert. “Kau! Mengatakan sesuatu yang tidak pantas kepada Tuanmu! Minta maaf!”
Nicolin menjilat darah di ujung bibirnya, dan mendapatkan respon decihan jijik dari Gilbert karena melihat hal itu. Nicolin berlutut, meletakkan tangan kanannya di d**a. “Mohon maafkan kelancanganku, Tuan Muda.”
Nicolin kembali berdiri. “Jika Tuan Muda sebegitu tidak inginnya tampak berantakan, izinkan aku menyiapkan mandi untukku, Tuan Muda.” Dan tanpa menunggu respon Gilbert, Nicolin sudah berbalik dan meninggalkan kamar Gilbert.
Gilbert menjambak rambutnya sendiri, rasa kesal memuncak, dan ia tidak tahu mengapa harus merasa semarah itu. Ia bahkan sudah berekspektasi bahwa Nicolin pasti mengetahui masalahnya. Dan tidak mungkin iblis itu akan mengabaikannya. Ia selalu mengatakan apa saja yang ada di pikirannya, dan tanpa mempedulikan bahwa dirinya hanyalah pelayan.
Gilbert mengusap dadanya, memejamkan mata sebentar sembari menarik napas dalam-dalam. Ada banyak hal yang harus ia urus, terutama karena kedatangan para penyusup itu memiliki timing yang sama dengan jadwalnya meninggalkan mansion. Jika mereka sengaja menunggu Gilbert pergi, berarti ada sesuatu dari dalam mansion Grey yang tengah dicari. Lalu, mengapa mereka bisa mengetahui jadwal kepergiannya padahal undangan itu adalah kiriman dari Istana yang tidak mungkin diketahui oleh siapa pun.
Apa hubungan semua peristiwa ini?
-----