Anan masih marah pada Geana dan hal itu membuat Geana berpikir keras, apa yang harus dia lakukan agar suaminya itu tak marah lagi padanya? Kira-kira itulah pikiran yang terlintas di pikiran Geana. Dia tidak pernah menyangka kalau Anan akan semarah ini padanya, bahkan sudah hampir lebih dari tiga hari Anan mendiamkannya. Bukankah tidak boleh bermarah-marahan lebih dari tiga hari ya? Sepertinya Anan sama sekali tidak ingin berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu, apakah memang benar harus dirinya kah yang mengalah dan memulai? Wanita itu menghela napas, dia menatap pintu ruangan kerja suaminya yang letaknya ada di samping kamar mereka. Sebelum masuk dia mengintip sebentar, di sana ada Anan yang masih sibuk dengan laptopnya. Geana membuka pintu itu dengan perlahan, langkah kakinya membawa

