Rafa masuk ke dalam ruangan Humairah. Wanita itu sedang terbaring di atas brankar dengan wajah pucat. Seketika rasa bersalah kembali menghantui perasaannya. “Assalamualaikum.” salam Rafa “Waalaikumsalam.” Rafa berdiri tepat di samping brankar istrinya. “Bagaimana kondisi kamu? Sudah lebih baik?” Humairah mengangguk kecil. “Iya, mas. Kondisi Humairah sudah lebih baik.” “Alhamdulillah.” Dan setelahnya mereka saling diam. Rafa tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Ia sudah mendengarkan penjelasan dari sang Dokter, hal itu membuatnya semakin bersalah. Ia yang telah membuat Humairah kelelahan. Bahkan memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dia tidak mau. “Maaf!” ujar Rafa dengan nada tulus Humairah menatap ke arah suaminya. Ia menautkan kedua alisnya. Apa ia tidak salah denga

