Niat
Sudah enam bulan Rudy, ditinggalkan Diana menikah lagi.
Setiap hari ia di sibukkan dengan pekerjaan.
berniat ia melupakan mantan istrinya itu.
Sejak kejadian di pernikahan Diana.
Rudy tak pernah lagi pulang kerumah orang tuanya.
Rudy tengah dekat dengan seorang penjual martabak langganan Diana.
mereka sering bertemu, bahkan bertukar cerita.
"Baru datang mas,". Ucap Nely.
"Iya dek,". Jawab Rudy
Nely,sudah lama berjualan martabak.
Ia melanjutkan warisan dari bapaknya sudah meninggal.
Dia juga di bantu oleh ibunya setiap hari.
Ibunya Nely,juga ramah dengan Rudy.
"Nel. Sebenarnya kedatangan ku ke sini,ingin melamar mu menjadi kan istriku,apa kamu mau denganku yang duda ini,". Ucap Rudy.
Ia sudah lama mengenal Nely,niat Rudy sudah bulat untuk menikahi anak Bu Mira.
"Mas,serius melamarku,". Tanya Nely.
"Iya Nel,mas jatuh cinta sama kamu,".
"Bagaimana bu,". Tanya Nely kepada ibunya.
"Ibu terserah kamu nak,jika nak Rudy, serius ajak lah keluargamu datang kerumah kami,".
"Benarkah bu. Ibu merestui aku,".
"Kalau ibu,sangat merestui kalian,tapi itu semua terserah anak ibu,".
"Baik bu. Malam besok saya datang bersama keluarga untuk melamar Nely,".
Nely sangat malu apa yang di ucapkan Rudy,ia juga merasakan jatuh cinta.
Hari ini juga Rudy,pergi kerumah orang tuanya.
Untuk memberi tahu jika ia ingin melamar seorang gadis yang ia cintai.
"Mau menikah,". Tanya pak Heru.
"Iya pa, Rudy jatuh cinta dengan seseorang,bahkan kami sudah dekat lama,". Kata Rudy.
"Apa dia bekerja mas,". Tanya Tina.
"Iya Rud,ibu gak mau dia nganggur. Setidaknya kaya Diana banyak uang,".
"Dia berjualan martabak setiap hari,". Jawab Rudy
"Apa jualan martabak. Ck tidak bisa kah kamu mencarikan menantu buat ibu yang kaya raya,".
"Bu,aku sadar dengan hidup sederhana kami bahagia,terserah ibu mau setuju atau tidak,niatku sudah siap untuk menikahi Nely,". Bentak Rudy.
"Bu, cukup Rudy kehilangan istri pertamanya,dan ibu jangan ikut campur dengan rumah tangga Rudy lagi, bapak merestui hubungan kalian nak,biar bapak yang datang tak perlu yang lain,". Ujar pak Heru membela anak pertamanya.
"Gak bisa gitu dong,ibu juga mau liat istrinya Rudy,". Sahut Bu Lela
"Aku harap ibu jangan membuat masalah, jangan bikin malu bu,dan terserah aku mau mencari istri yang bekerja atau tidak,liat Tina yang tak bekerja ibu santai saja,". Ucap Rudy
"Santai mana mas,setiap hari ibumu selalu saja membuatku repot,". Keluh Tina.
"Kalau kamu merasakan di repotkan ibu,mending pergi dari rumah ini,". Bentak Rudy
"kamu kenapa sih Rud,selalu saja marah dengan Tina,".
"Aneh deh aku sama ibu,Tina terus di bela. Lagian anaknya sudah besar bu,enak kalau di tinggal bekerja,".
"Kan ada mas Yoga,ngapain kerja,". Sahut Tina.
"Aku pusing dengan sikap kalian,ya sudah pak Rudy pamit,malam besok nanti Rudy jemput bapak,".
"Hati-hati nak," ucap pak Heru.
"Besok jemput kita pakai mobil Rud,biar semua datang,". Ujar bu Lela.
"Gak,kalau mau ikut kan pakai kendaraan juga bisa,".
"Ck,jangan bikin malu lah mas,". Kata Tina.
"Diam kamu Tin,aku tak ingin kamu ikut,". Bentak Tina.
"Bu, liat mas Rudy,". Tina mengadu kepada mertuanya.
"Nanti ibu ada cara,". Bisik bu Lela kepada menantu kesayangan.
Dengan hati masih kesal Rudy, meninggalkan rumah orangtuanya.
"Uuh,sampai kapan ibuku berubah,". Gumam Rudy.
.
.
"Nely, gugup bu,".
"bawa santai nak,apa kamu serius menerima Rudy,". tanya bu Rima
"iya bu, Nely. merasa nyaman sama mas Rudy,".
"nak Rudy bekerja apa nak,".
"jadi guru bu,baru dua bulan ini,".
"alhamdulillah, pekerjaan nya Rudy. bagus nak,".
"tapi, jangan di beritahu sama ibunya kata mas Rudy,"
"lah emang kenapa nak,". tanya bu Rima heran.
"ibunya mata duitan bu,".
"astagfirullah,apa kamu sanggup nanti menjalani rumah tanggamu nak,"
"insyallah bu, Nely sanggup,"
Ada rasa ragu bu Rima,dengan keluarganya Rudy.
apa lagi Nely,anak semata wayangnya.
.
.