Part 26

998 Words
    Dyra mematung di tempatnya. Pikirannya masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Tentang ajakan Rudra. Senyum dari seorang 'Pluto' yang seumur hidup belum pernah Dyra lihat.     "Buruan." suara bernada datar namun penuh ketegasan tersebut menyadarkan Dyra dari lamunannya. Ia menatap Rudra sekali lagi. Sayang, wajah laki-laki itu kembali menjadi dingin seperti biasanya. Bagai melihat penampakan, senyuman di wajah Rudra hanya sekejap. Bahkan saat Dyra melihatnya, ia merasa sedang dalam keadaan tidak sadar.     Rudra berdecak kemudian melangkah meninggalkan Dyra yang masih terpaku. Sadar dirinya ditinggalkan, Dyra memilih mengikuti langkah Rudra menuju parkiran. Sembari menerka drama apa yang sebenarnya sedang terjadi disini. Dyra menatap ke arah sepatu Rudra. Kaki laki-laki itu menapak di atas tanah dan melangkah dengan normal. Itu artinya dia memang manusia, bukan bangsa makhluk halus yang menyamar menjadi Rudra dan bersikap aneh hari ini.     Dyra hanya berani melangkah di belakang Rudra. Ia hanya melangkah perlahan dengan seribu satu pertanyaan di kepalanya. Dyra mengikuti Rudra yang melangkah menuju motornya. Ia masih bingung menanti apa yang akan terjadi.      "Ngapain?" tanya Rudra ketika Dyra hanya menatap aktivitasnya yang hendak mengenakan helm.     "Loh?" Dyra merasa sedikit terkejut dengan tatapan Rudra yang menajam.     Kayaknya gue salah lihat plus salah denger     Dyra menganga, ia sendiri bingung harus menjawab dengan kalimat apa. Mengingat pertanyaan Rudra yang terasa sangat ambigu baginya.     "Tadi katanya.."     Dyra tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia takut salah berucap karena gendang telinganya menangkap bunyi yang salah.     "Lo bawa motor, kan?" tanya Rudra. Dyra menjawabnya dengan menganggukkan kepala.     "Ya buruan ke motor lo. Malah bengong di sini."     Dyra merasa dihantam ribuan meteor. Bukankah tadi Rudra yang mengajaknya pergi kencan? Namun mengapa ucapan Rudra tersebut terkesan seperti mengusir Dyra.     "Sebenernya lo jadi nggak sih ngomong sesuatu ke gue? Katanya tadi lo mau ke suatu tempat. Ya udah gue ngikutin lo sampe sini."     "Jadi. Buruan naik ke motor lo."     Dyra menahan rasa kesalnya. Ia hendak berbalik namun si Pluto berucap lagi.     "GPL!"     Dyra melangkah dengan langkah panjang. Berusaha mencapai motornya dengan secepat mungkin. Dan ketika mendengar bunyi motor Rudra di belakangnya, ia mengumpat dalam hati.     Ngapa gue nggak dibonceng aja!     Suara motor Rudra terhenti bersamaan dengan langkah Dyra yang telah tiba di dekat motornya. Ia memasukkan kunci motor kemudian mulai memakai helm.     "Kita ke RSJ Angrara, lo di depan. Jangan coba-coba kabur!" titah Rudra ketika Dyra telah bersiap untuk mengemudikan motornya. Dyra sedikit terkejut mendengar nama tempat itu. Tempat yang sering dikunjunginya. Ia bertanya-tanya dalam hati mengapa Rudra mengajaknya ke tempat itu. Bagaimana Rudra bisa mengetahui tempat itu.     "Gue nggak tau," ujar Dyra berbohong.     "Nggak usah pura-pura. Pokoknya lo yang nunjukin jalan."     Buruan."     Dyra segera menarik gas motornya. Mau tidak mau ia harus menuju ke sana. Mereka meninggalkan parkiran sekolah dengan segera.                                                                                     -----     "Ngapain ya?" Dyra melirik kaca spionnya yang menampilkan Rudra. Laki-laki itu benar-benar mengikutinya. Tidak ada celah untuk melarikan diri. Disaat kecepatan motor Dyra menurun, Rudra akan memperlambat laju motornya. Begitu pula saat Dyra menaikkan kecepatan, Rudra akan ikut mengemudi dengan gesit. Tadi Dyra sempat berusaha melarikan diri ketika ada peluang. Namun nahas, Rudra bisa mengejarnya dan tiba-tiba telah berada di sampingnya untuk memberi peringatan.     "Kok dia bisa tau?" Dyra menggigit bibir bawahnya. Kini ia telah memasuki kompleks rumah sakit jiwa Angrara.     "Jangan-jangan dia tau keluarga gue." Dyra membulatkan matanya ketika melihat gerbang rumah sakit yang terbuka lebar.     Setelah Dyra memasuki gerbang tersebut, ia segera memarkirkan motornya. Disusul Rudra yang memarkirkan motornya tepat di sebelah motor milik Dyra. Dyra yang telah melepas helmnya kini menanti arahan dari Rudra. Jantungnya berdetak begitu cepat. Bagaimanapun, sikap Rudra sangat misterius dan sulit ditebak. Bisa saja Dyra terbunuh hanya dengan ucapan pedas dan tatapan tajam dari seorang Rudra Aditya.     "Ayo."     Rudra menatap Dyra sekejap kemudian melangkah memasuki rumah sakit.                                                                             ------     "Lo kenal Mama gue?"      Dyra yang sedari tadi menikmati makanannya kini mendongakkan kepala.      Sejak kedatangan mereka berdua di rumah sakit ini, Rudra tidak berbicara apapun kecuali menyuruhnya untuk makan. Rudra mengajaknya ke kantin yang terletak di sebelah kanan rumah sakit ini. Memesan beberapa makanan untuk mereka nikmati. Awalnya, Dyra merasa sedikit kesal saat tahu sang  Pluto mengajaknya jauh-jauh kesini hanya untuk mengisi perut. Bukankah masih banyak tempat makan kekinian yang layak untuk dikunjungi. Namun mendengar pertanyaan Rudra yang terkesan berbeda, Dyra menjadi penasaran.     "Mama lo?" tanya Dyra dengan kerutan di keningnya. Rudra menatap Dyra dengan tajam. Ia sudah tidak lagi sibuk dengan makanannya. Kini mengintimidasi Dyra adalah perhatian utamanya.     "Maksudnya?" tanya Dyra bingung. Ia menegak air putih yang tersedia untuk menutupi rasa groginya. Tatapan Rudra benar-benar terasa menusuk. Sungguh kencan yang sangat menyentuh bagi Dyra. Menikmati makanan di kantin sebuah rumah sakit jiwa ditemani sosok yang tampan namun memiliki tatapan tajam dan aura menyeramkan. Serta jangan lupakan backsound teriakan para pasien serta obrolan di kantin ini yang menyerupai pasar.     "Bu Rahayu. Lo sering jengukin dia. Kenapa?"      Dyra tersedak seketika ia merasa air yang ia telan justru mengalir melalui tenggorokan bukan kerongkongan.      "Kok lo tau?" tanya Dyra ketika berhasil mengendalikan batuknya.     "Lo deket sama dia?"      "Kok bisa lo kenal sama Mama gue?"     Dyra mengalihkan pandangan ke sekeliling. Berusaha menepis hipotesis dalam pikirannya.     "Maksud lo, Bu Rahayu itu Mama lo?" tanya Dyra dengan tidak sabaran.     Bukannya menjawab pertanyaan Dyra, Rudra justru menatapnya dengan tajam.      "Jawab! Kenapa lo bisa kenal Mama gue?" Rudra sedikit meninggikan suaranya. Wajahnya memerah seperti menahan emosi. Dyra baru mempercayai. Bahwa setan itu memang benar-benar ada.                                                                                 -------     Dea menyerahkan beberapa lembar rupiah kepada supir ojek yang telah mengantarnya. Tanpa berbasa-basi, Dea segera memasuki pekarangan rumahnya. Ia baru saja hendak mengetuk pintu namun pintu tersebut telah terbuka lebih dahulu.     "Loh, Dea sudah pulang." Dea tersenyum tipis ketika Bu Sari-Bundanya- muncul setelah pintu terbuka.     "Iya, Bun."     Bu Sari tampak menatap ke belakang Dea. Seolah mencari sesuatu.     "Rudra mana?"      "Dia ada urusan penting, Bun. Nggak bisa pulang bareng. Jadi tadi Dea naik ojek online aja."     Bu Sari menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.     "Urusan apa?"     Dea mengangkat bahunya acuh.      "Entah, Rudranya nggak mau ngasih tau."     Dea segera menerobos memasuki rumah setelah berucap demikian. Ia merasa sangat lelah dan perlu segera beristirahat. Sedangkan Bu Sari hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD