Part 27

1055 Words
    Dyra memasukkan motornya ke dalam garasi. Tidak seperti biasanya ia akan langsung masuk rumah setelah tiba, saat ini ia justru tengah tersenyum sembari duduk di atas motornya. Masih lengkap dengan helm di kepala.     "Oh my God!" Dyra mengusap pipinya yang terasa memerah. Ia masih mengingat saat berada di rumah sakit tadi. Saat dimana Rudra meminta nomor ponselnya.      Senyum di wajah Dyra semakin mengembang tatkala ia teringat senyuman sekilas Rudra saat di sekolah tadi. Dyra mulai membayangkan jika Rudra memiliki perasaan yang sama dengannya. Rasa yang diungkapkan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Seperti mengajak makan berdua di kantin rumah sakit jiwa. Meminta nomor ponsel dengan marah-marah.     Mungkin peradaban makhluk Pluto kayak gitu. Jadi maklumin aja.     Setidaknya itu yang terlintas di pikiran Dyra jika mengingat kegiatannya dengan Rudra hari ini.     "Baru pulang?"      Dyra menganggukkan kepalanya. Bukankah jawaban atas pertanyaan itu sudah jelas. Dyra ada di garasi rumahnya dan masih lengkap dengan seragam, tas, sepatu, serta helm di kepala. Sepertinya itu masih belum cukup untuk menggambarkan bahwa Dyra baru saja tiba.     "Darimana saja?"      "Rumah sakit jiwa," jawab Dyra tetap dengan pandangan kosong dan pikiran melayang entah kemana. Tidak ada lagi suara. Dyra pun terdiam, namun perlahan lamunannya mulai terhenti. Wajahnya yang tadi tersenyum kini berubah menjadi raut terkejut.     "Kayak suara Papa." Dyra masih menatap lurus ke depan. Ia lantas menolehkan kepalanya ke arah kiri.     "Papa!!" pekiknya ketika melihat Pak Erwin tengah menyengir kuda. Dyra segera melompat dari motornya dan memeluk papanya tersebut.     "Paa.. Kangen. Kapan pulang?" tanya Dyra di pelukan sang ayah.     "Baru aja. Lepas dulu helmnya, Dyra."     Dyra mengurai pelukannya. Ia segera melepas helmnya kemudian meletakkan helm tersebut di spion lantas kembali memeluk papanya.     "Dyra kangen banget..."     Dyra benar-benar merasa bahagia. Ia tidak menyangka papanya akan pulang. Papanya sedang ada urusan pekerjaan di Singapura, sehingga jarang pulang. Dan melihat papanya ada di depan mata seperti ini, adalah hal yanh sangat membahagiakan bagi Dyra.     "Kok nggak ngabarin sih, Pa?"     Dyra melepas pelukannya.     "Gimana mau ngabarin, kamunya asik keluyuran. Anak gadis kok nongkrongnya di rumah sakit jiwa."      Dyra terkekeh. Ia masih ingat bagaimana papanya melarang Dyra untuk mengurangi frekuensi kunjungan ke tempat tersebut. Dan tadi Dyra melakukan kesalahan dengan menjawab terlalu jujur.     "Ya udah, yuk masuk."                                                                                     ------     "Gimana sekolah kalian?" tanya Pak Erwin.     "Seperti biasa, Pa. Selalu dapet seratus," ujar Dero dengan nada datar.     Dyra memutar bola matanya. Jelas-jelas beberapa minggu yang lalu Dero sempat menggemparkan rumah hanya karena nilai ulangannya mendapat nilai A+.      "Nggak juga, buktinya kemarin lo dapet nilai A+. Sampe berasa laksana neraka ini rumah, gara-gara angkara murka lo."      "Masalah nilai, Papa percaya sama kalian. Nggak akan ada yang nandingin. Maksud Papa, apa kalian sudah mulai dekat sama lain jenis?"     Suara dentingan garpu dan sendok menjadi balasan atas pertanyaan Pak Erwin. Dero yang melakukan itu. Ia menatap Dyra dengan lekat.     "Dyra tuh, Pa. Lagi deket sama lain jenis."     Dyra seketika tersedak mendengar ucapan kembaran nya. Benar-benar menyebalkan. Padahal ia baru saja dekat dengan Rudra sore ini. Tetapi kedekatannya mampu terlacak oleh Dero yang hanya berleha-leha di dalam rumah. Dyra segera meneguk air untuk meredakan batuknya.     "Sok tau!"     "Alah. Buktinya lo batuk. Biasanya kalo batuk itu bener."      "Jangan percaya, Pa. Kak Dero pembual."     "Pa, denger ya. Dyra itu sekarang deket sama- awh.."     Dero merasakan sakit di bagian kakinya. Tentu saja itu ulah Dyra yang menginjak kakinya. Usaha yang bagus untuk menggagalkan rencana Dero melaporkan sesuatu mengenai Dyra.     "Dyra deket sama babon kucing yang sering kencan di jalan, Pa."     Dyra melongo mendengar ucapan kembarannya, begitu pula Pak Erwin.     "Kucing, lain jenis kan dengan manusia?" tanya Dero santai.     Dyra berdecak sebal. Ia kira Dero mengetahui tentang perasaannya dan kedekatannya dengan Rudra. Atau yang terparah, Dero bisa saja berpotensi menggagalkan kedekatan Dyra dengan Rudra.     "Lo dah yang paling sip, Kak."     "Oh iya, Pa. Masak Kak Dero upload foto Dyra di ignya. Udah gitu, pake ngaku-ngakuin Dyra sebagai pacarnya pula."     "Bagus itu. Kan nggak ada yang tau kalo Dyra adiknya Dero. Dengan begitu, cowok cewek yang mau deketin Dero sama Dyra jadi mundur karena kalian udah punya pacar."                                                                                 -----     "Lo serius?" tanya Tama dengan raut terkejutnya.     "Kok bisa?" tanya Tama lagi.     "Bisa, buktinya sampe sedeket itu sama nyokap gue."     Sebenarnya Rudra malas menceritakan hal ini kepada siapapun, termasuk Tama. Karena dengan bercerita dengan Tama itu artinya ia harus menjawab segala pertanyaan Tama dan menjelaskan apa saja yang terjadi. Tetapi, biar bagaimanapun. Rudra harus menceritakannya karena ia membutuhkan solusi. Ia hanya memiliki Dea dan Tama sebagai teman yang ia percayai. Entah mengapa Rudra merasa tidak pas jika menceritakan ini dengan Dea. Sehingga dengan amat sangat terpaksa, Rudra menceritakannya kepada Tama.     "Terus sekarang apa yang bakal lo lakuin?"     Rudra menoleh ke arah Tama. Justru itu adalah hal yang ingin ia tanyakan kepada Tama.     "Gue rencananya mau minta bantuan dia biar bisa nyembuhin Mama."     Tama tampak mengangkat satu alisnya.     "Psikolog aja masih belum bisa nyembuhin Mama lo, masak lo mau minta bantuan Dyra yang cuma anak IPA."     Dalam hati Rudra menyetujui ucapan Tama. Selama ini, Rudra sudah semaksimal mungkin dalam mengobati ibunya. Entah sudah berapa kali Rudra mengganti psikolog untuk menangani ibunya, namun tidak ada yang berhasil. Dan Rudra terkejut ketika kemarin ia berkunjung, suster yang merawat ibunya mengatakan bahwa Bu Rahayu sering berinteraksi dengan Dyra. Bukankah itu suatu perubahan besar yang Rudra tidak ketahui. Ia ingin ibunya sembuh, bagaimana pun caranya.     "Gue mau nyoba dulu. Buktinya, Mama mau berinteraksi sama Dyra. Gue yakin, dia bakalan ngebuat Mama mau berinteraksi sama gue."     "Dea tau nggak?"     Rudra menggelengkan kepala. Ia memang belum memberitahu Dea dan tidak ingin memberitahu siapapun mengenai hal ini, termasuk Papanya sendiri. Ia ingin fokus dan berjuang sendiri untuk kesembuhan Mamanya.     "Kenapa nggak lo kasih tau?"     "Ribet."     Tama hanya menganggukkan kepala. Ia kemudian memilih kembali sibuk dengan ponselnya.     "Besok latihan futsal, yok?" ajak Tama. Ia membaca perbincangan di grup kelasnya mengenai ajakan untuk menikmati weekend bersama besok. Tama jadi teringat jika ia besok tidak memiliki jadwal apapun.     "Gue sibuk."     "Sibuk apaan?"     "Nyembuhin Mama. Besok gue ke RSJ bareng Dyra."     Tama membulatkan matanya, ia kini menatap Rudra yang tengah mengambil ponselnya. Laki-laki itu terlihat sangat santai seolah tidak pernah berucap apapun.     "Dyra?" tanya Tama untuk memastikan pendengarannya.     "Lo beneran ke RSJ sama Dyra besok?" tanya Tama.     "Emang Dyra mau?" tanya Tama lagi.     Rudra memilih mengabaikan pertanyaan dari Tama. Ia saat ini tengah menelpon Dyra untuk meminta gadis itu pergi ke RSJ besok. Ia harus bergerak cepat. Karena ia ingin Mamanya lekas sembuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD