Part 28

1097 Words
    Dyra melangkah menuju kamarnya. Tidak terasa ia menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol bersama Papanya di meja makan. Selain itu, ia juga melaporkan banyak kasus mengenai tingkah kembarannya yang menyebalkan. Hingga terjadi perdebatan sengit antara dirinya dan sang kembaran. Pak Erwin yang tidak ingin ambil pusing pun menyuruh anak-anaknya kembali ke kamar untuk beristirahat.     Disinilah Dyra berada. Meski ia masih ingin berbicara lebih lama dengan Papanya, tapi ia harus tahu diri. Papanya juga merasa kelelahan setelah perjalanan dari Singapura. Papanya butuh istirahat. Dyra menutup pintu kamarnya dengan tersenyum. Ingatannya kembali berpendar saat di rumah sakit jiwa bersama Rudra.     Flashback     "Catet nomer lo." Rudra menyerahkan ponselnya ke arah Dyra yang tengah menatap lurus ke depan. Dyra seketika menyipitkan matanya, berusaha menyelidiki raut wajah Rudra yang datar namun penuh kejanggalan.     "Buat apa?"     "Buat gue save."     Kini Dyra menaikkan satu alisnya.     "Buat di save doang? Berarti percuma dong gue ngasih nomer gue."     "Kalo perlu, bakal gue hubungin."     Dyra menahan senyum di wajahnya. Rudra akan menghubunginya, namun itu hanya disaat Rudra merasa perlu. Hanya saat perlu saja.     "Cuman pas perlu doang? Kan lo nggak ada keperluan sama gue."     Stok kesabaran Rudra terasa menipis. Ia kini menatap Rudra dengan tajam.     "Save nomer lo! Gue udah bilang tadi kalo kita bakalan sering kesini berdua!"     Dyra menelan ludahnya ketika melihat Rudra dengan mata melotot serta nada bicaranya yang terkesan memerintah. Ia mengambil ponsel milik Rudra dan segera mencatat nomor ponselnya. Sebenarnya tangan Dyra sudah gatal ingin mengetik nomornya di ponsel Rudra sedari tadi. Hanya saja, ia ingin tahu untuk apa Pluto ini meminta nomornya. Setelah mencatat nomor ponselnya, Dyra segera menamai kontak tersebut. Tak lupa ia menelpon nomor ponselnya agar ia bisa tahu nomor ponsel milik Rudra.     "Nih." Dyra menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada pemiliknya.     "Lain kali, kalo mau minta nomer hp cewek itu, agak halusan dikit."     Flashback off     Dyra menggigit bagian bawah bibirnya. Ternyata ia tidak perlu melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan nomor ponsel Rudra. Toh, Rudra sendiri yang meminta nomor ponselnya. Dyra bahkan tidak menyangka Rudra akan mendekatinya. Meski Dyra tahu Rudra hanya meminta bantuan. Bantuan untuk menyembuhkan Mamanya. Tidak pernah terlintas di benak Dyra bahwa berinteraksi dengan pasien rumah sakit jiwa akan memberikan berkah seperti ini. Dulu saat ia mengenal Bu Rahayu, ia tidak terlalu tahu mengenai seluk beluk pasien Mamanya tersebut. Ia hanya merasa tertarik dengan penyebab gangguan mental pada wanita paruh baya seusia Mamanya itu. Usahanya mendekati Bu Rahayu selama ini tidak sia-sia. Perjuangannya kini berbuah manis dan mengantarkan ia semakin dekat pada si Pluto yang disukainya. Dyra mencabut charger dari stopkontak. Ia merebahkan diri di atas kasur empuknya seraya memainkan ponsel. Baru saja Dyra merebahkan diri, kini ia terbangun sehingga posisinya menjadi duduk.     "Rudra nelpon?" tanyanya pada diri sendiri.     Ada tiga panggilan tidak terjawab dari kontak atas nama Rudra. Tadi sebelum ia mandi, Dyra menyempatkan diri untuk menyimpan nomor Rudra yang masuk sebagai panggilan tidak terjawab. Panggilan yang dibuat oleh Dyra sendiri ketika mencatat nomornya di ponsel milik Rudra.     "Ngapain, ya?" Dyra mulai gelisah sendiri. Ia merasa bingung harus berbuat apa.     "Biasanya cowok basa-basi dulu lewat chat. Lah ini, langsung tancap gas main nelpon aja."     Dyra menatap lekat ke arah ponselnya. Panggilan tersebut masuk sekitar setengah jam yang lalu. Tidak ada pesan yang menjelaskan mengapa Rudra menelpon Dyra.     "Salah pencet kali." Dyra berusaha mengabaikan misscall tersebut. Namun ia masih merasa penasaran dan kebaperan.     "Tapi salah pencet kok sampe tiga kali." Rasa bapernya menyebabkan Dyra mulai merangkai opini yang membuat hatinya berbunga-bunga. Padahal ia sangat sadar bahwa apa yang ada di pikirannya saat ini hanyalah opini semata. Hanya halusinasinya.     "Apa telpon balik, ya?" Dyra menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Ia ingin mengetahui alasan mengapa Pluto menelponnya. Tapi ia juga masih memiliki rasa gengsi untuk menelpon terlebih dahulu.     Saat terdiam, notifikasi pesan dari grup kelasnya mengantri untuk ditampilkan. Dyra memutuskan membuka grup kelasnya dengan jumlah hampir lima ratus pesan yang belum terbaca. Dyra membaca sekilas isi pesan di grup kelasnya tersebut. Hanya perbincangan-perdebatan- mengenai jadwal acara berlibur besok. Ada yang mengajak pergi bersama-sama, dan diakhiri dengan kata 'terserah dimana, gue ngikut' dan kata 'terserah jam berapa, gue ikut aja'. Perdebatan yang membuat ponsel setiap anggota menjadi sangat ramai dan berisik. Daripada menjadi pembaca gelap di grup kelasnya, Dyra memutuskan mengetikkan pesan. Dyra : Hadir                                                                                    -------- Dyra : Hadir     Tama menaikkan satu alisnya ketika membaca satu pesan yang baru masuk ke dalam grup kelasnya. Pesan yang terlihat paling bersinar diantara pesan yang lain. Pesan yang membuatnya mengalihkan pandangan ke arah Rudra yang tengah asik menyaksikan tayangan televisi. Membaca pesan dari Dyra tersebut, Tama teringat pada Rudra yang tadi menelpon gadis itu hingga tiga kali namun tidak juga diangkat.     "Dra, si Dyra ngirim ke grup nih. Kayaknya dia udah pegang Hp. Coba lo telpon lagi."     Ucapan Tama berhasil membuat Rudra menoleh. Ia menatap Tama sekejap.     "Nanti." fokusnya kembali kepada tayangan televisi yang baginya lebih menarik.     "Ntar dia keburu tidur."     Rudra mematikan televisi tersebut. Ia meletakkan remot yang sedari tadi ia genggam. Setelah meletakkan remot, Rudra mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia memutuskan menelpon Dyra kembali, setelah tadi gadis itu sama sekali tidak merespon panggilannya. Rudra menempelkan ponselnya di daun telinga. Mulai terdengar suara pertanda telepon tersambung. Hanya menanti seseorang di seberang mengangkat ponselnya.                                                                                             -----     Ponsel Dyra berdering setelah Dyra meletakkannya di atas nakas. Rencananya untuk pergi menggosok gigi harus diurungkan. Ia berbalik untuk mengecek siapa yang menelponnya.     "Hah, Rudra?" Dyra menutup mulutnya saat tahu bahwa yang menelponnya adalah si Pluto. Ia sempat melompat kegirangan setelah membaca id caller yang tertera di ponselnya.     "Halo." tanpa pikir panjang, Dyra segera mengangkat panggilan dari Rudra.     "Besok kita ke RSJ, gue pingin ngobrol sama Mama. Jadi lo harus bantuin!"     "Ja-" Dyra tidak jadi melanjutkan ucapannya ketika mendengar nada tanda sambungan telepon diputus.     "Dia nelpon cuma buat ngomong itu!" Dyra menatap ponselnya dengan tatapan tidak percaya.     "Dan gue belum sempet ngerespon tapi dia udah matiin teleponnya. Dasar Pluto! Sms kan bisa, sih!"     Dyra melempar ponselnya ke arah kasur dengan kesal. Rudra membuatnya terbang seketika lalu setelah itu, Rudra seolah menghempasnya hingga jatuh berkeping-keping ke bumi. Dyra melangkah menuju kamar mandi. Ia terus mengumpat dengan kesal. Seandainya saja dia tidak menyukai laki-laki sedingin Rudra, mungkin ia tidak akan sampai seperti ini. Merasa begitu senang ketika Rudra melakukan hal kecil yang menyentuh hatinya.     "Eh, bentar. Besok gue kan-"      "Aduh!" Dyra menepuk dahinya. Ia baru ingat jika besok ia, Dero dan Papanya berencana untuk jalan-jalan bersama karena sore hari besok Papanya akan terbang ke Singapura. Dan tadi mereka bertiga telah sepakat untuk menghabiskan waktu seharian bersama.     "Gimana dong!"     "Aduh!! Milih jalan sama gebetan apa jalan sama papa yang jarang pulang."     "Rudra, lo ngajak jalan disaat yang tidak tepat."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD