Dyra melirik sekilas melalui spionnya. Ia akan berbelok ke arah kiri. Memberhentikan motornya di depan sebuah bengkel. Dyra melepas helmnya kemudian merapikan beberapa rambut yang terlihat berantakan. Setelah itu ia mengambil kunci motornya dan melangkah ke dalam bengkel.
"Kak!" panggil Dyra. Dero yang tadinya sedang asik membaca komentar di instagramnya pun seketika menoleh.
"Eh, Princess udah dateng."
"Ayo pulang," ajak Dyra dengan wajah tidak sabaran.
"Yuk." Dero memasukkan ponselnya ke dalam saku baju. Dia berdiri dan menghampiri Dyra.
"Bentar, gue ambil helm dulu di bagasi." Dero menepuk pundak Dyra kemudian melangkah menuju mobilnya. Dyra sedikit bersyukur karena bengkel ini sudah sepi. Hanya ada Dero serta beberapa pekerja yang sedang menjalankan tugasnya.
"Bang. Besok gue ambil ya."
"Oke." teriak sang montir yang bahkan tidak terlihat wajahnya. Setelah itu Dero menghampiri Dyra.
"Yuk."
Mereka pun berjalan beiringan menuju motor.
"Tampang doang keren. Tapi mobil, mogok!" cemooh Dyra setelah duduk di boncengan.
"Bukan mogok. Lagi gue dandanin aja biar tambah keren kayak yang punya."
"Idih.."
-----
Rudra membuka pintu rumahnya dan terkejut mendapati Dea sudah berada di depan pintu dan terlihat nampak akan mengetuk pintu.
"Dea?"
Dea menurunkan tangannya yang bersiap mengetuk pintu. Ia menyengir kuda.
"Hai, Dra."
"Ada apa?" tanya Rudra.
"Bunda lagi masak banyak. Di suruh jemput lo buat makan malam. Mau, kan?" tanya Dea.
Rudra berdecak sebal dalam hati.
"Aduh. Maaf banget ya, Dea. Kebetulan gue mau pergi."
Dea memperhatikan penampilan Rudra dari atas hingga bawah. Penampilannya memang cukup keren untuk ukuran berada di rumah. Rudra memang terlihat akan bepergian.
"Kemana?" tanya Dea dengan cepat.
"Ke tempat Tama," sahut Rudra.
"Oh gitu." Dea menunduk dan memainkan jarinya.
"Jangan marah dong, Dea. Gue sebenernya mau aja makan malam di rumah lo. Tapi gue lagi ada urusan." Rudra menyentuh pundak Dea. Gadis itu kemudian mengangkat kepalanya.
"Enggak apa, kok. Ya udah gue pulang ya." raut wajahnya datar.Dea hendak berbalik namun Rudra dengan cekatan menahan lengannya.
"Sebagai gantinya besok pulang sekolah kita langsung cari makan ya. Sekalian jalan-jalan," ajak Rudra. Dea seketika tersenyum.
"Ya udah. Titip salam buat Bunda, ya." Dea mengangguk.
"Ya udah, gue pulang ya. Hati-hati di jalan."
Kini giliran Rudra yang mengangguk. Selepas kepergian Dea, Rudra segera melangkah menuju motornya. Ia kemudian menuju ke sebuah mansion. Mansion miliknya. Dimana hanya Tama dan Papanya mengetahui perihal mansion tersebut.
Rudra berbohong?
Tidak. Ia tadi mengatakan bahwa ia akan pergi ke tempat Tama, bukan ke rumahnya. Kata tempat dimaksudkan sebagai tempat Tama berada sekarang. Yaitu di mansion rahasia milik Rudra. Rudra menurunkan standar motornya. Ia melepas helm kemudian dengan cepat melangkah ke dalam. Mansion ini jarang di datangi. Biasanya Rudra akan datang ke sini jika sedang suntuk. Meski jarang di kunjungi, mansion ini cukup bersih karena Papa Rudra telah memperkerjakan orang untuk menjaga dan merawat mansion tersebut.
Rudra melangkah menuju kolam berenang. Bagian yang menjadi tempat favoritnya di mansion ini. Tempat dimana ia dan Tama biasa bersantai dan menghabiskan waktu bersama.
"Ada apa?"
"Wess. Kampret! Bikin kaget aja lo!" Tama yang sedang fokus memainkan ponsel, terkejut mendengar suara Rudra yang tiba-tiba. Tentu saja, mengingat hanya ada dirinya di mansion ini. Dan mendengar suara Rudra adalah hal yang benar-benar membuatnya terkejut. Rudra segera duduk di sebelah Tama. Di kursi ayunan besar yang empuk dan bahkan bisa untuk tiduran.
"Ngapain lo nyuruh gue ke sini?" tanya Rudra to the point. Sebenarnya tadi Rudra sempat menolak ketika Tama memintanya untuk datang ke basecamp. Namun setelah perdebatan sengit, Rudra memutuskan untuk mengalah. Menghilangkan suntuk, katanya.
"Santai aja, kali. Ya kita nongkrong-nongkrong cantik dulu, lah. Kan udah lama kita nggak nyantai di sini."
"Ck. Bilang aja lo pingin ke sini, tapi takut sendirian." Rudra menatap Tama dengan tatapan dinginnya. Seperti biasa, namun yang ditatap dingin justru kini telah sibuk memainkan ponselnya. Rudra pun memilih menatap lurus ke depan. Menatap air terjun kecil buatan yang terletak tidak jauh dari tempatnya bersantai saat ini. Ia bersandar pada sandaran ayunan besar. Benar-benar terasa sangat nyaman dan menenangkan.
"Wish, gila. Ini beneran Dyra!" Rudra menoleh ketika teriakan Tama memecah ketenangan pikirannya. Ia merasa kesal karena terganggu, dan juga merasa sedikit penasaran.
"Apaan?" tanya Rudra dengan mendekatkan diri dengan Tama. Berusaha melihat apa yang ada di ponsel rekannya tersebut.
"Nih, si Dero upload fotonya bareng Dyra. Komentarnya langsung jebol 9000'an!"
Rudra menatap foto tersebut. Foto yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri. Bukan hanya foto, Rudra merasa sedikit tertarik dengan caption pada foto tersebut.
'Jangan ngambek, nanti cantiknya hilang'
Rudra memperhatikan kembali foto tersebut. Foto dimana Dyra terlihat cemberut dan Dero yang menampakkan deretan giginya tengah mencubit kedua pipi Dyra. Ingatan Rudra berpencar pada ucapan Dyra yang tadi sore tanpa sengaja ia dengar.
"Maaf ya, Dek. Pacar Kakak nelpon. Harus diangkat sebelum dia ngambek."
"Kayaknya mereka beneran pacaran, deh." Tama berasumsi.
"Tanya aja sama Dyra. Kan lo sekelas."
Tama melirik Rudra sekejap. Lantas menatap foto tersebut.
"Kok lo sewot?"
"Siapa yang sewot?"
"Oh, kirain."
Tama melanjutkan membaca komentar yang memenuhi foto tersebut. Membaca komentar para fans alay Dero yang terbakar api cemburu membuat Tama cekikikan sendiri.
"Eh. Dra, gue lupa." tiba-tiba Tama bersuara.
"Apaan?"
"Gue mau bilang. Kalo tadi waktu gue ke bengkel. Si Dyra jemput Dero."
"Nggak penting," sahut Rudra acuh.
"Yakin? Tetep gue lanjutin. Menurut gue kayaknya mereka pacaran deh. Soalnya, kan Dyra baru pulang sekolah. Udah sore, dan dia bela-belain jemput Dero yang mobilnya lagi rusak."
"Gue nggak denger."
"Ternyata si Dyra, diem-diem gitu udah bisa naklukin selebgram sekece Dero. Gue kira dia suka sama lo, Dra. Soalnya dulu sikap dia ke lo mencolok banget."
Rudra menoleh, ia menatap Tama dengan kening mengkerut.
"Mencolok?"
"Iya. Setiap lo nyamperin Dea. Tatapan dia udah beda. Bahkan gue sering mergokin dia natapin lo waktu lo main futsal."
"Nggak usah kepedean!" ujar Rudra menyikut siku Tama.
"Dan gue rasa, kayaknya lo cemburu ngeliat mereka."
"Sotoy!"
Tama berdecak sebal. Rudra memang dingin dan memiliki rasa gengsi yang cukup tinggi. Entah bagaimana Tama harus menjabarkan ekspresi wajah Rudra saat melihat foto Dyra dan Dero.
"Lo harus tau kayak mana ekspresi muka lo waktu ngeliat foto Dyra sama Dero. Mata lo hampir copot dari tempatnya, Dra!"
Rudra menatap Tama dengan tajam, sepertinya rekannya itu mulai mengigau.