"Ngeliatin apaan lo? Dari tadi senyam senyum." Tama menghampiri Rudra lalu duduk dengan meluruskan kakinya.
"Bukan urusan lo."
"Heleh, paling juga liatin anak cheers."
Rudra menoleh kepada Tama. Sore ini kumpulan cheers juga berlatih. Rudra bahkan tidak menyadari keberadaan kumpulan pemandu sorak tersebut.
"Sok tau," balas Rudra dengan wajah datarnya. Tama meneguk air mineral dalam botol. Kemudian ia menutup botol tersebut dan berkata "Paling juga liatin Dyra."
"Sotoy." Rudra bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?"
"Balik."
Tama mengalihkan pandangannya ke arah kumpulan anak teater. Namun acara latihan sudah selesai. Sudah tidak terlihat siapapun di tempat berlatih tadi.
"Pantesan. Dyra udah balik, baru lo balik."
"Sok tau, lo!"
"Udahlah ngaku aja, Dra. Gengsi doang gede!"
"Gue balik." Rudra melangkah menjauh meninggalkan Tama. Hari hampir senja dan ia harus pulang segera.
-----
Dyra melangkah menuju parkiran dengan ponsel yang menempel di telinganya. Kembarannya menelpon sejak tadi namun Dyra tidak mengangkatnya karena sibuk latihan. Sehingga mau tidak mau, kini Dyra harus menelpon Dero untuk menanyakan alasan mengapa Dero menelponnya hingga tiga puluh enam kali.
"Halo."
"Hello, Babe."
"Apaan sih, Kak. Nelpon-nelpon. Kan tadi gue udah sms kalo bakal pulang sore."
"Ya elah. Gue cuma mau ngasih kabar, tadi Mama pulang sebentar. Terus dia udah berangkat dinas ke Palu."
Dyra membulatkan matanya.
"Kok Mama nggak ngabarin?"
"Mama nelpon pake hp gue. Makanya jangan sok sibuk, ditelpon nggak diangkat!"
Berapa hari dinasnya?"
"Enggak tau, kan tergantung pasiennya. Lo dimana? "
"Di sek-"
"Heh, lo!" Dyra merasa terkejut ketika mendengar teriakan. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berteriak di parkiran yang sepi seperti ini. Itu adalah Santi. Ketua ekstrakurikuler cheers bersama dua dayangnya. Dyra celingak-celinguk melirik sekeliling. Seolah mencari orang yang dipanggil oleh Santi.
"Iya, elo yang tolah-toleh."
"Gue?" Dyra menunjuk dirinya sendiri. Santi bersama dua dayangnya melangkah mendekati Dyra.
"Ada apa nyari gue?" tanya Dyra
"Lo jangan kecentilan ya jadi cewek."
Dyra mengerutkan kening. Apa maksudnya ketua cheers ini tiba-tiba menghampirinya dan memerintahnya seperti itu tanpa malu. Padahal Santi adalah adik kelasnya yang seharusnya bersikap lebih sopan kepada Dyra yang merupakan seniornya.
"Maksudnya apa ya, Dek?" Dyra sengaja menekankan kata 'Dek' agar Santi mengerti posisinya.
"Lo paket pelet ya? Sampe-sampe Dero mau sama lo. Lo kasih dia apaan, hah? Sampe dia mau sama cewek kayak lo gini." Santi memandang Dyra dengan tatapan jijik.
"Kayak gini? Emang gue cewek kayak apa?" tanya Dyra. Ia kini menatap Santi dengan tajam. Jujur ia merasa marah pada adik kelasnya ini yang terlalu berani bersikap tidak sopan.
"Halo. Sayang kamu ngomong sama siapa?"
Dyra terkejut mendengar suara dari ponselnya. Ia baru sadar jika teleponnya masih tersambung dan dalam keadaan loudspeaker. Mendengar suara laki-laki dari ponsel Dyra sontak membuat Santi dan dua dayangnya menoleh.
"Enggak, Der."
"Nggak usah bohong. Kamu ngomong sama siapa, kok dia ngomongnya kayak gitu?"
Dyra melirik Santi yang kini tengah menahan napas. Dua dayangnya tampak berbisik.
"Ini, ada cewek yang-"
Santi dengan sigap merampas ponsel milik Dyra, menatap layar ponsel tersebut sejenak dan kemudian menutup sambungan telepon dengan Dero.
"Ternyata selain kecentilan. Lo tukang adu juga, ya."
"Kenapa memangnya kalo gue kecentilan dan tukang adu? Elo merasa terganggu?" tanya Dyra dengan tangan disilangkan di depan dadanya.
"Tentu. Lo udah ngerebut Dero."
"Emang lo siapanya Dero? Dero aja enggak kenal sama lo!" Dyra menatap Santi dengan tajam. Bahkan ketua cheers itu masih menggenggam ponsel milik Dyra di tangannya.
"Lo!" Baru saja Santi hendak maju melangkah untuk menjambak Dyra , Dyra kembali berkata.
"Gue kasian deh sama lo. Muja-muja Dero. Jadi fan alaynya dia. Bahkan berani ngelabrak pacarnya, tapi. Dia bahkan sedikitpun tuh nggak respect sama lo."
Dyra melanjutkan ucapannya saat ia melihat Santi seolah ingin maju.
"Kenapa? Mau jambak? Mau mukul? Mau lo bunuh gue, kek. Nggak bakal bikin lo milikin Dero. Lo pikir setelah lo ngelabrak gue gini, gue bakalan takut terus putus gitu sama Dero."
Dyra tertawa mengejek. Ia memandang Santi beserta dua dayangnya dengan penuh rasa jijik. Sedangkan yang dipandang menahan emosi hingga wajahnya berwarna kemerahan. Ponsel Dyra tiba-tiba berdering. Membuat ketegangan yang terjadi perlahan melunak. Santi membaca id caller sang penelpon. Matanya membulat saat melihat nama Dero di sana. Dyra berdehem singkat kemudian mengambil paksa ponselnya dari Santi.
"Maaf ya, Dek. Pacar Kakak nelpon. Harus diangkat sebelum dia ngambek."
"Lo jangan belaguk jadi orang!" pekik Santi dengan menunjuk Dyra. Dyra menatap tajam jari telunjuk Santi yang berani menunjuknya.
"Well. Santika Gina, ketua cheers. Kayaknya gue mesti ingetin lo kalo jabatan ketua cheers itu bisa dengan gampang digeser kalo ketuanya berlaku tidak sopan di area sekolah." Dyra tersenyum dan melambai ke arah kamera cctv. Santi membalikkan tubuhnya untuk ikut melirik ke arah kamera.
"Ighh.. Lo, awas!"
Setelah itu, Santi bersama dua dayangnya pergi meninggalkan Dyra yang tersenyum sinis penuh kemenangan. Dyra segera mengangkat telepon dari Dero.
"Halo, iya."
"Ada apaan, Dyr? Lo nggak diapa-apain, kan?"
"Itu biasa, fans lo ngajak ribut."
"Tapi nggak papa, kan?"
"Nggak. Tenang aja."
"Jemput gue dong."
"Dimana?"
"Di bengkel. Mobil lagi sakit. Ntar gue sms in alamatnya. Ayolah, Dyr. Gua ogah banget nunggu di sini lama."
Dyra berdecak kesal. Sesungguhnya ia merasa sangat lelah hari ini. Namun bagaimanapun ia harus menuruti permintaan kembarannya.
"Ya udah. Diem di situ. Jangan kegatelan! Jangan jelalatan! Jangan deket-deket sama cewek!" titah Dyra, mengingat begitu banyak gadis yang mengidolakan Dero. Bisa bahaya jika Dero kebaperan dan melanggar aturan nomor satu dari mamanya, yaitu dilarang pacaran selama SMA.
"Oke, Baby. Cemburuan amat!"
Klik..
Dyra segera menutup sambungan telepon dan segera melangkah menuju motornya. Ia harus segera menuju bengkel agar bisa cepat tiba di rumah dan merebahkan diri di atas kasur.
----
Rudra mendengar semuanya. Semua itu, saat bagaimana Santi yang tidak tahu malu melabrak kakak kelasnya. Bagaimana Dyra berbicara dengan tenang namun kata-katanya terasa sangat menusuk. Termasuk apa yang Dyra katakan tentang hubungannya dengan Dero. Sudah jelas , Rudra sudah mendengar semuanya.
"Ya udah. Diem di situ. Jangan kegatelan! Jangan jelalatan! Dan jangan deket-deket sama cewek!"
Rudra mendengar suara kendaraan yang menjauhi parkir. Ia mulai keluar dari balik tembok persembunyiannya. Tanpa sengaja, Rudra yang melangkah menuju motornya mendengar teriakan Santi. Teriakan yang membuatnya merasa penasaran. Hingga ia mencuri dengar dan mengetahui banyak hal.