Part 18

1073 Words
    Dyra melangkah dengan santai. Sama seperti biasanya. Namun kali ini entah mengapa suasana sekolah terasa sangat aneh baginya. Akan terdengar bisikan ketika Dyra lewat. Membuat Dyra menatap semua orang dengan heran.     "Ada apa, sih?" tanya Dyra pada dirinya sendiri.     Dyra mempercepat langkahnya menuju kelas. Dan ketika ia memasuki kelas semua pandangan menuju padanya.      "Dyr. Lo pacaran sama Dero, ya?" tanya Mei yang kebetulan duduk dekat dengan pintu.     "Hah?"     Tiba-tiba semua siswi di kelasnya menarik Dyra dengan lembut dan mendudukkan Dyra di kursi guru.     "Eh, apa-apaan nih." Dyra yang di giring ke kursi guru hanya mampu memandangi temannya satu persatu.     "Dyr. Sekarang lo jawab jujur ya. Sejak kapan lo pacaran sama Dero?"     "Iya. Sejak kapan?"     "Lo ternyata diem-diem, jago nikung ya. Nikung fansnya Dero."     "Gue nggak nyangka lo bisa ngegebet si Dero."     "Lo udah ngapain aja sama Dero?"     "Dyr. Lo-"     "Stop!" Dyra mengangkat tangannya. Teman-temannya benar-benar berisik di pagi yang indah ini. Dyra bahkan menatap heran kepada Agus dan Kerta yang kini sudah bergabung untuk mendengarkan jawaban dari Dyra.     "Maksud kalian apa, ya?" tanya Dyra. Ia benar-benar tidak tahu atas dasar apa ia sepagi ini sudah diintrogasi oleh para biang rumpi di kelasnya.     "Jadi, beredar video lo pelukan sama Dero. Nih." Dyra segera mengambil ponsel yang diberikan oleh rekannya, Reva. Dyra menyaksikan video tersebut dengan seksama. Tentu saja dia tahu betul itu video apa. Sangat jelas dalam video itu Dyra masih menangis. Menangis karena sehabis menonton film. Serta nampak Dero yang langsung memeluk Dyra karena berusaha menenangkannya. Mata Dyra membulat dengan sempurna. Bagaimana bisa ada orang yang merekam peristiwa tersebut.     "Ini dapet dimana?" tanya Dyra dengan melirik semua rekannya.     "Di i********: itu viral loh, Dyr."     Pantas saja. Pantas tadi ketika Dyra melangkah, terdengar bisikan dimana-mana. Rupanya karena ini.     "Dyr. Pokoknya lo harus jelasin ke kita."      "Iya. Kenapa lo bisa nangis dan kenapa Dero meluk lo. Kalian pacaran, kan?" Dan teman-teman Dyra mulai ricuh. Membuat suasana benar-benar seperti di pasar pagi.     "Oke. Oke, stop! Gimana gue cerita kalo kalian ribut." Dyra bersuara. Dan dengan sekejap, teman-temannya menjadi tenang.     "Itu, nggak seperti yang kalian bayangin." Dyra menunduk karena kini teman-temannya menatapnya begitu lekat.     "Gue itu habis nonton film. Karena filmnya sedih jadi gue baper dan nangis."      "Lo nonton sama Dero? Berarti kalian jalan dong?"      "Em, i itu."     "Jadi lo beneran jadian sama Dero?" tanya Dina dengan menggebrak meja. Membuat semua yang ada di sana memekik terkejut.     "Enggak. Gue cuma temenan," Dyra menjawab dengan terus menunduk.     "Lo temenan sama Dero. Kok lo enggak pernah cerita sama kita kalo lo temenan sama selebgram?"     "Gue nggak sengaja akrab sama dia gara-gara sering lomba," sahut Dyra asal.     "Tapi kok dia meluk lo, Dyr? Ngelus kepala lo pula. Sumpah, kalian tuh kayak orang pacaran, tau!"     Kringg...     Bel berdering empat kali. Dyra bersorak dalam hati. Itu pertanda upacara. Dia segera berdiri.     "Yuk ke lapangan. Udah bel." Dyra berusaha mengalihkan pembicaraan.     "Oke. Kita lanjutin lagi nanti."     Dyra menggigit bibir bawahnya. Itu sama saja ia tidak bisa menghindar dari tatapan intimidasi teman sekelasnya. Tapi setidaknya ada waktu untuk merangkai alasan selama upacara nanti.                                                                     -----     Rudra melangkah dengan cepat menuju kelas dua belas ipa tiga. Cukup menyebalkan jika mendapat pemberitahuan kumpulan secara mendadak seperti ini. Sehingga akan merepotkan karena ia tidak bisa mengantar Dea pulang. Dan sialnya, keadaan sekolah sudah cukup sepi saat ini. Dan bisa dikatakan sulit mencari tumpangan. Dea cenderung sulit jika dipaksa naik angkutan umum, kecuali disaat benar-benar terpaksa. Sembari melangkah, ia sibuk mengirimkan pesan kepada ketua futsal terkait tempat kumpulan mereka saat ini. Saking terburu-burunya, Rudra menabrak seorang gadis.     "Aw." gadis tersebut merintih ketika mendarat dengan mulus di lantai.     "Eh, sorry." Rudra segera berlutut untuk memeriksa keadaan gadis tersebut.     "Dyra."      Dyra menoleh setelah ia mendengar suara Rudra.     "Sorry, gue nggak sengaja. Lo nggak papa, kan?"     "Nggak papa," sahut Dyra sembari berusaha berdiri.     "Dea masih di kelas, kan?" tanya Rudra. Dyra mengangguk.     "Ya udah. Tapi lo beneran nggak papa, kan?"      "Iya, nggak papa."     "Oke. Sorry, ya." Dan setelah itu Rudra melangkah meninggalkan Dyra. Membuat Dyra menatap Rudra yang melangkah menjauh.     "Dia sehat, kah? Tumben kosa katanya banyak. Apa sariawannya udah sembuh, ya?" Dyra menggelengkan kepalanya. Ia pun memutuskan untuk kembali melangkah menuju ruang seni. Pak Kunto tadi memintanya untuk mengikuti kumpulan ekstrakurikuler teater. Sehingga mau tidak mau, Dyra harus hadir. Karena sang pembina sendiri yang secara langsung meminta Dyra untuk hadir.                                                                                 -----     Rudra menghampiri Tama yang sudah siap dengan kostumnya. Sedangkan Rudra hanya berdiri sembari memandangi rekannya itu.     "Yok, Main," ajak Tama.     "Ogah. Ini hari senin, besok bajunya dipake."     Tama berdecak kesal.     "Makanya, punya jersey itu di bawa. Jangan disimpen dalem lemari."     "Mana gue tau kalo sekarang kumpulan. Latihan lagi. Udahlah, gue nonton aja."     Disaat berbincang bersama Tama, hanya saat itulah Rudra akan bersikap biasa saja. Tidak terlalu dingin ataupun ketus.     "Ya udahlah. Terus lo cuma nonton aja gitu. Mending pulang, Dra. Balik sana!" Tama mulai berdiri dan melakukan pemanasan.     "Ogah, mending di sini. Nyari hiburan."     "Maksud lo hiburan kayak gitu?" Tama menunjuk sesuatu dengan dagunya. Rudra pun berbalik untuk melihat apa yang dimaksud Tama. Di sana tampak beberapa siswa yang sepengetahuan Rudra adalah anggota ekskul teater. Serta ada Dyra di sana.     "Puasin lah nonton sana. Gue mau main." setelah itu Tama segera bergabung bersama anggota lainnya untuk melakukan pemanasan bersama.     "Kok mereka bisa latihan di sini. Biasanya di ruang seni." gumam Rudra ketika menyaksikan latihan teater di ruang terbuka tersebut.     Ia tersenyum ketika melihat Dyra beberapa kali mempraktekkan sebuah adegan. Kadang ada pula adik kelas yang menanyakan beberapa hal kepada Dyra. Namun yang membuat Rudra mengernyitkan kening adalah justru Dyra kini tumbang dan dengan sigap di tahan oleh adik kelas yang berbincang dengannya tersebut. Rudra baru saja ingin menghampiri. Namun tiba-tiba ia melihat Dyra telah berdiri kembali.     s**t! Cuma akting.     Rudra kembali memperhatikan Dyra. Kini gadis itu tampak memberikan arahan kepada seorang adik kelas perempuan. Dan menit kemudian adik kelas tersebut mempraktekkan adegan yang hampir sama dengan Dyra. Yakni menumbangkan diri di pelukan seorang laki-laki. Laki-laki yang tadi sempat memeluk Dyra.     "Dra, bola!"     Rudra terlalu fokus memperhatikan latihan teater yang berjarak tidak terlalu jauh. Hingga ia tidak mendengar teriakan dari Tama.     "Woy, bola!"      "Rudra, bola!"     "Bola, eh!!"     Rudra masih asik tersenyum ketika melihat tampang frustasi Dyra. Kesal karena Rudra justru asik menyaksikan latihan teater. Tama terpaksa menghampiri Rudra untuk mengambil bola yang menggelinding ke arah Rudra.     Bug...     Rudra meringis ketika merasakan bola mengenai kepalanya.     Oy, apaan!" pekik Rudra seraya mengelus rambutnya.     "Makan tuh hiburan. Mata doang jelalatan. Kuping nggak lo pasang." Tama akhirnya menendang bola dan segera berlari kembali menuju lapangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD