"Makasih ya udah mau nganterin."
"Iya. Santai aja kali, Dra," ujar Dea seraya turun dari boncengan motor Rudra.
"Dra. Ntar jalan yuk. Mumpung satnight. Apalagi, Bunda lagi nggak ada di rumah," ajak Dea dengan semangat. Rudra terdiam sejenak.
"Boleh."
"Sip. Tapi ntar jam berapa?" tanya Dea. Ia menyempatkan diri melirik ke jam tangannya yang telah menunjukkan pukul enam sore.
"Ya udah. Lo siap-siap. Gue juga mandi dulu. Ntar gue jemput."
Rudra hendak menarik gas motornya namun Dea berucap lagi.
"Naik mobil apa motor?" tanya Dea.
"Lo maunya naik apa?" Rudra justru bertanya balik.
"Mobil aja, ya." pintanya dengan tersenyum. Rudra mengangguk.
"Gue balik ya."
Kini Dea yang mengangguk. Setelah itu, Rudra mulai mengemudikan motornya menuju rumah yang terletak di sebelah Dea. Rudra mengernyitkan keningnya ketika tiba di rumah. Ada satu mobil lagi di garasinya. Itu artinya, Papanya sedang ada di rumah. Setelah meletakkan helm. Rudra memasuki rumahnya. Rudra melangkah menuju kamarnya. Ia harus segera mandi dan menghabiskan waktu bersama Dea.
"Rudra, dari mana kamu baru pulang?" Rudra yang baru saja menginjakkan kakiknya di anak tangga pertama menjadi berhenti. Suara itu, membuatnya menghentikan langkah. Rudra berbalik dengan enggan. Kemudian menatap papanya dengan malas.
"Eh, Papa. Kapan pulang?" tanya Rudra dengan nada seolah mencemooh.
"Papa tanya kamu dari mana saja?" ulang Pak Rudi dengan tegas.
"Tadi ada latihan futsal," jawab Rudra asal. Ia benar-benar malas menanggapi pertanyaan dari Papanya saat ini.
"Udah, kan. Rudra mau ke kamar dulu." tanpa menanti balasan, Rudra segera meniti tangga melangkah menuju kamarnya.
-----
"Ya elah. Masih nangis aja," ujar Dero sembari menggelengkan kepala menatap tingkah Dyra. Mengabaikan ucapan Dero, Dyra masih asik menghapus air matanya dengan tisu. Ia bahkan masih menangis sesegukan.
"Ck. Itu cuman film, Dyr." ujar Dero.
Adiknya itu melangkah ke luar bioskop sembari menangis. Membuat Dero merasa sebal karena baginya itu terlalu berlebihan. Jika tau akan seperti ini jadinya, lebih baik tadi ia menolak dengan keras ajakan Dyra untuk menonton film bergenre drama tragedi yang menguras air mata.
"Baper tau nggak." di sela sesegukannya Dyra berusaha berucap.
"Ooo. Sini sini. Gue peluk biar nangisnya berhenti." Dero melebarkan tangannya di udara dan segera memeluk Dyra. Bahkan mereka melupakan tempat dimana mereka berpijak saat ini. Dero mengelus rambut Dyra untuk menenangkan adiknya itu. Jika sudah menangis seperti ini, biasanya Dyra akan sukar berhenti. Apalagi di keramaian seperti ini. Cukup merepotkan bagi Dero melangkah bersama seorang gadis yang tengah menangis. Pastinya orang lain akan berpikir macam-macam.
"Udah, Dyr. Nangisnya nanti lago di rumah. Lo nggak malu di liatin orang banyak?" tanya Dero.
"Kak Dero Anggara, ya? Yang selebgram itu." tiba-tiba dua orang gadis mendekati mereka yang tengah berpelukan. Mendengar suara dari seorang gadis, Dyra bisa menebak bahwa itu adalah salah satu penggemar Dero. Otomatis Dyra segera menjauhkan tubuhnya agar pelukannya dengan Dero terlepas.
"Ini siapa?" gumam gadis lainnya.
Dyra segera mengusap air matanya. Imagenya bisa jatuh jika menangis di hadapan penggemar alay Dero.
"Ah, nggak penting. Kak minta foto, ya."
Dyra mengerutkan keningnya saat mendengar kata 'nggak penting' yang diucapkan gadis itu. Bahkan kini para gadis itu sudah sibuk berfoto selfie bersama Dero. Dyra berdecak sebal.
"Eh, mbak. Fotoin dong!" titah salah satu gadis. Gadis itu memberikan ponselnya dengan paksa seolah Dyra benar-benar harus melakukannya. Dyra menerima ponsel itu dan dengan ogah-ogahan menekan tombol untuk memotret Dero bersama fans alaynya. Setelah selesai, gadis itu mengambil ponselnya dengan segera dan kembali mendekati Dero.
"Kak. Follback ig ku dong," pinta gadis itu dengan rengekan yang membuat Dyra serasa ingin muntah.
-----
"Gitu doang, ngambek. Cemburu, ya?" ledek Dero sembari mencubit pipi Dyra. Sedangkan Dyra terus saja berusaha menepis tangan Dero yang mendarat di pipinya.
"Tadi nangis, sekarang ngambek."
Dyra hanya diam. Bagaimana tidak merasa kesal. Selepas kemunculan dua gadis yang mengaku sebagai fans sejati dari Dero. Beberapa gadis mulai muncul dan mengerubungi Dero. Dan tanpa rasa malu, para gadis itu memerintah Dyra untuk menjadi fotografer dadakan. Yang membuat Dyra sebal adalah, mereka sangat lama berinteraksi dengan Dero. Sehingga Dyra seperti orang hilang yang linglung mencari arah jalan pulang. Hingga akhirnya ia memasuki sebuah restoran untuk mencari makan sendiri. Herannya, Dero dapat dengan mudah menghindar dari kerumunan para fansnya. Terbukti dari dengan cepatnya Dero menyusul kepergian Dyra. Di sinilah mereka sekarang. Duduk berdua di sebuah restoran dengan tampang ngambek Dyra dan tampang memohon Dero.
"Dyra. Udah dong ngambeknya. Mending sekarang kita makan. Ya, yaaa." Dero menggenggam tangan Dyra.
Lumayan ngerjain Kak Dero.
Dyra menarik tangannya dari genggaman tangan Dero. Namun lagi, tangan Dero menggenggam tangannya.
"Jangan ngambek lagi, dong. Itu bibir lo juga. Jangan manyun-manyun gitu. Kayak pengen dicium aja."
"Dyra!"
Dyra menoleh dengan terkejut, begitu juga Dero. Matanya membulat ketika mendapati Dea berdiri di belakanganya bersama Rudra. Gadis itu tampak menatap dengan terkejut ke arah tangan Dero dan Dyra. Dengan segera, Dyra segera menarik tangannya.
"Eh, Dea." Dyra mulai salah tingkah.
"Wah, kebetulan banget kita ketemu di sini." Dea mulai mengontrol ekspresi wajahnya.
"Iya, ya. Ayok sini gabung," ajak Dyra.
Dea melirik Rudra sejenak, memberikan kode agar menyetujui ajakan Dyra. Dea kemudian tersenyum. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Dyra. Sedangkan Rudra mengambil posisi duduk di sebelah Dero yang secara otomatis menjadi berhadapan dengan Dea.
"Hey. Bro," sapa Dero menyambut Rudra dengan berhigh five. Sedangkan Rudra hanya tersenyum.
"Pacar lo?" tanya Dero. Pertanyaan yang sukses membuat Dyra serta Dea menghentikan obrolannya. Rudra melirik sejenak ke arah Dea yang terdiam. Lalu kemudian menatap Dyra yang nampak menanti jawabannya.
"Bukan." jawaban yang membuat Dyra diam-diam menghela napas. Sedangkan Dea hanya tersenyum getir.
"Dia, pacar lo?" tanya Rudra balik.
Degg..
Jantung Dyra serasa mencelos. Pertanyaan yang serasa mematikan. Dyra menatap Dero dengan cemas. Kembarannya itu bisa saja menjawab apapun. Ia takut Dero akan membongkar identitasnya. Dero juga kini menatap Dyra seolah bertanya kepada Dyra melalui tatapannya. Rudra yang menanti jawaban mengikutirah pandang Dero. Melihat Dero dan Dyra yang asik bertatapan, Rudra pun berdehem. Bermaksud ingin menyadarkan dua manusia itu jika ada manusia lain di sini yang tengah menanti balasan ucapannya.
"Kita cuma temen kok," sahut Dyra dengan cepat.
"Tem-" Dero tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena kakinya tiba-tiba diinjak oleh Dyra sehingga membuatnya menjerit tertahan.
"Aw."
"Kadang semuanya dimulai dari temenan, kan." Dyra menoleh ke arah Rudra yang berucap demikian.
"Iya. Doain aja kita cepet jadian." Dero berucap sembari tersenyum manis dan menatap Dyra. Dyra mendelikkan matanya menatap Dero.
"Lo Dero Anggara yang selebgram itu, kan?" Dea berusaha mengalihkan pembicaraan. Meskipun ia tau jika yang bersama Dyra adalah jelas-jelas Dero Anggara.
"Iya."
"Wah, gue ngefans sama lo. Nanti boleh minta foto bareng, kan?" tanya Dea sembari tersenyum.
"Boleh. Oh iya. Kok kayaknya muka lo familiar ya. Kayaknya kita pernah ketemu sebelumnya," ujar Dero.
"Masak sih?" Dea tidak merasa demikian. Bahkan Dea sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Dero.
"Dea, pesen dulu. Gue laper." Rudra tiba-tiba bersuara, menganggu perbincangan antara Dero dan Dea.