Dyra melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ruangan yang menjadi tempat kesukaannya akhir-akhir ini. Beberapa wanita paruh baya tampak berlarian. Dan beberapa pria tua juga nampak sedang bermain bersama teman-teman mereka. Dyra melangkah sembari tersenyum. Ia kadang memberi bunga yang tersimpan di balik tas kecil yang ia bawa. Ia memberikan bunga itu pada beberapa wanita yang menghampirinya sambil tertawa. Rumah sakit jiwa. Dyra sudah terbiasa dengan semua itu. Para wanita paruh baya yang sering memakinya dengan kata-kata kasar. Beberapa barang yang pernah terlempar ke arahnya. Hingga di ajak tanding silat oleh salah satu pria berusia sekitar seperempat abad. Bahkan ada sekawanan wanita yang pernah mengajaknya berenang bersama. Dyra kadang-kadang tertawa mengingat semua hal itu. Namun merasa miris secara bersamaan. Bagaimana kadang mereka akan tiba-tiba menampar Dyra. Mencakar Dyra atau memukul-mukul Dyra dengan barang yang mereka pegang. Dyra sering mendapat peringatan keras dari Papanya mengenai kebiasaannya yang satu ini. Pergi ke tempat mamanya bertugas. Mamanya, Bu Mona adalah dokter kejiwaan di rumah sakit ini. Bisa dibilang seorang psikolog. Dero sering kali memarahi Dyra jika tau Dyra pergi ke rumah sakit. Pernah sekali Dero ikut untuk menjaga Dyra. Justru Dero lari terbirit-b***t karena saat ia datang. Para wanita langsung mengerubungi Dero. Yang membuat Dero risih adalah perlakuan mereka. Mulai dari menjambak rambut, menarik-narik baju. Bahkan ada yang berniat untuk menurunkan celana Dero. Membuat Dero langsung geli dan lari meninggalkan Dyra yang tertawa heboh di rumah sakit.
"Mbak Dyra dateng lagi ya. Kali ini bawa apa?" tanya Nuri. Perawat di rumah sakit ini. Meski usianya sudah memasuki kepala tiga, Nuri tetap terlihat awet muda. Dan yang membuat Dyra senang terhadap Nuri adalah sikap ramah tamahnya. Juga kesopanan yang selalu terjaga. Membuat Dyra terkagum-kagum akan perawat itu.
"Iya. Saya cuman bawa beberapa make up dan baju, Mbak. Gimana keadaannya Bu Rahayu?" tanya Dyra.
Dyra memang sering mengunjungi tempat ini. Ia juga sering mengobrol bersama beberapa pasien yang suka bercerita. Tapi satu yang membuat Dyra betah berlama-lama di sini. Yaitu Bu Rahayu. Seorang wanita paruh baya yang seusia mamanya. Wanita itu selalu terdiam dan memeluk sebuah boneka perempuan. Dyra mengetahui bahwa ternyata Bu Rahayu mengalami depresi karena kehilangan putrinya. Putrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan, dan Bu Rahayu belum bisa menerima fakta itu. Itu sebabnya, kemanapun Bu Rahayu pergi. Ia selalu menganggap boneka itu sebagai putrinya. Ia selalu memanggil boneka itu dengan sebutan Ayu. Nama putrinya.
"Baik, Mbak. Kemarin Bu Rahayu nanyain mbak." sahut Nuri.
Dyra mengangkat satu alisnya.
"Bener, Mbak?" tanya Dyra tidak menyangka.
Hampir tiga tahun melakukan pendekatan dengan Bu Rahayu, akhirnya Dyra berhasil. Wanita itu sudah mau bicara dengan Dyra meski hanya beberapa kata saja. Tapi meskipun begitu. Dyra tidak sabar ingin membuat Bu Rahayu segera sembuh. Nuri mengangguk sembari tersenyum hangat.
"Kalo gitu, saya langsung ke sana aja ya, Mbak."
Dyra segera pamit. Ia menghampiri taman yang biasa menjadi tempat Bu Rahayu berdiam diri. Dyra tersenyum saat mendapati Bu Rahayu tengah berbicara dengan boneka yang ia anggap putrinya.
"Bu Rahayu." ujar Dyra setelah ia mendekati Bu Rahayu dengan langkah perlahan.
Bu Rahayu menoleh. Ia tampak memperhatikan Dyra yang tersenyum menatapnya.
"Dyra?" Bu Rahayu menatap Dyra dengan pandangan linglung. Dyra mengangguk lalu duduk di sebelah Bu Rahayu. Membuat Bu Rahayu berpindah sedikit agar tercipta jarak. Ia lantas memeluk bonekanya. Dyra hanya tersenyum.
"Ayu sudah mandi?" tanya Dyra.
Dulu, saat Dyra masih melakukan pendekatan. Keadaan Bu Rahayu cukup buruk. Kurus dan tidak terurus. Jarang mandi serta tidak mau makan. Dyra sering di dorong, di cekik. Atau bahkan di tampar saat memintanya mandi dan makan. Sedikit miris memang. Tapi melihat perubahan sikap Bu Rahayu yang sudah membaik. Dyra merasa puas pengorbanannya tidak sia-sia. Semenjak Dyra sering mengunjungi Bu Rahayu. Mengajaknya mengobrol, dan menyuruh Bu Rahayu untuk mengajak bonekanya mandi serta makan. Bu Rahayu mulai mudah untuk di ajak melalukan apapun. Dyra bahkan mengajak Bu Rahayu berkebun. Awalnya Bu Rahayu mengamuk. Tapi saat Dyra mengatakan pada Bu Rahayu bahwa putrinya akan senang jika diajak menanam bunga. Bu Rahayu menjadi senang menanam bunga di taman. Dan dia akan marah saat pasien lainnya mencabut tanamannya. Membuat Bu Rahayu mengamuk dan perkelahian sengit terjadi. Adegan jambak-jambakkan atau saling mencekik. Bu Rahayu mengangguk.
"Makan?" tanya Dyra lagi.
Bu Rahayu kembali mengangguk.
"Minum obat?"
Bu Rahayu terlihat terdiam. Lantas kemudian dia menggeleng perlahan.
"Loh. Kok belum. Nanti kalo Bu Rahayu enggak minum obat. Bu Rahayu sakit. Kalo Bu Rahayu sakit, nanti Ayu nangis karena enggak ada yang jagain." ujar Dyra.
"Nangis?" Bu Rahayu terlihat panik. Ia mulai menggoyangkan bonekanya. Seolah berusaha menenangkan boneka itu.
"Bu Rahayu minum obat dulu ya."
Bu Rahayu menggelengkan kepalanya.
"Nanti Ayu nangis." sahut Dyra.
Bu Rahayu terlihat panik. Ia menggelengkan kepalanya.
"Bu Rahayu minum obat." ucap Bu Rahayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dyra lantas memanggil Nuri. Memintanya memberikan obat untuk Bu Rahayu.
----
Dyra melangkah menuju halte sambil sesekali merapikan rambutnya. Dyra menghela napas. Ia sudah biasa dijambak. Tapi yang tadi itu. Jambakan yang lumayan kuat. Untung rambutnya tidak sampai rontok. Dyra berjalan dengan santai menyusuri trotoar. Langit tampak menghitam. Namun Dyra mengabaikan itu. Ia bersenandung riang menyusuri jalanan.
Tik..
Tik..
Tik..
Dyra menatap pergelangan tangannya yang basah. Ia segera mendongak.
"Yah, hujan." gumamnya saat melihat air yang menetes dari langit justru semakin deras. Dyra segera berlari menuju halte.
Dyra tiba sebelum hujan menjadi lebih deras. Ia merutuki diri sendiri yang tadi justru asik berjalan dengan santai. Dyra menghela napas. Dingin. Dan dia sendirian. Jalanan juga sepi. Tidak ada kendaraan yang melintas.
"Ck. Tau gitu tadi minta dianterin Kak Dero." Dyra berdecak kesal. Kelihatannya hujan deras seperti ini akan berlangsung lama.
Sebuah motor berhenti di depan terminal. Pengendaranya buru-buru turun dari motor lalu segera berteduh. Dyra sangat tahu dengan jelas bahwa itu laki-laki. Dyra merasa sedikit takut sekarang. Ia hanya berdua dengan lelaki asing di halte bus. Apa yang lebih menyebalkan dari ini. Mungkin Dyra akan menjawab dengan, sikap dingin Rudra. Itu adalah hal yang paling menyebalkan bagi Dyra.
Laki-laki itu duduk di sebelah Dyra. Tentu saja dengan jarak yang lumayan jauh. Laki-laki itu membuka helm. Meletakkan helmnya diantara dirinya dan Dyra. Meski mereka sudah duduk cukup jauh antara satu sama lain. Tetap saja Laki-laki itu meletakkan helmnya di sana seolah sebagai jarak. Dyra mendongak.
"Rudra."