Part 15

1094 Words
    Dyra membulatkan matanya ketika Rudra berlutut dan membereskan buku yang berantakan karena terjatuh. Ia merasa tercengang saat Rudra benar-benar membantunya. Benar-benar membantunya. Merasa sadar diri, Dyra pun gelapagan membantu Rudra. Karena terburu-buru menyebabkan dahi Dyra tanpa sengaja terbentur dengan dahi Rudra.     "Aw.." Dyra meringis merasa kesakitan akibat benturan tadi.     "Eh, maaf. Nggak sengaja." Dyra mengusap bagian kepala Rudra yang menurutnya tadi terkena benturan.      Akibat perlakuan Dyra tersebut, Rudra jadi menatapnya dengan intens. Tersadar akan apa yang telah dilakukannya, Dyra berusaha menarik tangannya dari kepala Rudra, namun tangan Rudra menahan tangannya. Dyra menatap tangan Rudra yang menahan tangannya kemudian pandangannya teralihkan pada Rudra yang telah menatapnya dengan intens sedari tadi.     "Yang sakit, di sini." Rudra menuntun tangan Dyra untuk berpindah dan mengusap bagian yang menurut penuturan Rudra adalah bagian di mana terasa sakit.     Dyra semakin membulatkan matanya. Ia benar-benar tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Awalnya ia mengira Rudra akan marah dan mengeluarkan kata singkat yang menyakitkan untuknya.     Merasa salah tingkah, Dyra memutuskan menarik tangannya dari genggaman Rudra dan ia memutuskan berdiri.      "Maaf ngerepotin. Tapi, bentar lagi anak cowok kelas gue bakalan ke sini untuk ambil buku. Jadi, lo nggak usah repot-repot bantuin bawa."     Dyra bersumpah, para laki-laki di kelasnya adalah laki-laki yang paling lambat yang ia ketahui. Sudah cukup lama sejak Tama meninggalkan ruang perpustakaan. Namun belum juga ada perwakilan yang muncul untuk mengambil buku. Bahkan Dyra telah mengeluarkan sumpah serapah dalam hati karena keadaan menjebaknya hanya berdua dengan Rudra.     "Kalo gitu, gue di sini aja nemenin lo sampe mereka dateng."     Dyra bungkam. Mengapa pagi ini semuanya terasa berubah. Mengapa orang-orang menjadi berbeda dari biasanya. Mulai dari Dea yang hari ini tidak secerewet biasanya. Tama yang untuk pertama kalinya meminta bantuan kepada Dyra. Hingga yang paling mencengangkan adalah perubahan sikap Rudra yang baginya sangat drastis dan terkesan aneh. Dyra tergagap. Jika tahu begitu, ia akan langsung saja tadi menyusul kepergian Tama. Tidak perlu terlebih dahulu memindahkan buku paket dari rak ke atas meja petugas. Berdua bersama Rudra seperti ini, membuatnya ingin segera kabur karena tidak kuat akan sikap dinginnya.     "Emang lo enggak ada guru?" hanya itu kata yang keluar dari sekian banyak sumpah serapah dalam pikiran Dyra saat ini. Namun ia bersyukur tidak lepas kendali dengan berucap kata yang tidak diinginkan. Rudra hanya menggeleng. Dyra kembali terdiam. Selama ini, dia tidak pernah akrab dengan Rudra. Jika pun Dyra bersikap ramah, Rudra akan membalasnya dengan sikap ketus. Sehingga Dyra menjadi malas membuka pembicaraan dengan Rudra. Meski ia memiliki perasaan pada Rudra. Namun entah mengapa, ia merasa tidak bersemangat. Sikap Rudra yang dingin dan ketus, membuat Dyra memukul rata perasaannya agar mundur secara teratur dan perlahan mampu melupakan Rudra.     Rudra menatap Dyra dengan lekat. Gadis itu tampak mengalihkan pandangan ke segala arah. Kemana pun, asalakan tidak bertemu dengan tatapan matanya. Dalam keheningan mereka berdua. Rudra teringat akan peristiwa semalam.     Flashback     "Dero?" Rudra terkejut ketika mendapati Dero datang ke rumahnya.     "Hai, Dra. Gue ke sini mau ngambil hpnya Dyra." Rudra sedikit tercekat. Pasalnya, tadi Dyra mengatakan bahwa ia yang akan pergi ke rumah Rudra untuk mengambil ponselnya. Namun kenapa sekarang justru Dero yang muncul.     "Oh, Hpnya Dyra. Ya udah yuk masuk dulu." Dero mengangguk. Keduanya memasuki rumah Rudra.     "Mau gue buatin minum?" tawar Rudra ketika Dero telah duduk di sofa.     "Enggak usah, Dra. Makasih, gue lagi buru-buru soalnya."     Rudra hanya mengangguk.     "Kalo gitu, gue ambil dulu ya. Hp nya ada di kamar."      Rudra tersadar akan lamunannya. Ia harus menanyakan hal itu pada Dyra. Biar bagaimanapun, ia merasa penasaran. Ia ingin tahu mengapa kemarin Dyra menelpon menggunakan ponsel Dero. Bukankah itu artinya kemarin mereka bersama. Namun jika mereka bersama, mengapa hanya Dero yang datang untuk mengambilkan ponselnya. Dan kenapa harus Dero? Bukankah seharusnya Dyra mengambil ponselnya sendiri.     "Kemarin-"      "Pantesan si Dyr ngetem di sini." suara nyaring Bagus yang memasuki perpustakaan seketika menghentikan niat Rudra untuk bertanya.     Sial!     Lalu menit kemudian, disusul Yuda yang memasuki ruangan.     "Wah." ia bersikap seolah-olah terkejut melihat Rudra-si anak ips- tengah berduaan di dalam perpustakaan bersama bintang kelasnya.     "Kalian lama banget, sih." Dyra menyempatkan diri untuk protes. Melupakan sejenak keberadaan Rudra.     Sorry, Princess. Jalanan macet," ujar Yuda.  Dyra menaikkan satu alisnya.     Macet? Ini kan sekolah bukan jalan tol.     "Ya udah, yuk buruan angkatin bukunya. Kelas pasti udah ricuh karena enggak kebagian buku."     "Enggak juga. Kelas aman tenteram nungguin lo balik," sanggah Bagus yang membuat Dyra langsung terdiam.     "10, 10 oke." Bagus memberi komando.     "Sip lah."     Keduanya telah mengangkat masing-masing 10 eksemplar buku.     "Yuk, Dyr. Nanti pada demo kalo lo enggak dateng buat ngerjain tugas." Bagus menyadarkan Dyra yang sedari tadi menontonnya. Dyra mengangguk dan bersiap untuk ke luar ruangan setelah Yuda dan Bagus keluar lebih dahulu. Dyra hampir saja melengos pergi jika tidak mengingat Rudra yang masih berada di sana.     "Oh iya. Gue duluan, ya."      Rudra hanya mengangguk.                                                                             -----     Akhirnya bel pulang berbunyi. Usai sudah suasana neraka bagi XII ipa 3. Bagaimana tidak. Ini adalah pelajaran terakhir dan para siswa dipaksa untuk menahan kantuk mendengarkan kisah yang bahkan mereka sendiri merasa sangat lelah untuk mendengarnya. Bu Umi benar-benar tidak bisa mengondisikan suasana dengan baik. Para siswa hanya diam mematung menahan rasa kantuk.     Berbeda dengan siswa lainnya. Dyra dan Dea tampak bersitegang sejak tadi. Bukan, bukan karena tengah fokus menyimak pelajaran sejarah. Namun karena atmosfer kebungkaman dari Dea semenjak tadi pagi. Dyra telah berkali-kali menanyakan keadaannya, namun gadis itu mengatakan semuanya baik-baik saja. Tentu berbanding terbalik dengan sikap Dea yang hanya diam saja sejak tadi.      Semua bergegas pergi setelah Bu Umi meninggalkan ruang kelas. Namun ada beberapa yang justru menjatuhkan kepalanya di atas meja dan memejamkan mata untuk meredakan rasa kantuk yang sedari tadi telah melanda. Dyra yang kerepotan karena membereskan aneka bukunya di dalam laci tidak menyadari jika Dea telah pergi terlebih dahulu meninggalkannya. Saat Dyra melirik ke bangku Dea. Bangku tersebut telah kosong. Dyra segera berlari untuk mengejar Dea. Dari sikapnya, Dyra menerka bahwa Dea tengah kesal padanya. Dan ia harus meluruskan ini sebelum masalahnya bertambah besar. Masalah yang bahkan Dyra tidak tahu. Dyra bahkan tidak merasa melakukan kesalahan akhir-akhir ini.      "Deaaa.." Dyra berlari. Langkah Dea yang perlahan memudahkan Dyra mengejarnya. Hingga ketika dekat, Dyra dengan cekatan menahan lengan gadis itu agar langkahnya terhenti. Berhasil. Kini keduanya berhadapan dengan satu tangan Dyra menahan tangan Dea.     "Dea. Lo kenapa? Lo marah ya sama gue. Lo diem aja dari tadi. Kalo ada masalah, cerita dong. Jangan diem aja kayak gini," pinta Dyra. Dea menatap Dyra lekat.     "Ayolah, Dea. Kalo gue ada salah, gue minta maaf. Tapi tolong jangan diem kayak gini, nggak asik tau nggak."     "Sebenernya hubungan lo sama Dero itu apa?"     Glekkk..     Pertanyaan Dea sukses membuat Dyra serasa menelan golok ke dalam kerongkongnnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD