Dyra menganggukkan kepalanya ketika Sukma menanyakan beberapa materi yang tidak ia mengerti. Tetapi setelah mendengar apa yang Sukma katakan, ini lebih tepat dibilang Sukma menanyakan apakah pemahamannya terhadap materi tersebut benar atau salah.
"Sip deh. Makasih, Dyr." Dyra mengangguk dan tersenyum sekilas. Dan setelah itu, Sukma kembali ke bangkunya. Dyra menghela napas. Di pagi hari yang cerah ini, ia sudah kedatangan murid.
Dea melangkah dengan raut wajah muram. Tidak seperti biasanya. Gadis itu akan memberikan serentetan pertanyaan kepada Dyra. Terlebih hari ini ada tugas bahasa inggris, seharusnya rekan sebangkunya itu sudah gusar menanyakan jawaban.
"De, lo sakit?" tanya Dyra ketika Dea telah mendaratkan bokongnya di atas kursi.
Dea terdiam, ia bungkam dan menggelengkan kepala. Sikapnya itu justru semakin membuat Dyra merasa khawatir.
"Terus lo kenapa? Tumben kalem?" tanya Dyra.
Lagi, Dea hanya menggelengkan kepala. Dyra menghembuskan napas kasar.
"Ya udah. Pokoknya kalo ada masalah, lo harus cerita, oke!"
Dea hanya diam. Tidak melakukan pergerakan apapun untuk membalas ucapan Dyra.
Dyra baru saja ingin bertanya lagi, namun kedatangan Tama membuatnya mengurungkan niat.
"Dyr." tumben sekali 'Pak Bos' itu menghampiri Dyra ke bangkunya.
"Iya, Tam. Kenapa?" tanya Dyra.
"Anterin gue, yuk."
Dyra melongo. Ia mengerutkan kening. Merasa bingung. Angin mana yang membuat laki-laki perkasa seperti Pratama meminta Dyra untuk menjadi pengantarnya. Biasanya, Tama akan meminta laki-laki lain di kelas ini. Atau dengan gagahnya langsung melangkahkan sendiri hanya bertemani bayangan.
"Gue?" merasa tidak percaya, Dyra menanyakan sesuatu yang membuat Tama justru mengangguk polos.
"Iya."
"Kemana? Tumben minta gue yang nganter. Biasanya gentle kemana-mana sendiri."
"Lo keberatan?" pertanyaan Tama sukses membuat Dyra secara reflek menggelengkan kepalanya. Tidak, Dyra tidak merasa keberatan sedikitpun. Ia hanya merasa sedikit heran dengan sikap Tama yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Ya udah. Yuk buruan."
"Oke. Eh, tapi ke mana dulu nih?" tanya Dyra.
"Ke kantor."
berdiri dari duduknya. Ia melirik Dea sebentar. Dea kini tengah mengeluarkan buku untuk mata pelajaran jam pertama, matematika.
"De, gue ke kantor dulu ya. Nganterin Tama," ujar Dyra pada Dea.
Dea mengangguk. Dan setelah itu, Dyra segera mengikuti langkah Tama ke luar kelas.
"Ngapain?" tanya Dyra saat keduanya telah berada di luar kelas.
"Tadi guru piket bilang, gue di panggil Bu Yuli. Buat jaga-jaga, makanya gue ngajak lo yang jago mtk."
Dyra ber'oh ria menanggapi ucapan Tama. Ia kira ajakan Tama tadi berhubungan erat dengan dirinya. Ternyata hanya sekedar sebagai tameng pelindung.
Keduanya mengetuk pintu terlebih dahulu ketika memasuki ruang guru. Setelah itu mengucap permisi pada beberapa guru yang mereka lewati. Hingga akhirnya tiba di hadapan meja Bu Yuli, dimana beliau tengah sibuk menatap kertas di hadapannya.
"Permisi, Bu." Tama mengawali. Bu Yuli yang sadar pun segera mendongakkan kepalanya.
"Dua belas ipa tiga, ya?"
Dyra dan Tama mengangguk secara bersamaan.
"Jadi begini. Ibu ada sedikit urusan jadi tidak bisa masuk kelas."
Percayalah, Dyra bersorak dalam hati ketika mendengar kabar ini.
"Jadi, tolong kalian pinjam buku paket di perpus. Bawa ke kelas. Lalu kerjakan di buku tugas sesuai perintah yang ada di kertas ini ya. Nah, untuk nama buku paketnya ada di sini."
Bu Yuli menyerahkan kertas tersebut dan langsung diterima dengan berat hati oleh Tama. Jika sudah begini, batal merdeka karena ujung-ujungnya jam kosong akan digunakan untuk mengerjakan soal matematika yang penyelesaiannya sangat panjang.
"Di kumpul kapan, Bu?" tanya Dyra. Ia sangat berharap tugas ini untuk pr saja.
"Paling lambat saat istirahat pertama, ya."
Tama dan Dyra mengangguk kaku. Setelah keduanya pamit undur diri sembari membawa kertas berisi wasiat yang harus dilaksanakan.
"Yah, nggak jadi jam kosong," keluh Tama.
"Jadi kok. Makanya cepet ngerjain biar dapet jam kosong."
Tama memandang Dyra.
"5 soal beranak kayak gini nggak cukup dikerjain selama tiga jam, Dyr."
"Kecuali nyontek tempat lo," imbuh Tama.
Dyra terkekeh.
"Kita ambil buku di perpus, yuk. Sekalian, biar nggak bolak balik," ajak Dyra ketika keduanya melintas di depan perpustakaan.
"Terus lo mau ikut bawain bukunya?" tanya Tama.
"Ya iyalah. Biar cepet."
"Udahlah, mending kita balik dulu ke kelas. Abis itu, gue sama cowok kelas kita ke perpus ngambil bukunya."
"Kelamaan, ayo." Tama tidak bisa lagi protes karena Dyra sudah terlebih dahulu menariknya.
----
"Gimana bisa nggak?" tanya Tama saat melihat raut wajah Dyra yang terlihat kurang meyakinkan.
"Bisa. Tapi lo bawa 25 ya," ujar Dyra dengan terkekeh."
Bagaimana bisa ia membawa buku paket matematika yang bahkan tebalnya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Buku paket kali ini cukup tebal dan pastinya berat. Belum lagi nominal yang harus mereka bawa, yakni 30 eksemplar.
"Kita bawa aja dulu semampunya. Nanti siapa gitu kita suruh kesini ngambil sisanya," usul Tama.
Dyra mengangguk menyetujui. Akhirnya Tama mengambil 15 buku terlebih dahulu dan membawanya ke meja petugas. Diikuti Dyra yang membawa 5 buku.
"Pak, mau pinjem buku 30 eksemplar," ujar Dyra pada petugas perpustakaan. Tak lupa Dyra menyerahkan lembaran kertas berisi mandat dari Bu Yuli yang telah terlegalisisasi. Petugas perpus mengangguk dan segera mencatat nomor buku yang di bawa oleh Tama.
Setelah selesai mencatat. Dyra membuka suara.
"Tam, lo duluan gih. Gue nanti ngambil buku yang lain biar langsung dicatet. Jadi ntar tinggal ngambil doang."
"Lo yakin?" tanya Tama.
"Iya buruan. Biar dapet jam kosong." Dyra membulatkan matanya ketika mendengar petugas di hadapannya yang berdecak mendengar ucapan Dyra. Sadar akan hal itu Dyra hanya mampu menyengir kuda.
"Ya udah. Ntar gue balik lagi." Tama telah bersiap mengangkat 15 eksemplar buku paket tersebut.
"Dyr. Tolong taroh lima eksemplar. Jalannya enggak keliatan," pinta Tama. Dyra terkekeh. Benar saja. Bahkan wajah Tama tertutupi oleh tebalnya buku-buku tersebut.
"Sip."
Selepas kepergian Tama, Dyra kembali ke rak berisi deretan buku paket matematika yang harus ia pinjam. Ia pun membawa lima buku lagi ke meja petugas. Dan setelah itu, ia berbalik untuk mengambil lima eksemplar lagi.
"Pulanginnya jam istirahat kedua ya, Pak." pinta Dyra.
"Lama banget."
"Yang penting bukunya kembali dengan utuh, Pak." Dyra tersenyum simpul.
Ya iyalah. Kalau enggak utuh, kamu kena denda."
Dyra membulatkan matanya. Padahal ia hanya bercanda. Tetapi petugas di hadapannya ini terlalu menganggap serius ucapan Dyra. Ketika melihat sang petugas berdiri, Dyra langsung bertanya.
"Mau kemana, Pak?"
"Menjalankan tugas."
Dyra berdecak. Petugas perpustakaan yang satu itu memang sedikit ketus dan tidak bisa di ajak bercanda. Petugas itu justru keluar ruangan. Merasa tidak curiga sedikitpun kepada Dyra yang hanya seorang diri di ruang perpustakaan.
Beginilah siswa berprestasi, di percayai masyarakat sekolah. Meski tidak selamanya siswa pintar adalah siswa yang baik.
Dyra yang merasa sendiri pun memutuskan mengangkat lima eksemplar buku untuk di bawanya ke kelas.
Saat ia berbalik, Dyra terkejut mendapati Rudra telah berdiri di depannya dengan tiba-tiba. Karena reflek, Dyra pun menjatuhkan tumpukan buku yang ia bawa.
"Rudra? Lo ngapain?"
"Lo sendiri?" bukannya menjawab, Rudra justru balik bertanya.
"Gue lagi minjem buku buat tugas." Dyra menjawab dengan sedikit rasa penasaran dalam benaknya. Tumben si 'Pluto' mau menanyakan kepentingannya. Padahal selama ini laki-laki itu selalu bersikap ketus padanya.
Rudra mengalihkan pandangannya kepada tumpukan buku tebal yang berada di atas meja.
"Buku sebanyak itu lo angkut sendiri?" tanya Rudra lagi.
"Ck. Biar gue bantu." Dyra bahkan belum menjawab pertanyaan Rudra, namun laki-laki itu justru langsung menawarkan bantuan padanya.