Rudra mengibaskan rambutnya. Terasa begitu menyegarkan ketika ia telah selesai mandi dan keramas. Dengan bertelanjang d**a, ia menatap cermin di hadapannya. Ia menatap dirinya sebentar. Lalu setelah itu pandangannya jatuh pada sebuah ponsel di atas nakas. Rudra tersenyum simpul. Ia lantas mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo." Rudra melangkah menuju tempat tidurnya kemudian meletakkan ponselnya yang dalam kondisi loudspeaker. Ia mengambil kaos berwarna hitam lantas memakainya.
"Gue nemu Hp." Rudra lantas duduk di atas kasurnya. Mengambil ponsel milik Dyra yang tadi ia temukan.
"Hpnya Dyra."
Rudra mengangkat bahunya acuh ketika mendengar pertanyaan dari seberang sana.
"Kebetulan aja."
Rudra lantas mengaktifkan ponsel Dyra. Ia masih merasa penasaran. Ia tahu tidak sopan melihat-lihat isi ponsel orang lain tanpa izin. Namun ia benar-benar ingin tahu. Terlebih tadi ia melihat foto Dyra bersama Dero.
"Menurut lo enaknya diapain?" tanya Rudra pada seseorang di seberang telepon.
"Homescreennya foto Dyra sama Dero. Gue jadi penasaran."
Rudra mulai mengutak-atik ponsel Dyra. Pertama ia membuka pesan. Ajaib, hanya ada satu pesan yakni pesan dari kontak bernama Dero. Rudra membuka pesan tersebut.
Gue udah nunggu di depan gerbang.
Rudra melihat waktu pesan tersebut diterima. Waktu yang sama ketika dirinya menghampiri Dea untuk meminta Dea menonton pertandingan futsalnya.
"Ya udah. Gue stalker dulu ya. Nanti gue kabarin apa aja yang gue dapetin." Rudra segera mengakhiri teleponnya. Ia harus fokus melihat-lihat isi ponsel Dyra. Setelah pesan, Rudra mulai membuka galeri. Ia tersenyum ketika melihat foto-foto Dyra yang jernih. Serta pose layaknya seorang selebgram.
"Cantik." Rudra memutuskan mengirim beberapa foto yang menurutnya bagus. Lebih tepatnya mencuri dari ponsel Dyra.
Sembari mengirim, Rudra melanjutkan stalkingnya. Jarinya bergerak dengan lincah menggeser setiap foto. Namun gerakannya terhenti saat ia menemukan sebuah foto yang sanggup membuatnya membulatkan mata. Foto itu. Foto Dyra bersama Dero. Foto mereka dengan baju kaos berwarna putih yang terlihat sama. Lengkap dengan Dero yang merangkul Dyra serta mengecup ujung rambut perempuan itu. Rudra menahan napasnya sejenak.
"Mereka."
Tiba-tiba ponsel Dyra berbunyi. Itu Dero. Dero menelpon ke ponsel Dyra.
Rudra memutuskan mengangkatnya. Ia merasa penasaran apa saja yang akan Dero bicarakan dengan Dyra.
"Halo." Rudra bungkam mendengar suara itu. Suara perempuan. Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa itu adalah suara milik Dyra.
"Maaf. Kebetulan ini Hp saya. Dan Hp saya hilang. Bisa-"
"Ini gue Rudra." Rudra segera bicara. Ia tidak ingin mendengar sambutan dari Dyra yang berintikan adalah ia ingin ponselnya dikembalikan. Cukup lama hening di seberang sana. Rudra pun juga terdiam. Ia ingin menanti respon dari Dyra.
"Rudra? Oh, Rudra ya. Lo yang nemuin Hp gue?" tanya Dyra.
"Ya. Biar gue yang nganter."
"Eh nggak usah. Udah biar gue aja yang ngambil Hp gue ke rumah lo. Bdw, makasih ya udah jagain Hp gue. Bentar lagi gue ke sana."
"Ya," ujar Rudra dengan cepat sebelum ia menutup sambungan telepon. Kembalilah terpampang foto yang tadi sempat membuatnya terkejut.
-----
"Gimana?" tanya Dero.
"Rudra." Dyra berucap dengan raut kecewanya.
"Ya udah ayok kita ke rumahnya. Sebelum Mama Papa pulang," ajak Dero.
"Ya udah. Yok, Kak. Semoga aja dia nggak ngutak ngatik hp gue."
Dyra segera melangkah menuju garasi. Diikuti Dero yang berjalan santai di depannya.
"Iya, sabar geh," ujar Dero sembari mencubit hidung Dyra ketika ia melangkah melewati adiknya yang berhenti. Dero memasuki mobil dan duduk dibalik kemudi. Kemudian disusul Dyra yang duduk di sebelahnya.
"Beneran nih ke rumah Rudra? Malem-malem gini?" tanya Dero menanyakan keputusan Dyra.
"Ini belum malem banget, belum jam 7 malah. Ayolah, Kak." Dyra memelas sejadi-jadinya. Ia tidak ingin rahasianya terbongkar. Ia benar-benar lupa, hal berharga apa yang ada di dalam ponselnya. Hal berharga yang bisa langsung membongkar penyamarannya selama ini jika Rudra melihatnya. Dero mengemudikan mobilnya dengan santai. Memicu kericuhan dari Dyra yang sedari tadi menginginkan agar segera tiba di kediaman Rudra. Adiknya itu benar-benar terburu-buru.
"Kak Dero, setahu gue ini mobil bisa ngebut. Tapi kenapa berasa ini mobil jadul yang kecepatannya dibawah rata-rata. Ngebut dong!"
Mendengar berbagai macam celotehan Dyra membuat Dero berdecak kesal.
"Ck. Santai aja, sayang. Kenapa sih buru-buru banget?" berbeda dengan Dyra yang kalang kabut karena ponselnya saat ini ada di tangan pria idamannya, Dero justru terlihat santai seolah ingin menikmati perjalanannya.
"Rahasia gue bisa kebongkar, Kak."
"Rahasia lo enggak akan kebongkar kalau belum waktunya. Udah deh, tenang aja. Tuhan tau apa yang harus terjadi."
Dyra menghela napas. Ia tidak membalas ucapan Dero. Hanya cukup menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, menatap lurus ke depan dan bungkam. Sudah cukup untuk menggambarkan betapa kesalnya Dyra pada Dero saat ini. Dero yang menyaksikan kembarannya seperti itu hanya terkekeh. Ia pun memutuskan menambah kecapatan mobilnya agar keinginan kembarannya itu dapat segera terpenuhi.
----
Dero membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah Rudra. Sudah lumayan lama ia tidak berkunjung ke mari. Terakhir kali seingatnya adalah saat kelas dua belas semester satu lalu. Percisnya kapan pun Dero tidak ingat. Yang ia ingat hanyalah saat itu ia berkunjung atas undangan Rudra. Mereka cukup akrab karena karena dulu sama-sama kapten tim futsal yang sering berlaga bersama.
Tanpa perlu menunggu apapun, Dyra dengan cekatan melepas sabuk pengamannya. Baru saja ia ingin membuka pintu mobil, Dero menahan lengannya.
"Apa lagi sih, Der?" tanyanya dengan ketus. Dero cukup tercengang. Pasalnya, jika Dyra sudah kelewat sebal padanya. Dyra tidak akan perlu repot-repot memanggil dirinya dengan embel-embel 'Kak'. Dan baru saja Dyra melakukan hal tersebut. Itu artinya adiknya saat ini benar-benar marah.
"Lo nggak cuman ngambil hp doang kan?" tanya Dero. Berusaha mengabaikan perilaku adiknya barusan.
"Maksudnya?" Dyra mengerutkan kening.
"Maksud gue, nggak sopan kalo kita dateng cuma ngambil hp terus pergi. Bertamu dulu lah sebentar. Nggak enak juga sama keluarganya Rudra."
Dyra tercekat. Benar juga apa yang dikatakan Dero. Dyra bahkan tidak berfikir seperti apa respon keluarganya Rudra jika Dyra tiba-tiba datang untuk mengambil ponsel. Pasti mereka akan bertanya dan Dyra harus bersabar untuk menjelaskan keteledorannya tersebut. Dyra bahkan tidak tahu seperti apa keluarga Rudra. Entah mereka baik atau sinis terhadap orang asing. Dyra tidak tahu, dan tidak berusaha mencari tahu. Meski ada Dea sebagai tambang penggalian informasi, Dyra tidak seberani itu untuk mengetahui seluk beluk keluarga Rudra melalui Dea.
"Iya juga ya." Dyra menggigit bibir bawahnya.
"Terus gimana dong?" tanya Dyra. Ia sendiri merasa malu. Belum lagi ia memiliki perasaan pada Rudra yang membuatnya merasa gelisah sendiri. Dyra menatap Dero lekat. Detik kemudian ia tersenyum.