Part 12

1183 Words
    Dyra merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan terasa hampir meloncat dari tubuhnya. Ia segera berbalik.     "Kak Dero!" ia sangat terkejut.     "Mau kemana?" tanya Dero dengan tetap memegang tangan adiknya.     "Kok Kakak nggak bilang sih kalo yang tanding itu sekolah aku."      "Lo nggak nanya."     "Kak. Pokoknya aku mau pulang aja sekarang. Bisa-bisa aku ketahuan. Ada Dea. Aku mesti ngomong apa nanti kalo Kak Dero nyamperin aku. Belum lagi temen-temen aku yang lagi tanding. Bisa-bisa aku-"     "Tapi kan pertandingannya belum selesai." Dero belum mengizinkan adiknya untuk pulang. Bahkan tangannya masih memegang tangan Dyra.     "Udahlah, Kak. Daripada ketahuan."     "Serius mau pulang? Pulang sendiri?" tanya Dero. Saat itu, Rudra menghentikan langkahnya karena melihat Dyra dan Dero     "Iya."     "Ya udah. Hati-hati." Dero mengusap rambut Dyra dengan perlahan.     "Iya, yang semangat Kak tandingnya."      Dero mengangguk. Dan setelah itu melepas tangan Dyra. Serta melambaikan tangannya saat Dyra pergi. Melihat itu semua. Rudra segera berbalik dan berniat kembali ke lapangan.                                                                         ----     "Udah?" tanya Dea ketika Rudra menghampirinya. Rudra pun mengangguk.     "Tadi Dyra ke sini sama temen siapa?" tanya Rudra. Dea mengangkat bahunya acuh.     Rudra melirik ke setiap penonton. Tidak ada siswa SMA Cakrawala. Hanya terlihat siswa SMA Cakrabuana.      "Oh iya. Dyra mana ya, kok enggak balik-balik."      "Emang dia tadi dia bilangnya kemana?"     "Ke toilet," jawab Dea.     Rudra mendongak ketika Dero menghampirinya.     "Kenapa, bro?" tanya Rudra.     "Enggak, ini mau ngambil air sama handuk." Dero mengambil air mineral dan handuk yang sebelumnya ia sempat titipkan kepada Dyra. Rudra melirik handuk dan air mineral tersebut. Handuk dan air itu berada di sebelah kursi yang Dyra duduki. Berbeda dengan Rudra yang tampak berpikir keras. Dea justru tengah menahan groginya karena menatap Dero cukup dekat. Ditambah keringat yang menetes dari wajah Dero membuatnya terlihat semakin jantan.     "Pacar lo, bro?" tanya Dero tiba-tiba.     "Bukan." jawab Rudra dengan cepat.     Ya udah, gue ke sana ya."      Rudra mengangguk. Setelah kepergian Dero yang bergabung dengan timnya. Dea baru bersuara.     "Kok Dero nggak nanyain gue ya. Ngajak kenalan gitu kek."     Rudra hanya mengangkat bahu acuh. Setelah mengusap keringatnya dengan handuk ia berniat bergabung dengan timnya.     "Gue nyari Dyra lah. Jangan-jangan dia nyasar lagi."     Tanpa perlu menunggu respon dari Rudra. Dea segera berdiri dan meninggalkannya. Rudra terbangun dari duduknya. Ia meletakkan handuk yang baru saja ia gunakan tepat di atas tempat ia duduk. Namun dahinya mengernyit ketika mendapati sebuah ponsel di atas kursi. Hebat. Karena dia benar-benar tidak merasakan telah menduduki sebuah ponsel.     Rudra mengambil ponsel tersebut. Dan saat menekan salah satu tombolnya. Terpampang foto dua orang yang tersenyum dengan menampakkan deretan gigi putihnya. Tentu Rudra mengenal sosok itu. Itu adalah foto Dyra dan Dero. Dan tebakannya tidak salah lagi. Pasti ponsel ini milik Dyra. Karena pada saat yang bersamaan, Rudra melirik ke arah Dero yang tengah memainkan ponselnya.     Rudra menatap foto itu lekat-lekat. Kemudian menonaktifkan dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya. Lalu ia berjalan menuju rekan satu timnya                                                                                             ----     Dyra mengucapkan terima kasih setelah sang supir memberinya uang kembalian. Ia akhirnya dapat bernapas lega. Namun yang menyebalkan adalah, bagaimana ia akan menghadapi esok hari. Sepertinya ia harus mulai merangkai alasan agar ia siap untuk berbohong ketika besok Dea bertanya padanya.     Ia melangkah menuju rumah. Jika mengingat keadaannya tadi saat menyaksikan pertandingan futsal. Ia benar-benar merasa tidak tenang. Dyra merasa sulit bernapas dan berkeringat dingin. Suatu kondisi yang terasa sangat mencekam baginya. Dyra melangkah menuju kamarnya. Ia harus segera mengganti pakaian kemudian mencharger ponselnya.     "Hp?" tanya Dyra ketika ia meraba saku bajunya namun tidak menemukan apapun. Bahkan juga di saku roknya.     "Mati, hp gue kemana." Dyra merasa panik dan reflek memegang kepalanya.     "Apa ketinggalan di taksi ya."      Dyra segera keluar kamarnya. Berniat berlari untuk ke luar rumah dan memeriksa taksi yang ia tumpangi. Namun langkahnya terhenti saat di depan pintu.     "Ah pasti taksinya udah hilang. Lagian kayaknya tadi gue nggak ada megang hp kok di taksi."     "Terus dimana ya." Dyra menggigit bibir bagian bawahnya. Ia benar-benar panik dan cemas. Matanya membulat sempurna ketika teringat saat terakhir ia memegang ponselnya. Itu adalah saat sebelum ia pergi ke toilet untuk menghindari kakaknya yang berniat menghampiri.     "Aduh masih di bangku penonton." Dyra memukul dahinya sendiri.     "Eh, tapi kan ada handuk sama airnya Kak Dero. Ah pasti udah di ambil. Lagian kan ada Dea juga." Dyra berusaha membangun pikiran positif.      "Udahlah, tunggu Kak Dero balik aja. Pasti udah Kak Dero yang ngambil.     Dyra sempat berpikiran untuk menelpon Dero dengan menggunakan telepon rumah. Namun pasti saat ini Dero tengah bermain dan tidak mungkin menjawab teleponnya. Dyra ingin menelpon Dea, namun sayangnya Dyra tidak menghafal nomor sahabatnya itu. Akhirnya Dyra memutuskan untuk menelpon nomornya sendiri. Namun nahas, justru ponselnya tidak dapat di hubungi.     "Pasti udah lowbat. Kan tadi baterainya tinggal dikit."                                                                             ----     "Ketemu Dyranya?" tanya Rudra ketika menghampiri Dea setelah pertandingan berakhir. Tanding persahabatan ini berakhir imbang dengan kedudukan skor 5 sama.     "Ternyata dia pulang."     "Pulang?" Rudra berpura-pura tidak tahu. Padahal tadi ia sendiri sudah melihat saat Dyra pulang.     "Iya. Jadi tadi gue nanya ke siapapun yang gue temuin. Gue nanya ada yang liat cewek pake seragam Cakrawala apa enggak. Dan ada sih tadi cewek yang kebetulan ngeliat Dyra. Katanya udah pulang."     "Kok dia pulang?"     "Enggak tau nih. Gue telpon nggak bisa. Kayaknya hpnya lowbat deh. Dia kan biasanya gitu."     "Oh. Yok balik," ajak Rudra karena langit telah petang.                                                                         ----     Dyra menanti dengan sabar di depan rumahnya. Hari telah malam namun Dero belum datang juga.     "Lama banget sih. Pasti nyangkut dulu nih si abang."     Baru saja Dyra berucap, sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya.  Itu adalah mobil Dero. Dyra mengikuti arah mobil yang memasuki garasi. Ia ingin segera bertanya perihal ponselnya.     "Kak. Mana hp gue?" tanya Dyra begitu Dero keluar dari mobil.     "Hp?" tanya Dero dengan bingung.     "Iya Hp gue. Tadi Hp gue ketinggalan di bangku penonton. Kakak pasti liat kan pas ngambil air?" tanya Dyra.     "Hp? Enggak ada hp tuh tadi. Cuman handuk sama air doang."     Dyra kini menatap Dero dengan tajam.     "Kak, serius. Hp gue ketinggalan di sana. Please jangan bercanda, Kak." Dyra mulai menampakkan wajah seriusnya. Dero pun tidak kalah serius.     "Gue jujur, Dyr. Sumpah tadi itu nggak ada Hp lo di sana. Lo lupa naroh kali."     "Kembaran gue tercinta, Dero Anggara. Gue tadi inget banget kalo gue naroh Hp di bangku penonton. Nggak mungkin nggak ada di sana."     "Kembaran gue yang paling cantik, Dyra Anggraini. Gue juga lebih inget banget kalo enggak ada Hp tadi di sana."     "Aduh. Terus Hp gue dimana, Kak?" tanya Dyra dengan panik.     Dero mengangkat bahunya acuh.     "Lo sih, teledor!"     "Ya kan lupa."     Dyra baru mengingat Dea.     "Tadi ada Dea di sana. Apa dia ya yang ngambil?" tanya Dyra.     "Tapi tadi pas gue ngambil air, dia diem aja tuh. Nggak ngasih tau kalo nemu Hp lo yang ketinggalan."     "Ya jelas lah dia enggak ngelapor. Kan dia enggak tahu kalo kita saudaraan. Dia juga enggak tau kalo kita saling kenal," sahut Dyra cepat.     "Eh tapi, Dyr. Tadi bukan cuma Dea yang ada di sekitar sana."      "Siapa lagi?" tanya Dyra.     "Rudra."     Bagai di sambar petir di malam yang cerah, Dyra seketika membulatkan matanya. Ia menarik rambutnya dengan frustasi.     "Mati.. Kalo Rudra yang nemu. Aduh, mana homescreennya foto gue sama lo lagi, Kak." Entah mengapa Dyra merasa hari ini adalah hari apesnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD