Part 11

1214 Words
    Dyra telah tiba di sekolah Dero. Suasananya cukup ramai, membuat Dyra merasa gugup. Terlebih ia masih mengenakan seragam khas sekolahnya yang membuat ia terlihat paling mencolok di antara siswa di sekolah Dero. Sangat menyebalkan, Dyra merasa benar-benar risih kali ini. Sepertinya meminta Dero menjemputnya adalah kesalahan yang terbesar.     "Kak, semua pada ngeliatin gue." Dyra mengadu pada Dero, ia benar-benar merasa tidak nyaman.     "Seharusnya tadi gue pulang dulu ganti baju biar nggak kentara banget," ujar Dyra.  Dero hanya diam saja sembari melangkah. Membuat Dyra semakin kesal.     "Kak. Kok diem aja sih. Gue risih nih," keluh Dyra.     Dero menghentikan langkahnya, otomatis membuat Dyra juga berhenti. Kini Dero menatap Dyra.     "Terus mau apa? Lo mau gue tutupin mata semua orang yang ngeliatin lo?" tanya Dero.     Dyra berdecak sebal.      "Seharusnya Kak Dero jalan duluan, bukan jalan bareng gue."     "Udahlah, abaikan aja mereka." Dero langsung menarik tangan Dyra dan menggenggamnya menuju lapangan. Sontak perilaku Dero membuat semua orang yang melihatnya menjadi histeris. Dero yang notabenenya merupakan most wanted mampu menarik perhatian setiap siswi ketika ia datang bersama perempuan. Dyra benar-benar menyesal menyanggupi permintaan Dero untuk menontonnya bertanding futsal. Ia benar-benar mencari mati. Bisa dipastikan gosip tidak benar akan segera beredar.                                                                         -----       Dyra duduk dengan gelisah di bangku penonton. Sedari tadi ada banyak siswa yang menatapnya dengan tatapan tajam. Tidak perlu setres memikirkan alasan mereka terang-terangan menatap Dyra dengan sinis. Apa yang Dero lakukan tadi sudah cukup jelas membuat Dyra menjadi pusat perhatian.     Bagaimana tidak, Dero menjebak adiknya. Memperlakukan Dyra seolah Dyra adalah kekasihnya. Menitipkan handuk kecil dan air mineral pada Dyra dan menyuruh Dyra untuk memberikannya air saat ia istirahat nanti. Serta mengusap keringat Dero dengan handuk yang telah tersedia. Tentu saja Dero menyampaikan titahnya itu dengan berbisik pada Dyra. Membuat jarak mereka sangat dekat sehingga dapat memicu berbagai macam spekulasi dari para penyaksi kelakuan mereka. Belum lagi Dero yang mengelus rambut Dyra dan mengecup puncak kepala adiknya sebelum ia pergi untuk bergabung dengan rekan satu timnya. Membuat Dyra ingin menampar Dero saat itu juga jika saja dirinya sedang tidak berada di tempat umum.      Dyra memasuki kandang macan, benar-benar kandang macan. Ia seperti mangsa yang telah diincar oleh para predator hanya melalui tatapan tajamnya saja. Dyra bungkam. Ia hanya duduk sendiri, menjadi patung bernapas dan saksi hidup pertandingan Dero kali ini. Benar-benar menyebalkan, bagaimana ia terlihat seperti orang bodoh yang terasingkan di tengah ramainya para penonton.     Ia merasa kesal. Namun ia lebih merasa kesal pada kakaknya sendiri. Ia tidak menyangka Dero akan memperlakukannya seperti seorang kekasih, padahal Dyra adalah adiknya sendiri. Dero tidak pernah begini sebelumnya. Jika ia pergi berdua bersama Dyra. Ia tidak pernah menunjukkan reaksi seolah keduanya adalah sepasang kekasih. Namun kali ini, di kandangnya sendiri. Dero seolah memamerkan pada warga sekolahnya bahwa ia telah memiliki kekasih.     Dyra memilih mengalihkan pandangan. Ia sudah terlanjur berada di sini untuk menonton dan menyemangati Dero. Semua sudah terjadi, ia hanya perlu menonton pertandingan itu sekejap dan ia akan pulang. Setelah sampai di rumah, bisa dipastikan Dyra akan menghujani Dero dengan protes.     Tim lawan telah tiba. Itu artinya pertandingan akan segera dimulai. Para pemain mulai berbaris berhadap-hadapan.     "Eh, bentar." Dyra merasa mengenali orang-orang yang tergabung dalam tim melawan tim sekolah Dero.     "Itu kan Rudra! Mampus." Dyra memejamkan matanya sejenak. Ia benar-benar akan berakhir. Ia sama sekali tidak tahu jika sekolahnya yang bertanding melawan tim Dero. Sangat menjengkelkan. Dyra bukan hanya terlihat seperti orang bodoh saat ini, tetapi juga seperti pengkhianat. Ia datang bersama Dero, dalam keadaan berseragam SMA Cakrawala, tetapi ia justru mendukung Kapten tim futsal SMA Cakrabuana.     Dyra berusaha menutupi wajahnya. Ia hanya berharap Rudra ataupun tim futsal sekolahnya tidak menyadari kehadirannya di sini.     "Dyra."     Dyra menoleh dengan terkejut. Matanya membulat ketika mendapati Dea tengah menatapnya dengan heran.     "Lo di sini?" tanyanya memastikan, lalu ia duduk di kursi kosong yang berada di sebelah kanan Dyra.     Dyra merasa seperti orang bodoh. Secerdas apapun ia berusaha menyembunyikan wajahnya, seragam yang ia kenakan tetaplah mencolok di antara yang lain. Sehingga Dea bisa menemukannya di sini. Dyra bahkan tidak menyangka Dea juga datang ke mari.     "Iya. Lo kok bisa di sini? Sama siapa?" tanya Dyra.     "Gue tadi diminta sama Rudra buat nonton dia main. Ya udah gue ngikut." Dyra merasa panas dalam hatinya. Rudra meminta Dea untuk menontonnya. Lalu mengapa Dea tidak memberitahukan apapun pada dirinya, bahkan mengajak saja tidak. Dea memang tidak mengetahui perasaan Dyra kepada Rudra. Tetapi tetap saja, biasanya sahabat Dyra itu akan cerita jika ada apa-apa.     "Maaf ya nggak ngajak lo. Soalnya Rudra ngajaknya mendadak." dan tepat, Dea langsung menjawab pemikiran Dyra. Membuat Dyra sedikit tahu apa yang terjadi.     "Lagian lo juga udah di sini. Lo ke sini sama siapa? Kok nggak bilang-bilang?" tanya Dea.     Glekk..     Dyra merasa tercekam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sulit mengatakan jika Dero yang mengajaknya ke mari, mengingat Dea sangat mengidolakan Dero. Dyra menggaruk tengkuknya dengan gelisah. Sangat sulit untuk berbohong. Apalagi nanti saat istirahat, Dero akan menghampirinya.      "Sama temen." jawaban yang diprediksikan mencelos dari mulutnya.     "Temen? Siapa?" Dea terlihat semakin penasaran.     "Eh pertandingannya udah mulai," sahut Dyra dengan semangat ketika mendengar suara peluit. Belum lagi teriakan para pendukung tuan rumah yang meriah. Tampak para laki-laki tampan sudah mulai saling mengoper bola.  Dyra menghela napas lega saat melihat Dea telah fokus menyaksikan jalannya pertandingan. Ia hanya perlu memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Dea nanti ketika Dero menghampirinya.                                                                             ----     Peluit tanda pertandingan babak satu telah berbunyi. Itu tandanya saat untuk istirahat. Dyra meletakkan ponselnya. Ia tidak begitu menikmati pertandingan karena ia merasa tidak tenang. Dyra menahan napasnya saat beberapa pemain mulai menepi ke pinggir lapangan. Ia melihat Rudra mendekat ke arahnya. Dyra melirik Dea sebentar. Rupanya sahabatnya itu tengah menyiapkan air mineral dan handuk. Dan Dyra sudah cukup mengerti hanya dari pergerakan kedua orang tersebut. Namun rupanya ia tidak menyadari tatapan Rudra yang begitu tajam padanya. Dyra melirik Dero yang tengah melangkah di belakang Rudra. Kakaknya itu berjalan sembari menatap Dyra. Jantung Dyra terasa semakin berdebar. Saat langkah Rudra semakin mendekat, Dyra memutuskan pergi ke toilet.     "Em, Dea. Permisi, gue pingin ke toilet," ujar Dyra pada Dea. Dea memandang Dyra dengan terkejut.     "Ke toilet? Sendirian?" tanya Dea.     Dyra mengangguk sembari berdiri.     "Emang lo tau toilet di sini?" Dea lagi bertanya.     "Ntar gue cari, udah kebelet." Dyra segera melangkah melewati bangku penonton yang kosong. Meninggalkan Dea yang yang baru saja ingin mengejarnya namun Rudra keburu menghampiri.     "Dyra ngapain di sini?" tanya Rudra ketika menghampiri Dea.     "Dia nonton." Dea memberikan air mineral dan pada Rudra. Rudra mengambilnya kemudian duduk di bangku yang tadi diduduki Dyra.     "Sama siapa ke sini?" tanya Rudra lagi sebelum ia minum.     "Sama temennya katanya."     "Temen?" gumam Rudra setelah selesai meneguk air.     Ia lantas menatap Dero. Pemuda itu terlihat melangkah tergesa-gesa ke luar lapangan. Melihat Dero berlari ke arah Dyra tadi pergi membuat Rudra merasa penasaran.     "Gue ke toilet dulu ya."      Dea mengangguk.     "Jangan lama-lama, entar babak ke dua keburu mulai."     Rudra segera bergegas menyusul kepergian Dero.                                                                                     ----     Dyra bersandar pada tembok dan meletakkan tangannya di atas d**a. Ia benar-benar ingin pulang sekarang. Tentu saja ia memiliki peluang emas sekarang. Ia hanya perlu menaiki taksi untuk pulang ke rumah. Masalah tas yang berada di mobil kakaknya, itu bisa diurus nanti ketika tiba di rumah.     "Apa balik aja ya," gumam Dyra pada dirinya sendiri.      Dyra meyakinkan hatinya untuk lebih memilih pulang.     Baru saja Dyra ingin melangkah, tiba-tiba tangan sebuah tangan mencekal tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD