Part 10

1019 Words
    Dyra tidak tahu sudah berapa lama ia bersembunyi. Lebih tepatnya menumpang di rumah tetangganya dengan dalih meneliti beberapa bunga. Tetangganya yang satu ini memiliki taman yang berisikan aneka ragam bunga. Beruntung sang empunya rumah cukup baik, sehingga percaya saat Dyra mengatakan untuk penelitian biologi.      "Udah pergi belum ya." Dyra bertanya pada dirinya sendiri.     Ia ingin sekali lewat di depan rumahnya hanya untuk memastikan bahwa Rudra masih ada di sana atau tidak. Namun jika ternyata Rudra masih ada di sana. Akan sulit untuk mencari tempat persembunyian lagi.     "Tapi ini udah mau gelap. Aduh semoga aja orang rumah enggak ngomong yang aneh-aneh."     Dyra tidak tahu pasti alasan dibalik berkunjungnya Rudra ke rumahnya. Ia terus berharap agar rahasianya tidak terbongkar.     "Pulang ajalah." Dyra memutuskan memasukkan buku tulis dan penanya ke dalam tas. Sudah cukup coretan abstrak yang ia buat. Ia hanya ingin terliat menulis sesuatu agar tidak terlihat mencurigakan.     "Tante, Dyra pulang dulu. Makasih ya," ujar Dyra pada sang pemilik rumah yang kebetulan muncul.     "Oh ya sudah, hati-hati ya Dyr. Titip salam untuk mama kamu."     "Oke tante."     Dyra segera mengemudikan motornya. Ketika sampai di depan gerbang rumahnya, keadaan gerbang masih sama yaitu terbuka. Dyra melirik ke tempat tadi dimana dirinya melihat Rudra, namun tidak ada kendaraan di sana. Itu artinya aman.     "Pak, tadi ada tamu ke sini kan?" tanya Dyra pada satpam yang berjaga di pos dekat gerbang.     "Iya, Non. Tumben Non Dyra baru dateng."     "Iya, Pak. Ada tugas."      Dyra lanjut mengendarai motornya hingga garasi. Ia melirik garasi dan hanya ada mobil milik Dero di sana. Itu artinya, mamanya dan papanya belum kembali. Dyra menghela napas kemudian melangkah menuju pintu. Tanpa perlu mengetuk, Dyra segera membuka pintu.     "Kemana aja lo, baru pulang." dan Dyra disambut oleh pertanyaan Dero ketika baru selangkah memasuki rumahnya.     Dyra teringat kedatangan Rudra kemari . Ia pun langsung menanyakan hal tersebut kepada Dero.     "Kak, tadi ada tamu nggak ke sini?" tanyanya.     "Ada. Kenapa?" tanya Dero dengan ketus     "Dia ngapain ke sini?"      "Eh tunggu, tamunya Rudra kan?" imbuh Dyra.     "Apaan sih, udah. Mending buruan ganti baju terus mandi. Udah pulang telat, banyak nanya lagi."     "Ish. Kan gue kepo." Dyra masih berusaha membela diri.     "Mau mandi sendiri apa perlu abang yang mandiin?" Dyra membulatkan matanya. Beginilah Dero, jika ia tengah marah ketika memerintah. Dan Dyra membantahnya, maka Dero akan mengeluarkan jurus mautnya.     "Iya , iya. Ish serem banget sih punya kakak kayak gini. Lagi pms kayakmya." Dyra segera melangkah menuju kamarnya.                                                                                       ----     "Kak Dero.." Dyra mengetuk pintu kamar Dero. Ia masih penasaran akan kedatangan Rudra tadi. Hanya Dero yang ada di rumah, dan sudah pasti Dero bertemu dengan Rudra.     "Masuk."  Dyra dengan cekatan membuka pintu ketika mendengar teriakan dari Dero.     Nampak Dero tengah duduk santai sembari bersender dan meluruskan kakinya. Lengkap dengan tangannya yang memegang ponsel.     Dyra langsung naik ke atas kasur, ia duduk di sebelah kakaknya.     "Lagi sibuk nggak?" tanya Dyra.     "Menurut lo?" tanya Dero.     "Enggak." sahut Dyra dengan cepat.     "Mau ngapain emangnya?" tanya Dero.     "Mau nanya. Kak, tadi kan Rudra ke sini. Kakak ketemu dia nggak? Terus tujuan dia ke sini ngapain? Terus kakak enggak kasih tau tentang aku, kan?" Dero berdecak kesal.      "Ayo Kak, jawab."     "Kalo di jawab, gue dapet apaan?" tanya Dero.      "Tuh kan, pamrih."     Dero terdiam sejenak.     "Oke, gue akan jawab pertanyaan lo. Tapi besok pulang sekolah, lo harus nonton gue tanding futsal."     "Di?" tanya Dyra.     "Di sekolah gue lah."      "Hah? Ogah ah, malu lah Kak dateng ke sana sendiri."     "Siapa bilang? Gue yang nanti jemput lo."     Dyra terdiam sejenak. Sebenarnya ia tidak keberatan untuk memenuhi permintaan kakaknya itu. Namun, ia masih berfikir apakah ia memiliki kegiatan lain besok. Ia takut tidak bisa menepati janjinya karena ada jadwal yang terlupakan.     "Oke. Ya udah buruan jawab, Kak."      Dero tersenyum sinis, senyum penuh arti.      "Oke. Jadi tadi Rudra ke sini karena ya biasalah, masalah cowok. Dan lo tenang aja, rahasia lo aman."      "Urusan apaan?"     "Udah gue bilang urusan cowok, jadi cuma cowok yang boleh tau."     "Iih, kak Dero mah gitu. Tau gitu, enggak gue setujuin syaratnya." Dyra memanyunkan bibirnya pertanda kesal.     "Kenapa Dek? Monyong-monyong kode pengen di cium?"      "Ih, kayaknya otak Kak Dero hari ini geser deh," ujar Dyra bergidik ngeri.      "Efek kurang belaian ya gini, Dek."     "Ih.." Dyra menatap Dero dengan tatapan yang sulit diartikan. Dyra pun memutuskan untuk ke luar dari kamar Dero sebelum terjadi hal-hal tidak diinginkan.     "Ih punya abang satu, kalo udah kumat nyeremin banget."                                                                                  -----     "Dyr, lo nggak papa kan? Lo masih inget kan sama gue?" tanya Dea ketika Dyra baru saja mendaratkan pantatnya di atas kursi.      "Dea, lo kan udah tahu keadaan gue dari telponan semalem. Udahlah nggak usah ngulangin percakapan kemarin."     "Ya kan gue khawatir," ucap Dea.     Bel berbunyi dan mereka pun menyimak pelajaran dengan baik.                                                                                  ----     Dyra bersorak dalam hati saat tahu jika guru sejarah tidak masuk hari ini. Karena dengan begitu, ia tidak perlu repot-repot mempelajari materi yang akan dipresentasikan secara dadakan. Dan ia bisa sedikit tenang karena acara presentasi yang lebih pantas disebut sebagai tempat berdebat, akan tertunda hingga minggu depan.     Setelah menghabiskan jam kosong dengan menonton film bersama Dea. Kini tiba saatnya jam pulang. Dyra menghela napas. Tadi saat pagi buta, Dero mengantarnya ke sekolah. Dan sekarang, Dero akan menjemputnya. Dyra hanya berharap tidak ada yang terlalu memperhatikannya ketika memasuki mobil Dero.     "Dea. Gue duluan ya," ujar Dea pada Dyra yang masih asik melanjutkan acara menontonnya.     "Oke, hati-hati ya."     Dyra melangkah di koridor menuju gerbang. Ia melihat Rudra dari kejauhan. Rudra berjalan mengarah padanya, lebih tepatnya mengarah ke kelasnya. Tentu saja untuk menemui Dea. Dyra dan Rudra semakin dekat. Mereka hampir berpapasan. Dyra sangat ingin menegur Rudra namun ia masih merasa malu karena kejadian kemarin. Kejadian dimana dia begitu kegeeran.     Dyra hanya menatap lurus ke depan saat ia dan Rudra berpapasan. Dari ekor matanya, Dyra dapat melihat bahwa Rudra sempat menatapnya sekilas kemudian membuang muka. Dyra pun melanjutkan langkahnya menuju gerbang.                                                                             -----     Dyra tiba di depan gerbang sekolahnya dan ia dapat melihat mobil Dero di sana. Dengan langkah cepat, ia melangkah mendekati mobil kakaknya. Mumpung keadaan sepi, Dyra dengan segera memasuki mobil.     "Lama banget, sih." Dyra langsung mendapat keluhan saat ia memasang sabuk pengaman.     "Ya maaf. Ya udah ayo jalan," tegur Dyra saat Dero justru menatapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD